Filed under: pendidikan, politik | Tags: buku, pendidikan, perempuan, politik, sekolah
Politik tabu bagi perempuan? Ibu-ibu di gambar ini bukan praktisi di bidang politik, tetapi tanpa disadari sudah masuk dalam kancah dunia politik. Politik bukan hanya seputar gedung DPR dan parpol serta pemerintahan. Tapi juga menyangkut dalam hal keseharian perempuan seperti urusan dapur, sekolah, pekerjaaan dan usaha. Peraturan dibuat demi terselenggaranya tatanan kehidupan masyarakat adil dan sejahtera.
Manakala kita mulai peka akan terjadinya suatu ketidak adilan, adanya ketidakwajaran bahkan pengalihan tanggungjawab yang tidak semestinya; maka kita tidak bisa tinggal diam. Perlu ada yang bersuara untuk menyatakan mana yang baik dan benar. Kalau aspirasi jeritan para orang tua murid ini kurang didengar oleh para pejabat dan wakil rakyat, maka berbagai sarana bisa digunakan. Segelintir ibu-ibu ini berani bersuara di jalanan, bukan hanya demi kepentingan anak-anaknya tapi juga demi kepentingan para ibu lainnya. Alangkah baiknya jika aturan keterwakilan perempuan juga diikuti di jajaran birokrat, sehingga peraturan yang dibuat pun bisa memperhatikan keprihatinan kaum perempuan. Siapa berani bersuara? (RA)
Jakarta – DETIKCOM Download buku pelajaran secara gratis ternyata malah membuat sekitar 50 ibu-ibu berdemo di Bundaran HI. Mereka meminta pembagian buku pelajaran gratis! Ibu-ibu ini membentangkan poster-poster berisi protes mereka terhadap pemerintah. Poster itu bertuliskan, ‘Hari gini buku mahal, capek deh’ dan ‘Buku gratis kita senyum manis.’
Mereka juga membentangkan 2 spanduk putih sepanjang 10-20 meter, berisi ratusan tanda tangan dukungan dan tulisan ‘Cabut Permendiknas No 2 tahun 2008 tentang buku yang melegalkan privatisasi perbukuan.’
Download gratis buku pelajaran di internet dinilai tidak mampu menjangkau seluruh kalangan dan tidak efektif. Mereka meminta penjualan buku khususnya buku pelajaran digratiskan. (more…)
Saya sertakan email dari seorang rekan guru matematika ini agar kita bisa membayangkan kesulitan yang dihadapi dunia pendidikan di ujung timur negri ini. Orang miskin disana terpaksa membayar lebih mahal untuk mendapatkan buku paket dibandingkan kita yang hidup dipulau Jawa. Kualitas SDM yang sangat rendah pun menyulitkan mereka keluar dari kemiskinan. Kemiskinan memang bisa terjadi akibat struktural seperti minimnya prasarana. Jangan salahkan pemerintah saja untuk menjadikannya sempurna dalam 5 tahun tapi mari kita lakukan yang terbaik semampu kita bagi negri ini. Walaupun rasanya seperti menggarami lautan, tapi untuk satu dua anak di pedalaman tindakan kita menjadi berarti bagi mereka. (RA)
Mbak Ratna kinasih,
menyambung email kemarin berkenaan dengan buku pelajaran dan khususnya LKS. Jika memang bisa diusahakan di Jawa saya kira juga lebih baik, karena harga di jawa jauh lebih murah. Setelah saya muter-muter, saya dapatkan informasi bahwa di nabire ini harga sebuah LKS matematika untuk kelas 1 bisa mencapai 10 rb/buku (beli minimal 100 buku). Padahal dalam setahun seorang anak butuh 2 buah buku. Jika di Jawa harga eceran paling tinggi 7 rb rupiah. Kenapa bisa demikian? Ya karena transportasi dari jawa ke papua ini memang amat mahal. Lha sekarang mangga saja panjenengan mau bantu saya dan anak-anak untuk mengirim LKS matematika kelas 1 dalam bentuk buku atau mengirim dana dan saya belikan di sini, he…. Jika dalam bentuk uang ya tinggal dikalikan saja: 200 X Rp. 10 rb. Oh ya jangan lupa tolong carikan bahan pembelajaran multimedia karena kami baru dibelikan komputer sehingga anak-anakbisa belajar sendiri. Disini mana ada yang begituan?
Kemarin saya mengadakan tes penjajagan anak-anak kelas 1 SMA yang baru masuk dengan materi matematika kelas 6 SD. Dari 30 buah soal, rata-rata seorang siswa bisa menjawab benar hanya 8 soal, alamakkkkkk …..Kepada mereka saya berikan 30 buah materi soal matematika (soal-soal saya ambil dari contoh-contoh yang tertulis dalam buku paket), dan dari test itu saya dapatkan data sbb: (more…)
Menjadi orang miskin memang paling pusing. Tidak punya banyak pilihan. Kesulitan hidup sehari-hari bisa membuat orang stress berkepanjangan terlebih bagi perempuan miskin. Tugas perempuan sebagai ibu dalam keluarga seperti mahluk bertangan seribu.

Ia harus membesarkan anak-anak, mengurusnya dari bayi hingga menjadi anak yang mandiri. Ia harus memperhatikan apa yang mereka makan,minum dan pakai. Ia memperhatikan siapa kawan mereka dan bahasa yang digunakan anak-anak. Ia juga yangmengajarkan anak-anak sembahyang dan berdoa. Ia juga harus pusing mikirin apa yang harus dimasak dan dimakan seminggu ini. Ibu juga yang paling pusing kalau ada anak sakit, sebabnya apa, mau dibawa kemana, obatnya apa. Nanti kalau gak sembuh gimana? Ibu lah yang paling senewen kalau anaknya ulangan dan dapat nilai jelek. Ibu juga harus memperhatikan kebutuhan suami, apa yang diperlukan agar suamijuga terurus pakaian dan makanannya. Apalagi kalau banyak pantangan waaah… tobat deh. Makanya seorang ibu tidakboleh sakit, kalau gak maka motor penggerak dalam keluarga akan membuat lesu darah semua orang.
Orang bisa mendadak miskin karena bencana alam, karena struktur dan birokrasi. Perempuan miskin dipaksa menjadi kepala rumah tangga seperti kisah Azizah dan Hendun Disamping melakukan pekerjaan rumah tangga yang ajubilah tidak ada habisnya,mereka juga harus memikirkan bagaimana hidup mereka hari itu. (more…)
Menjelang Pemilu 2009 mari kita perhatikan siapa di antara pada Calon Presiden (capres) berani bersuara dan beraksi membela hak TKW di Arab Saudi atau dimana saja.
Kita tidak bisa membendung keinginan para TKI/TKW untuk mencari untung (yang kadang buntung) di negeri orang, kalau kesempatan untuk keluar dari kemiskinan tidak banyak pilihan di dalam kampung sendiri. Perhatikan juga para caleg (perempuan dan laki-laki) terutama dari dapil yang daerahnya minus tapi plus karena penduduknya menjadi penghasil devisa melalui TKI/TKW nya. Mau sampai kapan cerita sedih para TKW ini berakhir ? Berikut kutipan tentang TKW dari Poskota (RA)
TKW Asal Banten Tewas di Malaysia - Minggu 27 Juli 2008n- SERANG (Pos Kota) â?” Cerita mengenaskan soal nasib TKI yang berkerja di luar negeri sepertinya tak pernah berhenti. Peristiwa kali ini menimpa Yamsurah, 40, Tenaga Kerja Wanita (TKW) Indonesia asal Komplek Cikande Grya Asri, Kecamatan Cikande, Serang, Banten. Wanita yang diketahui sudah bekerja selama 1 tahun ini dilaporkan tewas di rumah sakit di Malaysia. Keluarganya belum mengetahui berita ini karena kesulitan menemukan alamatnya; bahkan sebab kematiannya pun belum diketahui.
TKW Dipasung Di Arab Saudi – Minggu 27 Juli 2008,
PURWAKARTA (Pos Kota) – Derita para pendulang rupiah yang kerap menjadi korban penyiksaan majikan di luar negeri kembali terjadi. Kali ini, Ny Ipon Fatimah, 30, TKW asal Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, disiksa dan dipasung selama tiga minggu oleh majikannya di Kota Hail, Arab Saudi. Selain itu, gaji selama sebelas bulan tidak dibayar oleh majikannya. Ditemui dirumahnya di Kampung Krajan Rt 08/03 Desa Cileunca, Kec Bojong, Purwakarta, Minggu (27/7), Ny Ipon tampak masih mengalami trauma atas perlakuan majikannya di Arab Saudi yang telah memasung dan menyiksanya.
Pada akhirnya akibat kesulitan ekonomi, kemiskinan membuat perempuan tidak banyak pilihan untuk survive. Jalan terakhir adalah menjajakan dirinya sendiri. Untuk menolong mereka pun tidak semudah membalik telapak tangan. Tidakbisa dengan program atau dengan penggusuran. Mereka juga manusia yang punya hati dan juga punya otak. Kalau disentuh dengan otak (dijejali denganberbagai wejangan) rasanya sebentar juga hilang tanpa bekas. Tapi bila hatinya disentuh, maka pengalaman ‘disapa’ layaknya sebagai manusia akan membekas lebih lama. Dibawah ini adalah kisah seorang anak manusia yang ‘menyapa’ mereka para PSK dengan hati. Tidak banyak perempuan yang berani melakukannya. Lebih mudah menjauhi dan menghakimi daripada mencari jalan mengeluarkan mereka dari lembah nista. Tidak ada salahnya juga untuk dipahami bahwa pendekatan yang manusiawi terbukti lebih efektif. Be with them not to be one of them. Tinggal dekat dengan mereka, tapi bukan untuk menjadi sama dengan mereka. Kita memang benci perbuatannya,tapi mari belajar mengasihinya karena mereka adalah sesama ciptaan Tuhan. (RA)
Pencerah-Pencerah di Lembah Hitam :Bangun Masjid, Bagi Sembako, Beli Aset Mucikari
Di Surabaya begitu banyak penceramah agama. Namun, tak banyak di antara mereka yang menerjuni kawasan merah, lokalisasi. Berikut adalah sedikit di antara orang-orang yang rela mengabarkan kebaikan di kantong-kantong kemaksiatan itu.
HATTA bukan orang Surabaya tulen. Dia juga tak punya pendidikan formal yang terlalu tinggi, cukup pesantren setingkat SMA. Bapak tiga anak itu juga tak punya modal materi besar, cukup keahlian berdakwah. Meski begitu, dia punya sumbangan cukup besar bagi kota ini. Dia ikut memberikan kontribusi membuat redup lampu-lampu merah yang biasa menyala di kompleks Lokalisasi Bangunsari dan Bangunrejo. Dakwah pria dengan nama lengkap Muhammad Hatta itu bisa mereduksi praktik jual beli aurat di kompleks esek-esek tersebut.
”Biarkan mereka (pelacur dan mucikari) berubah secara alamiah. Jangan ditakut-takuti atau diancam. Termasuk ditakut-takuti masuk neraka,” ucap Hatta. ”Mereka tahu pekerjaannya adalah dosa. Makanya, kita tidak boleh menggurui, apalagi menjustifikasi, ” imbuhnya. (more…)
Tidak mudah memenuhi ketentuan UU 10/2008 tentang keterwakilan perempuan, maka tidak heran kalau parpol mengijinkan istri, anak dan menantu ikut dipajang. Tentu dengan harapan agar DCS (Daftar Caleg Sementara) bisa lolos di verifikasi KPU dulu. Soal menang tidaknya nanti aja lah. Tapi disisi lain masyarakat pun bisa menilai bahwa parpol tersebut tidak berhasil menarik kaum perempuan (terutama yang berkualitas) untuk menjadi caleg disitu. Atau memang betul tidak ada perempuan berkualitas dari dapil tersebut? Tidak adakah perempuan yang peduli dengan perempuan di dapil tersebut? Jangan-jangan yang tidak mengijinkan justru para kaum laki-laki para pasangannya, yang khawatir menjadi dinomorduakan. Kemungkinan lain adalah adanya ‘daftar harga’ yang juga harus diikuti para caleg perempuan untuk mendapatkan nomor kecil. Ini sih walahualam… Silahkan cek sendiri. Berikut tindakan salah satu parpol yang menunjukkan komitmen terhadap keterwakilan perempuan; istri mundur sebagai caleg tapi apakah berarti anaknya boleh maju? Serius gak sih?(RA)
Denpasar (Bali Post) – Senin, 28 Juli 2008 | BP
Pernyataan keras Wakil Bendahara DPP PDI Perjuangan I Gusti Ayu Sukmadewi Jaksa agar tidak ada suami-istri yang muncul dalam tabulasi nama daftar caleg DPRD propinsi dan caleg DPR-RI akhirnya direspons positif utusan DPC dalam pemandangan umum pada Rapat Kerja Daerah Khusus seputar caleg, Minggu (27/7) kemarin di Hotel Nikki Denpasar.
Utusan Gianyar Pande Parwata spontan menyampaikan istrinya, Ratnaningsih, yang semula didaftarkan sebagai caleg sementara DPRD Gianyar menyatakan mundur. ‘Saya tawarkan AA Putra Ratnaningsih sebagai pengganti Ratnaningsih, SKH, istri saya,’ katanya. Hal serupa disampaikan utusan DPC PDI-P Klungkung. Salah seorang istri pengurus partai AA Mayoni yang juga didaftarkan sebagai caleg juga diminta mundur oleh utusan karena instruksi DPP itu. (more…)
Filed under: politik | Tags: dana, keluarga, legislatif, LSM, perempuan, politik
Di saat semua partai politik memasang iklan perlunya perempuan untuk dijadikan caleg (calon legislatif) di berbagai dapil, berbagai upaya pun dilakukan. Mereka memasang slogan untuk menarik perhatian para perempuan bahkan mereka juga menggunakan teknik jemput bola. Berbagai aktivis perempuan di LSM ditawari dan diajak untuk bergabung. Kalau sudah kepepet, terpaksa istri, anak dan menantu dipasang sebagai caleg demi memenuhi aturan KPU. So, bola nya memang ada di tangan perempuan, terutama memang perempuan yang memiliki kualitas dan dinilai mampu berkiprah di masyarakat.
Menjadi perempuan aktivis baik di LSM atau di badan sosial sangat berbeda dengan menjadi bagian di partai politik. Ada banyak hal yang memang menjadi pertimbangan perempuan sebelum mereka memutuskan terjun untuk masuk ke dunia politik. Beberapa pertimbangan diantaranya:
1. Dukungan keluarga terutama pasangan dan anak.
Rasanya ini menjadi pertimbangan utama para perempuan maju ke dunia politik. Kegiatan sosial bisa diatur sesuai jadual perempuan; sangat flexibel karena bisa disesuaikan dengan kegiatan perempuan. Tidak dilakukan malam hari, tidak keluar kota sering-sering, tidak direncanakan saat week end. Dunia politik sangat berbeda, rapat bisa kapan saja dan bisa sampai malam bahkan dini hari. Full asap rokok lagi. Maka berat bagi perempuan maju sebagai caleg tanpa dukungan keluarga. Apalagi kalau tidak ada latar belakang politik didalam keluarganya,makagakheran kalau nepotis masih kental disini. Kalau masih single, gak masalah lah. Malah siapa tahu bisa dapat gebetan kan? (more…)
Kalau kita mau peduli untuk menolong anak-anak miskin, rasanya memang tidak perlu bertanya tentang prestrasi mereka. Anak bisa berprestrasi kalau suasana mendukung seperti gizi, sarana belajar dan dukungan orang tua. Jangan harapkan mereka berprestrasi kalau masih disuruh ‘bekerja’ dan bahkan masih jadi korban kekerasan dalam RT. Justru dengan bantuan kita,siapa tahu mereka bisa tambah semangat untuk berani bermimpi untuk keluar dari kemiskinan.
{Suara Pembaruan] Anak-anak dari keluarga tidak mampu mengikuti proses belajar-mengajar di halaman Sekolah Rakyat Miskin, di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Pemberian beasiswa, pada umumnya selalu dikaitkan berprestasi. Artinya, beasiswa biasanya hanya diberikan kepada siswa secara ekonomi, keluarganya kurang mampu, tetapi menunjukkan berprestasi belajar atau akademik.
Di sisi lain, sering kali pemberian beasiswa dikaitkan dengan ikatan dinas dari lembaga pemerintah ataupun perusahaan swasta. Biasanya siswa atau pun mahasiswa yang mendapat program beasiswa ikatan dinas ini, wajib mengabdi di lembaga pemberi beasiswa setelah pendidikannya selesai.
Tetapi, yang jelas, beasiswa ikatan dinas seperti itu, pasti untukanak yang berprestasi. Tentu saja, pemerintah daerah atau lembaga lainnya termasuk perusahaan besar, tidak mau mengambil risiko memberikan beasiswa bagi siswa yang tidak berprestasi. Lalu, bagaimana dengan yang miskin, tak tidak berprestasi?
Suatu ketika, staf Sampoerna Foundation berkunjung ke redaksi SP menjelaskan kerja mereka dalam mengumpulkan beasiswa. Dengan bangga staf lembaga pengumpul beasiswa dari perusahaan-perusaha an itu menceriterakan jumlah dana yang disalurkan bagi penerima beasiswa tersebut. Kriteria penerima beasiswa, tentu saja yang berprestasi. Ketika ditanya soal program beasiswa bagi mereka yang miskin, namun tidak berprestasi, dengan sinis orang itu mengatakan, ”Sementara yang berprestasi. Kalau yang tidak berprestasi, mungkin ada pihak lain yang mengurusnya’ ‘.
Jawaban seperti itu, tentu bisa menyakitkan bagi mereka yang miskin dan tidak berprestasi lagi. Kalau kriterianya harus berprestasi, sulit bahkan mungkin tidak akan pernah mereka mendapat kesempatan menerima beasiswa.
Berdayakan yang Miskin (more…)
Penyakit orang Indonesia adalah mudah lupa, maka saya angkat kembali kisah memilukan ini agar para perempuan pun juga tidak melupakannya. Masih banyak korban pelanggaran HAM yang belum terselesaikan di bumi ini.
Jakarta – 12 Tahun lalu, tepatnya 27 Juli 1996 terjadi peristiwa yang menggemparkan khalayak. Waktu itu, terjadi peristiwa pengambilalihan secara paksa kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang berlokasi di Jl Diponegoro, 58 Jakarta Pusat yang saat itu dikuasai pendukung Megawati Soekarnoputri. 
Penyerbuan dilakukan oleh massa pendukung Soerjadi (Ketua Umum versi Kongres PDI di Medan) serta dibantu oleh aparat dari kepolisian dan TNI.
Dari situlah, nama Mega mulai berkibar. Sebagai orang yang terdzalimi, Mega mampu mengambil simpati masyarakat luas yang akhirnya lahirlah PDI Perjuangan yang saat ini telah menjelma menjadi partai besar. Peristiwa ini meluas menjadi kerusuhan di beberapa wilayah di Jakarta, Korban pun tak sedikit yang berjatuhan.
Seperti dihimpun detikcom dari berbagai sumber, Minggu (27/7/2008), hasil penyelidikan dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyebutkan, 5 orang tewas, 149 orang (sipil maupun aparat) luka-luka, dan 136 orang ditahan. Komnas HAM juga menyimpulkan telah terjadi sejumlah pelanggaran hak asasi manusia. Namun hingga kini kasus tersebut belum juga terungkap.
Pemerintah saat itu menuduh aktivis PRD sebagai penggerak kerusuhan. Pemerintah Orde Baru pimpinan almarhum Soeharto lalu memburu dan menjebloskan para aktivis PRD ke penjara. Budiman Sudjatmiko sebagai Ketua PRD mendapat hukuman terberat, yakni 13 tahun penjara. Tapi Budiman saat ini justru menjadi kader PDIP. Ia saat ini aktif dalam organisasi kepemudaan di bawah naungan PDIP.
Para korban kerusuhan 27 Juli hingga kini juga belum mendapatkan kepastian akan penyelesain hukum yang jelas. Megawati pun juga tak lagi banyak berkomentar soal kasus 27 Juli ini. Apa kabar kasus 27 Juli, Bu Mega?( Anwar Khumaini – detikNews)
Filed under: politik | Tags: ekonomi, masyarakat, media, miskin, organisasi, perempuan, psikologi
Perempuan Indonesia dinilai masih belum bisa menikmati kebebasannya. Banyak kasus menunjukan perempuan di bawah ancaman dan sulit untuk mengekpresikan diri secara maksimal.
“Saya contohkan, perempuan masih jauh dibandingkan laki-laki dalam bidang partisipasi ekonomi,” ungkap Gadis pendiri Yayasan Jurnal Perempuan (YJP) Gadis Arivia. Gadis mengatakan itu saat perayaan ke-13 tahun YJP di Hotel Le Meridien, Jl Jend Sudirman, Jakarta, Jumat (25/7/2008).
Sementara menurut praktisi film Nia Di Nata yang hadir dalam acara itu mengatakan dalam bidang media khsususnya perfilman, perempuan masih sebatas dijadikan objek. Sampai 24 Juli 2008, imbuh Nia, dari 48 film bioskop yang sudah diproduksi, hanya satu film yang menonjolkan sisi perempuan secara wajar.
Oleh karena itu Nia mengajak perempuan untuk dapat membuat strategi melepaskan persoalan itu. Salah satunya dengan mempengaruhi media publik secara aktif. “Perempuan harus mempunyai pengaruh besar di media. Supaya citra tentang perempuan dapat berubah,” ucap Nia optimis. Selengkapnya baca di detikcom.
Saya setuju sekali dengan pendapat di atas. Oleh karenanya penting sekali perempuan terus menerus belajar menyuarakan keprihatinannya dalam berbagai ekspresi. Yang mampu dan mau bisa belajar mulai dengan tulisan, memberikan wacana publik, dalam bentuk kreasi seni dan juga dituangkan dalam bentuk film, video dan foto. (more…)











