Masih ingat kisah heboh perang comment di jagad maya gara-gara lagu “Rasa Sayange” dipakai promo pariwisata negeri jiran? Akhirnya menjalar ke urusan tari saman, angklung sampai batik. Susah memang kalau bicara ‘copy right’, akhirnya tergantung siapa yang (lebih dulu) mau mendaftarkan dan di negara mana. Nah kalau harus didaftarkan ke semua negara, ongkos siapa ya ? Terlepas soal copy right, biarlah itu menjadi urusan para penasehat hukum dan ahli budaya, kasus ini menunjukkan bahwa kita sedang dalam proses mencari identitas bangsa. Maka saat ada bangsa lain meng’claim’ sesuatu yang mirip serupa dan sebangun dengan yang sudah dimiliki bangsa ini, kita menjadi reaktif karenanya.
Cinta bangsa dan negeri sendiri wajarnya memang harus dimiliki setiap warga negara. Gak orang amrik, orang china sampai zimbabwe punya kecintaan tersendiri pada negrinya. Rasa nasionalisme perlu ditumbuhkan dan dipelihara sedari muda dengan memiliki kebiasaan-kebiasaan kecil dan melalui tindakan sehari-hari. Contohnya tentang keputusan dalam memilih dan menggunakan barang-barang yang ada disekitar keseharian kita. Orang china dan jepang sangat mencintai dan bangga dengan produk dalam negerinya. Gimana dengan kita ?
Didalam rumah biasanya para ibu lah yang menentukan segala produk yang dipakai oleh anggota keluarga. Kalau memang kita mau mengajarkan nasionalisme pada anak-anak, mari kita juga sedikit berusaha mempelajari setiap proses produksi dan pengadaan setiap barang yang akan kita pakai. Untuk buah-buahan import tentu ditanam di luar negeri dan menggunakan tenaga kerja setempat (china,vietnam,australia dsb). Packagingnya membutuhkan biaya extra termasuk ruang pendingin. Sudah harganya mahal akibat biaya shipping and handling, kita masih kebagian ’sampah’nya. Semua bekas kayu dan styrofoam sisa packagingnya tercampak di Indonesia kan? Naah..dari pada beli buah import lebih baik beli buah lokal yang ada di pasar sekitar kita saja. Atau kalau malas ke pasar becek, kalau ke supermarket pilihlah buah produksi dalam negeri saja. Inget lagu : papaya, mangga, pisang jambu? Dibeli dari pasar minggu. Sekarang pasar minggu bukan lagi sentra buah, tapi gak ada salahnya kita beli buah produk lokal. Selain memelihara kesehatan, lebih murah dari buah import, kita juga ikut membantu para petani lokal untuk memperpanjang hidupnya.
Demikian juga dengan pakaian yang kita gunakan. Daripada beli yang bermerek-merek hanya untuk membayar royalty para pemegang lisense serta sewa ruang pamer di mall yang mahal, lebih baik beli batik yang semakin mudah terjangkau, dan bisa dipakai dalam segala acara. Orang yang mementingkan ‘gengsi’ pake barang bermerek, bisa dipertanyakan nasionalisme nya. Beli produk dalam negeri aja malu, jangan-jangan nanti dia malu mengaku orang Indonesia. Daripada adu argumen, lebih baik saling berlomba membuktikan cinta Indonesia dengan membeli, memakai dan promosi barang Indonesia. Soal mutu? kalau industri maju pasti mutu menjadi lebih baik. Itulah gunanya kompetisi.
Design batik semakin modis dan kainnya semakin halus. Melalui kompetisi sehat akhirnya hargapun bisa bersaing. Selain lebih ekonomis dibanding pakaian import, kita ikut membantu 800 ribuan perempuan yang hidupnya ada di industri batik dalam negeri. Tapi teliti dulu sebelum membeli, cek dulu labelnya, karena china pun memborong produksi batik untuk dijual di Indonesia [detik]. Duuh…
Filed under: politik | Tags: amerika, demokrat, gender, McCain, obama, politik, republik
Inilah serunya pemilu kalau hanya dua partai: Demokrat, Republik plus Independen. Yang terjadi adalah perebutan dan pertarungan antar kualitas. Mereka saling menajamkan visi dan programnya. Semakin banyak partai maka semakin sulit untuk mendapatkan pemimpin berkualitas. Saya sempat kesengsem mendengarkan pidato Michele Obama, so down to earth. Seandainya saja semua ibu pejabat di Indonesia dari tingkatpusat sampai daerah seperti ini, bisa terjadi kebangkitan nasional kedua nih. Tapi memang proses panjang masih harus ditempuh Indonesia yang relatif baru belajar demokrasi 10 tahun, jauh banget dibandingkan dengan amrikyang sudah di atas 200 tahun. Paling tidak kita bisa belajar dan memetik hikmahnya dari mereka(.Terima kasih mbak Gadis lewat pencerahannya, memang keberpihakan gender tidak berhenti pada soal memilih perempuan tetapi lebih kepada karya nyata yang diberikan kepada rakyat khususnya perempuan dan anak-anak sebagai kelompok yang biasanya tersingkirkan (RA).
Konvensi Partai Demokrat ditutup oleh Barack Obama pada tanggal 28 Agustus 2008 dengan pidato yang mengguncang rakyat Amerika. Stadium Denver yang megah menghadirkan 85.000 pendukung Barack Obama. Para pendukung ini sebelumnya telah disuguhkan oleh pidato-pidato yang bersejarah mulai dari
Michelle Obama, Hillary Clinton, Bill Clinton, Al Gore (bekas wakil presiden dan pemenang hadiah nobel) serta banyak tokoh-tokoh inspiratif lainnya seperti Joe Biden, calon wakil presiden Obama. Konvensi ini bertepatan dengan ulang tahun yang ke-88 hak politik perempuan untuk memilih dan ulang tahun yang ke-45, mengenang tokoh pergerakan hak-hak sipil, pejuang anti rasisme, Dr. Martin Luther King.
Malam itu malam yang indah khususnya bagi keturunan Afrika-Amerika yang dengan terharu melihat Obama berdiri di atas podium menguraikan pendapatnya tentang apa yang disebut Amerika di abad ke-21. Amerika menurut Obama sedang berubah *(change)*, hendak menghentikan cara-cara politik masa lalu
yang tidak memihak rakyat, memperkuat ekonomi kelas menengah dan memperjuangkan kesehatan universal agar kesehatan terjangkau untuk semua kalangan. Obama memaparkan latar belakang keluarganya yang sederhana, diasuh oleh orang tua tunggal (ibunya), mendapatkan beasiswa hingga ke Harvard dan
menampik pekerjaan menjadi pengacara top, lalu, memilih bekerja di LSM di Chicago untuk orang-orang miskin dan kini menjadi kandidat presiden Amerikan pertama yang berkulit hitam, “inilah yang disebut dengan *the American dream!,”* Obama berkata lantang. Baik Obama dan Michelle berterima kasih
kepada Amerika yang telah memungkinkan mereka (anak dari keluarga latar belakang biasa) bisa mengenyam pendidikan terbaik sehingga bisa menjadi anggota masyarakat yang berkontribusi pada negaranya. Inilah sebabnya ia mau dan siap menjadi pelayan rakyat, bekerja untuk rakyat untuk masa depan
Amerika. (more…)
Filed under: sosial masyarakat | Tags: anak, BLT, industri, keluarga, miskin, sehat
Urusan yang satu ini memang ribet. Sudah dibikin aturan bahkan perda sekalipun, tidak ada giginya, cuma jadi macan ompong. Para pejabat bahkan anggota DPR pun merokok diruang sidang. Mau dibikin fatwa MUI, apa ya bisa ? lha wong para pemuka agama apapun banyakyang ‘ngudut’ je.. Walhasil cuma berkesan memberi pesan : anak-anak jangan ngerokok dulu, nanti boleh…. Bahkan kalau iklan berbahasa arabdari Saudi ini pun ditempel di tempat ibadah mungkin ‘gak ngepek’ juga. Para perokok selalu punya alasan bahwa yang tidak merokokpun akhirnya mati juga. Ya memang, tapi para perokok lupa bahwa mereka meninggalkan pesan tidak tertulis pada pasangan dan anak-anaknya ” Hei aku sedang mempersiapkan kematian kita“.
Mau dilarang total, wah lebih heboh lagi. Pendapatan negara dari cukai rokok saja di tahun 2006 mencapai 52 trilliun, lebih dari tiga kali lipat royalti PT Freeport. Didalam indutri ini ada 6 juta tenaga kerja didalamnya. Kalau satu orang menanggung 3 mulut maka ada 24 juta perut tergantung di industri ini. Kalaupun industri rokok dalam negeri mengecil tapi import gak dilarang, sama saja lah, justru kita menghidupi tenaga kerja industri rokok dari malaysia, vietnam dsb. Bukan masalah mudah menciptakan lapangan kerja bagi 6 juta orangyang mayoritas minim ketrampilan. Maka kalau cuma melihat dari sisi ini para perokok makin senang dan berkampanye “mari merokok ramai-ramai karena kita menghidupi orang banyak”.
Disatu sisi data pendapatan negara ini juga harus dibandingkan dengan berapa besar akibat yang ditimbulkan dalam belanja negara dari dibakarnya 226milyar batang rokok. Fasilitas pengobatan kanker yang canggih harus diadakan di berbagai Rumah Sakit Daerah. Sekali perawatan kemoterapi di RSCM bisa habis 4 juta rupiah. Bea siswa pendidikan anak atau orang tua asuh keluarga miskin sebagai subsidi pengganti uang rokok; bandingkan nilai sebungkus rokok dengan uang SPP anak SD/SMP. Belum termasuk nyawa beberapa anak yang memilih gantung diri karena malu gak bisa bayar SPP. Belum lagi uangreceh di jalanan yang diberikan para pengemudi mobil mewah,cuma habis dibakar anak-anak. Mereka memilih menggelandang di jalan demi makan dan rokok daripada sekolah. (more…)
Tidak membutuhkan waktu lama membacanya, tidaksampai dua hari sudah selesai dibaca. Ringan, menggelitik tapi cukup menohok sanubari juga. Begini bobrok kah hasil reformasi negri ini? Hanya ada dua kesimpulan setelah membacanya : menjadi semakin apatis atau menjadi semakin geregetan dan bertanya ” apa yang bisa saya lakukan?”
Penerbit telah berhasil mencapai visinya untuk menjadikannya sebagai sarana pembelajaran politik. Soal jadi best seller itu bonus lah . Saya rasa akan ada seri kedua bahkan ketiga dari buku ini. Tulisan ini belum semuanya, baru 33 kisah dari lima tahun bermarkas di Semanggi. Nanti pasti ada yang menyusul kisah dari berbagai departemen atau bahkan pemkot sertapara menteri berani juga buka mulut tentang segala sepak terjang pemimpindi negeri Indosiasat ini.Selain dari koleksi sang Abu Semar, pasti ada juga rekan Abu Semar lainnya punya cerita serupa yang tak kalah seru. Seperti layaknya orang Indonesia, gampang ketularan penyakit “Me Too”. Lho ternyata dia bisa nulis, kenapa saya gak ya? Hehe… kita tunggu saja, akan buanyak cerita lain keluar dari belakang pintu Gedung Bundar.
Buku ini memang pas banget, pas isinya pas di rilis timingnya saat nama-nama dalam DCS (Daftar Calon Sementara) sudah masuk KPU. Tidak bisa mundur lagi, kecuali para caleg memeriksa diri mengukur kemampuan dan ketahanan diri sebelum masuk kawah candradimuka dengan berbagai perponcloannya. Siap mental luar dalam, kuat iman diantara seliweran rupiah dan dollar . Ingat KPK juga sedang unjuk gigi. Jangan-jangan di tahun 2009 gedung bundar itu berubah menjadi ’see through’ window dengan kaca tembus pandang dimana-mana disertai “hidden camera” dan microphone. All wired atas permintaan rakyat …. (more…)
Kemiskinan adalah ramai-ramai menyaleg demi kekuasaan dan kekuasaan
Kemiskinan adalah mengobral Tuhan demi mengakumulasi kursi
Kemiskinan adalah menguasai partai turun temurun pesta pora sanak famili
Kemiskinan adalah membusungkan umur yang muda dengan sokongan dana lumpur yang tua
Kemiskinan adalah mencoblos jendral bersenjata berkedok hati nurani rakyat
Kemiskinan adalah amnesia pada orde penindas mengusung beringin yang sama pula
Kemiskinan adalah mengumbar jargon lokal karena defisit akal
Kemiskinan adalah menolak spirit kapital demi wacana sok sosial
Kemiskinan adalah nasionalisme picik kedunguan pengetahuan global
Kemiskinan adalah belenggu agama mematikan denyut nadi kemanusiaan
Kemiskinan adalah mental korup di segala penjuru nusantara
Kemiskinan adalah jual perempuan ke Saudi demi sesuap nasi
Kemiskinan adalah pilihan anak bunuh diri ketimbang hidup di Indonesia.
Filed under: sosial masyarakat | Tags: perempuan, miskin, anak, pekerja, PRT, majikan
Masih di bulan kemerdekaan ini, mari kita memperhatikan ranah domestik yang berurusan sekitar rumah tangga sendiri. Kita merayakan proklamasi kemerdekaan tapi jangan-jangan kita merampas kemerdekaan orang lain secara tidak langsung di dalam rumah kita. Dibanyak rumah tangga di kota besar, tidak jarang ditemui para perempuan PRT. Baik karena alasan praktis, para ibu bekerja mauupun tidak bekerja; ada kemudahan dan kemanjaan tertentu dengan adanya penyedia jasa PRT, Pekerja Rumah Tangga, yang mayoritas perempuan. Justru di bulan-bulan menjelang bulan puasa begini, para ibu mulai sulit sekali mencari perempuan yang mau bekerja sebagai PRT.
Umumnya para ibu lebih senang memilih perempuan muda yang berusia 12-15 tahun, atau dibawah 18 tahun. Makin muda makin murah dan tidak mudah tergoda pindah-pindah pekerjaan karena masih ‘takut’. Tidak banyak tuntutan dan kalau bisa malah jadi teman main anak-anak dirumah. Sehingga batas antara pekerja dan ‘teman’ main menjadi tipis. Yang sudah senior, dinilai sering pasang harga dan sulit ‘diajari’, malah ‘keminter’ merasa lebih pandai dari majikannya.
Sebenarnya mempekerjakan anak berusia dibawah 18 tahun sebagai PRT sudah melanggar UU No 13 tentang Ketenagakerjaan tahun 2003. Paling tidak kalau saja setiap perempuan juga memahami gunanya UU tersebut dibuat, maka perempuan pun bisa mengurangi kejahatan trafficking atau pun Pekerja Anak dengan tidak mempekerjakan mereka yang berusia dibawah 18 tahun. Sayangnya pemerintah belum memperlakukan PRT sebagai suatu kelompok pekerja atau buruh yang harus dilindungi hak dan kewajibannya. Bila demikian maka profesionalitas PRT perlu diperhatikan selain juga memperjuangkan pendapatannya untuk bisa mengikuti UMR – Upah Minimim Regional. (more…)
| Wednesday, 20 August 2008 [SINDO] | |
| Dua anak jalanan di Depok berhasil masuk (kuliah) Universitas Indonesia (UI).Ini bukti bahwa siapa saja, akan berhasil jika dia serius.
KEBANGGAAN sekaligus keharuan terpancar dari wajah Ais Rohim dan Ayatullah Khomaeini. Dua anak jalanan yang setiap hari berjualan koran dan mengasong ini baru saja diterima di UI.Lebih mengharukan lagi,keduanya datang ke Jakarta tanpa sanak saudara sekalipun.
Ais Rohim merupakan siswa Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Bina Insan Mandiri atau Sekolah Terminal yang berasal dari Gorontalo.Sehari-harinya dia berjualan koran di Terminal Depok. Anak baru gede (ABG) berkulitcokelatinimerantau ke Depok sendirian. Hal serupa juga terjadi dengan Ayatullah Khomaeini. Begitu datang ke Depok dari Bengkulu, dia tinggal di Terminal Depok karena tidak memiliki sanak saudara. Minatnya yang besar dalam menuntut ilmu, membuat keduanya mendaftar dan ikut belajar di Sekolah Terminal,yang memang menampung anak-anak jalanan yang ingin menuntut ilmu. ”Saya datang ke Depok untuk mencari uang dan pendidikan. Karena tidak punya modal,saya akhirnya dagang koran dan asongan di Terminal Depok. Lalu, saya masuk Sekolah Terminal yang gratis. Alhamdulillah, berkat bimbingan Pak Nurrohim (Ketua PKBM Bina Insan Mandiri), saya bisa menuntut ilmu di UI,” ucap Ais yang akan kuliah di Jurusan Sastra Jawa, Fakultas Budaya. (more…) |
Kadang uang mengalahkan semuanya, semua yang ada di hidup kita dengan dalih memenuhi kebutuhan hidup.Tahu kah anda saat kita tua dan pensiun atau saat kita meninggal, perusahaan memiliki ratusan, bahkan ribuan orang untuk menggantikan kita. Tapi sadarkan kita, tidak ada satu pun yang bisa menggantikan kita di hati, pikiran dan ingatan anak kita tercinta yang ada di rumah.SUDAHKAH KITA MEMIKIRKANNYA? – Source Unknown
Mamaku sayang, aku mau cerita sama mama. Tapi ceritanya pake surat ya.
Kan, mama sibuk, capek, pulang udah malem.
Kalo aku banyak ngomong nanti mama marah kayak kemarin itu, aku jadinya takut dan nangis.
Kalo pake surat kan mama bisa sambil tiduran bacanya.
Kalo ngga sempet baca malem ini bisa disimpen sampe besok, pokoknya bisa
dibaca kapan aja deh. Boleh juga suratnya dibawa ke kantor.
Ma, boleh ngga aku minta ganti mbak? Mbak Jum sekarang suka galak, Ma. Kalo aku ngga mau makan, piringnya dibanting di depan aku.Kalo siang aku disuruh tidur melulu, ngga boleh main, padahal mbak kerjanya cuman nonton TV aja.
Bukannya dulu kata mama mbak itu gunanya buat nemenin aku main?
Trus aku pernah liat mbak lagi ngobrol sama tukang roti di teras depan.
Padahal kata mama kan ngga boleh ada tukang-tukang yang masuk rumah kan?
Kalo aku bilang gitu sama mbak, mbak marah banget
kan katanya kalo diaduin sama mama dia mau berhenti kerja.
Kalo dia berhenti berarti nanti mama repot ya? (more…)
Sebuah buku yang layak dibaca bagi para calon legislatif yang namanya sedang di ’screen’ di KPU. Buku ini merupakan kumpulan cerita atau sketsa berjudul Parlemen Undercover (Kisah-kisah Sontoloyo Wakil Rakyat
Negeri Indosiasat). Buku ini ditulis Abu Semar, sebuah nama yang memang tidak wajar. Anda pasti sudah menebak bahwa nama tersebut adalah tiruan, palsu alias nama samaran. Memang benar, kendati dalam buku tersebut tidak secara eksplisit disebutkan identitasnya.
Kabarnya, penulis buku ini sejatinya adalah anggota DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kebenarannya, wallahu alam bishawab! Hanya penerbit buku ini yang tahu.
Membaca buku inside story setebal 251 halaman ini Anda akan disuguhi 33 perilaku sontoloyo anggota DPR, termasuk urusan syahwat dan berahi
anggota Dewan.
Dalam tulisan berjudul “Sekretaris Selembar Benang” pembaca akan paham empat kriteria sekretaris yang dipilih anggota DPR. Pertama, sekretaris senior. Sekretaris ini memiliki profesionalitas dan memiliki jam terbang yang tinggi. Kedua, sekretaris atas hasil persaudaraan (KKN). Sang sekretaris berasal dari keluarga atau kerabat. Ketiga, sekretaris junior. Sekretaris kategori ini pengalaman tidak diutamakan yang penting
kegesitannya. Nah yang keempat, adalah sekretaris gitar spanyol atau apalah namanya. Sekretaris inilah yang melahirkan korban-korban seperti kasus yang menimpa Desi.
Apalagi anggota Dewan ini memiliki kewenangan untuk mengangkat dan memberhentikan sekretaris pribadi kapanpun dan sesukanya. Bila sang sekretaris kinerjanya buruk atau tidak memuaskan dalam arti positif dan negatif, maka anggota Dewan dengan sangat mudah dapat memecatnya. Easy come, easy go!
Masih dalam tulisan berjudul “Sekretaris Selembar Benang” diceritakan pula seorang office boy (OB) bernama Yoben—tentu nama samaran—menemukan karet yang lengket menempel dalam tong sampah seorang anggota Dewan. Karet tersebut ternyata sebuah kondom bekas pakai! (more…)
Saat mendengar lagu Ibu Pertiwi dinyanyikan koor anak-anak dalam Misa hari Minggu kemarin, sungguh hati saya teriris. Bukan memikirkan apa yang saya dapat di negeri ini, bukan juga mengeluh akan apa yang sedang terjadi dengan negeri ini; tapi membuat saya memeriksa diri apa yang telah saya lakukan bagi negeri ini. Saat ini memang Ibu Pertiwi sedang bersusah hati, air matanya berlinang, emas intannya tenggelam. Mampukah kita yang masih ada membuat Ibu Pertiwi tersenyum kembali?











