Sebuah dunia sunyi bernama blog patutlah dikunjungi oleh mereka yang mengangankan diri menjadi pemimpin. Sebab blog menandakan kehadiran seseorang. Seseorang dengan seluruh masa lalunya hadir dalam tulisannya. Tulisan yang serius penuh ide, atau hanya iseng saja.
Mengapa seorang calon yang mau memimpin harus mengunjungi blog bukan kunjungan ke banyak orang dengan segala macam properti, yang terasa bagi banyak orang hanya gerakan menanggung nama di depan media massa, atau di hotel-hotel bintang lima yang terasa pula seolah mengasingkan dirinya dengan banyak orang yang mau ditangguk suaranya – bukankah orang-orang itu ada atau berada di alun-alun bukan di hotel?
Mengunjungi blog terasa sebagai politik ikhlas yang tanpa pamrih – seolah orang bijak yang menginginkan kebenaran suara dari rakyatnya, bukan semata mendengarkan sumber informasi yang sudah disortir sedemikian rupa dari hulubalangnya atau tim susksesnya. Tapi mengunjungi blog tanda juga empati yang tidak dibuat-buat. Semacam humanis bawaan yang tanpa pamrih apapun kecuali ingin menyelam ke dalam keadaan.
Mungkin keluhan tentang dunia pendidikan oleh anak yang dari jawa tengah dengan kode tieanhere pada blognya ini adalah keluhan dari banyak orang juga. Pada blognya hanya ada dua belas orang yang meresponnya – sebuah blog adalah sebuah dunia yang sunyi tapi intim bagi pembacanya yang telah terbentuk. Pada blog di multiply yang bergambar anak-anak itu, seorang pemimpin bisa mereguk sebuah kenyataan yang dihadapi oleh sang anak, kenyataan yang diungkapnya dengan gaya remaja masa kini: sedikit cuek, sedikit ugalan, dan penuh dengan kata-kata dari bahasa indonesia yang memang tak memerlukan suatu undang-undang apapun itu: bahasa slank dari pergaulan remaja sehari-hari.
Dengarlah kata-katanya sendiri di bawah ini-hudan hidayat
Gag Mutu !!! (more…)
Filed under: artikel, politik | Tags: apatis, caleg, domestik, hak, perempuan, politik, publik, skeptis
Bangka Pos – edisi: Jum’at, 01 Agustus 2008 WIB – Penulis: Oleh: Wulpiah
Masalah perempuan dan politik di Indonesia terhimpun sedikitnya dalam empat isu: keterwakilan perempuan yang sangat rendah di ruang publik; komitmen partai politik yang belum sensitif gender sehingga kurang memberikan akses memadai bagi kepentingan perempuan; dan kendala nilai-nilai budaya dan interpretasi ajaran agama yang bias gender dan bias nilai-nilai patriarki. Dan minat/hasrat/ animo para perempuan untuk terjun dalam kancah politik rendah; tapi untuk yang terakhir ini perlu dilakukan pengkajian lebih mendalam.
Sepertinya isu terkait keterlibatan perempuan dalam politik sekarang sudah dimulai, mengingat sudah dibukanya pencalonan anggota legeslatif untuk tahun 2009 dan pencalonan anggota DPD RI daerah pemilihan Bangka Belitung. Namun pada level nasional juga lokal, persoalannya adalah sulitnya mencari sang perempuan untuk dicalonkan. Pertanyaannya sejauh mana keikutsertaan para perempuan dalam kompetisi ini?
Secara khusus, hak politik perempuan dalam DUHAM (Deklarasi Universitas Hak Asasi Manusia) tertuang dalam pasal 2: “setiap orang berhak atas semua hak dan kebebasan-kebebasan yang tercantum di dalam Deklarasi ini tanpa perkecualian apapun, seperti ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, politik atau pendapat yang berlainan, asal mula kebangsaan atau kemasyarakatan, hak milik, kelahiran, ataupun kedudukan lain.” Hak politik perempuan dinyatakan pula secara lebih rinci dalam Konvenan Internasional Tentang Hak-Hak Sipil dan Politik pasal 25 dan 26. Konvenan ini telah diratifikasi pemerintah Indonesia melalui UU No.12 Tahun 2005. (more…)
Filed under: artikel, lingkungan hidup, politik | Tags: ekonomi, lingkungan, pembangunan, politik
Pemilu 2009 akan digelar, beberapa dari Anda masih ragu untuk memilih partai mana yang akan dipilih nanti. Jika Anda adalah salah seorang yang sadar akan pentingnya lingkungan bagi kehidupan saat ini dan masa depan, tentunya Anda akan berhati-hati dalam memilih partai. Celakalah kita, jika mayoritas partai pemenang pemilu adalah partai yang tidak memiliki wawasan tentang lingkungan. Ciri-ciri partai yang tidak punya perhatian besar pada masalah lingkungan, antara lain adalah
- Dalam struktur organisasi tidak ditemukan bagian atau seksi yang menangani masalah lingkungan dan energi secara khusus.
- Tidak menyebutkan salah satu visi atau misinya berkaitan tentang lingkungan.
- Jika mereka memiliki Badan Penelitian dan Pengembangan, tidak ada seksi atau bagian yang menangani masalah lingkungan
- Dalam kampanye, khususnya program yang diajukan kepada pemilih tidak ada menyinggung tentang lingkungan, pemberdayaan hukum lingkungan, dan statement khusus tentang lingkungan.
- Dalam Dewan Pakar atau pembina, tidak ada seorang pakar lingkungan yang dikenal.
Kalau hanya sekedar aktifitas menanam pohon, anak TK dan SD juga sudah biasa! Partai yang akan kita pilih diharapkan dapat memiliki visi misi dalam sustainable development atau pembangunan berbasis lingkungan dan sejenisnya. Maka visi misi itu harus dijelaskan agar kita dapat meminta pertanggung jawaban mereka pada saat mereka telah duduk di Dewan Perwakilan Rakyat/ DPD/ DPRD.
Saya baru menelusuri beberapa website partai politik yang akan ikut bertarung dalam pemilu 2009, alhasil beberapa partai yang kini ikut dalam pemilu tidak memiliki visi dan misi tentang lingkungan. Bahkan Partai Demokrat, partainya Bapak Presiden kita (SBY) tidak memiliki visi dan misi tentang lingkungan (huebat kan!). (more…)











