Sudah tahu daerah kumuh, banyak manusia hidup didalamnya, tentunya dibutuhkan pendekatan yang lebih manusiawi sebelum dilakukan tindakan penggusuran. Pengumuman lewat corong berkali-kali tanpa pendekatan yang lebih membumi dari hati ke hati hanya akan menimbulkan luka yang sulit disembuhkan, bahkan bisa menjadi borok dan bisul yang bisa meletus dikemudian hari. Kalaulah saja semua aparat dan pemda punya ‘hati’ tentunya bisa dicari solusi yang win-win walau mungkin agak memakan waktu dan biaya. Bisa dibayangkan dampaknya bagi keluarga terutama anak-anak yang trauma akibat cara penggusuran seperti ini.Lagi-lagi perempuan juga yang tadinya jadi sumber penghasilan keluarga sekarang jadi korban penggusuran dan sasaran kampanye. (RA)
Fatimah, Potret Korban Penggusuran PT KA Rabu, 06/08/2008 03:04 WIB Moksa Hutasoit – detikNews
Jakarta – Fatimah hanya dapat melihat rumahnya yang telah rata dengan tanah . Tangan tuanya tidak berhenti untuk merapihkan sisa-sisa barang yang tertinggal agar tidak tercecer. Perempuan itu tidak tahu lagi harus tidur di mana. Rumahnya dan 367 rumah warga lainnya yang berada di sekitar Stasiun Kota, Jakarta, dibongkar oleh PT Kereta Api (KA).

Pembongkaran yang berlangsung sejak Selasa (5/8/2008 ) itu, bertujuan untuk merapikan lingkungan sekitar Stasiun Kota dari himpitan rumah-rumah liar karena dianggap membahayakan perjalanan KA.
Fatimah telah menghuni rumahnya selama 11 tahun. Rumah itu terletak persis di tengah-tengah jalur perlintasan KA yang mengarah ke Stasiun Kampung Bandan. Selain tempat tinggal, Fatimah menjadikan rumahnya juga sebagai warung makan.
Menurutnya, tanah untuk rumahnya didapat dari seseorang yang bernama Pak Kaji. Dalam sebulan, dia mengaku harus menyetor uang Rp 400 ribu untuk biaya kontrak. Dengan adanya penggusuran ini, menurut Fatimah, Kaji tidak mau bertanggung jawab sedikitpun. “Padahal Rp 20 juta saya pakai buat modal awal. Tanah saya di kampung saya jual,” keluh Fatimah yang mempunyai 13 anak dan 11 cucu ini. Meski mengaku salah, menurut Fatimah, keuntungan dari munculnya rumah-rumah liar di sekitar rel KA juga banyak.
“Dulu tempat ini gelap dan rawan. Banyak kabel-kabel yang dicuri, pembunuhan, ada juga yang diperkosa. Tapi karena ada kita, jadi aman,” kata Fatimah. Meski kesal dengan adanya penggusuran, nenek berumur 50 tahun ini tetap membongkar rumahnya. Fatimah hanya berpesan agar kehidupan rakyat kecil seperti mereka jangan dilupakan oleh pemerintah daerah.
“Kalau mau pemilu, semuanya pada baik sama saya. Tapi kalau sudah lewat, tidak ada yang mau peduli,” kata dia.(mok/irw)











