Saatnya HATI NURANI bicara


Mengais Sisa Beras
August 11, 2008, 3:56 pm
Filed under: Uncategorized | Tags: , , ,

Orang dewasa bahkan anak-anak bisa mati di lumbung beras kalau begini caranya. Mati terserempet truk beras atau mati kelaparan karena tiada makanan untuk pengganjal perut. Ironisnya para warga yang hidup dari butiran-butiran beras yang begitu bernilai seperti mutiara ditangan mereka ini, tinggal di sekitar gudang beras di Ibu kota yang masuk urutan kedua termahal di Asia.(RA)

SUARA PEMBARUAN DAILY - Pagi-pagi buta, di kala sebagian besar warga Jakarta tidur nyenyak, di sebuah rumah petak berukuran 3×3 meter di dekat Pasar Induk Cipinang (PIC) Jakarta Timur, kesibukan mulai terlihat. Maklum, semua penghuninya yang terdiri dari seorang Ibu bernama Teti dan tujuh orang anaknya mulai bergegas menjalani aktivitas keseharian.
Kamal (12 tahun), anak kelima juga ikut bersiap-siap, bukan dengan pakaian seragam dan tas sekolah seperti anak sebayanya, tetapi dengan kantong plastik untuk mengais sisa-sisa beras di Pasar Induk.
Seperti jejak kakaknya yang lain, Kamal dalam usia yang masih belia harus putus sekolah, karena ketiadaan biaya. Dia pun, terpaksa bekerja memungut beras tumpahan yang melimpah dan berceceran di Pasar Induk Cipinang setiap hari. Di sanalah jadi lahan baginya bersama teman-temannya mengais rejeki. “Awalnya dia hanya ikut teman-teman sebayanya mencari beras. Tapi akhirnya kami sangat tergantung dengan beras yang dipungutnya setiap hari. Setidaknya beras yang dibawa anakku pulang bisa untuk makan kami sehari-hari dan sisa pungutan beras dijual ke tetangga Rp 4.000 per liter,” kata Teti.

Lumayan, untuk menambah pendapatan dari sang Ibu yang sehari-harinya memulung untuk membeli kebutuhan hidup lainnya. Sebenarnya, Teti kasihan melihat anaknya setiap hari dari pukul 04.30 WIB hingga siang hari harus mengais beras. Kadang, berlari mengejar mobil pengangkut beras dan berusaha melongok ke dalam bak, apakah ada tumpahan beras yang bisa mereka kumpulkan. “Berisiko memang, tetapi bisa melompat ke atas truk pengangkut dan mulai mengumpulkan butir demi butir beras sudah sangat menguntungkan, ” kata Teti. (more…)



Malu Sekolah Karena Tak Bisa Beli Buku
August 11, 2008, 4:09 am
Filed under: artikel, pendidikan | Tags: , ,

Bicara pendidikan tidakbisa terlepas dari para guru yang terlibat didalamnya. Selama kebutuhan mendasar mereka tak terpenuhi akhirnya jam pelajaran berkurang bahkan buku pelajaran pun jadi obyek penghasilan tambahan mereka. Maka anggaran pendidikan 20 % harus benar2 digunakan untuk perbaikan prasarana sekolah dan juga meningkatkan kualitas para guru. Pahlawan tanpa tanda jasa bukan berarti bisa dibayar dibawah UMR dan tidak diperhatikan status kepegawaiannya. Kalau sekolah negri lain bisa memberikan buku tanpa biaya tambahan, kenapa sekolah lain tidak bisa ya? Memang banyak yang aneh di negri ini (RA)

SUARA PEMBARUAN- Putri sebut saja namanya begitu, kini berubah jadi anak pendiam. Gadis berusia tujuh tahun itu duduk di kelas dua Sekolah Dasar Negeri (SDN) X, Perumnas 3 Kelurahan Aren Jaya, Kota Bekasi, Jawa Barat. Entah apa yang membuat Putri mulai takut masuk sekolah.
Setelah ditanya kenapa berubah jadi pendiam dan takut ke sekolah, Putri hanya menggelengkan kepalanya. Putri segera menghampiri ayahnya Abut (43). Di pangkuan sang ayah, Putri sejenak menghilangkan beban yang sebenarnya belum layak dia emban.

Akhirnya, Abut terbuka dengan keadaan anaknya. Abut yang sehari-hari bekerja sebagai loper koran di persimpangan Jl Ahmad Yani-KH Noer Alie, Kota Bekasi juga mengaku pusing memikirkan masa depan anak bungsunya. ”Saya tidak mampu membeli buku baru Putri. Padahal, tujuh buku pelajaran yang dianjurkan gurunya untuk dibeli harus ada Senin (11/8 ) depan,” tuturnya. Dia meminta SP tidak menuliskan nama asli putrinya karena takut dikucilkan guru-guru di sekolah.
Abut menceritakan keadaan putrinya bukan tanpa beban. Ia sangat takut anaknya jadi bahan gunjingan guru atau semacamnya. Belum lagi kakak Putri, Nidya (8 ) juga bersekolah di tempat yang sama. Nidya masih duduk di bangku kelas tiga di sekolah milik pemerintah Kota Bekasi itu. Untungnya, Nidya beda dengan Putri yang tidak terlalu memikirkan apa yang dianjurkan wali kelasnya. ”Mungkin dia (Nidya) mengerti kondisi ayahnya,” ujarnya.

Toko Buku Rujukan (more…)