Saatnya HATI NURANI bicara


Nasionalisme Sehari
August 18, 2008, 5:19 pm
Filed under: sosial masyarakat | Tags: , , , ,

Melihat keceriaan perayaan proklamasi dimana-mana terlihat sebagai ajang pelepasan stress rakyat sejenak ditengah sesak nafas kehidupan diantara 365 hari lainnya. Its ok to have fun for a day or so.
Bisa dibayangkan haru birunya warga negara Indonesia yang sedang berada di Beijing menyaksikan dan menyanyikan Indonesia Raya untuk emas pertama kita. Setiap pribadi anak bangsa harus menarik maknanya lebih dalam lagi, apa relevansinya untuk kita sendiri sebagai warga negara Indonesia.  Akhirnya terpulang pada masing-masing warga negara Indonesia untuk memaknai kemerdekaan itu sendiri.

Menyaksikan lomba yang ada disekitar rumah ternyata tidak membuat gatal semua warga masyarakat untuk bergabung di acara 17an yang cuma sekali setahun ini. Padahal kita bisa ikutan lomba atau ikut nonton dan bersorak sorai menyemangati yang berlomba. Tapi ada saja lho yang ‘ngetem’ di rumah memilih meneruskan tidur. Memang perayaan kali ini jatuh di hari minggu, tetapi kan besoknya masih ada extension???

Mungkin saya sendiri yang aneh melihat sikap orang-orang (yang notabene) gedongan. Mereka memilih ngadem di kamar berAC, daripada berpanas-panas ber haha hihi dengan warga sekitarnya. Memang sih mereka berpartisipasi lewat sumbangan sukarela 17an, tapi kan rasa kebersamaan kagak bisa tuh ditukar dengan uang. Apa salahnya membuka pintu dan keluar sejenak, bersandal jepit pun tidak ada yang protes; cukup sekedar bersalaman tegur sapa kiri kanan. Sebegitu beratkah menunjukkan kebersamaan? (more…)



Merdeka! Yakin?
August 18, 2008, 3:07 pm
Filed under: keluarga | Tags: , , ,

Pagi2 aku sudah mendapat sms dari sobat anehku, Kwinta Masalit. Sebagai seorang nasionalis dan staf sekretariat Wapres tentu dia harus upacara pagi2 di sana (entah tepatnya, Istana Wapres ato Istana mana?). Padahal, sebagai bapak yang baik dia juga harus menemani Ray putra sulungnya beli sepeda yang juga berulang tahun hari ini. Sms itu pasti dikirim sesaat setelah upacara selesai.
Sejak dikirimi sebundel lagu dari Simfoni Negeriku-nya Twilite Orchestra, keluargaku mendadak nasionalis dan gegap gempita menyambut hari kemerdekaan ini.

Pagi itu, anak-anakku ingin melihat berbagai lomba di depan pos hansip. Tahun lalu, si Sulung menangis ketika lomba makan kerupuk. Makanya, tahun ini aku tidak menawarkan untuk ikut lomba. Dengan kemauannya sendiri, akhirnya si Sulung kembali ikut lomba. Sambil menunggu giliran ketika kelompok TK A sedang berlomba, aku ajak si Sulung mencermati cara berlomba. Banyak kecurangan di sana-sini, mulai dari dibantu sampai yang kerupuknya dicuili keluarganya. Aku hanya mengatakan, yang penting main jujur, tidak boleh curang. Untuk lucu2an memang terlihat menyenangkan, dibantu orang lalu menang. Malah ada yang anaknya diam saja dan kerupuknya habis karna diremas keluarganya. Tapi begitu selesai lalu keluarganya mengklaim kemenangan? Waduh… (more…)



Makna Kemerdekaan RI di Desa
August 18, 2008, 2:31 pm
Filed under: pendidikan | Tags: , , , ,

Di sekolah dekat Bruderan Karitas tempat saya tinggal, pada hari Jumat dan Sabtu ini diadakan acara kerja bakti dan juga lomba-lomba untuk anak-anak SD dan SMP. Ada lomba membawa kelereng dalam sendok, ada lomba sepakbola lapangan kecil, ada lomba ….

Indonesia telah merdeka selama ini, mulai tahun 1945 – 2008, tetapi ironisnya, saya masih menemukan (ini yang saya saksikan dan alami sendiri) ada anak-anak yang masih kesulitan dan tidak bisa masuk bersekolah, keluarga mereka miskin dan tak mampu membayar biaya sekolah. Lebih ironis lagi, masih ada anak-anak yang masih kekurangan makanan, bahkan lebih parah lagi kekurangan minum air yang layak minum karena kondisi kemiskinannya. Pada hari Jumat kemarin, saya didatangi seorang anak SMP yang menangis gara-gara kehausan, tidak ada air minum layak minum yang bisa diminumnya dan sudah sejak kemarin ia puasa makan dan minum. Anak itu badannya panas karena memang udara panas dan juga kekurangan air menimbulkan badan panas. Ini sungguh menyedihkan. Hal itu hanya ujung kecil dari gunung es pengalaman kemiskinan anak itu. Dan boleh jadi ujung kecil dari gunung es derita kemiskinan di Indonesia.

Semoga makna perayaan hari kemerdekaan RI tahun 2008 menggetarkan jala nurani hati kita semua untuk sesuai dengan menumbuhkan semangat berbagi dengan mereka yang berkekurangan. Didalam arus orang semakin serakah memperkaya diri dengan korupsi dan bermain curang, masih adakah semangat dan nasionalisme untuk mengisi kemerdekaan Indonesia ?
Salam : Br. Yoanes FC