Tidak membutuhkan waktu lama membacanya, tidaksampai dua hari sudah selesai dibaca. Ringan, menggelitik tapi cukup menohok sanubari juga. Begini bobrok kah hasil reformasi negri ini? Hanya ada dua kesimpulan setelah membacanya : menjadi semakin apatis atau menjadi semakin geregetan dan bertanya ” apa yang bisa saya lakukan?”
Penerbit telah berhasil mencapai visinya untuk menjadikannya sebagai sarana pembelajaran politik. Soal jadi best seller itu bonus lah . Saya rasa akan ada seri kedua bahkan ketiga dari buku ini. Tulisan ini belum semuanya, baru 33 kisah dari lima tahun bermarkas di Semanggi. Nanti pasti ada yang menyusul kisah dari berbagai departemen atau bahkan pemkot sertapara menteri berani juga buka mulut tentang segala sepak terjang pemimpindi negeri Indosiasat ini.Selain dari koleksi sang Abu Semar, pasti ada juga rekan Abu Semar lainnya punya cerita serupa yang tak kalah seru. Seperti layaknya orang Indonesia, gampang ketularan penyakit “Me Too”. Lho ternyata dia bisa nulis, kenapa saya gak ya? Hehe… kita tunggu saja, akan buanyak cerita lain keluar dari belakang pintu Gedung Bundar.
Buku ini memang pas banget, pas isinya pas di rilis timingnya saat nama-nama dalam DCS (Daftar Calon Sementara) sudah masuk KPU. Tidak bisa mundur lagi, kecuali para caleg memeriksa diri mengukur kemampuan dan ketahanan diri sebelum masuk kawah candradimuka dengan berbagai perponcloannya. Siap mental luar dalam, kuat iman diantara seliweran rupiah dan dollar . Ingat KPK juga sedang unjuk gigi. Jangan-jangan di tahun 2009 gedung bundar itu berubah menjadi ’see through’ window dengan kaca tembus pandang dimana-mana disertai “hidden camera” dan microphone. All wired atas permintaan rakyat …. (more…)











