Stop Pers: Umat Katolik dan Pemilu 2009
Berikut ini adalah pengumuman yang disampaikan diseluruh paroki seKAJ berdasarkan Surat Himbauan KAJ tertanggal 11 September 2008 yang ditandatangani oleh VikJen KAJ Romo Yohanes Subagyo Pr. Diharapkan Surat Himbauan ini ditindaklanjuti oleh seluruh umat KAJ sebelum berakhirnya batas waktu pendaftaran pemilih hari Jumat 26 September 2008 . Anda akan mendapatkan konfirmasi dari KPU DKI lengkap dengan RT RW nya bila memang telah terdaftar. Untuk pemilih luar negeri, seharusnya yang dimasukkan adalah nomor pasport Anda, karena pemilih warga negara Indonesia di luar negeri masuk di daerah pemilihan (DAPIL DKI 2). Kalau belum adabisa di cek ke KBRI/konsul setempat – (RA)
- Memilih dalam Pemilu 2009 adalah hak sekaligus tanggung jawab setiap warga negara Indonesia, termasuk umat Katolik di KAJ, yang ingin selalu setia berbakti pada negara dan bangsa.
- Tidak memilih (golput) berarti membuka kesempatan pada pihak-pihak yang tidak dikehendaki untuk memerintah negara, sebab mereka dipilih oleh pihak lain.
MAKA GUNAKAN HAK PILIH ANDA !
PASTIKAN NAMA ANDA TERDAFTAR SEBAGAI PEMILIH DALAM PEMILU 2009!!
CARANYA:
- Melalui SMS (bagi penduduk di wilayah DKI Jakarta : ketik CEK <spasi> NO KTP <spasi> NAMA SESUAI KTP kirim ke 0812 10 45678 4
- Cari dan cermati lembar pengumuman DAFTAR PEMILIH SEMENTARA yang tertempel di lingkungan RT/RW/Kelurahan dimana Anda tinggal
- Tanyakan kepada petugas yang berwenang (Ketua RT/RW, petugas kantor kelurahan/Panitia Pemungutan Suara Setempat)
Mari berpartisipasi dalam PEMILU 2009
Mari wujudkan iman kita pada Kristus
Dengan ungkapan bakti bagi negara dan bangsa
Jakarta 11 September 2009
Keuskupan Agung Jakarta
Catatan: Pengumuman ini dikirim ke seluruh paroki melalui fax, e-mail, mailing list, bersama Surat Himbauan “Menggerakkan Umat KAJ untuk ikut serta dalam Pemilu 2009″ dan surat pengantar (yang menjelaskan pembacaan Surat Himbauan, penempelan pengumuman dan perlunya inisiatif paroki untuk menyebarluaskannya kepada umat melalui cara-cara lain)
Potret Kemiskinan Indramayu: Suami Penunggu Uang Kiriman Istri
SUARA PEMBARUAN [Oleh Wartawan "SP" Yuliantino Situmorang]
Wajah Suta bin Darim (42) terlihat suram. Bicaranya pelan saat menerima tamu yang tiba-tiba berkunjung. Dia kebanyakan menunduk menatapi tanah liat keras menghitam yang menjadi lantai rumahnya. Beberapa kali dia menggosok-gosok balai bambu yang dia duduki. Balai bambu itu perabot satu-satunya di ruang tamu berukuran enam meter persegi itu. Sesekali Suta membereskan sarung yang dipakainya dan dengan kaku menatap tamunya.
Raut wajah buruh nelayan Desa Dadap, Kecamatan Juntinyuat, Indramayu, Jawa Barat itu terus menunjukkan kesusahan. Sore itu, ayah tiga anak ini cukup terkejut dikunjungi dua kawannya, aktivis buruh migran Indramayu yang selama ini mendampingi dia mencari istrinya yang sudah 12 tahun hilang. Namun, Suta belum mendapat kabar gembira dari dua kawannya itu.
Hidup Suta tak menentu. Perasaan rindu ke istrinya, Darsi (37) sudah tak terbendung. Istrinya meninggalkan dia dan tiga anaknya mengadu nasib ke Timur Tengah men-jadi tenaga kerja Indonesia (TKI). Tak jelas negara mana yang dituju dan tak jelas kerja sebagai apa istrinya di sana. Sepeninggal Darsi, dia sendirian menghidupi dan membesarkan tiga anaknya yang masih kecil, Karniti (8), Daniri (5), dan Tayo (2). Penghasilannya sebagai buruh nelayan tak menentu. Walaupun masih ada yang bisa dia bawa untuk makan dan uang sekolah anak-anaknya.
Beruntung dia dan anak-anaknya masih bisa menumpang tinggal di rumah orangtua Suta yang juga nelayan. Sementara istrinya yang diharapkan bisa ikut menopang kebutuhan keluarga, tak ada kabar. Kabar terakhir, 12 tahun lalu, dia hanya menerima sebuah surat dari Siti Komil, rekan istrinya sesama TKI, bahwa Darsi sudah bekerja di Riyadh. Setelah itu, tak ada lagi kabar. Jangankan kiriman uang bulanan, surat pun tidak ada. Suta juga kehilangan kontak dengan Siti Komil. (more…)