Saatnya HATI NURANI bicara


DCS (Daftar Cerita Suka-duka) dari DCS -4: Antara Pusat dan Daerah by ratna ariani
October 11, 2008, 11:59 am
Filed under: politik | Tags: , , ,

Fenomena keempat yang kita dapat pelajari dengan terbitnya DCS (Daftar Caleg Sementara) yang tinggal berlaku tiga  hari ini adalah mencuatnya sentimen antara pusat dan daerah, bisa terjadi dalam internal parpol bisa juga terjadi antara parpol dan konstituen setempat.

KPU telah menerbitkan DCS di websitenya dan juga surat kabar, sayangnya tidak dilengkapi informasi lebih lanjut tentang foto dan domisili. Iseng-iseng cek domisili beberapa caleg dengan googling, ternyata mereka kebanyakan caleg asal Jakarta dan beberapa juga pernah mencalegkan diri di parpol lain pada Pemilu sebelumnya. Lalu bagaimana dengan DCS yang diterbitkan KPU Provinsi? Di Jakarta sampai tgl 8 Oktober belum juga muncul, lalu bagaimana di daerah-daerah lainnya sementara waktu terus bergulir. Tidak heran kalau Panwaslu akan mempidanakan KPU karena kelalaian dan minimnya akses informasi terhadap masyarakat.

Timbulnya konflik penolakan caleg ‘titipan’ pusat oleh pengurus parpol di daerah terjadi akibat tidak transparansinya proses pencalegan. Masing-masing parpol memiliki AD/ART sendiri tapi umumnya masing-masing tingkatkepengurusan memiliki tim BAPILDA (Badan Pemenangan PILKADA) dan BAPILU (Badan Pemenangan Pemilu). Tim ini bertugas untuk rekrutmen, seleksi dan sosialisasi para kandidat; mereka membuat alat untuk memberikan nilai atau rating bagi para kandidat. Inilah dia yang jadi masalah, jarang ada yang tahu apa isi alat ukur tersebut ataupun siapa dapat nilai berapa. Tim Bapilu di tingkat pusat menentukan kandidat untuk tingkat DPR dengan menerima masukan dari daerah. Tapi tim Bapilu di tingkat pusat tidak akan mencampuri pencalegan di tingkat provinsi dan kota, karena hal ini menjadi kewenangan  DPD di tingkat provinsi.

Terjadilah aksi tawar menawar kandidat antara tim pusat dan tim daerah, yang biasanya berakhir dengan fatwa dari pusat. Maka bila terjadi ricuh soal pencalonan dalam PILKADA, para kandidat bisa bingung juga. Mereka datang di DPD disambut dan diterima, tapi mereka bisa digeser bilamana ada kandidat lain sudah ‘sowan’ terlebih dulu ke DPP di jakarta. Jadi siapa dong yang maju??

Hal ini terjadi juga saat pencalegan DPR, awalnya timbul ketidak puasan dari rakyat tentang kinerja para anggota dewan 2004. Pekerjaan KPK yang dibentuk DPR, jadi senjata makan tuan. Muncul lah nama-nama anggota legislatif yang masuk kategori politisi busuk. Kampanye politisi busuk menjalar dari Jakarta  sampai NTT. Sehingga saat nama dua anggota legislatif GOLKAR yang masih tersangkut kasus korupsi, masih juga muncul di DCS di dapil yang sama, timbullah reaksi keras penolakan dari masyarakat. Herannya mereka yang masuk daftar politisi busuk malah semakin gencar TP “Tebar Pesona” membagi sembako, sarung, mengadakan baksos dan sunatan massal lengkap dengan liputan media – seolah ‘dekat dengan rakyat’. Duh ! Pertanyaan lain apakah KPU akan menanggapi penolakan politikus (yang diduga) busuk bila kasusnya belum diputuskan oleh pengadilan? Bukankah mereka bisa berlindung dibawah azas praduga takbersalah?

Rupanya pengalaman beberapa kali pesta demokrasi membuat rakyat semakin pandai memilih, mereka tidak mau sekedar dijadikan komoditi politik. Saking pandainya mereka memanfaatkan situasi, mereka memaksa parpol untuk menggantikannya dengan calon lain yang berasal dari NTT. Mereka merasa setelah terpilih,para aleg terhormat sudah lupa akan ‘asal’ suara pemilih dan tidak merasakan manfaat apa-apa dari kemenangan tersebut. There is no more trust.

Kembali nuansa ‘kedaerahan’ muncul ke permukaan. Tidak hanya kepala daerah yang dituntut berasal dari putra daerah tapi anggota DPR pun diminta dari daerah setempat. Untuk caleg DPD dan caleg DPRD tingkat provinsi dan kota sangat mungkin dan logis bila . Mereka perlu betul daerah pemilihan tersebut termasuk isu-isu lokalny, tapi untuk tingkat DPR mungkinkah?? Apa yang terjadi sebenarnya?

Anggota DPR terpilih tidak bisa lagi berwawasan lokal tapi harus berskala nasional dan komprehensif, memikirkan berbagai dampak daerah satu dan lainnya, juga berbagai aspek lain seperti anggaran belanja, perundang-undangan dan dampak sosial lainnya.  Saat mereka duduk dalam satu Komisi maka yang dipikirkan adalah semua daerah. dan tidak mungkin juga setiap anggota legislatif duduk di dua komisi.Maka semakin banak aleg suatu parpol duduk dalam komisi tersebut, maka semakin besar kemungkinannya menggolkan kepentingan parpol dalam mempengaruhi keputusan komisi. Padahal bila sudah terpilih, maka mereka sudah harus disebut “wakil rakyat” bukan wakil parpol.

Penentuan caleg DPR menjadi bagian dari kewenangan DPP yang umumnya berkedudukan di Jakarta. Tentunya mereka memiliki pertimbangan siapa ditempatkan dimana karena mereka mengenal betul perjuangan tiap kader dalam parpol tersebut baik melalui kegiatan program kerja maupun melalui berbagai masalah intern. Kemampuan tersebut juga diasah dari tingkat interaksi para pengurus dengan organ lain diluar parpol seperti dengan LSM, pemerintah pusat, birokrasi dan para penyandang dana. Maka tidak heran kalau nama-nama yang dicantumkan dalam DCS KPU pusat, didominasi mereka yang berdomisili sekitar Jabodetabek. Ada mungkin satu-dua dari daerah tersebut, inipun biasanya mereka datang dari kelompok pengusaha yang memang berbasis dan berkantor pusat di Jakarta. Jadi sekali mendayung, dapat bisnis dan kesempatan maju di politik.  Jadi mungkin saja bila caleg DPR diminta dari daerah setempat, asal ybs juga menunjukkan kontribusi dan komitmen dalam kepengurusan parpol di tingkat pusat.  Walhasil yang bisa melakukan hanyalah mereka yang memiliki kemampuan finansial yang kuat, pengusaha atau pejabat Abidin (atas biaya dinas).

Tak kenal maka tak sayang, juga berlaku di parpol. Tidak heran kalau didalam DCSnomor-nomor jadi (1 dan 2) biasanya kesayangan elit parpol, bisa dianggap ring-1 lah.  Nepotisme masih kental karena lemahnya proses kaderisasi sebagai tahapan rekrutmen. Serupa dengan para mahasiswa yang baru lulus, biasanya mereka rajin mengunjungi kakak kelasnya untuk mencari lowongan pekerjaan. Kalau sistem rekrutmen karyawan lemah, maka yang terjadi adalah nepotisme juga. Maka bila konstituen atau DPD ingin jagonya maju, ya pandai-pandailah menempatkan diri menjadi ring-1.

Parpol besar masih banyak menempatkan anggota terpilihnya di dapil yang sama. Untuk para caleg daur ulang ini ada pertaruhan besar juga apakah mereka masih dapat mendapatkan jumlah suara yang sama seperti di Pemilu sebelumnya. Perlu diingat bahwa swing votter masih sangat banyak, dulu mereka memilih karena ada seseorang dibawah anda, atau karena maksud lain. Sekarang pilihan menjadi sangat banyak dan beragam. Kedua. bilamana selama menjadi aleg tidak membangun hubungan dengan konstituennya di saat reses, juga tidak membangun komunikasi timbal balik yang positif, jangan heran bahwa anda hanya akan dihitung seperti caleg ‘baru’ yang tidak dikenal. Judulnya “gak janji deh”…


1 Comment so far
Leave a comment

ikut nimbrung donk….
saya MUHAMMAD SAID. S.Ag, Caleg DPR RI Dapil Gresik Lamongan dari PARTAI MATAHARI BANGSA ( PMB ) No. Urut 4
yang pasti sebelum semua proses berlanjut…..kita sama2 introspeksi untuk memperbaiki mental dan pola pikir kita,
karena bagaimanapun juga Indonesia butuh pemimpin yang bermental MENGABDI UNTUK RAKYAT,
memperjuangkan kepentingan RAKYAT dan benar2 bekerja
menjalankan amanat RAKYAT, bukan untuk kepentingan sekelompok. Kalau kondisinya seperti ini
terus kapan Indonesia akan bisa maju dan disegani oleh Bangsa Lain ???? zaman telah berubah.
tantangan dan Issue global harus dapat kita jawab secara ilmiah. Mari kita bangkit !!!!!
Rakyat butuh pemimpin yang mau peduli jeritan hati rakyat, bukan pemimpin
yang “pinter” tapi minteri

Comment by MUHAMMAD SAID caleg PMB




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: