Saatnya HATI NURANI bicara


Peran Sosial dan Pemberdayaan Perempuan di Masyarakat Dalam Novel ‘Dilema Perempuan’ by ratna ariani
February 4, 2009, 12:03 am
Filed under: resensi buku | Tags: , ,

Saya posting kan tulisan rekan seperjuangan bagi kesetaraan gender –  DR.Dharmayuwati Pane, MA  yang juga seorang caleg DPR RI. Salut buat mbak Anny Djati W dengan novel barunya. Walau saya tidak dapat hadir di diskusi dan bedah buku ini di Gramedia, Mal Taman Anggrek, 30 Januari 2009, tapi semangat perjuangan bagi kaum perempuan tetap sama-sama menggelora. Maju terus perempuan Indonesia! (RA)

……………………………………………………………………….

Pada hampir semua masyarakat di dunia perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan menjustifikasi peran sosial yang berbeda antara laki-laki dan perempuan yang ditandai dengan adanya batasan dan dalam bentuk sikap prilaku berbeda pula. Tidak ada satupun masyarakat di dunia yang cukup puas dengan perbedaan biologis secara alami saja, tapi masih perlu menambahkannya dengan perbedaan budaya antar jender ini.

Perbedaan biologis yang tadinya sederhana kemudian lebih sering diasosiasikan dengan kualitas-kualitas psikologis yang kompleks. Tidak cukup seorang laki-laki itu hanya secara biologis laki-laki, tapi harus juga terlihat dan bersifat ‘maskulin’ , begitu juga perempuan tidak cukup dengan tampil secara biologis perempuan, tapi harus juga bersikap ‘feminin’ dan sebagai kelanjutan dari manisfestasi perbedaan biologis ini mendorong juga akan peran-peran sosial yang berbeda pula. Contohnya di masyarakat patriarki seperti di Indonesia laki-laki menikmati peran sosialnya yang mendominasi. Jadi tidak heran bila sejak kecil anak laki-laki sudah dibentuk agar menonjolkan sifat-sifat ‘maskulin’ nya untuk selalu menduduki posisi yang dominan tsb.

Dan dengan cara yang sama anak perempuan juga sejak masa anak-anak lebih dibentuk untuk mempunyai sifat-sifat ‘feminin’ yaitu cantik seperti simbol boneka ‘Barbie’, pasrah dan sebagai pelengkap dan penunjang posisi laki-laki dan hal ini diklaim sebagai sudah ‘kodrat’ perempuan seperti yang dikatakan Sekar, tokoh utama dalam novel kepada suaminya ,aku ini sebagai ‘tulang rusukmu’ (hal 49).

Hanya mereka yang mengikuti cara dan aturan ini dianggap ‘normal’ dan hanya merekalah yang nantinya akan meraih sukses dalam hidup. Laki-laki yang agresif biasanya akan mengelola satu bisnis besar dan perempuan yang cantik, lembut, penurut, dan mempunyai kualitas ‘feminin’ tsb akan mendapatkan sang pangeran ,suami yang kaya dan yang tidak membolehkan istrinya bekerja, apalagi berkarir. Dengan kata lain ‘maskulin’ dan ‘feminin’ adalah kualitas jender yang dikembangkan masyarakat untuk menjawab satu diskriminasi sosial. Mekanisme psikologis hanya akan berfungsi selama sikap prilaku perempuan dan laki-laki tidak melewati batas-batas yang ditetapkan masyarakat secara tidak tertulis dan yang umumnya diterima oleh setiap anggauta masyarakat. Banyak dialog dalam novel yang menyinggung masalah ini.

Karena itu untuk mencegah adanya tindakan melewati batas tsb hampir semua masyarakat di dunia yang menganut paham ‘patriarki’ mengklaim bahwa peran-peran sosial berdasarkan jender ini adalah pembagian ‘alami’ yang sifatnya ‘abadi’ dan ‘tidak bisa diubah’. Setiap orang yang berusaha melewati batas-batas ini akan mendapat ganjaran setimpal, karena dianggap menentang norma-norma masyarakat dan dengan itu juga melawan kodrat ‘alam‘. Contoh historis adalah kasus di Perancis dengan Jean d’Arc sebagai seorang perempuan muda berhasil memimpin pasukan Perancis mengalahkan Inggris. Dia mengadopsi total sifat-sifat ‘maskulin‘ dan selalu memakai pakaian laki-laki. Tetapi setelah rahasianya terbongkar, dia dihukum mati, karena berusaha menentang ‘hukum alam’.

Pada jaman modern ini masih terlihat kasat mata adanya kontrol sosial dalam bentuk pengajaran anak laki-laki dan perempuan yang berbeda, atau melalui tekanan-tekanan dalam kelompok ataupun juga dalam perundang-undangan. Yang tidak terlihat langsung adalah penanaman konsep-konsep dan nilai-nilai melalui pendidikan dan pengajaran yang menentukan penggambaran diri dari setiap individual, bagaimana seharusnya peran sosial seorang laki-laki dan perempuan itu di masyarakat yang pada prinsipnya melindungi dominasi peran sosial laki-laki. Oleh karenanya sering dalam setiap individual terjadi pergolakan jiwa menyangkut masalah sex dan jender ini. Hal ini digambarkan dalam novel sebagai ‘konflik bathin’ (hal 246) atau ‘kelelahan mental’ (hal 254) yang diderita Sekar atau ‘kehilangan jati diri’ (221) Sekar, setelah mengalami perkawinan beberapa tahun dengan Pandji yang sangat dominan dalam segala hal. Konflik antar jender juga terlihat dalam hubungan antara Ajeng, sahabat Sekar dengan suaminya Mikha ( hal 227) yang mempunyai perempuan idaman lain Doris.

Sebagai contoh lain adalah laki-laki atau perempuan yang tidak bisa menyesuaikan diri pada sifat-sifat ‘feminin‘ atau ‘maskulin‘ akan merasa dibatasi ruang geraknya, dan tidak bahagia dan sering mengharapkan jenis kelamin yang berbeda , agar bisa menjalankan peran sosial yang lebih disukainya. Mari kita dengarkan jeritan jiwa Sekar:
‘ Sesungguhnya hatiku menangis.., bathinku tersiksa, dan tidak jarang aku merasa desakan-desakan ingin berontak pada keadaan seperti ini…Tapi aku tidak punya pilihan lain‘. (Hal 85).

Dalam novel ‘Dilema Perempuan’ disebutkan satu contoh lain bahwa laki-laki dibentuk sedemikian rupa melalui pengajaran sejak kecil,agar percaya bahwa perempuan itu harus pasif dalam bidang sosial, maupun seksual. Oleh karena itu tidak heran ketika laki-laki bertemu dengan perempuan modern yang lebih agresif dan berhasil dalam bidang sosial, ditambah lagi juga dalam bidang seksual sangat aktif , maka sering terjadi konflik dan biasanya laki-laki itu akan merasa tidak nyaman dan menjauh , kalau mereka belum menikah dan bila terlanjur sudah menikah, hal ini akan menjadi penyebab perceraian. Sekar juga menjalankan peran pasif yang diminta masyarakat dan sebagai istri yang baik harus menunggu dan menerima, juga dalam hal mendapatkan nafkah bathin:
…aku cuma melayani suamiku Pandji kalau dia membutuhkan pelayanan seks dariku. Aku tidak pernah meminta-minta…aku cuma menunggu panggilan dari Pandji..‘ (Hal 86).

Betapa mendominasinya peran agresif laki-laki dalam bidang seksual digambarkan Sekar sbb:
‘Pandji melakukan hubungan seks denganku tanpa perasaan cinta. Dia melakukan itu untuk melampiaskan napsu birahinya…..Hubungan seks dia lakukan untuk dia dan bukan untuk kebersamaan…..Dia tidak peduli apakah aku menikmati permainan seksnya atau tidak dan dia juga tidak peduli apakah aku mencapai orgasme atau tidak’ (hal 278).

Kebalikannya bila ada seorang laki-laki yang tampan, lembut ,suka mengalah dan pasif menerima saja, maka bisa dipastikan akan dianggap ‘banci’ oleh perempuan dan karenanya tidak mau menjadikannya partner hidup. Pandji, tokoh utama ini sangat berpegang pada sifat ‘maskulin’ ini sudah dari sejak kecil, ibunya bercerita kepada Sekar:
‘Anak laki-laki lebih cepat punya rasa malu daripada anak perempuan, apalagi kalau sudah akil baliq. Pandji sudah engga mau Bunda cium, apalagi di depan teman-temannya, mulai umur tiga belas tahun dia sudah tidak mau Bunda pangku. Katanya takut dibilang banci’…(Hal 23)

Semua ini berdasarkan pengertian bahwa laki-laki lah yang aktif dan agresif, perempuan pasif menunggu dan menerima apa saja tanpa harus berdebat, walau banyak hal menghimpit dadanya dan ingin berbicara dengan suaminya Pandji, namun tidak bisa karena kata Sekar:
‘ Dalam kehidupanku aku tidak pernah diajarkan bagaimana caranya bertengkar…’ (Hal 63)

Jadi dalam pengertian yang lebih luas, setiap orang yang pasif dianggap sedang mempraktekkan peran ‘feminin’ dan yang aktif/agresif sedang menjalankan peran ‘maskulin’. Padahal aktif dan pasif sebenarnya tidak berdasarkan jender, perbedaan biologis atau sifat dan bukan berarti ’superior’ ataupun ‘inferior’, karena bagi yang menuntut persamaan hak untuk laki-laki dan perempuan bukan berarti semua harus terlihat sama atau ‘uniform’ , tapi dalam nuansa bermasyarakat ‘perbedaan’ itu bisa tumbuh tanpa harus mengeksploitasi satu dengan yang lainnya.

Seperti pada akhir cerita, setelah mengalami proses panjang dari sebuah pergolakan jiwa yang tidak sampai menghancurkan mahligai Rumah Tangga dan Sekar bisa bangkit dari depresi , karena Pandji menyadari kesalahannya dan bersedia membenahi hubungan kekeluargaannya dengan istri dan kedua anaknya, maka Sekar dapat berkata :
‘Sekarang aku berani menantang dunia karena ada Pandji di dalam hidupku. Aku akan berseru kepada dunia, telah kuraih bintang dilangit yang kuberikan kepada suami dan anak-anakku . Ingin kuteruskan perjalananku bersama Pandji, membangun kebahagian diatas reruntuhan perkawinan kami sampai dunia berhenti berputar. Lilin-lilin kecil di hatiku yang dulu pernah padam, kini bersinar lagi’..(hal 587 bawah-588)

Novel ‘Dilema Perempuan’ berakhir dengan ‘Happy Ending’ mengangkat perjuangan perempuan dalam menyelamatkan perkawinan dan keluarganya, sekaligus jati dirinya. Tapi memang Pandji terbukti tidak melakukan perselingkuhan ataupun melakukan KDRT, apakah itu penyebab Sekar tidak sampai bercerai dengan suaminya Pandji?. Kebalikannya Ajeng, sahabat Sekar bercerai dari suaminya Mikha, karena terbukti selingkuh dengan Doris dan mengawininya di bawah tangan. Hanya didalam cerita-cerita saja kemenangan berpihak pada perempuan, suami mau berubah demi menyelamatkan keluarganya dan terutama memenangkan cinta istrinya.

Namun dalam kenyataan hidup, banyak perempuan harus menelan pil pahit perceraian dan menjadi ’single parent’ bagi anak-anaknya, karena adanya perselingkuhan ataupun KDRT dalam Rumah Tangga. Memang untuk menjadi perempuan ‘yang sebenarnya’ itu tidak mudah, penuh dengan perjuangan dan pengorbanan..

Ucapan Selamat untuk temanku Novelis Anny Djati W, novelmu ‘Dilema Perempuan’ banyak menginspirasi perempuan Indonesia untuk menjadi lebih tegar dalam menghadapi dilema kehidupan.Teruslah berkarya!!!….

Jakarta, 30 Januari 2009 – Dharmayuwati Pane


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: