Saatnya HATI NURANI bicara


Ide Gila untuk Indonesia
March 7, 2009, 12:03 pm
Filed under: artikel | Tags: , , ,

Kalau apatisme sudah menggigit suatu bangsa, kadang diperlukan ide gila … dan orang-orang gila yang mau melakukannya. Kabar buruknya belum tentu banyak yang mau ikut ide pak Wiranto, kabar baiknya masih ada yang mau bergabung dengan ide gilanya … ya sang pemilik website lah. [RA]

DETIKCOM Jakarta – Agaknya, Wiranto benar-benar siap melawan SBY dalam pemilihan presiden 2009 mendatang. Capres asal Partai Hanura itu telah menyiapkan terobosan gila jika terpilih menjadi orang nomor satu di negeri ini.

“Kita harus berani melakukan terobosan-terobosan gila. Kalau tidak, kita hanya akan melestarikan kesengsaraan yang selama ini dirasakan rakyat. Misalnya, berani melakukan moratorium utang luar negeri,” kata Wiranto. Hal itu disampaikan Wiranto saat berpidato manifesto ekonomi politiknya di Balai Kartini, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (7/3/2009).

Menurut Wiranto, Harkat dan martabat bangsa indonesia yang pernah harum dan ditakuti oleh dunia internasional pada zaman Soekarno dan Soeharto harus dikembalikan. Untuk itulah, Wiranto siap berada di garda depan perubahan keraha yang lebih baik itu.

“Kita harus mengembalikan harkat dan martabat bangsa indonesia. Kita masih punya banyak aset baik sumberdaya alam, sumber daya manusia. Kalau aset-aset itu dikelola dengan baik dan benar, tidak ada alasan kita jadi pecundang di era global ini,” kata Wiranto dengan ber api-api yang disambut tepuk tangan hadirin.

Bagi Wiranto, jabatan presiden bukanlah rejeki yang harus disyukuri. Tetapi, amanat yang menjadi beban untuk dilaksanakan sebaik-baiknya. Karena itulah, seorang pemimpin harus berani menggung resiko apapun untuk menjalankan amnat itu, termasuk mengorbankan harta dan jiwanya. (more…)



Fenomena Ponari Sweat
February 18, 2009, 12:09 pm
Filed under: kesehatan, sosial masyarakat | Tags: , , ,

ponari-sweatKasus Ponari,  10 thn, asal Jombang bak tabib ajaib menimbulkan keprihatinan tersendiri karena menunjukkan bahwa yang menderita  penyakit akut sebenarnya adalah masyarakat miskin. Sindiran ini pun muncul dalam gambar minuman kaleng yang beredar di berbagai milis. Iman dan logika menjadi tanda tanya besar karena rakyat begitu percayanya dengan batu bertuah.  Hanya dengan merogoh kocek 10 ribu sebesar jatah makan sekeluarga hari itu, mereka mau melakukan apa saja bahkan ada beberapa korban tewas untuk mendapatkan air sisa celupan batu bertuah – asal bisa sembuh dan bisa bekerja lagi. Dalam keadaan miskin, seseorang kepala keluarga yang sakit tidak akan punya penghasilan untuk membayar makan hari itu. Untuk makan saja susah, apalagi untuk membayar obat yang di puskesmas tidak ada dan harus ke rumah sakit yang jauh dan mahal pula. Maka disaat ada peluang untuk sembuh instan dengan biaya murah, maka itulah salah satu pengobatan alternatif yang ada. Itulah kabar baik yang ingin mereka dengar: si sakit bisa sembuh. Kabar buruknya : belum bisa dilakukan saat ini.

Dalam kondisi saat ini, dimana pemerintah belum mampu menekan biaya medis sehingga masih terasa mahal bagi mereka yang kurang mampu. Suburnya pengobatan alternatif memberikan harapan untuk sembuh, apalagi instan dan murah, menjadi pilihan banyak orang saat. (more…)



Corporate Social Responsibility dan Labor Standard, dalam perspektif pekerja/buruh
January 22, 2009, 12:15 am
Filed under: artikel, sosial masyarakat | Tags: , , , ,

Barang baru digulirkan kembali kehadapan masyarakat Indonesia, khususnya buruh. Undang-undang N0. 40/2007 tentang Perseroan terbatas Bab V Pasal 74 berisi tanggung Jawab Sosial dan lingkungan lebih familiar disebut CSR – Corporate Social Responsibility (tanggungjawab sosial perusahaan). Kita lihat ayat satu dan dua.

(1) Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan

(2) Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kewajiban Perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya Perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran.

Merupakan kewajiban sosial bagi perusahaan di dalam peran sertanya mewujudkan pembangunan sosial di Indonesia. CSR pada dasarnya adalah kewajiban/tanggungj awab negara, yang selama ini diperankan oleh Depsos. Karena memang amanat undang-undang untuk melakukan pembangunan manusia seutuhnya adalah tanggungjawab negara, yaitu bahwa “setiap warga negara berhak atas : penghidupan dan kehidupan yang layak, baik secara ekonomi, sosial, maupun budaya. Jadi permasalahan sosial yang muncul pada saat ini di negeri kaya raya tercinta ini merupakan tanggungjawab negara. (more…)



Notulensi Pertemuan “Forum Ibu Menggugat”
December 18, 2008, 11:06 pm
Filed under: politik | Tags: , , ,

Waktu : Senin, 16 Desember 2008
Tempat : KONTRAS
Peserta yang hadir : Nuraini (SDI), Rena (Kalyanamitra) , Yati (KONTRAS), Yulistini(SDI) , Sinnal (IKOHI)
Agenda : Konsolidasi Gerakan dan Agenda Politik Perempuan Menjelang Pemilu 2009
==========================================================================

Hasil Kesepakatan :
1. Berkaca pada pengalaman Suara Ibu Peduli 1998, Forum Ibu Menggugat diharapkan akan menjadi wadah bagi perempuan dari berbagai kalangan untuk bersuara lantang tentang persoalan ekonomi politik yang juga menjadi persoalan rakyat Indonesia saat ini
2. Forum Ibu Menggugat akan terus mengajak dan melibatkan lebih banyak pihak
3. Forum Ibu Menggugat bertujuan untuk mengajukan agenda politik perempuan menjelang Pemilu 2009
4. Fokus isu adalah KEMISKINAN dan dikaitkan/ dikontekstualkan dengan Pemilu 2009
5. Isu Kemiskinan dipilih karena berdasarkan persoalan dan realitas yang dihadapi oleh kaum perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan kajian Kalyanamitra tentang pandangan konstituen perempuan tentang politik dan pemilu, mereka mengatakan bahwa 10 tahun reformasi 1998, belum ada perubahan kondisi ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Bahkan sampai saat ini, kondisinya malah semakin parah.
6. Beberapa isu utama yang terkait dengan KEMISKINAN dan perlu digali lebih jauh tentang fakta persoalannya dari beberapa narasumber, yaitu :
* Kelangkaan gas –> narasumber : Aviliani –> PJ : Nuraini
* Kenaikan BBM –> narasumber : Aviliani –> PJ : Nuraini
* Kenaikan Sembako –> narasumber : Wardah Hafiz (UPC) –> Rena
* Krisis global dan segala dampaknya (seperti PHK) –> narasumber : Nining (KASBI) –> Sinnal
* Buruh Migran (Kekerasan dan PHK) –> SBMI –> Sinnal
* Pendidikan yang mahal –> Perempuan Mahardhika –> Nuraini
* Kesehatan yang mahal –> WRI (Women Research Institute)/ SRMK –> Rena
* Akses perempuan miskin terhadap perumahan –> Palupi (institute Ecosoc) –> Rena
* Pemenuhan hak korban (terutama perempuan) korban pelanggaran HAM –> Mba Suci –> PJ : Yati
* Hukum yang memiskinkan perempuan –> Asfinawati (LBH Jakarta) –> PJ : Yati
Para narasumber diatas akan dikonfirmasi oleh masing-masing penanggungjawab. Fasilitator yang akan coba dikonfirmasi adalah Ruth Indiah Rahayu (Yuyud)-a kan dihubungioleh Sinnal.
7. Akan diadakan SARASEHAN PEREMPUAN :” WAJAH PEREMPUAN INDONESIA MENYONGSONG PEMILU 2009″
* Output :
1. Catatan Akhir Tahun Bersama 2008
2. Komitmen dan penyikapan bersama terhadap persoalan kemiskinan menjelang Pemilu 2009
* Waktu dan tempat : Senin, 22 Desember 2008, pukul 10.00 – selesai, di KONTRAS
* Peserta : minimal 50 orang, yang terdiri dari berbagai kelompok NGO, caleg, media, ormas/komunitas, pemerintah
* Kebutuhan :
- TOR dan undangan –> PJ : Kalmit (Deadline, 18 Desember 2008)
- Notulen –> PJ : Kalmit
- Konsumsi –> PJ : KONTRAS
- Baliho/Spanduk –> PJ : IKOHI
- Press Release –> PJ : Nuraini (SDI)
* Penyebaran undangan (Deadline, 18 Desember 2008)
- NGO –> Kontras, Kalmit
- Caleg –> Kalmit
- Media –> KONTRAS
- Ormas/Komunitas –> SDI
- Pemerintah (KPP, Depkes, dll) –> Kalmit
8. Pertemuan persiapan Sarasehan Perempuan selanjutnya : Jumat, 19 Desember 2008, pukul 15.00, di KONTRAS

Cp : Rena Herdiyani (Kalmit) 0812 9820147, Yati Andriyani (KontraS) 0815 86664599, Nurani (SDI) 0817 6655800



Kemiskinan Tak Dibentuk oleh Orang Miskin
November 26, 2008, 4:31 am
Filed under: artikel | Tags: , ,

Tulisan ini sumbangan dari mbak Yansi Kuntag, merupakan sebagian dari pidato pengukuhan Muhammad Yunus, pendiri Grameen Bank, pada saat memenangkan hadiah Nobel Perdamaian di Swedia tahun 2006.
Kita Dapat Menaruh Kemiskinan Dalam Museum
Saya yakin kita dapat menciptakan dunia tanpa kemiskinan karena kemiskinan tak dibentuk oleh orang miskin. Kemiskinan dibentuk dan dilestarikan oleh sistem ekonomi dan sosial yang kita rancang sendiri; institusi dan konsep yang membuat sisterm itu; dan berbagai kebijakan yang kita terapkan.
Kemiskinan tercipta karena kita menyusun kerangka teoretis berdasarkan asumsi yang meremehkan kemampuan manusia, dengan merancang konsep yang sangat sempit (seperti konsep bisnis, kelayakan untuk mendapatkan pinjaman, kewirausahaan, dan konsep mengenai lapangan kerja) atau membentuk lembaga yang baru separo jadi (seperti lembaga finansial, tempat orang miskin diabaikan). Kemiskinan disebabkan oleh kegagalan tingkat konseptual, bukan ketidakmampuan pihak manusia.
Saya amat yakin kita dapat menciptakan dunia bebas kemiskinan jika kita secara kolektif meyakininya. Di dunia bebas kemiskinan, satu-satunya tempat Anda dapat melihat kemiskinan ialah museum kemiskinan. Ketika murid-murid sekolah melakukan karya wisata ke museum kemiskinan, mereka akan ngeri melihat kesengsaraan dan kehinaan yang harus dialami oleh sebagian manusia. Mereka akan menyalahkan nenek moyang karena membiarkan keadaaan tak manusiawi itu berlangsung begitu lama, melanda begitu banyak manusia.
Semua manusia punya kapasitas bukan hanya untuk menyayangi diri sendiri, tetapi juga membantu meningkatkkan kesejahteraan dunia secara keseluruhan. Ada sebagian yang mendapat kesempatan mencurahkan potensi mereka sejauh tertentu, tetapi banyak yang lainnya tidak pernah mendapat kesempatan, selama hidup mereka, untuk mencurahkan bakat luarbiasa yang merupakan bawaan sejak lahir. Mereka mati sia-sia dan dunia kehilangan kreativitas dan sumbangan mereka. (more…)


Guru yang Menjadi Aktivis CU
November 14, 2008, 1:38 pm
Filed under: sosial masyarakat | Tags: , , , , ,

p1010194

Kabar terbaik bagi orang miskin adalah bahwa sebentar lagi mereka bisa keluar dari kemiskinannya. Berikut adalah kisah seorang guru yang sungguh memiliki pengabdian besar bagi pendidikan, akhirnya terpanggil menolong orang-orang disekitarnya keluar dari kemiskinan melalui Credit Union. Padahal ia sendiri juga memiliki keterbatasan ekonomi. Semoga kita lebih sering melayani satu sama lain daripada minta dilayani.[RA]

Saya Dominikus D Fernandez, seorang katekis yang diangkat sebagai Pegawai Negeri. Saya berasal dari Larantuka. Pada usia 25 tahun saya ditugaskan mengajar di SD III Tampa, Kecamatan Ampah, Kabupaten Barito, Kalimantan Tengah. Saya pernah punya hanya 9 murid untuk seluruh SD. Karena murid terlalu sedikit, kelas kami gabung. Dalam seminggu hanya tiga hari saya mengajar di sekolah. Karena punya banyak waktu luang, saya tergerak untuk membagikan ilmu kepada orang-orang dewasa juga. Saya kemudian merancang program Pendidikan Orang Dewasa(POD), yang menawarkan tiga paket. Paket A untuk kesetaraan dengan SD, paket B setara dengan SMP dan paket C setara degan SMA.

Pada 1979 saya merintis sebuah SMP Swasta di Ampah. Setahun kemudian SMP rintisan ini dijadikan SMP Negeri. Di SMP ini selama sembilan tahun saya mengajar tanpa dibayar. Pada 2003 saya mendirikan SMA. Lagi-lagi setahun kemudian SMA ini dijadikan SMA negeri. Di sini pun selama setahun saya menjadi Kepala sekolah dan mengajar tanpa dibayar. Semuanya adalah pelayanan.

Bersentuhan dengan pemberdayaan

Saya memang seorang guru. Namun pemberdayaan masyarakat miskin sejak awal sudah menjadi bagian hidup saya. Sejak 1979 hingga 1990 saya menjadi pendamping nasabah Bank Purba Danarta di daerah Kalimantan Tengah. Bank Purba Danarta adalah suatu bank yang secara khusus ingin memberikan pelayanan kepada orang-orang kecil, mendampingi usaha-usaha mandiri mereka. Pendiri dan pemimpin bank ini Pastor Melchers, SJ. Kantor pusatnya di Semarang. Setelah Pastor Melchers meninggal, kabarnya terjadi perubahan manajemen bank ini, tapi saya tidak tahu persis, karena setelah 1990 saya kurang kontak lagi dengan Bank Purba Danarta.

Waktu itu saya mendampingi sekitar 1.000 orang. Ada masa ketika pelayanan kami lakukan dengan sederhana sekali. Inti dari gerakan ini adalah kepercayaan. Buku tabungan dan pinjaman anggota hanyalah buku tulis biasa. Setiap kali ada setoran diberi meterai. Namun hal itu tidak menjadi masalah karena kami percaya satu sama lain.

Pada 1989 saya sempat mengikuti kursus di Lembaga Bina Swadaya. Namun saya tidak begitu tertarik mengikuti metodenya, yang menurut saya, masih belum amat menekankan unsur swadaya masyarakat. Mereka masih cukup banyak sekadar mengalihkan dana dari pemerintah kepada masyarakat.

Kenal CU (selanjutnya baca disini)



Altar di Ladang Rakyat
November 13, 2008, 1:16 pm
Filed under: artikel | Tags: , , ,

Altar dan mimbar yang selalu diagungkan di tempat yang tinggi telah diturunkan jauh ke bawah, ke ladang rakyat, ke tengah permukiman kumuh perkotaan dan lingkungan petani gurem di banyak negara Amerika Latin. Luar biasa!

Ayat-ayat suci pun dibahas dalam kesederhanaan bahasa rakyat di bawah pohon singkong, jagung, jeruk dan pisang, tidak jauh dari rumpun tomat dan sayur-sayuran sebagai tanaman kehidupan dalam arti sesungguhnya.

Percakapan tentang ayat suci, yang menjadi acuan utama dan pertama neososialisme Amerika Latin, semakin menggairahkan karena bersentuhan langsung dengan tanah sebagai ibu (motherland), ayah (fatherland), rumah (homeland), yang memiliki watak kesucian (holy land), sumber impian (dreamland), sumber nafkah yang sangat menjanjikan (promised land).

Ajaran agama benar-benar dibumikan. Namun, tantangan juga muncul karena tanah menjadi isu sensitif oleh struktur kepemilikan tidak adil seperti fenomen latifundista (kepemilikan tanah di atas 100 hektar), yang menjadi gejala umum di berbagai negara di Amerika Latin. Sekadar ilustrasi, 77 persen lahan Paraguay dikuasai hanya oleh 1 persen dari 6,5 juta penduduk.

Kontras dengan kehidupan para tuan tanah yang eksklusif, petani kecil dan gurem terus menghimpun diri dalam komunitas basis, berbincang tentang nasib dalam perspektif iman.

Tanpa harus menyebut neososialisme, anggota komunitas basis menjalankan prinsip kebersamaan, kepedulian, solidaritas, dan saling membantu, yang dalam budaya Indonesia disebut gotong royong.

Prinsip dasar, yang paralel dengan ajaran agama itu diikat kuat pada komitmen kegiatan harian pribadi dan kelompok pada lingkungan komunitas basis.

Spiritualitas keagamaan ditransformasikan menjadi praxis (refleksi dan praktik) sebagai pergulatan yang bersifat pragmatis untuk melawan kemelaratan dan kemiskinan.

Gerakan perlawanan terhadap kemiskinan dan kemelaratan pun dimulai dengan upaya memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, yang bagi masyarakat pedesaan tidak bisa lain harus melalui usaha menanam.

Pengaruhnya luar biasa. Anggota komunitas basis dapat menghasilkan sesuatu untuk dikonsumsi dan mengonsumsi apa yang dihasilkan. Kemandirian ekonomi pada level elementer pun terbentuk, yang bersinggungan langsung dengan peningkatan kesadaran iman pada kelompok alas rumput. (more…)



Perhatian Bagi Pahlawan (tanpa)Tanda Jasa
November 11, 2008, 11:36 pm
Filed under: pendidikan | Tags: , , , ,

Setiap perayaan 10 November kita mengenang dan memperingati seluruh pahlawan yang telah gugur di jaman kemerdekaan, termasuk juga mereka yang telah wafat setelah kemerdekaan tetapi mendapatkan berbagai tanda jasa penghargaan perjuangan bagi bangsa saat mereka hidup. Terlepas dari konteks pahlawan di jaman kemerdekaan melawan penjajah, saatnya kita sekarang harus juga memperhatikan para pahlawan dan pejuangpaska kemerdekaan yang terus dibutuhkan bagi keberlangsungan bangsa Indonesia.

Menonton film “Laskar Pelangi” mengingatkan kita apa arti para pahlawan yang masih hidup tapi tetap berjuang melepaskan satu persatu anak bangsa dari penjajah bernama “kebodohan”.  Setiap dari kita yang telah memiliki posisi di puncak, menjadi orang sukses dan mendapat tempat di masyarakat pasti masih ingat siapa kah para pahlawan yang berharga dalam menentukan kehidupannya. Setelah orang tua yang menjadi sumber pendidik dalam keluarga, guru adalah tempat pertama dimana orang tua menyerahkan anak-anak diusia sekolahnya. Para guru inilah yang turut serta menanamkan nilai-nilai moral dan budi pekerti di usia sekolah.

Tidak banyak guru sekaliber bu mus seperti dalam “Laskar Pelangi” kita jumpai di masa sekarang ini yang mampu bertahan ditengah segala keterbatasan dan tekanan hedonisme. Tapi mereka exist, mereka ada dan tetap bersemangat walau honor dan status yang diterimanya kurang mencukupi bahkan bisa dibawah UMR. Tantangan berat itu ditemui diberbagai pelosok Indonesia.

Kepulauan Nias yang terpisah oleh selat yang ganas mungkin bisa bercerita berapa banyak jiwa para guru yang terkubur di dasar lautan karena seringnya terjadi kecelakaan laut disana.  Hal ini tentu menyurutkan semangat para guru untuk ditempatkan di pulau-pulau terpencil. Maka tidak heran kalau di pelosok Indonesia dimana infrastruktur terbatas, anak didikpun tidak punya pilihan banyak. Padahal pendidikan adalah kunci bagi pencerdasan bangsa untuk membawa mereka keluar dari kemiskinan. (more…)



Demi Rp 30,000,- Meregang Nyawa
September 17, 2008, 7:33 am
Filed under: Uncategorized | Tags: , , , ,

Untuk sebagian kita uang Rp 30,000 tidak seberapa artinya. Bisa jadi sebesar uang parkir di mall tiap minggu selama sebulan, bisa sebesar sekali uang makan siang, bahkan bisa pulsa untuk seminggu. Rasanya juga untuk dibagikan sebagai zakat pun tidakseberapa nilainya untukkita. Tapi bagi sebagian besar kelompok rakyat prasejahtera nilai Rp 30,000 amat sangat berarti, bahkan bisa berarti menyambung hidup satu hari bagi seluruh keluarga. Ditengah pro kontra RUU APP yang akan disahkan minggu depan di gedung bundar Jakarta, puluhan rakyat miskin (lagi-lagi sebagian besar perempuan) menjadi korban demi kelangsungan hidup keluarganya.

Apa yang terjadi di Pasuruan,insiden pembagian zakat beberapa hari lalu menunjukkan betapa uang sekecil apapun menjadi hal yang sangat sensitif dan membahayakan bahkan berujung maut karenanya. Fenomena ini hanyalah ujung gunung permasalahan yang kompleks. Bila penyelenggara pemberi zakat dihukum, maka hal ini dirasa melanggar kebebasan orang manjalankan amal ibadahnya, demikian jelas seorang pejabat polisi di DETIKCOM. Hal ini bukan baru terjadi sekali saja, tapi sudah berulang kali dilakukan pada saat pembagian zakat yang dilakukan oleh perorangan. Selayaknya setiap kegiatan yang melibatkan massa,memangharus dilaporkan kepada polisi untuk dapat ditentukan tindakan pengamanan lebih lanjut.

Disisi lain kegiatan amal ibadah ini sungguh menyejukkan di bulan puasa, bulan penuh amal, dimana setiap orang yang berpuasa juga membuka pintu berkahnya bagi orang lain. Maka tindakan pemberian zakat ini memang perlu untuk diperhatikan lebih lanjut oleh kaum ulama serta masyarakat dan pemerintah setempat, agar sungguh zakat ini bisa disalurkan ke orang yang tepat. Banyak sekali badan amil zakat berdiri dimana-mana, tentu perlu sosialisasi kepada masyarakat luas tentang mekanisme pengiriman dan penyaluran zakat secara transparan. Dengan demikian kepercayaan pun bisa dibina karenanya. (more…)



Potret Kemiskinan Indramayu: Suami Penunggu Uang Kiriman Istri
September 13, 2008, 12:01 am
Filed under: artikel | Tags: , , , ,

SUARA PEMBARUAN [Oleh Wartawan "SP" Yuliantino Situmorang]
Wajah Suta bin Darim (42) terlihat suram. Bicaranya pelan saat menerima tamu yang tiba-tiba berkunjung. Dia kebanyakan menunduk menatapi tanah liat keras menghitam yang menjadi lantai rumahnya. Beberapa kali dia menggosok-gosok balai bambu yang dia duduki. Balai bambu itu perabot satu-satunya di ruang tamu berukuran enam meter persegi itu. Sesekali Suta membereskan sarung yang dipakainya dan dengan kaku menatap tamunya.

Raut wajah buruh nelayan Desa Dadap, Kecamatan Juntinyuat, Indramayu, Jawa Barat itu terus menunjukkan kesusahan. Sore itu, ayah tiga anak ini cukup terkejut dikunjungi dua kawannya, aktivis buruh migran Indramayu yang selama ini mendampingi dia mencari istrinya yang sudah 12 tahun hilang. Namun, Suta belum mendapat kabar gembira dari dua kawannya itu.

Hidup Suta tak menentu. Perasaan rindu ke istrinya, Darsi (37) sudah tak terbendung. Istrinya meninggalkan dia dan tiga anaknya mengadu nasib ke Timur Tengah men-jadi tenaga kerja Indonesia (TKI). Tak jelas negara mana yang dituju dan tak jelas kerja sebagai apa istrinya di sana. Sepeninggal Darsi, dia sendirian menghidupi dan membesarkan tiga anaknya yang masih kecil, Karniti (8), Daniri (5), dan Tayo (2). Penghasilannya sebagai buruh nelayan tak menentu. Walaupun masih ada yang bisa dia bawa untuk makan dan uang sekolah anak-anaknya.

Beruntung dia dan anak-anaknya masih bisa menumpang tinggal di rumah orangtua Suta yang juga nelayan. Sementara istrinya yang diharapkan bisa ikut menopang kebutuhan keluarga, tak ada kabar. Kabar terakhir, 12 tahun lalu, dia hanya menerima sebuah surat dari Siti Komil, rekan istrinya sesama TKI, bahwa Darsi sudah bekerja di Riyadh. Setelah itu, tak ada lagi kabar.  Jangankan kiriman uang bulanan, surat pun tidak ada. Suta juga kehilangan kontak dengan Siti Komil. (more…)