Saatnya HATI NURANI bicara


Kontrak Politik Caleg Perempuan jateng by ratna ariani
March 16, 2009, 10:40 am
Filed under: politik | Tags: , , , ,

Dalam seminggu ini saya menghadiri dua diskusi politik tentang kiprah caleg perempuan di Semarang.  Diskusi perempuan dalam politik 12 Maret 09 di aula gd DPRD Jateng  diselenggarakan JPPA, Jaringan Peduli Perempuan dan Anak, sedangkan diskusi 13-14 maret 09 bersama caleg perempuan Jateng diselenggarakan oleh Kemitraan dan Koalisi Perempuan Indonesia.

pegang-janji-yaKeputusan MK tentang mekanisme suara terbanyak sebagai dasar pemenangan Pemilu, laksana air yang memadamkan bara perjuangan perempuan dalam ranah perpolitikan Indonesia. Walaupun demikian dari berbagai diskusi yang menyinggung ‘affirmative action’ keterwakilan perempuan dalam parlemen, justru menunjukkan semakin mengerucutnya koalisi perempuan lintas parpol. Budaya paternalistik yang kuat adalah penghalang utama yang dirasakan kelompok aktivis dan politikus perempuan.

Rasa sepenanggungan seperjuangan yang semakin menekan justru membuat kami para caleg perempuan berbagai tingkat baik DPR sampai DPRD provinsi dan kabupaten semakin beramai-ramai berkoalisi saling membagikan dukungan lintas parpol dan lintas dapil. Apapun kami lakukan asal caleg perempuan bisa mendapat suara terbanyak. Bukan sekedar memilih caleg perempuan tapi perempuan berkualitas yang menyadari semangat perjuangan peran perempuan dalam parlemen. Continue reading



Properempuan,Investasi Sangat Menguntungkan by ratna ariani
March 7, 2009, 5:01 pm
Filed under: artikel | Tags: , ,

Jawa Pos Sabtu, 07 Maret 2009
Menyambut Peringatan Hari Perempuan Sedunia 8 Maret Besok
Properempuan, Investasi Sangat Menguntungkan
Oleh: Hillary Clinton *

Dalam sebuah perjalanan ke Tiongkok sebelas tahun lalu, saya bertemu dengan sejumlah aktivis perempuan yang menceritakan kepada saya upaya-upaya yang mereka lakukan untuk memajukan kaum perempuan di negara mereka. Mereka memberikan sebuah gambaran yang jelas tentang berbagai tantangan yang dihadapi kaum perempuan: diskriminasi dalam bekerja, layanan kesehatan yang tak memadai, kekerasan dalam rumah tangga, dan adanya sejumlah undang-undang usang yang menghambat kemajuan perempuan.

Saya bertemu kembali dengan sebagian di antara mereka beberapa minggu lalu dalam perjalanan pertama saya ke Asia sebagai Menlu AS. Kali ini saya mendengarkan cerita mereka tentang kemajuan yang dicapai dalam dasawarsa terakhir. Meskipun telah ada sejumlah langkah maju yang penting, para perempuan Tiongkok itu sangat yakin bahwa masih ada berbagai tantangan dan ketidaksetaraan sebagaimana yang juga ditemukan di banyak negara lain.

Saya sudah sering mendengar cerita-cerita serupa dari berbagai belahan dunia seiring dengan upaya kaum perempuan dalam mencari peluang untuk berpartisipasi secara penuh dalam kehidupan politik, ekonomi, dan budaya di negara mereka. Pada 8 Maret, yang merupakan Hari Perempuan Sedunia, kita memiliki peluang untuk mengevaluasi kemajuan yang telah kita raih dan juga tantangan yang ada di depan, serta memikirkan tentang peran penting yang harus dimainkan kaum perempuan dalam membantu menyelesaikan berbagai tantangan global yang sangat kompleks pada abad ke-21 itu. Continue reading



Media: Best (bukan Bad) news is good news by ratna ariani
March 2, 2009, 12:42 pm
Filed under: sosial masyarakat, Uncategorized | Tags: , ,

Media merupakan cerminan apa yang menjadi nilai-nilai yang dipahami dan hidup atau dihidupkan ditengah masyarakat.

Apa yang ditayangkan di satu media dalam satu komunitas dapat dipahami sebagai kultur budaya bangsa tersebut. Hal ini bisa kita lihat di pertelevisian di negara-negara lain. Negara bisa mengatur apa yang ada dan boleh ditayangkan dalam media sebagai sarana pencerdasan bangsa dan juga penanaman nilai-nilai suatu bangsa.

Sayangnya media televisi, cetak dan elektronik di Indonesia belum sampai pada misi mulia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Nilai-nilai luhur belum tampak pada apa yang ditulis dan disampaikan media. Apa yang disajikan di saat ‘prime time’ sungguh jauh panggang dari api. Semua pada dasarnya berakhir pada muara iklan, apapun yang mendatangkan uang terbanyak lah yang dipilih. Bad news is good news : itulah yang menjadi bahasa bisnis media.

Sudah saatnya kita memberi perhatian khusus agar media memiliki paradigma ” Best news is good news” agar setiap media berlomba menyajikan yang terbaik serta menanamkan nilai-nilai luhur bagi bangsa Indonesia khususnya bagi anak-anak dan generasi muda yang orang tuanya bernama “televisi dan internet”. Ini semua tergantung keseriusan lembaga terkait termasuk para pimpinan media dan juga kelompok masyarakat yang ingin memberikan perhatian khusus bagi media.

Berikut hanyalah contoh bagaimana nilai poligami akan ditanamkan melalui media pada anak-anak dan generasi muda. Masih kah kita berdiam diri? Tanpa perlu melarang, kita pun bisa bertindak dengan memboikot tidak membeli CD nya dan menonton tayangan televisi yang bertentangan dengan undang-undang bahkan bertentangan dengan nilai moral bangsa.

Diskriminasi terhadap perempuan Musisi Ahmad Dani Suarakan Poligami Continue reading



Peran Sosial dan Pemberdayaan Perempuan di Masyarakat Dalam Novel ‘Dilema Perempuan’ by ratna ariani
February 4, 2009, 12:03 am
Filed under: resensi buku | Tags: , ,

Saya posting kan tulisan rekan seperjuangan bagi kesetaraan gender –  DR.Dharmayuwati Pane, MA  yang juga seorang caleg DPR RI. Salut buat mbak Anny Djati W dengan novel barunya. Walau saya tidak dapat hadir di diskusi dan bedah buku ini di Gramedia, Mal Taman Anggrek, 30 Januari 2009, tapi semangat perjuangan bagi kaum perempuan tetap sama-sama menggelora. Maju terus perempuan Indonesia! (RA)

……………………………………………………………………….

Pada hampir semua masyarakat di dunia perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan menjustifikasi peran sosial yang berbeda antara laki-laki dan perempuan yang ditandai dengan adanya batasan dan dalam bentuk sikap prilaku berbeda pula. Tidak ada satupun masyarakat di dunia yang cukup puas dengan perbedaan biologis secara alami saja, tapi masih perlu menambahkannya dengan perbedaan budaya antar jender ini.

Perbedaan biologis yang tadinya sederhana kemudian lebih sering diasosiasikan dengan kualitas-kualitas psikologis yang kompleks. Tidak cukup seorang laki-laki itu hanya secara biologis laki-laki, tapi harus juga terlihat dan bersifat ‘maskulin’ , begitu juga perempuan tidak cukup dengan tampil secara biologis perempuan, tapi harus juga bersikap ‘feminin’ dan sebagai kelanjutan dari manisfestasi perbedaan biologis ini mendorong juga akan peran-peran sosial yang berbeda pula. Contohnya di masyarakat patriarki seperti di Indonesia laki-laki menikmati peran sosialnya yang mendominasi. Jadi tidak heran bila sejak kecil anak laki-laki sudah dibentuk agar menonjolkan sifat-sifat ‘maskulin’ nya untuk selalu menduduki posisi yang dominan tsb.

Dan dengan cara yang sama anak perempuan juga sejak masa anak-anak lebih dibentuk untuk mempunyai sifat-sifat ‘feminin’ yaitu cantik seperti simbol boneka ‘Barbie’, pasrah dan sebagai pelengkap dan penunjang posisi laki-laki dan hal ini diklaim sebagai sudah ‘kodrat’ perempuan seperti yang dikatakan Sekar, tokoh utama dalam novel kepada suaminya ,aku ini sebagai ‘tulang rusukmu’ (hal 49). Continue reading



Perempuan di Pemilu 2009 by ratna ariani
January 16, 2009, 12:23 am
Filed under: artikel, politik | Tags: , , , , ,

Suara Merdeka – HARUS diakui Undang-Undang (UU) 10/2008 tentang Pemilihan Umum (Pemilu) lebih berpihak kepada perempuan dibandingkan dengan UU Pemilu sebelumnya. Keber­pihakan itu menyebar di beberapa pasal, yakni

Pasal 8 Ayat 1 Huruf d yang mengatur ketentuan partai peserta pemilu menyertakan minimal 30 per­sen keterwakilan perempuan pada kepengurusan tingkat pusat.

Pasal 53 mengatur daftar bakal calon yang diajukan partai politik (parpol) memuat paling sedikit 30 persen keterwakilan perempuan.

Pasal 55 Ayat 2 mengatur daftar bakal calon disusun, untuk setiap tiga orang bakal calon terdapat sekurang-kurangnya satu orang perempuan.

Adapun pada UU Pemilu 12/2003, aturan yang melindungi perempuan di pencalonan hanya satu ayat, yakni Pa­sal 65 Ayat 1, yang memuat ketentuan bahwa partai peserta pemilu dapat mengajukan ca­lon untuk setiap daerah pemilihan (dapil) dengan memperhatikan keterwakilan perempuan sekurang-kurangnya 30 persen.

Sayangnya sama seperti pada Pemilu 2004 tidak ada sanksi keras bagi yang melanggar. Wewenang Komisi Pemi­lihan Umum (KPU) dalam hal ada partai yang tidak melaksanakan ketentuan Pasal 53 dan 55 UU 10/2008 hanya sebatas mengumumkan partai yang bersangkutan di media massa. Sanksi itu tentu tidak punya efek jera, apalagi dibuktikan pada Pemilu 2004 pemilih belum menjadikan pelanggaran tersebut sebagai dasar pertimbangan untuk mengalihkan pilihannya. Belum Berubah KPU pada 31 Oktober 2008 telah mengumumkan Daftar Calon Tetap (DCT) Ang­gota DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabu­pa­ten/Kota sekaligus mengu­mum­kan partai-partai yang ti­dak memenuhi kuota 30 persen keterwakilan perempuan. Continue reading



Perempuan Harus Diberdayakan Agar Mandiri by ratna ariani
January 14, 2009, 7:21 am
Filed under: pemberdayaan ekonomi, sosial masyarakat | Tags: , , , ,

Batik memang lagi trend saat ini, tapi dibalik lembaran-lembaran batik baik yang kualitas cetakan murah sampai yang mahal sekalipun, telah menyerap begitu banyak tenaga kerja khususnya perempuan. Menggalakkan sektor home industry, UMKM, setara dengan usaha melibatkan perempuan untuk membangun kemandiriannya. Maka hancurnya industri ber nilai tambah seperti garmen, berakibat paling parah bagi kaum perempuan. Begitu banyak buruh perempuan dirumahkan dan akhirnya mereka kehilangan kesempatan untuk memperbaiki kualitas hidup keluarganya. Semoga setiap dari kita juga memiliki cita-cita yang sama, mengajak orang lain keluar dan bangkit dari ketergantungan dan menjadi mandiri. Sekecil apapun usaha kita, walau hanya satu-dua orang yang kita bantu, itu sangat berarti karena kita telah membantu 1-2 keluarga untuk mendapatkan kesempatan memperbaiki kehidupan mereka. (RA)

Media Indonesia Jumat, 09 Januari 2009 18:06 WIB

BANYUWANGI– MI: Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meuthia Hatta mengatakan kaum perempuan perlu diberdayakan agar bisa mandiri dan tidak terjebak dalam tindak prostitusi atau perdagangan manusia.

“Seperti di sanggar batik yang telah memperkerjakan sekitar 20 perempuan ini. Mereka dilatih membatik agar tidak terjerumus dalam jerat prostitusi,” katanya saat mengunjungi Sanggar Batik Sayu Wiwit yang berada di Jalan Sekardalu 22, Kelurahan Temenggungan, Kecamatan Kota Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (9/1).

Menurut putri Bung Hatta ini, perempuan di sekitar lokasi pembuatan batik juga perlu mendapatkan pelatihan ketrampilan membatik.Ia menilai, sebagian perempuan di provinsi Jatim banyak yang menjadi korban trafficking (perdagangan perempuan), karena berbagai sebab. Continue reading



Putusan MK: Suara Terbanyak – Wajah Demokrasi Indonesia by ratna ariani
December 27, 2008, 11:26 pm
Filed under: politik | Tags: , , , , ,

Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan uji materi UU No 10 Tahun 2008 tentang pemilu. Dengan demikian penetapan anggota legislatif untuk Pemilu 2009 akan ditentukan dengan sistem suara terbanyak. [DETIKCOM]

Keputusan ini merupakan kado Natal terindah bagi para peserta Pemilu, khususnya para caleg ber nomor 2 dst. Hal ini langsung mematahkan pemeo tentang “Nomor jadi” yaitu nomor urut “1”. Disinyalir tidak terhitung kucuran dana dikeluarkan para caleg untuk mendapatkan no 1, yang tentunya tergantung dari mekanisme parpol setempat. Makin besar parpolnya wajar kalau setorannya juga besar.

Maka dengan keputusan MK ini, para caleg no 1 dalam DCT saat ini merupakan korban pertama yang paling keras menangis dan hanya bisa pasrah. Dengan demikian parpol yang terlanjur pasang harga untuk nomor ‘jadi’ pasti menuai protes para caleg ini. Ditambah lagi KPU pun langsung berjanji menjalankan keputusan MK ini. Sehingga tidak ada pilihan lain untuk para caleg no 1 tetap harus berjuang sama kerasnya dengan caleg lain untuk mendapatkan suara terbanyak.

Inilah wajah demokrasi Indonesia sesungguhnya, di tahun 2009 nanti rakyat mendapatkan wakilnya berdasarkan pilihan mereka, apakah mau pilih ‘kucing’ betina atau jantan, karungnya sudah pakai karung plastik tembus pandang. Continue reading




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.