Saatnya HATI NURANI bicara


Kontrak Politik Caleg Perempuan jateng by ratna ariani
March 16, 2009, 10:40 am
Filed under: politik | Tags: , , , ,

Dalam seminggu ini saya menghadiri dua diskusi politik tentang kiprah caleg perempuan di Semarang.  Diskusi perempuan dalam politik 12 Maret 09 di aula gd DPRD Jateng  diselenggarakan JPPA, Jaringan Peduli Perempuan dan Anak, sedangkan diskusi 13-14 maret 09 bersama caleg perempuan Jateng diselenggarakan oleh Kemitraan dan Koalisi Perempuan Indonesia.

pegang-janji-yaKeputusan MK tentang mekanisme suara terbanyak sebagai dasar pemenangan Pemilu, laksana air yang memadamkan bara perjuangan perempuan dalam ranah perpolitikan Indonesia. Walaupun demikian dari berbagai diskusi yang menyinggung ‘affirmative action’ keterwakilan perempuan dalam parlemen, justru menunjukkan semakin mengerucutnya koalisi perempuan lintas parpol. Budaya paternalistik yang kuat adalah penghalang utama yang dirasakan kelompok aktivis dan politikus perempuan.

Rasa sepenanggungan seperjuangan yang semakin menekan justru membuat kami para caleg perempuan berbagai tingkat baik DPR sampai DPRD provinsi dan kabupaten semakin beramai-ramai berkoalisi saling membagikan dukungan lintas parpol dan lintas dapil. Apapun kami lakukan asal caleg perempuan bisa mendapat suara terbanyak. Bukan sekedar memilih caleg perempuan tapi perempuan berkualitas yang menyadari semangat perjuangan peran perempuan dalam parlemen. Continue reading



Properempuan,Investasi Sangat Menguntungkan by ratna ariani
March 7, 2009, 5:01 pm
Filed under: artikel | Tags: , ,

Jawa Pos Sabtu, 07 Maret 2009
Menyambut Peringatan Hari Perempuan Sedunia 8 Maret Besok
Properempuan, Investasi Sangat Menguntungkan
Oleh: Hillary Clinton *

Dalam sebuah perjalanan ke Tiongkok sebelas tahun lalu, saya bertemu dengan sejumlah aktivis perempuan yang menceritakan kepada saya upaya-upaya yang mereka lakukan untuk memajukan kaum perempuan di negara mereka. Mereka memberikan sebuah gambaran yang jelas tentang berbagai tantangan yang dihadapi kaum perempuan: diskriminasi dalam bekerja, layanan kesehatan yang tak memadai, kekerasan dalam rumah tangga, dan adanya sejumlah undang-undang usang yang menghambat kemajuan perempuan.

Saya bertemu kembali dengan sebagian di antara mereka beberapa minggu lalu dalam perjalanan pertama saya ke Asia sebagai Menlu AS. Kali ini saya mendengarkan cerita mereka tentang kemajuan yang dicapai dalam dasawarsa terakhir. Meskipun telah ada sejumlah langkah maju yang penting, para perempuan Tiongkok itu sangat yakin bahwa masih ada berbagai tantangan dan ketidaksetaraan sebagaimana yang juga ditemukan di banyak negara lain.

Saya sudah sering mendengar cerita-cerita serupa dari berbagai belahan dunia seiring dengan upaya kaum perempuan dalam mencari peluang untuk berpartisipasi secara penuh dalam kehidupan politik, ekonomi, dan budaya di negara mereka. Pada 8 Maret, yang merupakan Hari Perempuan Sedunia, kita memiliki peluang untuk mengevaluasi kemajuan yang telah kita raih dan juga tantangan yang ada di depan, serta memikirkan tentang peran penting yang harus dimainkan kaum perempuan dalam membantu menyelesaikan berbagai tantangan global yang sangat kompleks pada abad ke-21 itu. Continue reading



Media: Best (bukan Bad) news is good news by ratna ariani
March 2, 2009, 12:42 pm
Filed under: sosial masyarakat, Uncategorized | Tags: , ,

Media merupakan cerminan apa yang menjadi nilai-nilai yang dipahami dan hidup atau dihidupkan ditengah masyarakat.

Apa yang ditayangkan di satu media dalam satu komunitas dapat dipahami sebagai kultur budaya bangsa tersebut. Hal ini bisa kita lihat di pertelevisian di negara-negara lain. Negara bisa mengatur apa yang ada dan boleh ditayangkan dalam media sebagai sarana pencerdasan bangsa dan juga penanaman nilai-nilai suatu bangsa.

Sayangnya media televisi, cetak dan elektronik di Indonesia belum sampai pada misi mulia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Nilai-nilai luhur belum tampak pada apa yang ditulis dan disampaikan media. Apa yang disajikan di saat ‘prime time’ sungguh jauh panggang dari api. Semua pada dasarnya berakhir pada muara iklan, apapun yang mendatangkan uang terbanyak lah yang dipilih. Bad news is good news : itulah yang menjadi bahasa bisnis media.

Sudah saatnya kita memberi perhatian khusus agar media memiliki paradigma ” Best news is good news” agar setiap media berlomba menyajikan yang terbaik serta menanamkan nilai-nilai luhur bagi bangsa Indonesia khususnya bagi anak-anak dan generasi muda yang orang tuanya bernama “televisi dan internet”. Ini semua tergantung keseriusan lembaga terkait termasuk para pimpinan media dan juga kelompok masyarakat yang ingin memberikan perhatian khusus bagi media.

Berikut hanyalah contoh bagaimana nilai poligami akan ditanamkan melalui media pada anak-anak dan generasi muda. Masih kah kita berdiam diri? Tanpa perlu melarang, kita pun bisa bertindak dengan memboikot tidak membeli CD nya dan menonton tayangan televisi yang bertentangan dengan undang-undang bahkan bertentangan dengan nilai moral bangsa.

Diskriminasi terhadap perempuan Musisi Ahmad Dani Suarakan Poligami Continue reading



Peran Sosial dan Pemberdayaan Perempuan di Masyarakat Dalam Novel ‘Dilema Perempuan’ by ratna ariani
February 4, 2009, 12:03 am
Filed under: resensi buku | Tags: , ,

Saya posting kan tulisan rekan seperjuangan bagi kesetaraan gender –  DR.Dharmayuwati Pane, MA  yang juga seorang caleg DPR RI. Salut buat mbak Anny Djati W dengan novel barunya. Walau saya tidak dapat hadir di diskusi dan bedah buku ini di Gramedia, Mal Taman Anggrek, 30 Januari 2009, tapi semangat perjuangan bagi kaum perempuan tetap sama-sama menggelora. Maju terus perempuan Indonesia! (RA)

……………………………………………………………………….

Pada hampir semua masyarakat di dunia perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan menjustifikasi peran sosial yang berbeda antara laki-laki dan perempuan yang ditandai dengan adanya batasan dan dalam bentuk sikap prilaku berbeda pula. Tidak ada satupun masyarakat di dunia yang cukup puas dengan perbedaan biologis secara alami saja, tapi masih perlu menambahkannya dengan perbedaan budaya antar jender ini.

Perbedaan biologis yang tadinya sederhana kemudian lebih sering diasosiasikan dengan kualitas-kualitas psikologis yang kompleks. Tidak cukup seorang laki-laki itu hanya secara biologis laki-laki, tapi harus juga terlihat dan bersifat ‘maskulin’ , begitu juga perempuan tidak cukup dengan tampil secara biologis perempuan, tapi harus juga bersikap ‘feminin’ dan sebagai kelanjutan dari manisfestasi perbedaan biologis ini mendorong juga akan peran-peran sosial yang berbeda pula. Contohnya di masyarakat patriarki seperti di Indonesia laki-laki menikmati peran sosialnya yang mendominasi. Jadi tidak heran bila sejak kecil anak laki-laki sudah dibentuk agar menonjolkan sifat-sifat ‘maskulin’ nya untuk selalu menduduki posisi yang dominan tsb.

Dan dengan cara yang sama anak perempuan juga sejak masa anak-anak lebih dibentuk untuk mempunyai sifat-sifat ‘feminin’ yaitu cantik seperti simbol boneka ‘Barbie’, pasrah dan sebagai pelengkap dan penunjang posisi laki-laki dan hal ini diklaim sebagai sudah ‘kodrat’ perempuan seperti yang dikatakan Sekar, tokoh utama dalam novel kepada suaminya ,aku ini sebagai ‘tulang rusukmu’ (hal 49). Continue reading



Perempuan di Pemilu 2009 by ratna ariani
January 16, 2009, 12:23 am
Filed under: artikel, politik | Tags: , , , , ,

Suara Merdeka – HARUS diakui Undang-Undang (UU) 10/2008 tentang Pemilihan Umum (Pemilu) lebih berpihak kepada perempuan dibandingkan dengan UU Pemilu sebelumnya. Keber­pihakan itu menyebar di beberapa pasal, yakni

Pasal 8 Ayat 1 Huruf d yang mengatur ketentuan partai peserta pemilu menyertakan minimal 30 per­sen keterwakilan perempuan pada kepengurusan tingkat pusat.

Pasal 53 mengatur daftar bakal calon yang diajukan partai politik (parpol) memuat paling sedikit 30 persen keterwakilan perempuan.

Pasal 55 Ayat 2 mengatur daftar bakal calon disusun, untuk setiap tiga orang bakal calon terdapat sekurang-kurangnya satu orang perempuan.

Adapun pada UU Pemilu 12/2003, aturan yang melindungi perempuan di pencalonan hanya satu ayat, yakni Pa­sal 65 Ayat 1, yang memuat ketentuan bahwa partai peserta pemilu dapat mengajukan ca­lon untuk setiap daerah pemilihan (dapil) dengan memperhatikan keterwakilan perempuan sekurang-kurangnya 30 persen.

Sayangnya sama seperti pada Pemilu 2004 tidak ada sanksi keras bagi yang melanggar. Wewenang Komisi Pemi­lihan Umum (KPU) dalam hal ada partai yang tidak melaksanakan ketentuan Pasal 53 dan 55 UU 10/2008 hanya sebatas mengumumkan partai yang bersangkutan di media massa. Sanksi itu tentu tidak punya efek jera, apalagi dibuktikan pada Pemilu 2004 pemilih belum menjadikan pelanggaran tersebut sebagai dasar pertimbangan untuk mengalihkan pilihannya. Belum Berubah KPU pada 31 Oktober 2008 telah mengumumkan Daftar Calon Tetap (DCT) Ang­gota DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabu­pa­ten/Kota sekaligus mengu­mum­kan partai-partai yang ti­dak memenuhi kuota 30 persen keterwakilan perempuan. Continue reading



Perempuan Harus Diberdayakan Agar Mandiri by ratna ariani
January 14, 2009, 7:21 am
Filed under: pemberdayaan ekonomi, sosial masyarakat | Tags: , , , ,

Batik memang lagi trend saat ini, tapi dibalik lembaran-lembaran batik baik yang kualitas cetakan murah sampai yang mahal sekalipun, telah menyerap begitu banyak tenaga kerja khususnya perempuan. Menggalakkan sektor home industry, UMKM, setara dengan usaha melibatkan perempuan untuk membangun kemandiriannya. Maka hancurnya industri ber nilai tambah seperti garmen, berakibat paling parah bagi kaum perempuan. Begitu banyak buruh perempuan dirumahkan dan akhirnya mereka kehilangan kesempatan untuk memperbaiki kualitas hidup keluarganya. Semoga setiap dari kita juga memiliki cita-cita yang sama, mengajak orang lain keluar dan bangkit dari ketergantungan dan menjadi mandiri. Sekecil apapun usaha kita, walau hanya satu-dua orang yang kita bantu, itu sangat berarti karena kita telah membantu 1-2 keluarga untuk mendapatkan kesempatan memperbaiki kehidupan mereka. (RA)

Media Indonesia Jumat, 09 Januari 2009 18:06 WIB

BANYUWANGI– MI: Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meuthia Hatta mengatakan kaum perempuan perlu diberdayakan agar bisa mandiri dan tidak terjebak dalam tindak prostitusi atau perdagangan manusia.

“Seperti di sanggar batik yang telah memperkerjakan sekitar 20 perempuan ini. Mereka dilatih membatik agar tidak terjerumus dalam jerat prostitusi,” katanya saat mengunjungi Sanggar Batik Sayu Wiwit yang berada di Jalan Sekardalu 22, Kelurahan Temenggungan, Kecamatan Kota Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (9/1).

Menurut putri Bung Hatta ini, perempuan di sekitar lokasi pembuatan batik juga perlu mendapatkan pelatihan ketrampilan membatik.Ia menilai, sebagian perempuan di provinsi Jatim banyak yang menjadi korban trafficking (perdagangan perempuan), karena berbagai sebab. Continue reading



Putusan MK: Suara Terbanyak – Wajah Demokrasi Indonesia by ratna ariani
December 27, 2008, 11:26 pm
Filed under: politik | Tags: , , , , ,

Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan uji materi UU No 10 Tahun 2008 tentang pemilu. Dengan demikian penetapan anggota legislatif untuk Pemilu 2009 akan ditentukan dengan sistem suara terbanyak. [DETIKCOM]

Keputusan ini merupakan kado Natal terindah bagi para peserta Pemilu, khususnya para caleg ber nomor 2 dst. Hal ini langsung mematahkan pemeo tentang “Nomor jadi” yaitu nomor urut “1”. Disinyalir tidak terhitung kucuran dana dikeluarkan para caleg untuk mendapatkan no 1, yang tentunya tergantung dari mekanisme parpol setempat. Makin besar parpolnya wajar kalau setorannya juga besar.

Maka dengan keputusan MK ini, para caleg no 1 dalam DCT saat ini merupakan korban pertama yang paling keras menangis dan hanya bisa pasrah. Dengan demikian parpol yang terlanjur pasang harga untuk nomor ‘jadi’ pasti menuai protes para caleg ini. Ditambah lagi KPU pun langsung berjanji menjalankan keputusan MK ini. Sehingga tidak ada pilihan lain untuk para caleg no 1 tetap harus berjuang sama kerasnya dengan caleg lain untuk mendapatkan suara terbanyak.

Inilah wajah demokrasi Indonesia sesungguhnya, di tahun 2009 nanti rakyat mendapatkan wakilnya berdasarkan pilihan mereka, apakah mau pilih ‘kucing’ betina atau jantan, karungnya sudah pakai karung plastik tembus pandang. Continue reading



Perempuan Jangan Golput by ratna ariani
December 19, 2008, 7:01 am
Filed under: politik | Tags: , , ,

Sangat bagus kalau ada banyak perempuan menduduki posisi utama dalam institusi negara maupun di luar institusi tsb., tetapi kalau cuma kwantitas yang diutamakan, mungkin sekali tidak alan banyak membawa faedah untuk perbaikan kwalitas hidup anggota masyarakat. Jadi yang dibutuhkan ialah banyak dan lebih banyak lagi perempuan atau wanita terkemuka yang berada digaris depan pembela kepentingan perempuan. Kurang lebih 50% penduduk Indonesia adalah wanita, dan wanita adalah pendidik pertama tiap anak, kalau penidiknya hebat kwalitasnya maka kemungkinan perbaikan kwalitas kehidupan masyarakat, antara lain yaitu sejahtera, damai dan aman akan lebih mudah dicapai dan difaedahkan.

Caleg pria pun ada juga yang baik dan membela kepentingan kelompok perempuan, walau tidak banyak jumlahnya. Sedangkan di satu tempat ada juga aleg wanita yang sama seperti yang pria, kental dengan kolusi dan nepotisme dengan pengusaha untuk melakukan penggusuran lahan PKL demi berdirinya suatu pertokoan.Golput atau non-Golput adalah penilaian pribadi. Yang penting sebelum menentukan Golput carilah dulu informasi sebanyak-banyaknya tentang caleg perempuan di daerah pemilihan anda, baik caleg DPRD kota, DPRD maupun DPR dan DPD; bagaimana kehidupan mereka sebelum dan setelah masuk ke legislatif .  (RA)

Suara Pembaruan [JAKARTA] Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (Menneg PP) Meutia Hatta Swasono mengimbau kaum perempuan untuk menggunakan hak pilih mereka pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2009. Putri proklamator, Muhammad Hatta itu juga mengajak perempuan untuk memilih calon anggota legislatif (caleg) perempuan, sebab mereka yang akan memperjuangkan dan membela kepentingan kaum perempuan di Indonesia.

“Kaum perempuan jangan golput (golongan putih, Red). Perempuan sebaiknya memilih caleg perempuan, karena mereka pasti membela kepentingan perempuan,” ujarnya kepada SP di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, Senin (15/12).

Menurutnya, kalau perempuan tidak cukup terwakili di parlemen, mereka tidak bisa mengawasi aturan yang bias gender serta tidak mengetahui apa yang harus diberdayakan dari perempuan. Hal itu, lanjutnya, mengakibatkan selama 63 tahun perempuan Indonesia tertinggal dibanding kaum pria.

Oleh karena itu, dia berharap pada masa mendatang semua partai memiliki keterwakilan perempuan di parlemen. Dari sisi kualitas, kaum perempuan sudah cukup memadai untuk terjun ke panggung politik. Apalagi, partai politik tentu telah membekali caleg mereka yang bakal masuk ke parlemen. Kantor Menneg PP pun terus menyosialisasikan dan memberdayakan caleg perempuan.

“Kita jangan berpikir bahwa caleg perempuan itu tidak berkualitas. Kaum pria pun banyak yang tidak berkualitas. Namun, setelah masuk ke parlemen, mereka mau belajar dan memperbaiki diri. Kaum perempuan pun pasti bisa,” ujarnya. Meutia juga mengimbau pemilih perempuan untuk rajin mendengar langsung kampanye para caleg agar tahu kualitas mereka. Namun, Menneg PP mengatakan, orang yang golput bukan musuh negara, karena bisa saja mereka masih bingung untuk menentukan pilihan politik. Continue reading



Notulensi Pertemuan “Forum Ibu Menggugat” by ratna ariani
December 18, 2008, 11:06 pm
Filed under: politik | Tags: , , ,

Waktu : Senin, 16 Desember 2008
Tempat : KONTRAS
Peserta yang hadir : Nuraini (SDI), Rena (Kalyanamitra) , Yati (KONTRAS), Yulistini(SDI) , Sinnal (IKOHI)
Agenda : Konsolidasi Gerakan dan Agenda Politik Perempuan Menjelang Pemilu 2009
==========================================================================

Hasil Kesepakatan :
1. Berkaca pada pengalaman Suara Ibu Peduli 1998, Forum Ibu Menggugat diharapkan akan menjadi wadah bagi perempuan dari berbagai kalangan untuk bersuara lantang tentang persoalan ekonomi politik yang juga menjadi persoalan rakyat Indonesia saat ini
2. Forum Ibu Menggugat akan terus mengajak dan melibatkan lebih banyak pihak
3. Forum Ibu Menggugat bertujuan untuk mengajukan agenda politik perempuan menjelang Pemilu 2009
4. Fokus isu adalah KEMISKINAN dan dikaitkan/ dikontekstualkan dengan Pemilu 2009
5. Isu Kemiskinan dipilih karena berdasarkan persoalan dan realitas yang dihadapi oleh kaum perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan kajian Kalyanamitra tentang pandangan konstituen perempuan tentang politik dan pemilu, mereka mengatakan bahwa 10 tahun reformasi 1998, belum ada perubahan kondisi ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Bahkan sampai saat ini, kondisinya malah semakin parah.
6. Beberapa isu utama yang terkait dengan KEMISKINAN dan perlu digali lebih jauh tentang fakta persoalannya dari beberapa narasumber, yaitu :
* Kelangkaan gas –> narasumber : Aviliani –> PJ : Nuraini
* Kenaikan BBM –> narasumber : Aviliani –> PJ : Nuraini
* Kenaikan Sembako –> narasumber : Wardah Hafiz (UPC) –> Rena
* Krisis global dan segala dampaknya (seperti PHK) –> narasumber : Nining (KASBI) –> Sinnal
* Buruh Migran (Kekerasan dan PHK) –> SBMI –> Sinnal
* Pendidikan yang mahal –> Perempuan Mahardhika –> Nuraini
* Kesehatan yang mahal –> WRI (Women Research Institute)/ SRMK –> Rena
* Akses perempuan miskin terhadap perumahan –> Palupi (institute Ecosoc) –> Rena
* Pemenuhan hak korban (terutama perempuan) korban pelanggaran HAM –> Mba Suci –> PJ : Yati
* Hukum yang memiskinkan perempuan –> Asfinawati (LBH Jakarta) –> PJ : Yati
Para narasumber diatas akan dikonfirmasi oleh masing-masing penanggungjawab. Fasilitator yang akan coba dikonfirmasi adalah Ruth Indiah Rahayu (Yuyud)-a kan dihubungioleh Sinnal.
7. Akan diadakan SARASEHAN PEREMPUAN :” WAJAH PEREMPUAN INDONESIA MENYONGSONG PEMILU 2009″
* Output :
1. Catatan Akhir Tahun Bersama 2008
2. Komitmen dan penyikapan bersama terhadap persoalan kemiskinan menjelang Pemilu 2009
* Waktu dan tempat : Senin, 22 Desember 2008, pukul 10.00 – selesai, di KONTRAS
* Peserta : minimal 50 orang, yang terdiri dari berbagai kelompok NGO, caleg, media, ormas/komunitas, pemerintah
* Kebutuhan :
– TOR dan undangan –> PJ : Kalmit (Deadline, 18 Desember 2008)
– Notulen –> PJ : Kalmit
– Konsumsi –> PJ : KONTRAS
– Baliho/Spanduk –> PJ : IKOHI
– Press Release –> PJ : Nuraini (SDI)
* Penyebaran undangan (Deadline, 18 Desember 2008)
– NGO –> Kontras, Kalmit
– Caleg –> Kalmit
– Media –> KONTRAS
– Ormas/Komunitas –> SDI
– Pemerintah (KPP, Depkes, dll) –> Kalmit
8. Pertemuan persiapan Sarasehan Perempuan selanjutnya : Jumat, 19 Desember 2008, pukul 15.00, di KONTRAS

Cp : Rena Herdiyani (Kalmit) 0812 9820147, Yati Andriyani (KontraS) 0815 86664599, Nurani (SDI) 0817 6655800



Pembela Kaum Minoritas Raih Penghargaan Yap Thiam Hien Award by ratna ariani
December 12, 2008, 12:22 am
Filed under: sosial masyarakat | Tags: , , ,

Selamat untuk bu Musdah, seorang perempuan yang peduli dan senantiasa gigih memperjuangkan hak-hak kaum minoritas. Semoga semakin banyak perempuan belajar untuk memiliki semangat seperti bu Musdah, tidak berhenti dengan memikirkan keluarga dan kaumnya sendiri, tapi juga peduli kepada mereka yang lemah, terpinggirkan karena sistem dalam masyarakat yang berlaku. Sistem yang tidak ramah pada semua orang yang pada hakekatnya sama dihadapan Tuhan Sang Pencipta. (RA)

[DETIK] Jakarta – Siti Musdah Mulia, perempuan yang giat membela kelompok minoritas seperti gay, lesbian dan ahmadiyah mendapat penghargaan Yap Thiam Hien Award 2008. Ia dinilai sebagai sosok perempuan cerdas yang gigih memperjuangkan HAM.
“Siti membela hak minoritas, kelompok minoritas dalam hal ini membela HAM,” ujar pengacara senior yang juga penggagas penghargaan ini, Todung Mulya Lubis kepada wartawan di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Rabu (10/12/2008).

Todung menilai Musdah sebagai orang yang betul-betul pro pada kemajemukan dan pluralisme. “Meskipun berlatar belakang Islam, dia berani memperjuangkan emansipasi bukan hanya Islam tapi juga luar Islam,” jelasnya.
Todung mengaku sosok Musdah dapat menjadi inspirasi bagi kita semua untuk membangun Indonesia.
Pada saat pemberian penghargaan, Musdah tidak hadir karena sedang menunaikan ibadah haji di Makkah. Penghargaan ini diterima oleh Diana Nurmin (50) saudara dari Siti Musdah Mulia.

Sesaat setelah penghargaan itu, melalui teleconference Musdah, menyampaikan keterkejutannya atas penghargaan ini. “Saya terkejut saya tidak menduga mendapat penghargaan ini,” ujarnya.
Musdah mengaku, apa yang diperjuangkan merupakan sebagian tugas dari manusia untuk membela sesama yang mengalami diskriminasi.
“Ini panggilan hati sesuai yang dianjurkan agama saya. Saya yakin penghargaan ini untuk semua pejuang HAM,” tandasnya.

Musdah mulai terlibat advokasi Ahmadiyah sejak sekelompok pengikut Mirza Ghulam Ahmad terusir dari Nusa Tenggara Barat sekitar tahun 2000.
Rasa prihatin Musdah semakin bertambah ketika ada kabar kalau pemerintah akan menerbitkan surat keputusan bersama tiga menteri tentang aliran ahmadiyah. Dia menilai surat itu sebagai bentuk diskriminasi.
Ketika RUU Pornografi akan disahkan oleh DPR, lagi-lagi Musdah menentang. Dia meminta agar RUU ini ditunda pengesahannya.- Didi Syafirdi




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.