Saatnya HATI NURANI bicara


Kabar Dari Waghete – Nabire by ratna ariani
July 22, 2008, 5:29 pm
Filed under: artikel | Tags: , , , ,

Sejak akhir Mei romo Mardi Santosa SJ berkarya di waghete, sebuah desa di pedalaman Nabire. Saya mengenal romo Mardi yang sangat peduli dengan pertanian rakyat sejak di desa Danan Wonogiri yang sering kesulitan air. Berikut saya sertakan kabar bulan Juni lalu dari romo Mardi agar menjadi keprihatinan kita bersama serta membangun rasa solidaritas sebangsa dan setanah air.

Dear ibu Ratna sekeluarga,
Sekarang saya ditugaskan di pedalaman Papua, tepatnya di paroki Waghete. Belum ada listrik, telpon dan jalan aspal. Air saja kami harus puas dengan air hujan. Daerah amat dingin, dan tiap hari turun hujan. Untuk mencapai daerah ini dari kota Nabire bisa ditempuh dengan jalan darat. Dalam keadaan normal, mobil penumpang bisa mencapainya dalam 15-20 jam, sedang untuk angkutan barang bisa jauh lebih lama. Selain itu bisa juga ditempuh dengan menggunakan pesawat jenis twin otter atau pilatus, mendarat di kota Enarotali dan dilanjutkan dengan menggunakan kendaraan umum bisa mencapai tempat ini.

Sore ini saya tiba di Nabire, maka bisa kirim email. Saya turun untuk berobat, karena saya diserang sejenis kutu yang dalam bahasa setempat namanya DIDIPA. Kutunya kecil, keras, berwarna hitam dan meloncat kesana-kemari. Disemprot hit juga tidak mati. Luka yang ditinggalkan kemudian melepuh, terasa panas dan dari hari ke hari semakin besar. Tadi siang langsung ke dokter dan sudah mendapatkan obatnya. Binatang ini munculnya pada musim-musim tertentu, dan sekarang sedang akan mewabah. Semoga segera mendapat penanganan dari puskesmas. Sebenarnya saya ingin menggunakan transportasi darat, namun karena jalan yang menghubungkan Paniai dsk (termasuk Waghete) dengan Nabire terputus sejak berapa waktu yang lalu, maka arus transportasi barang dan manusia melalui jalan darat amat terganggu. Truk-truk banyak menumpuk di jalan yang rusak, dan bisa lebih dari dua minggu menunggu untuk bisa lewat. Tak pelak lagi di beberapa daerah seperti Enarotali, Waghete, Moenamani, Eupoto, dll terjadi kelangkaan barang-barang kebutuhan pokok seperti: sembako, bensin, minyak tanah, dll. Khusus di Waghete, sudah lima hari ini tidak ada lagi beras dan bensin, sementara barang-barang kebutuhan yang lain semakin menipis.

Beberapa hari sebelum barang benar-benar langka di pasaran, harga barang-barang tersebut sudah amat mahal. Sebagai contoh harga bensin sudah mencapai Rp. 35.000,00/ltr, Raskin sudah Rp. 15.000,00/kg. Harga barang-barang lain setali tiga uang. Tiga hari yang lalu beberapa umat sedang mendiskusikan jalan keluar atas krisis ini. Salah satu ide yang muncul adalah mencarter pesawat AMA milik missi untuk mengangkut bensin dan beras dari Nabire, namun akhirnya dibatalkan karena untuk pesawat jenis pilatus yang hanya berani membawa barang sekitar 700 kg, beaya yang harus dibayar konon tidak kurang dari 10 juta rupiah. Syukur bahwa mayoritas masyarakat asli masih bisa bertahan dengan ubi dan talas. Hanya masyarakat pendatang dan penduduk asli yang sudah bergaya sebagai pendatang (makan nasi) sudah mulai kelimpungan.

Kendaraan umum (jenis kijang) yang menjalani rute Enarotali – Waghete yang biasa melintas tiap hari Senin, Rabu dan Jumat, dalam keadaan normal sehari bisa sekitar 10 kendaraan yang masuk dan keluar Waghete, namun saat ini terasa berkurang cukup drastis. Beberapa sopir yang ditemui mengatakan, jika dalam minggu ini tidak ada pasokan bensin dari Nabire, maka sebagian besar kendaraan bermotor akan dengan sendirinya berhenti menggelinding di beberapa daerah yang pasokannya tergantung dari Nabire. Karena tadi sudah menunggu sekitar 3 jam tidak ada kendaraan melintas, maka saya tadi menggunakan motor pastoran dari Waghete menuju Enarotali. Bak seorang crosser saya menyusuri jalan berlumpur dan banjir masih tersisa disana sini. Dari Enarotali saya melanjutkan perjalanan dengan pesawat jenis twin otter, yang selain mengangkut manusia juga mengangkut babi, itik dll.

Kemarin siang ada beberapa ibu-ibu datang ke pastoran, bertanya apa bisa membeli beras dari pastoran? Bruder Norbert yang mengurusi rumah tangga pastoran menjawab bahwa beras juga amat tipis dan selama ini penghuni pastoran hanya membeli beras jatah para guru SD yang tidak mereka ambil. Bruder menyarankan agar ibu-ibu itu mendatangi rumah para guru SD tersebut, siapa tahu mereka masih menyimpan beras.
Saya kira inilah salah satu akibat dari gagasan/konsep kesejahteraan yang kebablasan. Orang-orang pedalaman papua yang makanan pokoknya adalah ubi dan talas, dikondisikan untuk menggantinya dengan beras yang tidak pernah mereka tanam. Nah ketika mereka sudah terbiasa dengan beras dan sekarang mengalami krisis pangan seperti ini, beberapa dari mereka sudah susah untuk diajak berbalik makan ubi dan talas. Memang makan nasi terasa jauh lebih enak daripada makan ubi. Saya makan ubi rebus beberapa hari saja perut terasa sebah, mulas dan tidak nyaman, dan yang lebih parah adalah kentut tak pernah henti, he.. Namun talas jauh lebih enak, karena lebih nyaman di perut daripada beras jatah PNS di pedalaman papua, bisa dibayangkan sendiri lah.

Berita kelulusan:

Saya tidak tahu apakah ini berita duka atau berita gembira. Para siswa dari SMP Negeri maupun SMP Katolik Waghete semua dinyatakan lulus. Saya sendiri meragukan akan hasil ini, dalam arti kemurnian nilainya. Lha membaca saja tidak lancar, untuk bidang studi matematika mereka belum lancar pada operasi perkalian, pembagian serta operasi untuk bilangan-bilangan negatif serta pecahan, he. ya sudahlah itu urusan mereka yang berwenang disitu. Bukan hal luar biasa bila kami mendengar komentar miring, bahwa banyak rekayasa dalam pengejaan soal UAN. SMA yang ada di waghete juga meluluskan semua siswanya, hebat kan? Entah yang pinter gurunya, entah siswanya entah siapa lagi, yang jelas mereka semua lulus. SMA ini beberapa tahun yang lalu mulai meluluskan siswanya, dan yang masih dikenang sampai sekarang, ketika meluluskan siswa angkatan pertama, ada siswa yang sudah mempunyai tiga orang anak, hebat kan? Saya angkat jempol untuk SMA Negeri I Biak Numfor yang kelulusannya adalah nol (0) % alias tidak ada yang lulus. Dan itu pasti nilai murni dari anak-anak. Kejujuran dalam bidang pendidikan rasanya semakin jauh panggang dari api, maka siap-siap saja bahwa mereka nanti bila sudah menjadi petinggi juga akan meneruskan tradisi KORUPSI HATI NURANI. Untuk merayakan sukses besar kelulusan ini (dimana kelulusan 100% konon amat jarang terjadi) mereka dan sebagian warga berpawai sambil berlari bolak-balik di sepanjang jalan utama Waghete yang jaraknya sekitar 2 km. Mereka berteriak-teriak dengan pakaian seadanya yang sudah bercampur lumpur. Teriakan bak kemenangan perang bergema sejak diumumkan pada jam 12 siang dan baru berhenti pada jam 5 sore.

Berita kesehatan:

Wabah kolera sudah dapat ditanggulangi di beberapa daerah. Masalah pokoknya adalah kurangnya pengertian warga masyarakat untuk hidup sehat. Pergi ke mana-mana tanpa alas kaki, maka penyakit cacingan menjadi hal yang terjadi di mana-mana. Beberapa kali saya melihat dengan mata kepala sendiri, ada warga masyarakat yang langsung meminum dari air selokan. Rumah mereka juga tidak sehat. Tidak ada kamar, meja kursi dll. Babi kadang juga masuk di dalam rumah. Karena suhu udara amat dingin, maka mereka memasang tungku di tengah ruangan. Kaki-kaki mereka didekatkan pada tungku agar tidak kedinginan. Akibatnya selain kaki sering terbakar juga penyakit infeksi saluran pernafasan menjadi hal yang biasa.
Jika ada teman-teman yang berminat pada SARANG SEMUT, yang konon dipercaya bisa menyembuhkan penyakit kanker dll, silahkan kontak kepada saya. Anak-anak sedang giat mencari dan mengolah barang ini. Artikel untuk sarang semut ini bisa bapak dapatkan di majalah Trubus atau menjelajah dunia maya internet. Di waghete sekarang ada wartel yang konon menggunakan koneksi satelit, maka beaya juga amat mahal.
Karena koneksi internet amat lambat dan juga mahal, maka saya berharap tidak dikirimi berita disertai attachment yang memuat file besar, sering putus di jalan, he…

Saling doa dari jauh ya, agar apa yang kita lakukan dan perbuat kian berkenan di hadapan Tuhan dan berguna bagi sesama.

Salam dan doa
Mardi Santosa, SJ


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: