Saatnya HATI NURANI bicara


Muh Yunus: Perempuan dan Kemiskinan by ratna ariani
July 23, 2008, 1:46 am
Filed under: artikel | Tags: , , ,

Muhammad Yunus, sang peraih Nobel Perdamaian, tampak bersahaja meskipun lebih dari 250 lembaga di hampir 100 negara mengadopsi program kredit mikro berdasarkan model Grameen Bank yang didirikan sang dosen ekonomi ini bersama muridnya tahun 1983.

Grameen, seperti dituturkan Yunus, memberi pinjaman untuk usaha, perumahan, biaya pendidikan, dan usaha mikro. Sejak diperkenalkan tahun 1984, kredit perumahan berhasil mendirikan 640.000 rumah yang dimiliki perempuan.

Isunya adalah kepercayaan….

Sistem sekarang didasarkan pada ketidakpercayaan. Kita dilatih untuk tidak percaya kepada orang lain. Kalau ingin dapat pinjaman akan dilihat dulu berapa kekayaan Anda, lalu ada perjanjian-perjanjian hukum. Asumsinya, penerima kredit tidak mengembalikan pinjamannya. Jadi, harus disiapkan sesuatu.

Kegiatan kami didasarkan pada kepercayaan. Kami yang datang pada mereka, bukan sebaliknya, karena setiap kantor, sesederhana apa pun, adalah ancaman bagi orang miskin dan buta huruf. Orang yang datang minta bantuan selalu pada posisi lebih lemah.

Membalik asumsi

Kerja paling keras yang dilakukan Yunus beserta timnya adalah membongkar struktur budaya yang menempatkan perempuan miskin di lapisan terbawah penindasan.

Kerja pemberdayaan membuat kegiatan Grameen Bank sempat dituduh bertentangan dengan agama dan merusak budaya purdah, yakni praktik budaya yang memisahkan perempuan dari kegiatan di ruang publik. Dalam buku Banker to the Poor (1998), ia menulis tentang tuduhan mengajak orang pindah agama.

“Dalam sistem budaya yang menyubordinatkan perempuan, pemberdayaan adalah ancaman terhadap otoritas,” jawabnya ketika ditanya mengenai hal itu.

“Perempuan berbisnis dikatakan bertentangan dengan nilai-nilai agama, lalu ditakut-takuti. Kami katakan, istri pertama Nabi Muhammad SAW, Siti Khadijah, adalah saudagar yang berhasil. Sebelum menikahi Khadijah, Nabi bekerja padanya. Kami menggunakan agama untuk mendorong perempuan. Lagi pula mereka berbisnis di rumah.”

Dalam ceramah ia mengatakan, Grameen Bank tidak bertentangan dengan Syariah karena tujuannya bukan laba maksimal. Laba diperlukan untuk biaya operasi dan sisanya dikembalikan untuk berbagai pelayanan sosial yang terjangkau masyarakat miskin. Nasabah Grameen Bank, kaum miskin itu, adalah pemilik bank itu.

Hasil banyak kajian memperlihatkan setelah perempuan terpapar akses ekonomi, memiliki rekening bank, punya penghasilan, dan menjadi lebih independen, hubungan suami-istri berubah total. Kekerasan dalam rumah tangga jauh berkurang. Banyak perempuan menjadi penghasil utama dalam keluarga. Para suami menaruh respek pada mereka. Anak-anak sekarang bersekolah. Dulu tidak tahu gunanya sekolah.

Namun, Banglades selalu menyimpan persoalan sosial yang serius karena 40 persen wilayahnya terletak satu meter di bawah permukaan laut dan kenaikan permukaan laut rata-rata tiga milimeter per tahun sejak 30 tahun lalu.

“Tentang tuduhan mempromosikan kapitalisme AS, sekarang Vietnam adalah salah satu promotor kredit mikro. Kami ditunjuk menjadi penasihat gubernur di Provinsi Hainan, diundang ke Provinsi Sechuan, dan Mongolia. Jadi, bukan soal AS atau China. Sistem ini bekerja untuk rakyat. Itu sebabnya saya berada di Indonesia,” lanjutnya.

Anda pernah ke Indonesia ?

Saya ke Indonesia tahun 1991 dan 1992 karena diundang lembaga pelatihan Bank Indonesia. Mereka membawa saya ke berbagai tempat di mana program kredit mikro berjalan. Proyek itu namanya Karya Usaha Mandiri.

Mengapa sistem seperti Grameen Bank tak bisa berjalan di Indonesia?

Sebenarnya ada beberapa program serupa, seperti yang saya kunjungi di Bogor kemarin. Alasan mendasarnya adalah tidak ada sumber dana meskipun mereka punya kemampuan dan tahu bagaimana melakukannya. Di Banglades kami menciptakan wholesale fund yang bisa dipinjam oleh NGO. Saya bilang ke pengusaha di kamar dagang dalam pertemuan tadi (Kamis, 9/8) pagi, mengapa tidak menciptakan dana seperti itu, mengapa harus menunggu pemerintah. Dana itu bukan derma. Anda meminjamkan. Ini satu cara. Cara lain adalah undang-undang baru supaya bisa membuat bank untuk kredit mikro.

Tulisan hasil wawancara selengkapnya ada di JIBIS Humaniora


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: