Saatnya HATI NURANI bicara


Peduli Lingkungan: It’s about attitude by ratna ariani
July 24, 2008, 1:15 pm
Filed under: lingkungan hidup | Tags: , ,

Saat menghadiri pembukaan Green Festival 19 April 2008 di parkir timur Senayan, ada dua kejadian yang menarik. Yang pertama tentang masalah transportasi. Saya terpaku di sebuah foto besar di paviliun GARASI. Foto ini dibuat untuk mengilustrasikan perbandingan yang dibuat 72 orang dalam berkendara. Dengan perbandingan pemakaian kendaraan di Jakarta, mereka membutuhkan 42 mobil yang membutuhkan ruang 700 m2. Emisi gas buang-nya per orang per kilometer 15 x lebih banyak dari bis. Sedangkan kalau naik sepeda motor dibutuhkan 60 buah yang memakan tempat sekitar 90 m2.

Emisi nya 7,5 x dari bis. Naaah.. kalau naik bis, semua bisa terangkut naik bis sekali jalan, tentunya ada yang berdiri juga. Cuma butuh 30 m2 itupun tidak permanen, karena bis tidak pernah parkir kecuali di pool-nya. Bisakah ditebak, mana yang akan kita pilih kalau ada di tengah kesemrawutan lalu lintas Jakarta?

Bukan hal mudah untuk berpindah moda transportasi apalagi kalau kita memang punya banyak pilihan. Saya bersyukur sudah melalui saat-saat sulit itu. Sejak bulan maret, jadi sudah¬† lima bulan kami berhasil ‘mengandangkan’ satu dari dua mobil untuk mobilitas sehari-hari. Suami memilih naik sepeda motor ke kantornya. Kami bergantian antar si bungsu ke sekolah. Kalau hujan saya antar dengan mobil, sekalian berangkat ke gereja ikut ibadah harian jam 6 pagi. Si sulung memilih naik KRL dan bis untuk sampai di kampus UI sejak semester pertama. Saking nikmatnya sampai sekarang dia belum berani ‘nyupir’ jadinya. Akhirnya adiknya, yang paling terakhir, bisa menerima juga diantar sepeda motor ke sekolahnya di bilangan Pondok Indah. Maklumlah mesti melawan ‘gengsi’ di antara para ABG. Akibat dari perubahan moda transportasi sehari-hari penghematannya luar biasa banyak, apalagi kami memilih mencicil sepeda motor kedua dari pada mencicil mobil ketiga.

Ternyata hal yang paling berat adalah untuk ‘memulainya’. Saya harus menahan diri dan merelakan suami dan anak-anak berpanas-panas dan kadang berhujan-hujan di jalanan. Kami bisa memakai dua mobil, tapi kami menahan diri dan memilih ‘tidak’ menggunakannya. Suatu saat saya sedang mengendarai mobil, lalu berpapasan dengan anak sulung saya turun dari bis. Bajunya basah karena di Depok hujan besar. Duh beratnya… Tapi akhirnya lewat juga saat-saat itu, kami berhasil mengalahkan ‘kelekatan’ berkendara dengan mobil. Bahkan si bungsu lebih enjoy naik motor dan bis lho. Katanya, “Asyik dan murah banget, Bunda!” Terkadang masih deg-degan kalau hari akan hujan, apakah suami dan anak-anak kehujanan? Tapi saya percaya Yang Di Atas sana menyertai mereka semua.

Kejadian kedua saat kita memasuki paviliun Dapur. Anak-anak tertawa kemarin saat membaca tulisan “membawa kotak makanan dan botol minuman/gelas sendiri saat bepergian dapat mengurangi sampah”. Yaaah.. ini sih aku tahu, Bunda. Betul, anak-anak sudah dibiasakan di sekolah karena diingatkan suster untuk bawa bekal. Di kantin pun tersedia gelas-gelas plastik untuk mengurangi kantong plastik minuman dan sedotan menggunung. Anak-anak boleh saja jajan di kantin tapi setelah menghabiskan bekalnya dari rumah. Sehingga bila beli makanan atau minuman, mereka harus membawa tempat bekalnya untuk menyimpan makanan/minuman yang dibeli. So, apa yang kita lakukan kalau mengurangi sampah yang semakin menggunung? Anak-anak pun tahu apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi sampah.

Lets do something for the earth, untuk bumi yang diciptakan indah pada awalnya. Maukah kita berkorban dengan berbagi demi orang lain? Bumi ini ditempati oleh banyak generasi, bukan untuk dihabiskan dan dinikmati generasi ini saja. Maukah kita berkorban demi generasi selanjutnya agar mereka menerima bumi yang tidak semakin rusak ini? Kalau kita masih banyak pilihan dan bisa melakukannya, tapi memilih ‘tidak’ melakukannya demi cinta kepada bumi dan demi kualitas hidup generasi penerus kita, itulah persembahan cinta kita bagi kelangsungan bumi.

Kalau kita punya visi jauh ke depan, pasti sikap kita pun mudah berubah untuk mencapai visi tersebut. Kalau kita bertanggung jawab pada kelangsungan generasi anak cucu kita, maka kita pun mau mengubah sikap untuk semakin cinta bumi ini. Cinta pada Tuhan juga perlu ditunjukkan dengan mencintai dan memelihara seluruh ciptaanNya, termasuk bumi ini.


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: