Saatnya HATI NURANI bicara


Aktivis Perempuan: Antara LSM dan Parpol by ratna ariani
July 27, 2008, 8:44 am
Filed under: politik | Tags: , , , , ,

Di saat semua partai politik memasang iklan perlunya perempuan untuk dijadikan caleg (calon legislatif) di berbagai dapil, berbagai upaya pun dilakukan. Mereka memasang slogan untuk menarik perhatian para perempuan bahkan mereka juga menggunakan teknik jemput bola. Berbagai aktivis perempuan di LSM ditawari dan diajak untuk bergabung. Kalau sudah kepepet, terpaksa istri, anak dan menantu dipasang sebagai caleg demi memenuhi aturan KPU. So, bola nya memang ada di tangan perempuan, terutama memang perempuan yang memiliki kualitas dan dinilai mampu berkiprah di masyarakat.

Menjadi perempuan aktivis baik di LSM atau di badan sosial sangat berbeda dengan menjadi bagian di partai politik. Ada banyak hal yang memang menjadi pertimbangan perempuan sebelum mereka memutuskan terjun untuk masuk ke dunia politik. Beberapa pertimbangan diantaranya:

1. Dukungan keluarga terutama pasangan dan anak.

Rasanya ini menjadi pertimbangan utama para perempuan maju ke dunia politik. Kegiatan sosial bisa diatur sesuai jadual perempuan; sangat flexibel karena bisa disesuaikan dengan kegiatan perempuan. Tidak dilakukan malam hari, tidak keluar kota sering-sering, tidak direncanakan saat week end. Dunia politik sangat berbeda, rapat bisa kapan saja dan bisa sampai malam bahkan dini hari. Full asap rokok lagi. Maka berat bagi perempuan maju sebagai caleg tanpa dukungan keluarga. Apalagi kalau tidak ada latar belakang politik didalam keluarganya,makagakheran kalau nepotis masih kental disini. Kalau masih single, gak masalah lah. Malah siapa tahu bisa dapat gebetan kan?

2. Ritme kerja yang panjang

Menjadi perempuan legislatif atau aktivis parpol tidak etis untuk menjadi kan urusan domestik menjadi alasan untuk tidak mengikuti kegiatan parpol atau komisi. Maka perempuan dan laki-laki dituntut memiliki kemampuan dan ketahanan untuk bekerja dengan ritme tinggi. Sidang-sidang rapat yang berkepanjangan dan perjalanan dinas yang jauh dan berat (sampai ke pelosok kampung) menuntut stamina tinggi juga. Belum lagi tidak seimbangnya kerja , istirahat bahkan makanan biasanya berlemak tinggi. Maka kalau memiliki catatan kesehatan yang tidak begitu baik, lebih baik jangan maju kalau tidak mau memperpendek umur.

3. Kompetisi dan compassion

Sebagai aktivis di LSM maupun lembaga sosial, perempuan bisa habis-habisan meluangkan waktu perhatian bahkan dana pribadi yang ada untuk berbagai kegiatannya. Mereka terlibat dalam pendampingan buruh wanita, aktif dalam peningkatan kemampuan ketrampilan wanita, mengunjungi penjara dan panti asuhan, tidak lupa membantu berbagai sekolah kejuruan dan panti rehabilitasi anak cacad. Mereka bisa dengan mudah mengajak para donatur , mengetuk hati mereka untuk ikut membantu berbagai kegiatan sosial. Semua bisa dengan mudah diajak kerja sama, baik sebagai tim kerja dan tim relawan karena dikerjakan dengan compassion – welas asih.

Tapi tidak demikian didalam partai politik. Kelihatannya semua memang bisa dan memang harus bekerja sama sesuai dengan aturan main dalam AD/ART: baik secara vertikal antara DPP dan DPD/DPC, dan secara horisontal antara DPD/DPC bahkan dengan organisasi sayapnya. Tetapi saat penentuan koordinator wilayah/daerah terutama saat penentuan nomor urut dan dapil saat pencalegan tidak bisa dilakukan kolaborasi atau kerja tim. Semuanya akhirnya kembali ke kinerja kualifikasi setiap individu kader termasuk menilai kemampuan intelektual dan kemampuan diplomasi. Tim yang biasanya dibentuk seperti BAPILU Badan Pemenangan Pemilu akan menggodok penentuan pencalegan tersebut. Dengan adanya UU no 10/2008, maka kompetisi berubah menjadi semakin runcing. Yang dulu terjadi antara perempuan dan laki-laki dan biasanya perempuan amat jarang menang. Sekarang terjadi antara perempuan dengan perempuan, dan antara sesama lelaki. Kejam? Gak lah, fair enough. Thats what they call competition.

4. Sumber dana

Pastikanlah bahwa anda memiliki sumber dana yang cukup, karena tidak semua parpol cukup memiliki sumber dana untuk mendukung anda. Donatur tidak bisa didapat semudah saatmengadakan kegiatan charity karena mereka juga berpikir untung rugi layaknya ‘investasi’, apalagi denganjumlah parpolyang ajubilah banyaknya; umumnya mengambil sikapĀ  wait and see. Sebagai caleg anda akan diminta mengambil bagian untuk mendanai setiap kampanye di dapil anda, baik untuk penyelenggaraan seminar, brosur, spanduk, alat-alat kampanye sampai konsumsi peserta dan biaya operasional para relawan. Ini diluar setoran ‘wajib’. Nah, kalau betul generasi muda diberi tempat oleh parpol maka perlu dipertanyakan berapa jauh parpol berani menempatkan tokoh orang muda yang belum mapan secara finansiil dinomor urut 1. Apakah mereka bisa mendapat nomor kecil tanpa dukungan finansial orang tuanya? Lagi-lagi gejala nepotisme bisa timbul karenanya.

Belum lagi kalau anda berprofesi sebagai akuntan, pengacara dan notaris serta pemasok pemerintah ; maka anda harus bersedia melepaskan profesi tersebut bila terpilih sebagai anggota legislatif. Padahal kita tahu latar belakang pendidikan hukum juga penting bagi praktisi parpol. Jadi bisa dibayangkan tidak banyak ahli hukum perempuan bahkan mereka yang selama ini terlibat di bidang akademis dan pengamat politik mau terjun ke politik praktis. Bila sudah terpilih sebagai aleg, anda juga tidak bisa menikmati sepenuhnya penghasilan anggota parlemen seluruhnya. Peraturan parpol mengharuskan para aleg menyetorkan sebagian gajinya kepada parpol dan juga pendanaan bagi kegiatan untuk konstituennya. Bila ini dilanggar, siap-siap untuk di recall atau di PAW – Pergantian Antar Waktu 8)

Tapi itulah harga yang harus dibayar perempuan bila memang terpanggil untuk berbakti bagi masyarakat dan bangsa. Jangan mau dianggap perempuan lembek yang butuh fasilitas dan minta kemudahan, tetapi jadilah perempuan berkualitas yang siap berkompetisi, dan siap kerja keras untuk kebaikan bagi bangsa. Berkarya bagi bangsa memang tidak harus lewat parpol, tapi kalau semakin banyak perempuan terlibat dalam proses perundangan dan kebijakan politik maka keputusan-keputusan yang diambil menjadi lebih sempurna lebih ramah akan kesetaraan gender; layaknya pasangan suami istri yang saling bekerja sama dalam mengelola rumah tangga tentu menjadi lebih baik.


3 Comments so far
Leave a comment

Artikel-artikel Ibu sangat berkualitas, semoga bisa dipelajari oleh kaum perempuan.

Salam
Tina

Comment by tina

jadi sumber motivasi n info nie

Comment by ari

wow beratnya…, kadang ada kejenuhanku mo jd pedagang saja

Comment by lala




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: