Saatnya HATI NURANI bicara


Anak Miskin dan Tak Berprestasi: Siapa Peduli? by ratna ariani
July 27, 2008, 1:12 am
Filed under: artikel, pendidikan | Tags: , , ,

Kalau kita mau peduli untuk menolong anak-anak miskin, rasanya memang tidak perlu bertanya tentang prestrasi mereka. Anak bisa berprestrasi kalau suasana mendukung seperti gizi, sarana belajar dan dukungan orang tua. Jangan harapkan mereka berprestrasi kalau masih disuruh ‘bekerja’ dan bahkan masih jadi korban kekerasan dalam RT. Justru dengan bantuan kita,siapa tahu mereka bisa tambah semangat untuk berani bermimpi untuk keluar dari kemiskinan.

{Suara Pembaruan] Anak-anak dari keluarga tidak mampu mengikuti proses belajar-mengajar di halaman Sekolah Rakyat Miskin, di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Pemberian beasiswa, pada umumnya selalu dikaitkan berprestasi. Artinya, beasiswa biasanya hanya diberikan kepada siswa secara ekonomi, keluarganya kurang mampu, tetapi menunjukkan berprestasi belajar atau akademik. Di sisi lain, sering kali pemberian beasiswa dikaitkan dengan ikatan dinas dari lembaga pemerintah ataupun perusahaan swasta. Biasanya siswa atau pun mahasiswa yang mendapat program beasiswa ikatan dinas ini, wajib mengabdi di lembaga pemberi beasiswa setelah pendidikannya selesai.

Tetapi, yang jelas, beasiswa ikatan dinas seperti itu, pasti untukanak yang berprestasi. Tentu saja, pemerintah daerah atau lembaga lainnya termasuk perusahaan besar, tidak mau mengambil risiko memberikan beasiswa bagi siswa yang tidak berprestasi. Lalu, bagaimana dengan yang miskin, tak tidak berprestasi?

Suatu ketika, staf Sampoerna Foundation berkunjung ke redaksi SP menjelaskan kerja mereka dalam mengumpulkan beasiswa. Dengan bangga staf lembaga pengumpul beasiswa dari perusahaan-perusaha an itu menceriterakan jumlah dana yang disalurkan bagi penerima beasiswa tersebut. Kriteria penerima beasiswa, tentu saja yang berprestasi. Ketika ditanya soal program beasiswa bagi mereka yang miskin, namun tidak berprestasi, dengan sinis orang itu mengatakan, ”Sementara yang berprestasi. Kalau yang tidak berprestasi, mungkin ada pihak lain yang mengurusnya’ ‘.

Jawaban seperti itu, tentu bisa menyakitkan bagi mereka yang miskin dan tidak berprestasi lagi. Kalau kriterianya harus berprestasi, sulit bahkan mungkin tidak akan pernah mereka mendapat kesempatan menerima beasiswa.

Berdayakan yang Miskin

World Vision Indonesia (WVI) adalah salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang ikut memberikan bantuan pendidikan di Tanah Air. Hanya saja, organisasi ini tak mengenal istilah beasiswa pendidikan. Manajer Humas WVI John Nelwan yang sedang berada di Singkawang, Kalimantan Barat ketika dihubungi SP baru-baru ini menuturkan, lembaganya memang memberi bantuan kepada anak-anak miskin untuk keperluan pendidikan, namun namanya bukan beasiswa. Pemberian bantuan itu dilakukan dalam rangka pemberdayaan masyarakat secara holistik. Saat ini WVI membantu sekitar 8.000 anak miskin di delapan wilayah pelayanan di antaranya, yakni di Papua, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah, Aceh, Jawa Timur, Nias, Sumatera Utara, Maluku Utara, dan DKI Jakarta.

Bantuan yang diberikan WVI itu kata Nelwan, tidak ada embel-embel prestasi. Sasarannya, adalah bantuan itu diberikan kepada anak yang sangat membutuhkan biaya untuk pendidikan tanpa melihat latar belakang suku, ras maupun agamanya. ”Kita (WVI-red.) memberikan bantuan secara murni untuk membantu yang miskin agar bisa berubah,” ujarnya.

Terintegrasi

Manager Area Development Programme (ADP), World Vision Indonesia (WVI) Surabaya, Jawa Timur, Joni Sirait yang dihubungi terpisah mengatakan, bantuan pendidikan yang diberikan lembaga ini terintegrasi dalam kegiatan pemberdayaan. Karena itu, memang tidak dikenal istilah beasiswa.

Pola pemberdayaan yang dilakukan WVI sangat komprehensif. Anak yang mendapat bantuan pendidikan, orangtuanya juga diberdayakan secara ekonomi, sesuai potensi yang bisa dikembangkan di daerahnya, sehingga sifatnya tidak karikatif. Diharapkan dengan pemberdayaan ekonomi itu, orangtua anak tidak tergantung, tetapi bisa mandiri, sehingga dapat membiayai kelanjutan pendidikan anak-anaknya. Pemberdayaan itu dilakukan melalui kelompok swadaya masyarakat (KSM), di mana pengawasan bisa dilakukan oleh sesama anggota KSM.

Di Surabaya, WVI membina sekitar 6.000 anak, yang umumnya dari keluarga miskin kota. Bantuan kepada anak-anak itu, bukan atas dasar prestasi, tetapi bagaimana agar mereka terentas kemiskinannya. Filosofinya, adalah bahwa pintu keluar dari kemiskinan itu, tidak lain dengan pendidikan. Diharapkan dengan pendidikan yang mereka terima, suatu saat nasib anak-anak itu lebih baik dari keluarganya yang miskin sekarang.

WVI misalnya menjadi mediator membantu keluarga orangtua murid mendapatkan modal usaha dengan fasilitas kredit usaha rakyat (KUR) yang dikucurkan Bank Rakyat Indonesia. Di samping itu, WVI membantu anak-anak keluarga miskin dalam pengurusan akta lahir.

Tidak hanya itu, WVI juga terlibat dalam program pelatihan metode belajar yang menyenangkan atau tanpa tekanan. Prinsipnya adalah bagaimana mengajar yang aktif kreatif dan menyenangkan, sehingga anak-anak tertarik terus datang ke sekolah untuk belajar.

Mungkin saja apa yang dilakukan WVI ini juga banyak dilakukan LSM lainnya dan itu sangat bagus. Pola pemberdayaan seperti ini patut diadopsi oleh lembaga lain maupun pemerintah. Dan yang lebih penting adalah kepedulian kepada anak-anak yang miskin dalam hal pendidikan sangatlah perlu. Kalau bantuan beasiswa atau apa pun namanya atas dasar prestasi, boleh jadi anak-anak yang miskin itu tidak akan pernah punya kesempatan mengenyam pendidikan yang lebih tinggi.

Syukur-syukur kalau anak yang miskin dan kebetulan berprestasi dapat perhatian pemberi beasiswa, sehingga suatu saat nasibnya bisa berubah. Tetapi, mereka yang miskin dan tak berprestasi, kalau tidak ada yang peduli, boleh jadi seumur hidupnya tak punya peluang mengeyam pendidikan dan tentu saja akan terus miskin, lebih miskin dari orangtuanya sekarang. Sekarang maukah Anda peduli bagi miskin meskipun tak berprestasi? [SP/Marselius Rombe Baan/ Charles Ulag]


1 Comment so far
Leave a comment

Saya sangat senang dengan adanya program ADP-WVI ini sangat membantu sekali untuk pendidikan anak-anak yang orang tuanya kurang mampu membiaya pendidikan anak-anaknya tapi sangat disayangkan karena pembagian itu tidak hanya dipilih-pilih yang masih mempunyai kerabat dekat dengan pengurus ADP.

Comment by SP




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: