Saatnya HATI NURANI bicara


Bukan Perempuan Tapi Peduli Perempuan PSK by ratna ariani
July 28, 2008, 12:29 am
Filed under: artikel | Tags: , , ,

Pada akhirnya akibat kesulitan ekonomi, kemiskinan membuat perempuan tidak banyak pilihan untuk survive. Jalan terakhir adalah menjajakan dirinya sendiri. Untuk menolong mereka pun tidak semudah membalik telapak tangan. Tidakbisa dengan program atau dengan penggusuran. Mereka juga manusia yang punya hati dan juga punya otak. Kalau disentuh dengan otak (dijejali denganberbagai wejangan) rasanya sebentar juga hilang tanpa bekas. Tapi bila hatinya disentuh, maka pengalaman ‘disapa’ layaknya sebagai manusia akan membekas lebih lama. Dibawah ini adalah kisah seorang anak manusia yang ‘menyapa’ mereka para PSK dengan hati. Tidak banyak perempuan yang berani melakukannya. Lebih mudah menjauhi dan menghakimi daripada mencari jalan mengeluarkan mereka dari lembah nista. Tidak ada salahnya juga untuk dipahami bahwa pendekatan yang manusiawi terbukti lebih efektif. Be with them not to be one of them. Tinggal dekat dengan mereka, tapi bukan untuk menjadi sama dengan mereka. Kita memang benci perbuatannya,tapi mari belajar mengasihinya karena mereka adalah sesama ciptaan Tuhan. (RA)

Pencerah-Pencerah di Lembah Hitam :Bangun Masjid, Bagi Sembako, Beli Aset Mucikari

Di Surabaya begitu banyak penceramah agama. Namun, tak banyak di antara mereka yang menerjuni kawasan merah, lokalisasi. Berikut adalah sedikit di antara orang-orang yang rela mengabarkan kebaikan di kantong-kantong kemaksiatan itu.

HATTA bukan orang Surabaya tulen. Dia juga tak punya pendidikan formal yang terlalu tinggi, cukup pesantren setingkat SMA. Bapak tiga anak itu juga tak punya modal materi besar, cukup keahlian berdakwah. Meski begitu, dia punya sumbangan cukup besar bagi kota ini. Dia ikut memberikan kontribusi membuat redup lampu-lampu merah yang biasa menyala di kompleks Lokalisasi Bangunsari dan Bangunrejo. Dakwah pria dengan nama lengkap Muhammad Hatta itu bisa mereduksi praktik jual beli aurat di kompleks esek-esek tersebut.

”Biarkan mereka (pelacur dan mucikari) berubah secara alamiah. Jangan ditakut-takuti atau diancam. Termasuk ditakut-takuti masuk neraka,” ucap Hatta. ”Mereka tahu pekerjaannya adalah dosa. Makanya, kita tidak boleh menggurui, apalagi menjustifikasi, ” imbuhnya. Cara berdakwah Hatta memang cukup simpel. Ketika bertatap muka dengan penghuni lokalisasi, dia hanya sering mengingatkan bahwa hidup memang penuh cobaan. ”Ibaratnya, cobaan itu adalah badai. Saya bilang bahwa tidak ada badai yang tak berlalu. Saya kira, itu bisa lebih diterima PSK dan mucikari,” ucapnya.

Hatta menjadi pendakwah sejak lulus dari Pesantren Al Huda di Banjarmasin 30 tahun silam. Setelah itu, dia mengikuti kedua orang tuanya hijrah ke Surabaya pada awal 1990-an. Hatta juga aktif dalam organisasi masyarakat Muhammadiyah. Nah, tak lama kemudian, dia pun dipercaya menjabat ketua Pengurus Cabang Muhammadiyah Krembangan. Dari situ, dia mulai bergelut dengan dunia prostitusi. Maklum, Bangunsari dan Bangunrejo termasuk bagian dari teritorial organisasi yang dipimpinnya.

”Saya benar-benar prihatin melihat daerah itu. Saya dan teman-teman pun akhirnya merancang strategi untuk mengentaskan atau mengurangi pelacuran di tempat tersebut,” katanya. Hasil diskusi Hatta dan kawan sejawatnya menghasilkan keputusan membangun masjid. Dia berpikir, jika ada rumah ibadah, paling tidak, setiap hari mucikari dan PSK mendapatkan pencerahan dari corong-corong pengeras suara.

”Paling tidak, mucikari atau PSK bisa mendengarkan suara azan, suara orang melafalkan Alquran dalam jarak cukup dekat. Kami juga rutin menggelar ceramah-ceramah di masjid supaya mereka selalu ingat,” tuturnya. Hatta termasuk salah seorang penceramah yang aktif berbicara melalui pengeras suara. ”Materinya itu tadi, agar masyarakat tabah menghadapi cobaan, tidak gampang putus asa, dan selalu berusaha menjadi lebih baik,” katanya.

Siraman rohani dari Masjid At-Taqwa yang didirikannya mulai direspons. Setidaknya, setiap hari jamaah di rumah ibadah tersebut bertambah. ”Awalnya, jamaahnya paling banyak 20 orang saja. Kecuali kalau salat Jumat, baru masjidnya penuh,” ucapnya. Hatta dan sejawatnya mulai berpikir cara lain untuk mengikis pelacuran di Bangunsari dan Bangunrejo. Pilihannya jatuh pada pengajian keliling. ”Kami sepakat berkeliling dari satu gang ke gang lain, mengumpulkan warga, serta mucikari dan PSK. Kemudian, mereka kami beri siraman agama,” ujar suami Sariyah itu. Mulailah Hatta menggeser dakwah on air dari masjid menjadi off air dari gang ke gang, minimal sebulan sekali. Setiap acara mereka menutup seluruh akses menuju wisma.

”Misalnya, pengajiannya di Bangunsari Gang I, seluruh akses jalan ditutup. Jadi, wisma tidak bisa beroperasi, minimal selama pengajian. Biasanya acara digelar pukul 19.00 hingga 21.00. Padahal, saat itu kan sedang ramai-ramainya tamu,” ucapnya. Bukan hanya PSK dan mucikari yang tidak bisa bekerja selama pengajian. Pria hidung belang yang akan suka jajan juga dipaksa balik kanan oleh acara itu. ”Saya kira, pengajian itu cukup memberikan kontribusi,’ ‘ katanya.

Mucikari dan PSK tak perlu khawatir kehilangan ”rezeki” selama ada pengajian. Sebab, Hatta juga membagi-bagikan sembako selama acara. ”Sembako bisa menjadi magnet bagi mucikari atau pengelola wisma untuk mengikuti pengajian. Yang selalu kami bagikan adalah beras dan mi instan. Selain itu, kadang bagi-bagi gula, atau minyak goreng. Semua bantuan dari donatur,” tutur Hatta.

Pengajian keliling rutin. Dakwah melalui masjid juga tak pernah absen. Namun, Hatta tak pernah berhenti memutar otak untuk mencari formulasi tambahan guna mengurangi teritorial lokalisasi. Strategi selanjutnya jatuh pada pembelian aset milik mucikari. ”Selama ini, kalau ada wisma dijual, biasanya dibeli mucikari lain, kemudian didirikan wisma dengan nama baru. Ini yang juga kami antisipasi,’ ‘ ucapnya. Lagi-lagi, Hatta menggalang bantuan donatur. Dia meminta kawannya yang punya uang lebih untuk membeli wisma-wisma yang dijual pemiliknya. ”Akhirnya, banyak wisma yang dibeli jamaah kami, kemudian dibuat sebagai tempat tinggal,” ucapnya.

Tiga strategi itu cukup efektif. Setidaknya memberi kontribusi jumlah wisma, mucikari, dan PSK di Bangunsari dan Bangunrejo. ”Dulu di kawasan ini ada 15 gang, seluruhnya penuh wisma. Sekarang gang yang masih banyak wismanya tinggal dua. Sisanya sudah beralih fungsi,” kata Hatta.

Saat ini wisma-wisma yang terdiri atas banyak kamar itu banyak yang menjadi rumah kos. Banyak juga yang dijadikan tempat usaha dan tempat tinggal warga. ”Alhamdulillah, jumlahnya terus berkurang,” ujarnya.

Strategi terakhir yang dilakukan Hatta dan teman seperjuangannya adalah berdakwah melalui pendidikan. Kebetulan, lembaganya, Muhammadiyah, juga membangun SD (sekolah dasar) dan SMP (sekolah menengah pertama) di kawasan ”lampu merah” tersebut.

Di sekolah itu siswa berbaur. Mulai anak pegawai negeri, karyawan swasta, hingga keturunan mucikari dan PSK. ”Sekolah juga menjadi media berdakwah. Saya juga ikut menjadi pengurus sekolah tersebut,” kata Hatta. Minimal sebulan sekali anak-anak di sekolah tersebut diajak mengingatkan para mucikari dan PSK untuk meninggalkan pekerjaannya.

”Anak-anak berkeliling lokalisasi sambil membawa poster untuk mengingatkan. Tidak menghakimi. Misalnya, isinya mengajak warga untuk bertobat. Bisa jadi, anak-anak yang berkeliling itu adalah anak PSK atau mucikari. Dengan begitu, ini bisa cukup menyentuh hati orang tuanya,” ujarnya.

Selama berdiri, lanjut Hatta, sekolah Muhammadiyah di Bangunsari dan Bangunrejo memang banyak meluluskan anak mucikari dan PSK. ”Agama kan bisa membentengi anak agar tidak mengikuti jejak orang tua. Kalau tidak salah, bahkan ada anak mereka yang menjadi guru di sekolah kami,” tutur Hatta.

Selama tinggal dan berdakwah di kawasan lokalisasi, Hatta mengatakan baru sekali mengalami sedikit perdebatan dengan pelaku lokalisasi. Yakni, ketika ada wacana penggusuran Lokalisasi Bangunsari dan Bangunrejo pada 1997.

Wacana itu disampaikan jamaah Masjid At-Taqwa. Mucikari dan PSK pun protes. Hingga akhirnya, terjadi pembicaraan di antara kedua pihak. ”Alhamdulillah, permasalahan akhirnya tercapai. Kami sepakat untuk tidak meneruskan wacana penggusuran. Sebab, mucikari dan PSK keberatan dengan alasan ekonomi,” ucapnya.

”Itu bisa menjadi bukti bahwa kita tidak perlu konfrontasi dengan mereka. Biarkan mereka berhenti secara alamiah. Mereka sadar sendiri. Daripada digusur, dia pindah tempat, tapi melakukan praktik yang sama,” urai Hatta, yang kini juga menjadi pengurus di Panti Muhammadiyah, Jalan Gresikan. (fid/dos)


3 Comments so far
Leave a comment

Hebat jika dapat mengabdikan diri untuk masyarakat.Apalagi di lingkungan seperti itu

Comment by ayuliana

psk juga manusia….banyak masalah yang melatari mereka terjun ke dunia ini. jangan hanya mereka yang di cemooh..tapi para pemakaijasa mereka juga..

Comment by thevemo

Andai ada lembaga pendidikan pengembangan kepribadian mau blusukan di lokalisasi saya rasa akan bisa memberikan sentuhan yg sangat berarti. Perputaran uang di lokalisasi sangatlah tinggi, ekonomi adalah alasan utama, dengan penghasilan yang besar penghuni di situ tak perlu lama2 berada disana. Dari kesemuanya terbawa pengaruh dari lingkungan kehidupan di kompleks lokalisasi yang kebanyakan dibawa oleh para pemakai jasa mereka. Siraman rohani adalah penyejuk dahaga sesaat bagi mereka. Solusinya adalah pengembangan kepribadian diri yang saya rasa dari 90% penghuni mempunyai background yang sangat lemah dari orang tua atau lingkungan sebelumnya. Saya rasa itu bisa membuat mereka mampu survive di kehidupan normal, kebanyakan dr mereka sudah keluar dari tempat itu tapi tak mampu bertahan di lingkungan yang membutuhkan tingkat sosialisasi yang tinggi, sedangkan mereka mempunyai background kehidupan yang dipandang miring. Dan pendidikan kepribadian yang mereka dapat bisa mereka salurkan pada keturunan maupun keluarga mereka agar tidak terjerumus dalam kehidupan yang sama. Selain ekonomi, tingkat kepribadian juga sangat berpengaruh, sehingga mereka mampu menjerumuskan diri dalam kehidupan bawah normal. Pikiran mereka bisa terisi dr hal2 yg sangat sederhana mulai dari cara makan, cara berjalan, dll. Yang selama ini hanya dimiliki oleh para istri2 pejabat dan konglomerat. Mungkin mereka bisa sedikit terhibur oleh pendidikan2 ringan yang selama ini tidak mereka ketahui. Dan itu memberikan penyegaran serta bekal ketika mereka keluar dari situ, agar tidak lagi kembali dalam pekerjaan yang sama dan tahu harus dikemanakan penghasilan mereka. Yang dari sepengetahuan saya rata2 setiap pekerja seks bisa menerima penghasilan antara 2jt sampai 10 jt dalam sebulan. Dan saya rasa mereka akan terbangun dari pondasi yag kuat setelahnya.

Comment by sabana




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: