Saatnya HATI NURANI bicara


Miskin : Nasib? Takdir? by ratna ariani
July 29, 2008, 2:14 am
Filed under: Uncategorized | Tags: , , , , ,

Menjadi orang miskin memang paling pusing. Tidak punya banyak pilihan. Kesulitan hidup sehari-hari bisa membuat orang stress berkepanjangan terlebih bagi perempuan miskin. Tugas perempuan sebagai ibu dalam keluarga seperti mahluk bertangan seribu.

Ia harus membesarkan anak-anak, mengurusnya dari bayi hingga menjadi anak yang mandiri. Ia harus memperhatikan apa yang mereka makan,minum dan pakai. Ia memperhatikan siapa kawan mereka dan bahasa yang digunakan anak-anak. Ia juga yangmengajarkan anak-anak sembahyang dan berdoa. Ia juga harus pusing mikirin apa yang harus dimasak dan dimakan seminggu ini. Ibu juga yang paling pusing kalau ada anak sakit, sebabnya apa, mau dibawa kemana, obatnya apa. Nanti kalau gak sembuh gimana? Ibu lah yang paling senewen kalau anaknya ulangan dan dapat nilai jelek. Ibu juga harus memperhatikan kebutuhan suami, apa yang diperlukan agar suamijuga terurus pakaian dan makanannya. Apalagi kalau banyak pantangan waaah… tobat deh. Makanya seorang ibu tidakboleh sakit, kalau gak maka motor penggerak dalam keluarga akan membuat lesu darah semua orang.

Orang bisa mendadak miskin karena bencana alam, karena struktur dan birokrasi. Perempuan miskin dipaksa menjadi kepala rumah tangga seperti kisah Azizah dan Hendun Disamping melakukan pekerjaan rumah tangga yang ajubilah tidak ada habisnya,mereka juga harus memikirkan bagaimana hidup mereka hari itu. Maka orang miskin tidak boleh sakit,nanti tidakbisa bekerja; karena rata-rata mereka bekerja dengan bayaran/upah harian. Orang miskin susah untuk sekolah, karena untuk hidup saja susah. Sekolah adalah barang mewah untuk mereka. Maka kesehatan dan pendidikan bagi orang miskin adalah mimpi yang tidak tahu kapan bisa diraih. Pendidikan bagi anak-anak yang seharusnya mampu membawa mereka keluar dari kemiskinan justru dijauhi dengan alasan anak-anakharus membantu orang tua meringankan biaya hidup.

Dalam tekanan hidup demikian hebat,jusru perempuan lah yang mampu membuat terobosan dalam menghadapi kemiskinan.Banyak program pemberdayaan ekonomi seperti yang diadakan Grameen Bank, Lembaga Bina Swadaya dan World Vision,juga dalam berbagai program CSR dan LSM lainnya menunjukkan bahwa partisipasi perempuan sangat tinggi. Para perempuan ini berusaha mencari cara untuk memperbaiki kehidupankeluarganya.Ada uang tambahan sedikit mereka putar otak untuk mendapatkan sedikit penghasilan. Ada uang lebih mereka pakai untuk membeli makanan,kemudian untuk pendidikan dan akhirnya untuk kesehatan. Tidak pernah terpikir untuk membiayai usaha mempercantik dirinya sendiri. Hal ini berbeda dengan perilaku beberapa orang yang dalam kemiskinan tapi tidak berkehendak untuk maju, uang lebih yang ada seperti BLT,malah digunakan untukmembeli rokok atau membeli pulsa. Halah? Biar miskin asal gaya?

Akhirnya dengan perjuangan kaum perempuan miskin ini,pelan tapi pasti mereka bisa menatap kebelakang dengan senyum dan bisa bersyukur: Dulu saya dan keluarga sangat miskin, sekarang gak terlalu miskin lah. Dulu saya miskin gak bisa makan setiap hari, tapi sekarang semua makan cukup 3 x sehari. Dulu saya tidakbisa bayar sekolah dan sering nunggak, sekarang tidak terlambat bayaran lagi. Mungkin dimata orang  lain mereka masih miskin, tapi mereka punya harapan untuk memiliki kehidupan yang lebih layak sebagai manusia.

Jadi kembali keputusan untuk keluar dari kemiskinan harus ada ditangan orang miskin itu juga, bukan pada para donatur atau para relawan yang selalu siap sedia membantu mereka. Walau fasilitas dan pendukung ada, apakah mereka mau mengambil kesempatan itu untuk keluar dari lingkaran kemiskinan? Atau hanya menyerah pada nasib dan menerima takdir, dan cukup menadahkan tangan menunggu bantuan datang?

Kita bisa berdebat dalam definisi kemiskinan, bahkan sebab musabab dan angka data jumlah rakyat miskin bisa diseminarkan. Tetapi yang penting dan menjadi bagian kita adalah melakukan apa yang bisa kita perbuat, baik secara pribadi maupun secara komunal dalam memberikan kesempatan seluas-luasnya. Termasuk didalamnya untuk memberikan pendampingan bagi para perempuan agar keluar dari kemiskinan. Tetapi perlu diingat bahwa motivasi sangat perlu ditumbuhkan sehingga perempuan pra sejahtera ini terus memiliki semangat juang. Jangan kita membiasakan ‘memberi’ tanpa menumbuhkan motivasi bagi mereka. Dengan demikian secara tidak sadar kita mengerdilkan kemampuan  para perempuan miskin untuk berusaha. Percayalah bahwa mereka bisa berjuang juga.


1 Comment so far
Leave a comment

mungkin kita sudah berjuang dengan sekuat tenaga untuk menghindari kemiskinan yang akan menimpa kita, tulisan anda mungkin ada benarnya miskin itu nasib atau takdir? Tapi apakah ada standar di negara ini yang bisa membuat kita dikatakan miskin?

Comment by ridwan




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: