Saatnya HATI NURANI bicara


YJP 13 Tahun: Awal Perjalanan Pendewasaan by ratna ariani
August 2, 2008, 10:45 am
Filed under: artikel | Tags: , , , , ,

Pada tanggal 25 Juli 2008, YJP akan berulang tahun yang ke-13. Bagi beberapa orang angka ke-13 menandakan suatu katastrophe, atau angka sial yang perlu dihindari. Mungkin pendapat itu benar di kalangan perempuan yang hidup di zaman feodal, karena angka tersebut menandakan akhir dari lonceng kehidupan bebas, dipaksa kawin dan dibelenggu oleh mitos-mitos pembodohan.

Akan tetapi, bagi sebagian perempuan lainnya yang berpikiran maju, angka ke-13 adalah justeru angka buang sial, angka yang ditandai penuh gairah karena memasuki usia pendewasaan. Masa usia mengeksplorasi pemikiran, sikap menentukan identitas diri yang dibangun atas fondasi kebebasan berpikir dan berekspresi. Usia ke-13 merupakan usia yang memasuki alam berpikir yang kritis yang menentukan plat form pilihan hidupnya kelak.

Tokoh perempuan seperti Kartini misalnya, menyadari konsekwensi hidup seorang perempuan yang menginjak masa akil balik. Masa dimana perempuan tidak memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan, berpergian sendiri, menentukan pilihan-pilihan hidupnya sendiri.
Surat Kartini tanggal 25Mei 1899, mengungkapkan kegelisahannya dan sekaligus keiriannya terhadap kakak-kakak laki-lakinya dan saudara-saudara sepupunya yang diberi kesempatan untuk melanjutkan
sekolah tingkat HBS (sekolah lanjutan menengah atas), sedangkan ia menunggu untuk dikawinkan oleh pilihan ayahnya.

Tokoh perempuan lainnya seperti Siti Roehana Koeddoes, menginjak usia remaja dengan melawan, karena ia sadar betul akan konsekwensi adat istiadat dan agama yang mengikat kebebasan perempuan. Ia melawan
dengan mengajarkan anak-anak, remaja dan perempuan dewasa membaca dan menulis di beranda rumahnya di Kotagadang. Setiap ada laki-laki yang lewat, ia keraskan suaranya agar terdengar bahwa perempuan dapat membaca dan berpengetahuan luas. Ia pun memberontak dengan memamerkan
pakaian kebaya panjang yang cerah tanpa tutup kepala, payung matahari yang menari-nari saat ia berlenggak-lenggok. Berbeda dengan Kartini, Siti Roehana menolak dijodohkan serta memilih pasangan hidupnya sendiri diusia 24 tahun, bukan dengan seorang bangsawan tapi dengan seorang pemberontak yang melawan penjajahan Belanda.

Baik pikiran-pikiran Kartini maupun Siti Roehana, keduanya menghasilkan karya tulis luar biasa yang dibaca oleh generasi penerus, dijadikan contoh oleh banyak perempuan Indonesia. Kumpulan tulisan
Kartini diterbitkan dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang” sedangkan Siti Roehana menerbitkan koran perempuan pertama, “Soenting Melajoe” pada tanggal 10 Juli 1912.

Pekerjaan Masih Menumpuk

Paling tidak dari kedua contoh tokoh perempuan Indonesia di atas, awal masa remaja merupakan awal pengelanaan pikiran, menentukan sikap dan meraih cita-cita kebebasan yang diidam-idamkan. Tidak hanya berlaku bagi perempuan di tanah air tapi berlaku bagi perempuan di seluruh dunia. Cita-cita suatu kebebasan sangat mahal harganya. Sebagai contoh perempuan di negara dunia ke-3 seperti Indonesia masih
tertinggal dalam meraih tingkat pendidikan atas, khususnya remaja perempuan (Youth Development Report,World Bank, 2007).

Selain itu, menurut laporan UNDP tahun 2007, perempuan masih juga terbelakang dalam partisipasi kerja bidang ekonomi (Laki-laki= 84.7%, Perempuan=48. 6%. Buruh migran di Indonesia kini meningkat menjadi
350.000 per tahun dimana 70% adalah perempuan yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga yang rentan terhadap kekerasan.
Pada tingkat politik pun perempuan Indonesia masih lemah menduduki jabatan publik. Pada tingkat legislatif hanya sebesar 11.6%, tingkat senat 19.8% dan pada tingkat eksekutif sebesar 13.3% (LaporanUNDP
tahun 2007).

Jadi, masih banyak pekerjaan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) perempuan dalam meningkatkan kesejahteraan, keadilan dan representasi perempuan. Tentu keadaaan sekarang jauh lebih baik dari keadaan 13 tahun yang lalu ketika Yayasan Jurnal Perempuan (YJP) terbentuk, saat Orde Baru berkuasa. Ketika itu masih sedikit LSM perempuan yang bekerja dan sebagian besar bekerja dalam diam karena suasana politik
yang tidak kondusif.

Produktifitas dan Kreatifitas

Pada suasana seperti itulah YJP bertekad untuk bersuara dengan menerbitkan Jurnal Perempuan edisi pertama pada bulan Agustus 1996. YJP sangat sadar bahwa informasi adalah bekal pemberdayaan perempuan, oleh sebab itu, Jurnal Perempuan berusaha memberikan pencerahan dan kajian bermutu tentang status perempuan Indonesia. Perjalanan awal memang tidak mudah, terbitan yang awalnya hanya hitungan jari menjadi puluhan, ratusan hingga kini 3000 eksemplar setiap dua bulan. Jurnal Perempuan kini telah mencapai edisi ke-58 dan telah mendiskusikan dan memperdebatkan berbagai macam isu perempuan mulai dari soal trafficking, akses kesehatan untuk perempuan, politik, ekonomi dan budaya perempuan serta masalah tubuh dan seksualitas perempuan.

YJP tak berhenti pada kajian yang dituliskan di Jurnal Perempuan, namun juga kreatif dalam mencapai perempuan yang berada di daerah dengan program Radio Jurnal Perempuan. Hingga kini telah dihasilkan
edisi RJP yang ke 445 dengan melibatkan lebih dari 200 stasiun radio di seluruh Indonesia.
YJP selalu berusaha inovatif dengan menyediakan Video Jurnal Perempuan yang merekam masalah-masalah perempuan Indonesia. Beberapa film dokumenter yang telah diproduksi oleh VJP antara lain adalah Perempuan di Wilayah Konflik (2002) dan Jual Beli Perempuan (2004). Kedua film tersebut dipakai dalam berbagai training baik oleh LSM, pemerintahan dan juga oleh training kepolisian. Film-film tersebut pun telah diputar hingga ke negara Singapura dan Australia.

Filosofi Organisasi

Penelitian, media dan penerbitan buku tentang perempuan telah menjadi nafas Yayasan Jurnal Perempuan. Kini, penerbitan YJP berusaha merambah anak-anak perempuan muda (remaja) dengan mengeluarkan edisi
majalah CHANGE secara gratis. Persoalan rumit gender yang biasa dibahas dalam Jurnal Perempuan kini dapat ditemukan dalam bahasa sederhana anak-anak muda. Pengelola majalah CHANGE pun adalah
anak-anak muda yang memiliki semangat dan gairah baru.

Terus mencari dan mendengarkan dari satu cerita ke cerita lainnya mengenai perempuan di seluruh Indonesia adalah suasana yang kerap dijumpai di kantor kami di bilangan Tebet, Jakarta-Selatan. Tak
ubahnya seperti LSM lain, tempat bernaung kami dimulai dari satu ruangan 4×4 meter terintegrasi dengan rumah keluarga, pindah ke sebuah bilik di belakang rumah keluarga dan akhirnya mengontrak di berbagai
tempat.

Suka duka menjalani sebuah organisasi sangat berliku dan menempuh perjalanan yang sulit. Tak ada jalan pintas dalam membangun organisasi, selalu harus melewati jalan yang terjal sebelum akhirnya menikmati kemulusuan perjalanan berikutnya. Jatuh dan bangun sebuah organisasi adalah sesuatu yang biasa. Apa yang membuat organisasitersebut bangkit kembali adalah kemauan hati yang kuat.

Banyak kenangan yang telah dilewati oleh YJP. Kenangan yang berkesan seperti ketika YJP menggagas demonstrasi Suara Ibu Peduli di tahun 1998, menselancarkan “politik susu” agar kebungkaman suara
terpecahkan. Bekerjasama dengan para mahasiswa meruntuhkan sebuah rezim bukan dengan senjata api tapi dengan ribuan nasi bungkus.

Memori berpanas dan berkeringat di jalanan meneriakkan yel-yel anti-poligami, anti kekerasan terhadap perempuan serta protes terhadap kebijakan-kebijakan yang menindas seperti RUUAPP dengan membentuk
Aliansi Mawar Putih. Meskipun kadang pengalaman pahit harus ditelan seperti insiden di Monas 1 Juni 2008, saat ada kawan yang ditendang dan dipukul dan terkapar dalam kefrustrasian menghadapi kelompok yang
brutal dan sewenang-wenang.

Semua kenangan pahit dan manis tak akan terhapus dari perjalanan YJP selama 13 tahun ini. Begitu banyak yang telah singgah di hati YJP, teman-teman tak pernah lelah membantu semampunya. Pelanggan-pelanggan yang dengan setia menunggu edisi Jurnal Perempuan, pendengar-pendengar
yang rindu suara RJP, miliser yang gemar berdiskusi, semua telah berkontribusi memajukan YJP. YJP telah membangun sikap voluntirisme dalam berorganisasi, menyumbangkan segala pikiran dan tenaga untuk
sebuah cita-cita kesetaraan.

Jejak-jejak telah tercetak dalam perjalanan YJP, jejak-jejak baru akan diteruskan dengan tapak-tapak baru dan sepak terjang baru.
Pada dasarnya sebuah organisasi adalah sebuah ide yang bermula dari suatu cita-cita dan akan dilanjutkan oleh cita-cita baru yang selalu bertumbuh.
Selamat salin tahun YJP, semoga tahun ke-13 ini menjadi awal tahun yang bergairah mengekspresikan kematangan berorganisasi.

*Disampaikan dalam acara Ulang Tahun Yayasan Jurnal Perempuan ke-13
di, Jumat 25 Juli 2008 di Le Meriden Hotel, Jakarta

**Gadis Arivia, Pendiri Yayasan Jurnal Perempuan.


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: