Saatnya HATI NURANI bicara


Pilih Presiden: Muda? S3? Perempuan? by ratna ariani
August 5, 2008, 1:25 am
Filed under: artikel | Tags: , , ,

Belum juga selesai pendaftaran caleg, bursa calon presiden dipenuhi wajah baru. Ada yang diam-diam sering muncul di media, ada juga yang sudah memproklamirkan diri. Kalau diperhatikan dalam masa pemerintahan 5 tahun, tidak mudah bagi para incumbent mempertahankan posisinya tanpa disertai track record yang baik. Perhatikan saja di berbagai PILKADA, berapa banyak pemimpin yang berhasil mempertahankan posisinya di periode kedua? Kalau bupati bagus kinerjanya, malah bisa ikut bursa gubernur dan menang. Mari berhitung seperti apa profil capres lima tahun kedepan. Syarat pengalaman? bung Karno dan bung Hatta mana ada pengalaman? Pak Harto juga gak punya pengalaman sebelum menjadi Presiden. So … ini gak relevan, kecuali terbukti bila saat menjabat ternyata dinilai gagal; yang ada pengalaman sebagai presiden yang gagal bertahan.

Kita perlu tentukan kualifikasi presiden berdasarkan kondisi saat ini. Gak mudah menghadapi puluhan parpol dalam parlemen, baik di tingkat pusat dan juga di daerah. Para Gubernur dan Bupati juga tidak mudah diatur lagi seperti dulu. Belum lagi harus membangun hubungan dengan Luar Negri agar citra Indonesia bisa membaik. Tantangan kompleks dalam memberantas korupsi dan kasus-kasus HAM apakah bisa selesai dalam 5 tahun ? Mau kerja bareng siapa kalau menteri-menterinya gak bisa bekerja sama? Belum lagi berhadapan dengan parpol yang memposisikan diri akan menjadi oposisi yang sehat sebagai kontrol pemerintah terpilih. Akhirnya kualifikasi pendidikan seperti usulan salah satu parpol (Detikcom) tidak menjamin bahwa seorang presiden akan mampu mengatasi masalah2 ini. Bila bertindak dalam ruang akademis mungkin ya, tapi bukan sebagai negarawan. (RA)

Presiden Kaum Muda

Jum’at, 01 Agustus 2008 – TEMPO– Kini semakin banyak muncul calon presiden di republik ini. Rata-rata berusia di atas 40 tahun. Kalau menurut ukuran Komite Nasional Pemuda Indonesia, usia itu termasuk tua. Pemuda di Indonesia dibatasi hanya 40 tahun, kecuali mungkin di negara-negara Afrika. Di sejumlah negara lain, usianya malah di bawah 40 tahun. Secara sederhana, apabila usia pemuda di KNPI tidak diturunkan, kepemimpinan kaum muda tetap macet di tampuk organisasi kepemudaan sendiri.

Namun, kalau bicara para tokoh di atas 60 tahun, dibandingkan dengan yang berusia 40-50 tahunan, tentulah terasa sekali betapa mereka jauh lebih tua. Terdapat kemacetan dalam peralihan usia kalangan pemimpin kita. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh perkembangan usia harapan hidup yang lebih tinggi dibandingkan dengan zaman kemerdekaan. Selain itu, tentu terkait dengan terlalu-lamanya Soekarno dan Soeharto menduduki kursi presiden.

Kini, Fadjroel Rachman, Rizal Mallarangeng, Soetrisno Bachir, Yusril Ihza Mahendra, Ratna Sarumpaet, dan sejumlah tokoh lain menyatakan kesediaan untuk maju sebagai calon presiden. Ada yang secara terbuka menyatakan kesediaan, ada juga yang hanya memasang iklan dan menebarkan pengaruh di mana-mana. Kalau ukuran mereka adalah generasi baru, barangkali tergantung kriterianya. Fadjroel dan Rizal adalah aktivis mahasiswa angkatan 1980-an, sementara Soetrisno dan Yusril lebih lama. Ratna terkenal sebagai sosok yang keras di dunia pergerakan dan kesenian.

Namun, apakah mereka sudah bisa dikategorikan sebagai presiden kaum muda? Artinya presiden Republik Indonesia yang merepresentasikan kaum muda? Saya harus berpikir panjang menyangkut penggunaan istilah ini. Kalau hanya sebagai presiden bagi kaum muda, masing-masing sudah menunjukkan kemampuan dalam memimpin organisasi kemahasiswaan, intelektual, kesenian, atau pergerakan. Hanya, kalau yang dijadikan sebagai ukuran utama adalah kepala negara dan kepala pemerintahan, tentu persoalan menjadi lain.

Semua warga negara Indonesia yang memenuhi kriteria Undang-Undang Pemilihan Presiden nanti tentu bisa menjadi bakal calon presiden dan calon wakil presiden, tapi tidak semuanya akan lolos. Persyaratan- persyaratan teknis, politis, dan substantif harus dipenuhi. Yang pertama sekali adalah diusung oleh partai politik, karena ketentuan calon presiden/calon wakil presiden perseorangan belum dipenuhi oleh undang-undang. Supaya kita tidak terjebak hanya dengan uji popularitas saja, selayaknya para kandidat yang muncul terlebih dulu harus mendekati partai-partai politik pengusung.

Maka, diskusi sekarang hanya bisa dibatasi dengan kriteria kompetensi yang dimiliki oleh para tokoh yang muncul. Kompetensi itu terkait dengan keberadaan seorang kepala negara dan kepala pemerintahan. Kemampuan lain adalah mengepalai para menteri di kabinet, para duta besar di negara lain, serta para gubernur yang kian otonom. Kemampuan menggerakkan orang lain demi tujuan-tujuan negara dan pemerintahan inilah yang diperlukan, bukan bagaimana tampil sendirian, keras kepala, demi ambisi-ambisi perseorangan.

Selain itu, dengan sistem multipartai yang dianut di Indonesia dan kemungkinan kecil menghadirkan satu partai mayoritas di parlemen, diperlukan kemampuan sebagai politikus andal. Seorang presiden tidak hanya berhadapan dengan tekanan publik yang kuat, tapi juga intervensi dari partai-partai politik yang memiliki kepentingan di parlemen. Belum lagi kalau ada koalisi partai politik pendukung yang masing-masing ingin menaruh para menteri di kabinet. Presiden, selain menjadi kepala negara dan pemerintahan, pada galibnya juga pemimpin informal dan/atau formal dari partai-partai politik yang berbeda aliran, ideologi, program, dan konstituen.

Semangat independensi yang kuat yang diperlihatkan oleh Fadjroel, Rizal, dan Ratna tentu akan menyulitkan mereka dalam berhubungan dengan parpol. Apalagi parpol sekarang semakin banyak dikendalikan oleh orang-orang pintar dan memiliki uang. Parpol tidak lagi menggantungkan sumber pendanaan kepada satu atau dua orang, melainkan kian terlatih menciptakan sumber-sumber pendapatan yang dikelola oleh orang-orang parpol. Juga semakin banyak kalangan berpunya yang masuk parpol, terutama akibat semakin tingginya ongkos politik yang harus dikeluarkan.

Artinya, politikus di parpol juga semakin independen. Jadi, apabila independensi adalah sebuah sikap, lalu mengejawantah dalam aturan birokrasi parpol, itu sudah ditunjukkan oleh kalangan di parpol. Apabila tujuan kekuasaan hanya mengarah kepada kursi dan jabatan presiden semata, sembari memberikan pendidikan politik kepada rakyat, sudah tentu kontribusi bagi calon independen ini menjadi maksimal.

Bagi Soetrisno, persoalannya menjadi lain, ketika ia mampu menunjukkan perbaikan kinerja sebagai Ketua Umum Partai Amanat Nasional. Grafik kemenangan PAN dalam pemilihan kepala daerah terus meningkat. Soetrisno telah mencuat sebagai manajer politik yang semakin berpengalaman. Ia sebetulnya ada dalam jalur yang tepat untuk menjadi presiden. Begitu pula Yusril. Pertanyaan terpenting buat Yusril hanya satu: apakah Yusril akan memilih para pembantu sepintar dirinya ketika menjadi presiden? Apakah pembantu itu yang lebih berpengaruh darinya atau hanya masuk kategori pekerja? Mengapa? Karena Yusril berada dalam lingkaran kekuasaan dalam waktu lama. Karena ia bekerja di seputar presiden, ia merasa juga mampu menjadi presiden secara lebih baik.

Lalu, siapa yang bisa dikategorikan sebagai presiden kaum muda? Saya merasa lebih kepada kemampuan presiden tersebut dalam menjalankan agenda-agenda regenerasi dengan baik dan terukur, bukan dalam arti usia sang presiden. Teramat naif kalau kursi kepresidenan diukur dari usia. Mengaitkan usia tua dengan pengalaman panjang juga ukuran yang keliru, karena tantangan-tantangan setiap pemerintahan berbeda. Ketika seorang presiden hadir dalam keadaan perang, tidak bisa presiden berikutnya juga berpengalaman tempur. Justru yang diperlukan adalah presiden di masa damai.

Yang juga amat diperlukan adalah kolaborasi kalangan muda ini dalam menentukan agenda-agenda nasional. Ini yang belum terjadi. Tidak banyak yang memiliki waktu untuk berkumpul merumuskan agenda-agenda bersama, lalu mendesakkannya sebagai ajang bagi perubahan pengambilan keputusan politik. Langkah ini penting untuk menunjukkan bahwa kaum muda tidak membawa ego masing-masing.

Indra Jaya Piliang, analis politik dan perubahan sosial CSIS, Jakarta


2 Comments so far
Leave a comment

Sebaiknya kita tidak perlu meributkan apakah tua, muda, pria, ataupun wanita, tapi yg plg penting di sini, mampukah dia menjadi pemimpin. Tidak semata bisa menjadi pemimpin, akan tetapi bisa pula utk memimpin. Sejauh ini, masyarakat Indonesia hanya menilai pemimpin dr sosok fisik, bukan dari aspek kualitas. Kondisi ini justru dimanfaatkan oleh calon-calon pemimpin sebagai sasaran kampanye buta, yaitu kampanye yg hanya berisikan promosi pembodohan. Nampaknya, kita memang harus butuh waktu lebih lama lagi untuk belajar memimpin.

Comment by Leo Kusuma

Bicara kepemimpinan memang tidaklepas dari proses kaderisasi. Sementara proses kaderisasi tidak berkesinambungan dan tanpa persiapan yang matang, proses demokrasi pun masih terbilang sangat muda. Maka silahkan saja yang muda yang tua bertarung untuk membuktikan kepemimpinannya. Jangan juga dibandingkan demokrasi di indonesia dengan di amrik yang sudah berjalan ratusan tahun. Semua masih dalam tahap belajar hidup dalam alam demokrasi.

Comment by ratna ariani




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: