Saatnya HATI NURANI bicara


Kuota 30 % Caleg Perempuan: Faktor Eksternal Menghambat by ratna ariani
August 9, 2008, 6:57 pm
Filed under: artikel, politik | Tags: , , ,

SUARA PEMBARUAN [JAKARTA] Perempuan Indonesia sebetulnya memiliki kapabilitas untuk berkiprah ke dunia politik dengan menjadi anggota legislatif. Namun, langkah tersebut dihambat sejumlah faktor eksternal, seperti budaya maskulin dalam partai politik, dana, dan keluarga. Kondisi tersebut menyulitkan parpol memenuhi kuota 30 persen calon anggota legislatif (caleg) perempuan. Demikian rangkuman pendapat caleg dari Partai Bintang Reformasi (PBR), Dita Indah Sari, caleg Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Marrisa Haque, Sekjen Koalisi Perempuan Indonesia (KPI), Masruchah, aktivis perempuan Sarah Leri Mboeik, Wakil Direktur Demos Indonesia Anton Pradjasto, dan guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, Imam Suprayogo, yang dihimpun SP, Sabtu (9/8 )

Menurut Dita, secara internal perempuan telah siap terjun ke arena politik. Sayangnya, kesiapan itu dihambat oleh faktor eksternal, yakni minimnya ruang yang diberikan parpol dan keluarga yang menghambat. “Banyak sarjana perempuan yang kapabel di bidang politik. Tetapi, langkah mereka dihambat parpol atau keluarga,” katanya.

Sedangkan, Marissa melihat masalah finansial masih menjadi faktor penghambat. “Sudah saatnya perempuan menjadi agen perubahan. Perempuan harus menunjukkan tidak berpolitik, seperti kaum laki-laki yang melakukan korupsi, manipulasi, dan praktik ijazah palsu, untuk menjadi anggota legislatif. Perempuan harus membawa masyarakat menjauh dari jurang kehancuran,” katanya.

Senada dengannya, Masruchah menyatakan parpol belum mendorong kader perempuan berkiprah di lembaga legislatif, karena memang tidak ada pengkaderan yang baik dari tingkat desa hingga nasional. Akhirnya, parpol mencari caleg dari luar untuk memenuhi kuota perempuan.

Sarah Mboeik menyatakan kaum perempuan masih merasa berpolitik adalah dunia yang kasar dan menyeramkan, sehingga alergi menjalaninya. “Mekanisme parpol yang sensitif terhadap gender membuat perempuan sulit bergiat dalam politik,” katanya.

Secara terpisah, Wakil Direktur Demos Indonesia Anton Pradjasto menyatakan belum terpenuhinya kuota perempuan merupakan kegagalan parpol melakukan pendidikan politik. “Jangankan pendidikan politik kepada perempuan, kepada masyarakat pun masih minim. Kuota itu hanya langkah awal menuju struktur politik yang proporsional, ” katanya.

Sedangkan, Imam Suprayogo mengatakan kesulitan parpol merekrut perempuan terjadi karena lembaga politik dianggap masih “nakal” dan tidak mewakili konstituen. “Makanya banyak perempuan yang hebat enggan ke lembaga ini, kecuali mereka yang menjadikan legislatif sebagai ladang pekerjaan mencari nafkah semata,” ujarnya.

Tak Serius

Sementara itu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) dinilai tidak serius mendorong partai politik (parpol) memenuhi kuota 30 persen calon anggota legislatif (caleg) perempuan. Hal itu tercermin dari penerbitan Peraturan KPU 18/2008 yang tidak mewajibkan parpol memenuhi kuota tersebut.

Menurut Masruchah, terbitnya Peraturan KPU 18/2008 menunjukkan KPU secara kelembagaan tidak sungguh-sungguh menjalankan amanat UU Pemilu Legislatif.

Sesuai pemantauan KPI, lanjutnya, salah satu dalih KPU menerbitkan peraturan tersebut adalah di daerah-daerah tertentu di Indonesia masih ada larangan atau tabu memajukan perempuan menjadi caleg.

Pendapat senada disampaikan Sekjen Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Sebastian Salang. Menurutnya, pemberian kuota 30 persen caleg perempuan masih setengah hati, sehingga tidak ada sanksi yang tegas apabila parpol tidak memenuhinya.

Menanggapi hal itu, anggota KPU Sri Nuryanti menyatakan pihaknya tetap tidak akan memberikan sanksi lebih keras yang melampaui ketentuan UU 10/2008. [128/ASR/HDS/ 070]


3 Comments so far
Leave a comment

Jangn bicara hak mulu,kewajibn blm..Drpd lelah mkrin kuota brp persen bt perempuan,sebaiknya ciptakan dulu perempuan2 potensial di negara kita,stlh nto ada,sy pkr perempuan justru mampu mengolah negara dgn baik,mslhnya perempuan yg berintelektualitas tinggi di indo msh minim..

Comment by Lina

Mbak Lina, tuk info sj…cukup bnyk perempuan berkualitas yg bisa berpolitik dn sdh terjun…Sy ikut pertemuan2 LSM atau Perempuan Lintas Partai…Yg terkini adalh isu menentang suara terbanyak dlm internal partai…Ini bnr2 sdh kelewatan, krn ini slh satu cara menjegal perempuan msk Parlemen mbak…Petisi ini ditandatangani bnyk perempuan dari berbagai partai..Spt diatas faktor eksternal bnyk tuk mencegah perempuan jd anggauta dewan, terutama bahwa KPU msh setengah hati dlm memeberlakukn 30% kuota perempuan dng tdk adany sanksi apa2 bagi partai yg tdk memenuhinya dn jg tdk menolak sepenuhny usulan suara terbanyak…,,Pokokny politik Ind tdk berpihak pd kaum yg lemah, hanya membela golonganny sendiri, contohny RUU Pornographi yg lg panas didiskusikn…Sy jg Islam mbak dn tdk setuju pornographi, tp knp hrs dibuat UU??, knp tdk peraturan aja??, kalau sdh jd UU, kan hrs diberlakukn secara nasional, bgmn dng saudara kita di Papua atau di Bali yg jln pake kemben ga masalah tuh..,apakh krn ada UU nanti ditangkepin semua??? di Jkt nantiny orng sdkt berpakaian seksi aja akn dipenjara dll, pdhl saat ini orng melihatny biasa2 sj…Aduuh lama2 sy berimigrasi jg nih ke negara lain, pdhl sy sdh betah di negaraku tercinta ini…..

Comment by Dharmayuwati Pane

eugh… gak ngerti. sebenarnya bentuk parpol menghambat calon perempuan tuh gimana, ya? ada kasusnya dimana ada parpol A melakukan diskriminasi gender. Kalau soal dana dan keluarga sih kaya’nya urusan pribadi masing-masing.

Comment by minyaknyongnyong




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: