Saatnya HATI NURANI bicara


Poligami, Masalah Abadi Perempuan by ratna ariani
August 9, 2008, 7:15 pm
Filed under: artikel | Tags: , , ,

JAKARTA, SELASA -KOMPAS- Berbicara tentang persoalan perempuan, ternyata dari dulu (tahun 1920-an) hingga sekarang ada satu hal yang selalu menjadi sorotan, poligami. Setidaknya, hal itu diamini oleh 3 tokoh perempuan, Ayu Utami (penulis novel), Mariana Amiruddin (Jurnal Perempuan) dan Agung Ayu Ratih (Lingkar Tutur Perempuan).
Ketiganya mengungkapkan pemikirannya tentang perempuan dan kebangkitannasional, dalam peluncuran buku “Sejarah Perempuan Indonesia” karya Cora Vreede-de Steur dan “Prajurit Perempuan Jawa” karya Ann Kumar, di Toko Buku Gramedia, Matraman, Jakarta Pusat, Selasa (20/5).
Kalau kita lihat, persoalan perempuan dari dulu sampai sekarang tidak bergerak atau linear. Berkutatnya di persoalan poligami, yang masih menjadi isu sentral dan sensitif. Termasuk dalam buku ini (sambil menunjukkan buku “Sejarah Perempuan Indonesia”. Tahun 1920-an ternyata poligami juga sudah menjadi masalah sensitif,” ujar Ayu Utami.
Padahal, kata Ayu, ketika berbicara tentang perempuan yang sering terlupakan adalah penghancuran gerakan perempuan. Tak ada catatan yang rigid tentang gerakan kaum perempuan di masa lalu. “Padahal, kalau kita lihat apa yang dipikirkan atau dituangkan Budi Utomo (tokoh Kebangkitan Nasional) itu seringkali juga mengutip pemikiran Kartini. Tapi tidak ada yang mengungkap itu,” katanya.

Agung Ayu Ratih berpendapat, saat zaman perjuangan, seorang tokoh perempuan, Sumari telah berjuang untuk menentang poligami. Ia mencontohkan, Sumari memperjuangkan mengenai UU Pensiunan, yang semula mengatur bahwa uang pensiun berhak didapatkan oleh istri pertama hingga keempat dari seorang pegawai. “Sumari kemudian berjuang, dengan menyuarakan bahwa sebagian besar anggaran belanja negara itu habis untuk membiayai pensiun karyawan yang istrinya lebih dari satu. Akhirnya gol juga,” tutur Agung.
Diluar itu, Agung mengakui bahwa perbincangan tentang gerakan perempuan tak bisa dilepaskan oleh persoalan poligami. Kondisi ini, ditumbuhsuburkan oleh ketergantungan perempuan secara ekonomi terhadap laki-laki. Saat ini, perempuan bahkan tanpa disadari telah dikriminalisasi oleh regulasi.
“Bayangkan, ada Perda atau peraturan per-UUan yang membatasi ruang gerak perempuan, kembali secara perlahan menarik perempuan ke wilayah domestik. Kita tidak menyadari, ini bentuk kriminalisasi terhadap
perempuan. Misalnya saja, ada Perda yang melarang perempuan bekerja malam,” kata Mariana.

Seabad Kebangkitan Nasional, dinilai Mariana, tidak membawa keberhasilan pada sejarah perempuan. “Bayangkan, 100 tahun kebangkitan nasional, kami berpanas-panas menyuarakan menentang poligami yang
sudah melanggar hak perempuan, tiba-tiba ada film Ayat-ayat Cinta yang membuat orang menangis. Saya juga menangis saat menontotnnya, tapi menangisi kegagalan. Lagi-lagi soal poligami,” ujarnya.

http://www.kompas. com/read/ xml/2008/ 05/20/18023028/ poligami. masalah.abadi. perempuan


1 Comment so far
Leave a comment

Rasanya masalah perempuan akan menjadi masalah yag tidak akan pernah tuntas. Jika kita menilik kembali dengan mengambil perbandingan ketika masa Orde Baru maka sebenarnya sekarang ini masalah hak2-hak kaum Hawa ini sudah dibuka kran pemberdayaan. Malahan ada beberapa sektor bidang pekerjaan dimana kaum laki-laki tidak bisa masuk dalam bidang ini. Semua ini tergantung dari perempuan itu sendiri bagaimana mereka mengembangkan diri mereka sendiri. Apakah mereka ini mampu memberdayakan dirinya sendiri?
Wallahualam…

Comment by Johanes Deliner




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: