Saatnya HATI NURANI bicara


Cinta Tanah Air: Tidak Apatis, Tidak Apolitis by ratna ariani
August 16, 2008, 3:28 am
Filed under: sosial masyarakat | Tags: , ,

Banyak pertanyaan dilontarkan sepanjang tahun 2008 ini mengenai kadar nasionalisme di generasi yang ada, baik mereka yang berusia 40an tahun sampai yang muda. Apakah semangat reformasi 10 tahun lalu masih relevan dan masih perlu diperjuangakan? Sudah sejauh mana keberhasilannya? Bagaimana juga tingkat nasionalisme yang ada sekarang bila dibandingkan dengan gerakan Kebangkitan Nasional yang lahir seratus tahun lalu? Apakah cukup berhenti sebatas seremonial saja? Kelompok pengamat kebudayaan banyak yang menyatakan bahwa bangsa Indonesia sedang menderita amnesia beberapa tahun ini. Kita mudah sekali lupa dengan berbagai masalah dan tidak pernah selesai sampai tuntas. Bisa juga tidak mau ingat yang susah-sedih, lebih baik lupakan saja. Atau sengaja bikin orang lain lupa dengan mengganti berita2 di ‘head line’ media cetak dan elektronik setiap harinya.

Akhirnya kita melihat kemajuan teknologi dalam seratus tahun ini khususnya peranan media sebagai sarana komunikasi sangat menentukan dalam menanamkan dan mengembalikan rasa nasionalisme dan cinta tanah air. Sarana komunikasi dalam bentuk cetak, audio visual, internet dan telekomunikasi perlu dimanfaatkan dan juga diingatkan peran para praktisi didalamnya agar tidak terjebak pada pola kapitalisme.

Kita bisa saja tidak seuju atau tidak puas dengan kinerja aparat pemerintahan, entah itu di tingkat pusat maupun daerah. Tapi kita harus memisahkannya dengan tetap mencintai tanah air ini. Kalau bukan kita bangsa Indonesia yang peduli, tidak mungkin bangsa lain peduli kecuali memang ada maksud politis atau ekonomi dibelakangnya. Kita harus lebih berani memberi kesempatan mereka yang memang mampu memperbaiki kondisi negara ini.

Jangan apatis dan akhirnya hanya memikirkan diri sendiri dan membunuh kepedulian berbangsa dan bernegara. Jangan juga apolitis karena sebagai warga negara ada hak dan kewajiban yang harus dilakukan. Ada memang orang-orang yang memilih meninggalkan negeri ini dengan berbagai alasan tertentu, yang jelas masih lebih banyak yang memilih tinggal dan berbakti bagi negeri ini. Berharap bahwa akan ada suatu perbaikan, dan itu hanya bisa bila kita juga berperan didalamnya. Mati hidupnya bangsa ini ada di tangan kita, tangan rakyat. Bukan tangan penguasa atau pemerintah.

Maka marilah melatih memberanikan diri menyuarakan pendapat, berani untuk berbeda pendapat, berani mengambil sikap demi terbangunnya nasionalisme berbangsa dan bertanah air yang pernah ada. Demokrasi bangsa ini praktis masih begitu muda, sejak reformasi 1998. Maka mari ambil bagian dalam budaya demokrasi yang sehat dan gunakan media cetak dan elektronik secara maksimal dan bertanggungjawab. Dirgahayu Indonesia.


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: