Saatnya HATI NURANI bicara


Perempuan Mempekerjakan Perempuan Pekerja by ratna ariani
August 23, 2008, 1:56 pm
Filed under: sosial masyarakat | Tags: , , , , ,

Masih di bulan kemerdekaan ini, mari kita memperhatikan ranah domestik yang berurusan sekitar rumah tangga sendiri. Kita merayakan proklamasi kemerdekaan tapi jangan-jangan kita merampas kemerdekaan orang lain secara tidak langsung di dalam rumah kita. Dibanyak rumah tangga di kota besar, tidak jarang ditemui para perempuan PRT. Baik karena alasan praktis, para ibu bekerja mauupun tidak bekerja; ada kemudahan dan kemanjaan tertentu dengan adanya penyedia jasa PRT, Pekerja Rumah Tangga, yang mayoritas perempuan. Justru di bulan-bulan menjelang bulan puasa begini, para ibu mulai sulit sekali mencari perempuan yang mau bekerja sebagai PRT.

Umumnya para ibu lebih senang memilih perempuan muda yang berusia 12-15 tahun, atau dibawah 18 tahun. Makin muda makin murah dan tidak mudah tergoda pindah-pindah pekerjaan karena masih ‘takut’. Tidak banyak tuntutan dan kalau bisa malah jadi teman main anak-anak dirumah. Sehingga batas antara pekerja dan ‘teman’ main menjadi tipis. Yang sudah senior, dinilai sering pasang harga dan sulit ‘diajari’, malah ‘keminter’ merasa lebih pandai dari majikannya.

Sebenarnya mempekerjakan anak berusia dibawah 18 tahun sebagai PRT sudah melanggar UU No 13 tentang Ketenagakerjaan tahun 2003. Paling tidak kalau saja setiap perempuan juga memahami gunanya UU tersebut dibuat, maka perempuan pun bisa mengurangi kejahatan trafficking atau pun Pekerja Anak dengan tidak mempekerjakan mereka yang berusia dibawah 18 tahun. Sayangnya pemerintah belum memperlakukan PRT sebagai suatu kelompok pekerja atau buruh yang harus dilindungi hak dan kewajibannya. Bila demikian maka profesionalitas PRT perlu diperhatikan selain juga memperjuangkan pendapatannya untuk bisa mengikuti UMR – Upah Minimim Regional.

Sambil menunggu pengakuan status PRT sebagai pekerja atau buruh, kita bisa merefleksikan diri kita sejauh mana kitapun mau memberdayakan para perempuan yang karena kesulitan ekonominya mereka menjadi PRT.Kalau satu perempuan bisa menolong perempuan lain khususnya PRT untuk menjadi dirinya sendiri, rasanya kita tidakperlu sering-sering membuat seminar pemberdayaan perempuan. Do it within our house, lakukan dan mulai lah dengan diri sendiri.

Permasalahan yang dialami PRT umumnya uraian tugas tidak jelas, semua yang tidak dikerjakan majikannya ya itulah pekerjaannya. Jam kerja panjang dan nyaris tanpa hari libur. Nasib mereka tergantung majikannya, bersyukurlah kalau dapat majikan yang memberi kesempatan peningkatan keahlian. Jarang ada standar upah dan fasilitas, termasuk antar tetangga sekalipun. PRT perempuan umumnya rentan terhadap KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) termasuk didalamnya bentakan. hinaan, perintah secara kasar sampai pelecehan seksual. PRT sendiri tidak memiliki kontrol akan dirinya, selain rentan akan tekanan agen penyalur PRT mereka minim pemahaman perlindungan oleh negara. Keluarganyapun tidak mengetahui tempat kerja PRT.

Disisi lain sebagai majikan, kesulitan sering timbul karena umumnya PRT masuk dunia kerja tanpa bekal keahlian apalagi perangkat elektronik RT semakin canggih. Pendidikan PRT yang rata-rata rendah menyulitkan diri mereka untuk menerima hal baru termasuk mempelajari etika kerja yang baik. Saat majikan tidakdi rumah, PRT bisa ngobrol berjam-jam menggunakan telpon atau menerima tamu seenaknya.

Pentingnya dilakukan pendampingan dan pemberdayaan bagi kedua belah pihak, baik bagi majikan (umumnya perempuan sebagai pengambil keputusan) dan buruh/pekerja perempuan. Bagi PRT perlu dilakukan pembelajaran dan pengembangan pola hubungan seimbangantara PRT dan majikan. Hubungan partnership dialogis perlu dicapai agar kedua belah pihak saling membutuhkan dan saling belajar dalam membentuk hubungan kerja. Di satu sisi majikan ingin mendapatkan PRT yang cakapdan terampil, disisi lain PRT juga bisa mendapatkan hak dan perlindungan kerja yang layak.

Di samping itu, kalau kita ingin memberdayakan PRT,tentunya kita berharap setelah sekian lama nantinya sang PRT tidak menjadi PRT lagi, tetapi bisa memilikikehidupan yang lebih layak di kemudian hari. Maka juga dipikirkan bagaimana perempuan muda ini akan menghadapi kehidupan selanjutnya sebagai ibu,yang kemungkinan besar tidaklagi menjadi PRT.

Hubungan partnership dialogis perlu dipelihara dan dimulai. Awalnya sulit memang, tetapi pasti bisa kalau memang kita ingin memberdayakan perempuan PRT sendiri. Mulailah dengan menyepakati jam kerja dan tugasnya, termasuk belajar untuk memberikan hari libur bagi PRT. Bisa dimulai 2 hari sebulan kalau belum bisa sehari seminggu. Kita perlu libatkan juga anggota keluarga lain untuk mengambil bagian nya sendiri. Tidak memerlukan bantuan PRT di atas pk 18. Atau pilihlah PRT yang tidak menginap, hanya datang siang hari sehingga jam kerjanya pun lebih jelas.

Saya sempat mengenal beberapa wanita expat yang sungguh sedih meninggalkan Indonesia. Kenapa? Mereka sudah dimanjakan dengan melimpahnya PRT yang melayani kebutuhannya sehari-hari. Di Indonesia mereka bisa memiliki 3 PRT hanya untuk mengurus 2 orang majikan dan mungkin hewan peliharaan, itupun masih ditambah satpam,supir dan tukang kebun, Begitu mereka kembali ke negaranya, well… baliklah ke bilik apartemen yang terbatas luasnya. Malas juga punya apartemen besar kalau semua pekerjaan rumah harus dikerjakan sendirian.

Gaya hidup perkotaan telah membuat kita terlena dengan adanya jasa PRT sehingga kita lupa bahwa mereka pun manusia yang perlu diperhatikan dan dihargai haknya. Walaupun mungkin para PRT ini hanya sekolah sampai SMP, siapa tahu dengan bimbingan anda mereka bisa menabung dengan membeli kambing di kampung daripada membeli pulsa untuk berhahahihi. Marilah mulai memperlakukan perempuan PRT yang ada di sekitar kita, paling tidak agar para perempuan muda ini memiliki kepercayaan diri untuk berani keluar dari ketidakberdayaannya. Semoga di bulan kemerdekaan ini pun kita tidak mengambil hak dari para perempuan PRT yang menggantungkan kehidupannya pada kita.


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: