Saatnya HATI NURANI bicara


Setelah Membaca “Parlemen Undercover” by ratna ariani
August 26, 2008, 6:27 pm
Filed under: resensi buku | Tags: , , ,

Tidak membutuhkan waktu lama membacanya, tidaksampai dua hari sudah selesai dibaca. Ringan, menggelitik tapi cukup menohok sanubari juga. Begini bobrok kah hasil reformasi negri ini? Hanya ada dua kesimpulan setelah membacanya : menjadi semakin apatis atau menjadi semakin geregetan dan bertanya ” apa yang bisa saya lakukan?”

Penerbit telah berhasil mencapai visinya untuk menjadikannya sebagai sarana pembelajaran politik. Soal jadi best seller itu bonus lah . Saya rasa akan ada seri kedua bahkan ketiga dari buku ini. Tulisan ini belum semuanya, baru 33 kisah dari lima tahun bermarkas di Semanggi. Nanti pasti ada yang menyusul kisah dari berbagai departemen atau bahkan pemkot sertapara menteri berani juga buka mulut tentang segala sepak terjang pemimpindi negeri Indosiasat ini.Selain dari koleksi sang Abu Semar, pasti ada juga rekan Abu Semar lainnya punya cerita serupa yang tak kalah seru. Seperti layaknya orang Indonesia, gampang ketularan penyakit “Me Too”. Lho ternyata dia bisa nulis, kenapa saya gak ya? Hehe… kita tunggu saja, akan buanyak cerita lain keluar dari belakang pintu Gedung Bundar.

Buku ini memang pas banget, pas isinya pas di rilis timingnya saat nama-nama dalam DCS (Daftar Calon Sementara) sudah masuk KPU. Tidak bisa mundur lagi, kecuali para caleg memeriksa diri mengukur kemampuan dan ketahanan diri sebelum masuk kawah candradimuka dengan berbagai perponcloannya. Siap mental luar dalam, kuat iman diantara seliweran rupiah dan dollar . Ingat KPK juga sedang unjuk gigi. Jangan-jangan di tahun 2009 gedung bundar itu berubah menjadi ‘see through’ window dengan kaca tembus pandang dimana-mana disertai “hidden camera” dan microphone. All wired atas permintaan rakyat ….

Yang belum dikisahkan didalam buku ini adalah bagaimana perilaku pasangan dan keluarga para anggota Dewan terhormat ini selain membawa mereka saat kunjungan ke luar negeri. Tidakhanya sang bapak bak rusa masuk kota, keluarganya pun memiliki pola hidup yang berbalik 180 derajat. Belum lagi temuan timbulnya rumah ke dua, ketiga berikut tambahan isteri dan selirnya.

Belum juga terdengar kiprah para anggota dewan perempuan yang cuma 11,5 % diantara kaum laki-laki. Mungkin ada juga yang sakit-sakitan, dengan alasan demikian merasa sah-sah saja mempekerjakan sanak keluarganya sendiri. Walau ada juga perempuan anggota DPR yang memang ‘gerah’ dengan kasus pelecehan dibalik bilik-bilik ruang kerja tertutup. Gaung kerja keras perempuan yang cuma segelintir ini nyaris tertelan mekanisme yang ada.

Belum tahu apakah akan ada LSM yang siap membagikan daftar hitam yang ‘tidak layak’ dipilih lagi dari para anggota dewan terhormat nantinya. Kalaupun tidak ada, mungkin kita perlu melirik dengan seksama apakah pilihan kita sungguh adalah calon yang bisa dipercaya secara intelektual, finansial dan akhlaknya serta dikenal masyarakat luas. Mereka yang sekarang menjadi tokoh dalam kisah “Parlemen Undercover” adalah pilihan kita juga. Salah siapa? Termasuk juga siapa yang salah kalau beramai-ramai menolak untuk ikutan nyoblos. Akhirnya anggota legislatif jenis seperti inilah yang merangsek ke gedung bundar.

Maka kesepakatan harus diambil untuk mulai memilih dan memilah calon dari sekarang, baik di tingkat kabupaten, kota bahkan tingkat pusat. Lihatlah dan kenali para calon, ini lebih utama dari pada parpolnya. Calon yang baik bisa dilamar parpol lain kok, karena dari puluhan parpol yang ada sedikit sekali parpol yang kaderisasinya kuat. Hal ini terlihat dari bagaimana mekanisme parpol menangani konflik internal. Lalu kalau pilih artis gimana? Lha yang gak artis aja bisa kejeblos seperti kisah di atas.Kita perhatikan saja dari para artis yang masuk parlemen berapa banyak karya mereka dikenal masyarakat. Apa bisa pekerjaan di parlemen ditinggal shooting sinetron atau job yang mendatangkan income lebih banyak? Siapkah artis papan atas untuk ‘turun’ ke lapangan seperti layaknya para aktivis LSM? Walahualam.

Momentum akan perlunya keterwakilan perempuan perlu dimanfaatkan sebanyak-banyaknya oleh warga masyarakat. Lebih dari 95% para pelaku korupsi bahkan tokoh dalam buku di atas adalah pria, maka tidak lah terlalu muluk kalau kita berharap presentase perempuan bisa lebih banyak di parlemen berikutnya. Hanya negara Negara-negara Skandinavia seperti Swedia, Norwegia, dan Denmark yang memiliki tingkat keterwakilan politik perempuan paling tinggi, yakni mencapai 40 persen, sedangkan jumlah terendah diduduki oleh negara-negara Arab, sekitar 4,6 persen (International Idea, 2002). Memang ada korelasi tentang rendahnya tingkat korupsi yang berbanding terbalik dengan tingginya persentase perempuan dalam birokrasi dan parlemen. Demikian juga tingkat pendapatan negara dan kesejahteraan sejalan dengan banyaknya perempuan sebagai penentu kebijakan. Maka bukan lagi kampanye “perempuan pilih perempuan” tapi rasanya lebih cocok kalau “semuanya pilih perempuan sajalah”…

Akhirnya tugas masing-masing dari kita lah untuk melakukan pendidikan politik kepada anggota masyarakat yang lainnya. Tidak mudah menentukan pilihan, tetapi jauh lebih sulit kalau lebih banyak yang tidak menggunakan hak pilihnya. Karena orang-orang tak bertanggung jawab akan mengambil hak tersebut dan menjalankan negeri ini seperti apa adanya sekarang. Masih cukup waktu untuk bersama-sama melakukan pendidikan politik mulai dari keluarga sendiri, didalam sekolah bahkan tempat usaha sendiri. Marilah menjadi warga negara yangbertanggung jawb untuk negri tercinta.


4 Comments so far
Leave a comment

Maju terus pantang menyerah… semoga sukses selalu.

Comment by Muslich Taman

Sebelum buku itu diterbitkan, masyarakat udah banyak yang tahu bagaimana prilaku wakil rakyat di parlemen.Apa kata mereka”emang gue pikirin” mengutip lagunya ratu.Timing yang bagus buku itu dipublikasikan, terlepas apa tujuannya si penulis. paling tidak menambah referensi masyarkat nantinya dalam memilih wakil mereka.Lalu bagaimana sikap anda?

Comment by read one

Keren banget nih buku. Saya apresiasi sekali dengan buku seperti ini

Comment by tamrin

Semoga bukan hanya anda dan saya yang semakin semangat ambil bagian dalam perubahan menuju Indonesia yang semakin sejahtera dan menjadi ‘rumah’ bagi semua orang, tanpa pandang bulu termasuk mereka yang terpinggirkan dan tersisihkan.

Comment by ratna ariani




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: