Saatnya HATI NURANI bicara


Tuhan 9 cm by ratna ariani
August 29, 2008, 1:09 am
Filed under: sosial masyarakat | Tags: , , , , ,

Urusan yang satu ini memang ribet. Sudah dibikin aturan bahkan perda sekalipun, tidak ada giginya, cuma jadi macan ompong. Para pejabat bahkan anggota DPR pun merokok diruang sidang. Mau dibikin fatwa MUI, apa ya bisa ? lha wong para pemuka agama apapun banyakyang ‘ngudut’ je.. Walhasil cuma berkesan memberi pesan : anak-anak jangan ngerokok dulu, nanti boleh…. Bahkan kalau iklan berbahasa arabdari Saudi ini pun ditempel di tempat ibadah mungkin ‘gak ngepek’ juga. Para perokok selalu punya alasan bahwa yang tidak merokokpun akhirnya mati juga. Ya memang, tapi para perokok lupa bahwa mereka meninggalkan pesan tidak tertulis pada pasangan dan anak-anaknya ” Hei aku sedang mempersiapkan kematian kita“.

Mau dilarang total, wah lebih heboh lagi. Pendapatan negara dari cukai rokok saja di tahun 2006 mencapai 52 trilliun, lebih dari tiga kali lipat royalti PT Freeport. Didalam indutri ini ada 6 juta tenaga kerja didalamnya. Kalau satu orang menanggung 3 mulut maka ada 24 juta perut tergantung di industri ini. Kalaupun industri rokok dalam negeri mengecil tapi import gak dilarang, sama saja lah, justru kita menghidupi tenaga kerja industri rokok dari malaysia, vietnam dsb. Bukan masalah mudah menciptakan lapangan kerja bagi 6 juta orangyang mayoritas minim ketrampilan. Maka kalau cuma melihat dari sisi ini para perokok makin senang dan berkampanye “mari merokok ramai-ramai karena kita menghidupi orang banyak”.

Disatu sisi data pendapatan negara ini juga harus dibandingkan dengan berapa besar akibat yang ditimbulkan dalam belanja negara dari dibakarnya 226milyar batang rokok. Fasilitas pengobatan kanker yang canggih harus diadakan di berbagai Rumah Sakit Daerah. Sekali perawatan kemoterapi di RSCM bisa habis 4 juta rupiah. Bea siswa pendidikan anak atau orang tua asuh keluarga miskin sebagai subsidi pengganti uang rokok; bandingkan nilai sebungkus rokok dengan uang SPP anak SD/SMP. Belum termasuk nyawa beberapa anak yang memilih gantung diri karena malu gak bisa bayar SPP. Belum lagi uangreceh di jalanan yang diberikan para pengemudi mobil mewah,cuma habis dibakar anak-anak. Mereka memilih menggelandang di jalan demi makan dan rokok daripada sekolah.

Disisi lain di sentra kemiskinan dan bahkan ditengah menggilanya harga bahan pokok, semua orang menjerit kesulitan memenuhi kebutuhan pokoknya. Pertanyaannya : kebutuhan pokok yang mana? Makan, pakaian, sekolah atau rokok? Coba kita perhatikan kemana uang BLT yang dipegang para ibu. Pasti mereka pakai untuk bayar hutang di warung, beli terigu untuk jualan rempeyek dan kalau ada sisa bayar tunggakan uang sekolah. Dan bagaimana dengan uang BLT di tangan para laki-laki? Apa semuanya diberikan ke sang istri? yang pasti tentunya ada alokasi sendiri untuk kebutuhan ‘udut’nya…. setiap hari. So,it is a matter of priority.

Urusan pendapatan negara biarlah itu menjadi PeeR antar para pejabat; kalau visi dan arah tujuan negara ini jelas pasti ada cara lain untuk meningkatkan pendapatan dengan tetap membuat rakyat sehat dan sejahtera walau konsumsi rokok dikurangi. Maka pendampingan perlu dilakukan di tingkat akar rumput untuk menentukan skala prioritas dalam kehidupan masyarakat terkecil : keluarga. Kalau para bapak tahu berapa tunggakan sekolah, besar hutang di warung, dan memang peduli untuk itu, masa sih gak bisa mengurangi jatah rokoknya untuk anak-anak? Kalau mereka menganggap tuhannya 9 cm itu jauh lebih penting daripada keluarganya.. wah ya repot, memang akhirnya wanita dan anak-anaknya lah yang harus berkorban agar sang kepala keluarga bisa tetap merokok dan harus merawat bapaknya yang sakit-sakitan di masa tuanya. Sudah miskin ditambah penyakitan…. salah siapa ya?


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: