Saatnya HATI NURANI bicara


Waria: Mereka Juga Manusia by ratna ariani
September 7, 2008, 1:08 pm
Filed under: artikel, sosial masyarakat | Tags: , , ,

Adalah suatu misteri Ilahi dimana kita  tidak punya pilihan saat dilahirkan menjadi perempuan atau laki-laki, berkulit putih atau sawo matang, normal ataupun cacad. Tapi manakala sudah menjadi suatu kehidupan yang utuh, mereka tetap lah manusia yang memiliki kesempatan hidup yang sama, bahkan memiliki kedudukan yang sama di mata PenciptaNya.  Dengan segala keterbatasan semua manusia sama-sama dikarunai rahmat kehidupan, sama-sama memiliki kesempatan untuk menjadi manusia yang memiliki kehidupan yang berkualitas, bahkan sama-sama boleh mendekat kepada Sang Pencipta. Semoga kita justru mengambil bagian membantu mereka menemukan kedamaian hati berjumpa sang Pencipta selagi masih diberi kesempatan daripada menghalang-halangi mereka datang kepadaNya. Mereka bisa jadi adik kita sendiri, anak atau keponakan kita juga teman kita sendiri. Siapapun mereka, mereka sama seperti kita juga sebagai ciptaan Tuhan.(RA)

Yogyakarta, CyberNews. Arief, melantunkan lirik lagu grup musik Serious dengan mengganti awalan rocker menjadi, ‘Kami juga manusia, punya mata punya hati, jangan samakan dengan…,” Sampai di situ dia berhenti, matanya menerawang seakan mengenang atau malah memikirkan masa depannya.

Kenapa dia harus begitu? Maklum, Arief adalah waria alias wanita pria yang
merasa cocok menjadi perempuan. Sejak kecil dia sudah merasakan adanya kelainan dalam dirinya. Mau menjadi laki-laki jantan, macho, tak mampu. Dia cenderung menyukai kelembutan ala wanita. Puluhan tahun kemudian laki-laki asal Jawa Timur itu baru berani menunjukkan eksistensinya sebagai ”wanita” dengan bersolek seperti perempuan.

Menjadi minoritas di negeri ini memang membuat dia kerepotan. Tak jarang
sorot mata aneh bahkan cibiran menerpanya. Namun dia tak begitu menggubris, dia menyadari karena sebagian besar masyarakat belum bisa menerima kehadiran waria. Bahkan tak hanya dalam kehidupan sosial, dalam beragamapun dia merasakan pandangan ganjil dari umat ketika memasuki masjid.

”Saya dan teman-teman sering langsung mengenakan rukuh, menyusup masuk ke jamaah putri ketika sholat di masjid. Tapi kalau situasi tidak memungkinkan ada yang mau masuk ke jamaah laki-laki, mengenakan peci dan sarung,” tutur dia yang sudah lama berada di Yogyakarta. Berkali-kali dia mengalami situasi tidak mengenakkan ketika mau sholat di masjid. Banyak orang menyingkirinya bahkan ada yang memintanya tidak ikut jamaah putri. Dia dan teman-temannya kadang-kadang terpaksa balik kanan, pulang dan bersembahyang bersama di rumah.

Pondok Pesantren
Ketika tiba Ramadan, kaum waria sebenarnya juga ingin bersama umat lain menjalani ibadah di masjid. Tapi apa daya, pandangan negatif masih menyertainya. Beruntung ada salah seorang ustadz yang melihat kondisi tersebut dan kemudian mendirikan Pondok Pesantren Khusus Waria di kampung Notoyudan, Yogyakarta.
”Di sinilah kami dimanusiakan, diuwongke. Kami belajar mengaji bersama, berbuka puasa bersama, tarawih, zikir, tahajud, sahur. Semua aktivitas kami lakukan bersama-sama, ” ungkap Arief.

Pondok pesantren di tengah kampung tersebut berada di rumah Maryani, yang juga salah seorang tokoh waria. Berdirinya pondok belum lama, baru bulan Juli 2008 lalu dengan dukungan Ustdaz KH Hamroeli Harun. Setiap sore Ustadz datang memberikan pelajaran membaca Alquran, mengaji dan aktivitas lain. Peserta tampak selalu serius mengikuti setiap kegiatan.

”Waria juga seperti umat yang lain, menjalankan rukun Islam agar dekat dengan Yang Kuasa. Namun pada kenyataannya masih banyak yang belum dapat menerimanya, karena itu kami menggagas agar ada tempat buat mereka mendekatkan diri dengan Allah SWT, di sinilah kemudian kami berkumpul,” papar Maryani.

Kendati berada di ruangan sempit, hanya sekitar 3×4 meter persegi tapi itu lebih dari cukup buat mereka beribadah. Tempat tak jadi masalah bagi Maryani, Arief dan santri waria namun hati yang lebih penting. Setiap hari ada puluhan waria dari berbagai daerah datang untuk belajar mengaji. Pakaian saat mengaji
juga sederhana saja, yang mengenakan sarung di barisan depan dan pemakai mukena, rukuh, di belakangnya. Lirih terdengar mereka mengumandangkan kebesaraan nama Allah. (Agung Priyo Wicaksono /CN08)


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: