Saatnya HATI NURANI bicara


TAHUNAN, DUA TKI/W MADIUN HILANG KONTAK * Keluarga Bingung, PJTKI dan Disnakertrans ‘Lepas Tangan’ by ratna ariani
September 21, 2008, 8:33 pm
Filed under: artikel | Tags: , , , ,

MADIUN—-Persoalan dialami Tenaga Kerja Indonesia / Wanita (TKI/W) dari hari ke hari tak pernah kunjung tuntas dan perlindungan terhadap pahlawan devisa ini nyaris diabaikan oleh pemerintah. Kali ini, dua TKI/W asal Kabupaten Madiun, yang sudah bekerja diluar negeri bertahun-tahun kehilangan kontak dengan keluarganya. Akibatnya, pihak keluargapun kini bingung harus mengadu dan mencari keberadaan anaknya kemana.

Sementara itu, pihak Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) dan Pemerintah Kabupaten Madiun khususnya Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) sendiri hingga kini terkesan tutup mata atas masalah dialami TKI/W tersebut. Alasan yang dicetuskan selalu klasik, menyalahkan TKI/W yang dianggap tidak pernah koordinasi dengan pihak Pemerintah Daerah.
Informasi dihimpun Memo, kedua TKI/W yang kehilangan kontak dengan keluarga ini diketahui bernama Sumilah (32) anak pasangan Sunari dan Parmi buruh tani, warga Dusun Selosari, Desa Prambon Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun.

Peristiwa serupa juga dialami keluarga Ahmad Hani (36) di Prambon juga putus komunikasi dengan Ahmad sejak dua tahun yang lalu pamit bekerja sebagai sopir di Mekkah.
Keterangan keluarga Sumilah, sejak bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di ke Jeddah, Arab Saudi selama 15 tahun ini tidak bisa komunikasi dengan anaknya. Sebelum berangkat ke Jeddah, selama dua tahun Sumilah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Surabaya. Namun karena upah yang kecil, Sumilah kembali pulang ke rumah.
Tak lama kemudian, Sumilah yang masih berusia 16 tahun ini mendapat tawaran dari Kepala Desa Prambon, Kalim untuk bekerja ke Jeddah Arab Saudi. Demi membantu ekonomi keluarga, Sumilah akhirnya nekat berangkat ke luar negeri dengan bekal Sumber Daya Manusia (SDM) seadaanya dan diberangkatkan melalui PJTKI Servindo Konsorsium yang berkantor pusat di Jakarta.
Awalnya, setelah satu tahun pergi bekerja, Sumilah masih bisa mengirimkan surat sekaligus uang sebesar Rp 810.000 kepada Sunari melalui Kalim. Dari uang sebesar itu, Sunari membayarkan Rp 500.000 diantaranya ke perwakilan PJTKI Servindo Konsorsium di Prambon untuk mengganti biaya keberangkatan Sumilah. Adapun isi surat menceritakan kondisi Sumilah yang baik di Jeddah.
“Setelah itu ya tidak ada lagi kabar dari anak saya (Sumilah,red). Di mana dia tinggal di Jeddah, kami keluarga pun tidak tahu. Pak Kalim saat kita tanya mengenai keberadaan Sumilah, mengaku tidak tahu,” ungkap Sunari orangtua Sumilah kepada wartawan.

Perjuangan orangtua mencari tempat tinggal kerjanya anaknya tak putus sampai disitu saja. Saat kepala desa Prambon dijabat oleh kades baru bernama Widayati tahun 2005 lalu, pihak keluarga berusaha melaporkan masalah ini kepada kades setempat dengan harapan mendapatkan jalan keluar dan bisa mengetahui seluk beluk keberadaan anaknya.
Sayangnya, kendati Kades sudah meminta bantuan Disnakertrans Kab Madiun, namun hasilnya tetap nihil. Pihak Disnakertran sendiri juga kesulitan mencari Sumilah. Alasannya, pihak keluarga tidak tahu keberadaan terakhir Sumilah.
Mengetahui ada Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Jumhur Hidayat berkunjung ke Pemkab Madiun, Kamis (18/9), kesempatan itu langsung dimanfaatkan Kades setempat untuk mengadukan persoalan dialami warganya yang menjadi TKIW. Saat itu, Jumhur berjanji akan membantu mencari. “Kami sangat berharap mendengar kabar dari Sumilah. Apapun kondisinya sekarang, kami siap menerimanya,” ujar Parmi.

Sementara itu, keluarga Ahmad Hani (36) Desa Prambon juga dalam penantian dan kegelisahan, lantaran anaknya tak kunjung bisa dikontak. Awalnya, Ahmad yang bekerja sebagai sopir di Mekkah, biasanya selalu memberi kabar ke Nanik (saudara Ahmad,red) atau ke istrinya yang tinggal di Solo.
“Namun sejak tiga bulan setelah dia berangkat bulan Agustus 2006, tidak ada lagi kontak dengan Ahmad. PJTKI yang memberangkatkan dia sudah tutup, sehingga kami bingung harus mencari kemana. Majikan dari Ahmad di Mekkah juga tidak tahu kemana Ahmad pergi,” ujar Nanik.

Sedangkan para pihak yang berkompeten menangani masalah itu, baik PJTKI maupun Disnakertrans hingga berita ini diturunkan, belum ada yang memberikan keterangan resmi atas musibah dialami keluarga TKI/W yang mengalami masalah hilang kontak dengan anaknya yang kerja jadi TKI/W. (Sumber : hendri wahyu -NGO Pusat Study Advokasi – PUSAR- di Madiun)


1 Comment so far
Leave a comment

pahlawan devisa harus kita bela…
jangan dibiarkan tertindas bahkan selalu ditindas oleh bangsa sendiri juga

Comment by ciwir




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: