Saatnya HATI NURANI bicara


Dibalik Pasal-pasal RUU Pornografi (Aquino Hayunta) by ratna ariani
September 23, 2008, 7:30 am
Filed under: artikel, politik | Tags: , , ,

Dalam acara sosialisasi RUU tentang Pornografi yang diadakan di kantor Kementrian Negara Peranan Perempuan hari Rabu yang lalu duduk dua kubu yang memiliki pendapat berbeda soal RUU tersebut. Yang khusus saya catat dari kedua kubu itu ada dua; pertama bahwa penampilan kedua belah pihak sama-sama sopan, berpakaian pantas dan sama sekali tidak porno. Yang kedua saya mengamati bahwa kedua belah pihak, ternyata sama-sama prihatin dengan masalah pornografi, pemerkosaan dan soal perlindungan perempuan dan anak dari kekerasan seksual.

Kenapa persamaan ini saya tampilkan ke muka? Karena dari sini kita bisa melihat bahwa pada subtansi pornografinya, semua pihak sepakat, bahwa perlu ada penanggulangan soal itu. Jadi tidak betul anggapan-anggapan sebagian orang yang mengatakan bahwa kubu penolak pornografi adalah kubu yang senang
atau diuntungkan oleh industri porno. Tidak betul bahwa jika RUU Pornografi tidak disahkan maka orang akan berjalan-jalan di mall atau di pasar menggunakan bikini. Tidak betul bahwa kubu penentang RUU Porno adalah kubu yang senang telanjang atau amoral. Dari segi penampilan saja hari itu mereka sopan-sopan. Bahkan di antara mereka yang menolak RUU ini terdapat mereka yang sudah lama memperjuangkan dan menyerukan agar pornografi dapat diberantas. Advokasi mereka ini antara lain melahirkan Undang-Undang Perlindungan Anak dan UU Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan, perjuangan yang telah lama dilakukan sebelum draft RUU APP menjadi heboh pada tahun 2006.

Jadi kenapa ada pertentangan yang tajam mengenai RUU tersebut, jika semua pihak sepakat untuk menolak pornografi? Kita dapat mengerti akan hal ini jika kita melihat bahwa ada persoalan ideologis di balik RUU tersebut. Persoalan ideologis inilah yang saat ini memecah bangsa kita. Ideologisasi yang terjadi dapat dilihat dari istilah-istilah yang dibuat oleh para pendukung RUU ini, misalnya ketika pengesahan RUU ini disebut “sebagai kado Ramadhan”. Kesan ideologisasi tertentu terasa jelas di sini, ketika RUU ini
dihubungkan dengan salah satu hari raya keagamaan, bukan dihubungkan dengan kepentingan bangsa yang lebih besar. Dalam acara sosialisasi tersebut, wakil dari Majelis Rakyat Papua pun hampir tidak memperoleh kesempatan untuk bicara dengan alasan Tim Pansus sudah pernah bertemu dengan Majelis Rakyat Papua sebelumnya dan menganggap perwakilan yang hadir di situ lebih merupakan cerminan individu belaka. Sikap ini dapat ditafsirkan merupakan miniatur dari sikap sebagian kalangan kita yang kerap memandang bahwa rakyat Papua itu hanyalah suatu entitas homogen di ujung Indonesia sana yang suaranya mewakili kubu minoritas dan tidak signifikan untuk didengarkan.

Dalam jumpa pers yang dilaksanakan dua hari sebelumnya di gedung DPR, sejumlah orang yang pro terhadap RUU ini menggunakan termin “mayoritas dan minoritas”, bahwa di manapun di iklim demokrasi, kata mereka, suara yang terbanyaklah yang menang. Jika kita melihat termin-termin di atas seperti
“kado Ramadhan” atau “mayoritas-minorita s” maka bisalah kita memperoleh gambaran bahwa memang ada persoalan ideologis yang bermain di sana, persoalan bagaimana mereka yang merasa mewakili mayoritas sedang mendesakkan keinginannya kepada minoritas. Anda sendiri bisa membaca sendiri
istilah-istilah lainnya yang digunakan oleh para pendukung RUU Pornografi yang muncul di media massa. Bahkan dua tahun lalu sempat ada komentar untuk memuseumkan pakaian-pakaian daerah yang dianggap sensual. Masih ingatkah anda siapa yang memberikan komentar tersebut?

Perkara ideologis lainnya adalah para penyedia jasa pornografi dan mereka yang mendukung RUU ini sebetulnya memiliki anggapan yang sama bahwa tubuh manusia (apalagi perempuan!) dan seks adalah sesuatu yang menggoda. Hanya saja anggapan yang sama ini melahirkan sikap yang berbeda. Jika industri
pornografi mengeksploitasi tubuh dan seks, pihak lainnya justru ingin menutupinya dalam-dalam. Kedua perilaku ini sebetulnya berasal dari pandangan yang sama. Seharusnya seks maupun tubuh manusia bisa dipandang secara netral, dan akal sehat manusia dikaruniakan untuk melindungi tubuh dan seksualitas, bukan mengeksploitasi atau bahkan menghujatnya sebagai sumber dosa. Jika kita melihat seks dan tubuh sebagai sumber dosa, akibatnya kita tidak pernah dewasa dalam menghadapi persoalan seputar seks dan tubuh.
Kita tidak akan paham bahwa pornografi terjadi bukan karena orang memakai baju terbuka, namun karena ada eksploitasi. Kita tak akan pernah paham pentingnya pendidikan seks sebagai salah satu upaya untuk mengurangi maraknya peredaran video porno buatan sendiri misalnya.

Dalam RUU Pornografi terdapat pula persoalan kekuasaan. Tengok saja pasal 20 dan 21 yang memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah dan kelompok masyarakat untuk turut memberantas pornografi. Belum hilang dari ingatan kita bagaimana kelompok-kelompok yang merasa memegang otoritas moral dan
kebenaran melakukan kekerasan terhadap sesama warga Negara. Pasal-pasal tersebut seolah-olah merangsang orang untuk mendirikan milisi-milisi sipil. Dan milisi-milisi tersebut mendapat perlindungan hukum dalam RUU ini. Sungguh sesuatu yang mengkhawatirkan, apalagi kita tahu bahwa hanya mereka
yang terorganisir serta memiliki kekuasaan serta akses besar yang dapat membentuk, mengendalikan dan mendanai milisi-milisi semacam ini. Sungguh pasal 21 RUU ini merupakan pasal yang berbahaya, yang penulis pikir justru menjadi inti mengapa sebagian orang begitu ngotot untuk menggolkan RUU ini.

Jadi walaupun kedua belah pihak sepakat tentang pentingnya pemberantasan pornografi, namun jelas di antara keduanya ada jurang yang terentang lebar. Kita bisa merasakan suasana bahwa ada ideologi monolitik sedang dipaksakan, yang bisa merusak keragaman yang ada di Negara ini. Dan pasal-pasal yang
tercantum di sana sampai saat ini masih bisa ditafsirkan sesuai kepentingan ideologi monolitik tersebut. Tidak ada jaminan di sana bahwa tidak akan ada multitafsir dalam pelaksanaannya. Karenanya pantaslah jika kita masih menolak RUU ini untuk disahkan. Bukan karena kita mendukung pornografi, namun karena kita menolak ideologi monolitik yang sedang dipaksakan secara sembunyi-sembunyi. [Aquino Hayunta]


7 Comments so far
Leave a comment

saya sepakat dengan pemikiran yg diontarkan oleh penulis, bahwa sebenarnnya kubu yg pro dan kontra akan RUU ini sangat tidak setuju dengan yg namanya pornografi. Dan saya sebagai seorang perempuan jg merasa gelisah jika RUU ini disahkan, karena Pemerintah sudah bisa masuk dalam mengontrol moral masyarakatnya. Mungkin para legeslatif itu lebih memprioritaskan masalah yg urgent seperti korupsi di negeri ini yg sudah parah sekali. Dan untuk para kaum lelaki ( khususnya Indonesia yg sangat patriarki )juga perlu dilakukan pencerahan bahwa jangan selalu berpikiran yang seksis jika ingin pornografi di Indonesia ini hilang ( minimal berkurang )

Comment by Anne

saya tidak sependapat..
intinya pornography bukan masalah agama tapi upaya pertama menyelamatkan anak-anak dari dari moral yang jelek…
kasih kesempatan ntar kalo ada yang kurang beres kita benahi bersama….. keluarkan dulu.. kalo terus diolor nggak akan ada perubahan dan tambah parah..

Comment by agung

hukum di Indonesia masih setengah-tengah. legalkan atau larangan secara tegas. jangan rakyat kecil menjadi korban sedangkan aparat hukum dan oknum/anak pejabat hanya lewat/sulit tersentuh hukum.
* legalkan, tapi harus ada aturan seperti anak dibawah umur tidak boleh menkonsumsi pornografi atau objek pornografi, judi, tidak boleh beragama islam. kecuali narkoba(tidak boleh dilegalkan)
* tindak keras, dengan menjalankan syariat Islam.

Comment by Bushet

Kalau menurut saya,,,klw emang sama2 setuju porno diberangus,,,kenapa harus menolak,,justru saya ini sedih katanya membela perempuan tapi kok ada UU utk melindungi perempuan agar tdk dijadikan bisnis oleh sekelompok orang dg memolekkan tubuh badanya kok ga setujuuuu,,,,aneh bin ajaib
di barat aja sudah ada UU seperti itu,,,,
Negeri kita ini,,,terlaru liberal kebablasan,,,kasihan anak,,,cucu kita dimana mengatasnamakan HAM justru menindas HAM sendiri
sudah cukup kerusakan dibumi ini diakibatkan oleh akibat manusia itu sendiri

Comment by dadang

setelah di-undangkan, bolehkah ?
1. wanita (ciptaan Tuhan)memakai tangtop / kaos ketat / ledging pergi ke mall ?
2. guru mengajarkan proses reproduksi manusia dengan alat peraga ?
3. nenek- nenek hanya menggunakan bh duduk diteras rumahnya (karena kepanasan / tidak punya ac / kipas angin)

Comment by bagus

@ Bagus: Ya ga boleh.. Makanya RUU nya dibenerin dulu.

@ Bushet: Saya sama sekali menolak syariat Islam. Negara Indonesia berlandaskan Pancasila, bukan agama. Kalau mau berlandaskan agama, lebih baik berlandaskan agama animisme dan dinamisme aja deh.

@dadang: Di barat hukum yang bersangkutan dengan pornografi jelas loh. RUU Pornografi di Indonesia rancu. Terlalu banyak yang bolongnya, bisa disalahgunakan.

@agung: saya setuju dengan anda, pornografi perlu diberantas. TAPI, kalo disahkan dulu, baru diperbaiki, justru bisa menimbulkan perpecahan yang ga perlu. Nantinya malah bukan membantu menyelesaikan masalah, malah memperkeruh.

Ngga kebayang kalo disahkan, model2 kayak FPI bisa MERAJALELA, dan oknum2 lain yang mengatasnamakan negara, agama, dan moral. Tapi malah memukuli, menyerang, dll. (moral apa pantat? sorry agak kasar)

Saya rasa RUU kudu digodok lagi.

Comment by Rich

Saya pikir udah saatnya kita mengakhiri pro dan kontra RUU pornografi, Sudah terlalu banyak makan waktu 2 tahun lebih, saran saya untuk anggota DPR, yang ngurusi hal tersebut, cari dong titik temu , saya masih yakin kok baik yang kontra maupun pro RUU sepakat menolak pornografi, masya iya si ndak jalan keluar.

Comment by antony




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: