Saatnya HATI NURANI bicara


DCS (Daftar Cerita Suka-duka) dari DCS – 3: Pindah Dapil by ratna ariani
October 11, 2008, 9:05 am
Filed under: politik | Tags: , , , ,

Terbukanya reformasi di bidang politik membuka peluang berdirinya parpol-parpol baru. Entah sampai kapanpun hakuntuk berdemokrasi tidak akan bisa dibatasi.Yang bisa dibangun adalah sistem seleksi yang menuntut perbaikan kualitas dan kuantitas para politis didalamnya. Jumlah parpol yang lolos verifikasi bukannya semakin sedikit justru bertambah banyak. Bukannya karena banyak wajah baru, tapi sebenarnya stock (pemain) lama dengan bungkus (parpol) baru. Beberapa parpol baru merupakan pecahan yang dibentuk dari para mantan fungsionaris parpol besar yang ada. Mantan fungsionaris Demokrat membentuk Barisan Nasional dan PDP. Golkar juga tak kalah digerogoti Hanura karena sang mantan capres Golkar membentuk gerbong sendiri. PDIP pun ditinggalkan kader-kader penting dan mendirikan PDP. PMB mengklaim menguasai massa PAN dan menganggap PKS adalah tandingannya. PKB pun sempat terbelah dua.

Apa yang terjadi disini adalah proses pematangan demokrasi, yang akhirnya menuju seleksi alam untuk mencapai keseimbangan antara parpol satu dengan yang lainnya. Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya; karena satu sama lain bisa saling melakukan introspeksi. Disisi lain  fenomena ini juga tanda kemunduran karena konflik internal partai tidak bisa diselesaikan dan justru memilih untuk memisahkan diri. Untuk mengurus kader saja masih belum sinkron dengan elit partai, apalagi mengurus kabinet untuk menggembalakan rakyat yang 200 juta dan sangat plural. Rasanya di dunia ini tidak ada yang sekompleks Indonesia,baik dari penduduk, letak geografis, serta bahasa dan tingkat pengetahuannya.

Walhasil konflik yang tak terselesaikan seperti api dalam sekam karena pelan tapi pasti muncul barisan sakit hati. Mekanisme penentuan caleg, baik untuk pemilihan dapil dan pemberian no urut yang tidak transparan, membuat kekecewaan besar para kadernya yang telah membuktikan karyanya bertahun-tahun. Kelihatannya dari parpol hasil PEMILU 2004 hanya PKS yang minim internal konflik dalam hal pencalegan. Parpol baru belum terdengar karena masih ‘promosi mencari nama’, masih balita belum habis satu putaran pemilu.

Contohnya demi etika, tidak saya sebut nama, seorang aleg yang dikenal baik, terlempar ke dapil lain dengan no urut 5. Sudah pindah dapil eh no urut pun melorot. Ada lagi aleg yang masih ditempatkan di dapil yang sama, tapi karena ada ‘titipan’ dari orang dalam, maka ia turun tergeser ke nomor yang lebih besar, yang memberi kemungkinan kecil untuk terpilih kembali. Orang muda yang menjadi kader bertahun-tahundan sangat berpotensi, hanya masuk nomor 3. Itupun karena perempuan, kalau laki-laki mungkin diberi no 4.

Padahal hal ini merupakan resiko besar bagi parpol untukmemindah aleg yang berprestrasi baik ke dapil lain. Berkurangnya suara adalah salah satu akibatnya, selain surutnya motivasi aleg tersebut untuk kembali maju berlaga. Untuk apa mendapatkan nomor 1 tapi dipindah ke dapil yang tidak dikenal? Padahal sang caleg sudah membina hubungan dengan konstituen selama sekian tahun.

Di satu sisi parpol juga perlu menggunakan peta strategi dapil mana saja yang akan dimenangkan dan perolehan suara yang diperkirakan. Contoh pelaksanaan Pilkada gubernur, bupati dsb merupakan fakta terakhir tentang kekuatan akar rumput parpol. Walaupun tidak sepenuhnya bisa diandalkan karena adanya  dengan parpol lainnya. Lagipula pada saat Pilkada, para swing votter (pemilih yang belum menentukan pilihan) memilih figur, bukan parpol.

Maka bagi para caleg yang pindah dapil dan tak berkuasa menolak fatwa DPP, mereka harus keluar dari zona nyamannya untuk berusaha dari nol lagi untukmemahami dan mengenal konstituennya. Ini pekerjaan mahal sekali, karena sang caleg di dapil baru harus punya strategi khusus untukmenarik suara minimal 70 ribu (untuk di P jawa) dalam waktu kurang dari 5 bulan. Hanya artis yang bisa melakukannya dalam sekian kali manggung untuk ngamen di dapilnya. Silahkan ambil kalkulator dan hitung berapa batas anggaran yang sanggup dikeluarkan untuk sosialisasi, tatap muka dan inisiatif lainnya. Itu diluar biaya rutin seperti rapat tim sukses, berbagai pertemuan intern parpol serta biaya transport dan akomodasi ke dapil ybs.

Investasi yang selama ini dikeluarkan untuk membangun hubungan dengan konstituen seperti menguap dalam sekejap. Belum tentu para konstituen mau dengan mudah berpindah ke lain hati dengan datangnya caleg ‘titipan’ DPP sebagai penggantinya. Jadi kita tunggulah hasil DPT nanti, apakah para caleg masih berketetapan kuat dan punya amunisi cukup untuk maju menjadi DCT (Daftar Calon Tetap) dan bertarung selama lima bulan di medan yang baru.


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: