Saatnya HATI NURANI bicara


Surat Terbuka (ttg Dengar Pendapat RUU Pornografi di Yogya) by ratna ariani
October 18, 2008, 8:48 pm
Filed under: politik | Tags: , , , , ,

Dengan hati pedih saya membaca email ini, walaupun saya orang jawa saya ikut tertusuk dengan perkataan anggota dewan yang terhormat. Saya tidak minta untuk dilahirkan jadi orang jawa, maka saya tidak berhak mendakwa bahwa suku lain lebih rendah atau merasa lebih tinggi dari yang lain. Beginilah kualitas anggota legislatif yang menjadi Ketua PANSUS. Tragis. (RA)

Surat Terbuka dari Yogyakarta, 16 Oktober 2008

Posted by: “dcute_ema” dcute_ema@yahoo. co.id

Kepada kawan-kawanku Bangsa Indonesia

Kawan,

Senin, 13 Oktober 2008 kemarin, saya dan teman-teman Forum Yogyakarta untuk Keberagaman (YuK!) mengikuti acara `Dengar Pendapat dalam Rangka Uji Publik RUU Pornografi’. Acara yang diadakan oleh Pansus RUU Pornografi dari DPR berlangsung di Gedung Pracimosono, Kompleks Kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Ketua Pansus RUU Pornografi, Balkan Kaplale, juga datang ke acara itu.

Sekitar enam puluh orang —pro (mayoritas) maupun kontra— hadir sebagai peserta forum. Dalam sesi dengar pendapat pertama, enam peserta dipilih untuk bicara. Acara sudah berlangsung sekitar 1 jam saat seorang kawan dari Papua, Albert, ditunjuk moderator untuk menyampaikan pendapat.

Albert datang mewakili 3000 mahasiswa Papua di Jogja, dan telah meminta ijin pada dewan adat dan tokoh masyarakat Papua untuk mewakili warga Papua dalam menyampaikan aspirasi. Di forum, ia mengusulkan agar RUU Pornografi tidak disahkan. Sebab, RUUP tidak memberi ruang bagi kaum minoritas, dan membuat Negara Indonesia seolah-olah hanya milik sekelompok orang. Jika RUUP disahkan, lebih baik Papua melepaskan diri saja, karena tidak diperlakukan adil.

Saat giliran Pansus bicara, Balkan Kaplale langsung menanggapi pernyataan Albert. Balkan menyapa Albert dengan sebutan “Adinda” dan berkata: “Jangan begitu dong ah..overdosis. .tak usah ngapain keluar dari NKRI. Timor-timur aja perdana menterinya kemaren mengadu ke Komisi 10, nangis-nangis, rakyatnya miskin sekarang. Betul, belajarlah ke Ambon, saya kebetulan dari Saparua loh. Kalau mendengar begini tersinggung! Belajar baik-baik dari Jawa! (diucapkan dengan kencang dan bernada bentakan)”

Balkan juga berkata “Belajarlah baik-baik! Kalau perlu kau ambil orang Solo supaya perbaikan keturunan! (membentak)” Sebagian besar peserta forum langsung tertawa mendengar kalimat itu. Namun kemudian beberapa peserta lain dan para wartawan berteriak, “Rasis! DPR Rasis!!”

Balkan: “Diam dulu nanti kita kasih kesempatan bicara, sampai malam kita di sini! Diam dulu! Ini kan hak Ketua DPR juga dong, Ketua Pansus!”

***

“Belajar baik-baik dari Jawa! Kalau perlu kau ambil orang Solo supaya perbaikan keturunan!”

Kawan,

Hati saya sakit sekali saat mendengar perkataan Balkan Sang Anggota DPR sekaligus Ketua Pansus RUUP. Padahal kata-kata itu tidak ditujukan pada saya. Saya bukan orang Papua. Saya tak bisa membayangkan, bagaimana perasaan Albert dan kawan-kawan lain dari Papua mendengar ungkapan Balkan yang bernada kasar dan isinya jelas menghina itu. Betapa pedihnya!
Yang membuat hati saya lebih sakit lagi, sebagian besar peserta forum yang mayoritas dari etnis Jawa, langsung tertawa saat mendengar ucapan Balkan. Mengapa masih bisa tertawa saat ada saudara kita yang dihina? Apa karena Balkan meninggikan etnis Jawa, lantas kita layak tertawa bahagia?

Kita adalah saudara. Sabang sampai Merauke. Kita: orang Batak, Jawa, Sunda, Betawi, Madura, Dayak, Bugis, Flores, Papua, dan lain-lain; telah berikrar untuk bersatu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kita setara. Tidak ada satu suku atau etnis pun yang tebih tinggi derajatnya dari yang lain. Tidak ada pula yang lebih tidak beradab. Sebagai kesatuan, mestinya kita bersedih jika saudara kita direndahkan karena etnisnya berbeda dengan kita. Bukan tertawa. Mestinya rasa empati dan solidaritas kita tumbuh. Mestinya kita menggugat hinaan itu! Bukan malah ikut tertawa menghina. Saya kecewa, Kawan.

Perbedaan etnis, suku, budaya bukanlah perkara salah-benar. Tiap kelompok harusnya menyadari bahwa sejak awal Indonesia memang beragam. Merasa diri lebih tinggi derajatnya dari kelompok lain hanya akan
menimbulkan konflik. Yang merasa diri paling benar memaksakan keyakinan kelompoknya pada orang lain. Yang merasa diri beradab menghujat kelompok yang dianggap tidak beradab.

Kawan,

Menurut saya perbedaan adalah perkara bagaimana kita berbesar hati untuk menerima dan menghargai orang atau kelompok yang tidak sama dengan kita. Andai kita semua mau membuka hati terhadap perbedaan dan memiliki toleransi, saya yakin tak seorang pun akan tertawa saat mendengar ucapan Balkan tadi.

***

“Belajar baik-baik dari Jawa! Kalau perlu kau ambil orang Solo supaya perbaikan keturunan!”


—“DPR Rasis!”

“Diam dulu! Ini kan hak Ketua DPR juga dong, Ketua Pansus!”

Kawan-kawanku,

Saya heran sekali dengan kalimat terakhir itu. Apa yang Balkan maksud dengan hak ketua DPR dan hak Ketua Pansus? Hak untuk menghina orang lain? Saya rasa, tidak ada orang yang memiliki otoritas menghina orang lain, sekalipun ia pejabat pemerintahan. Kata-kata Balkan terkesan sangat otoriter, seolah-olah ia berhak melakukan apapun sebab ia adalah anggota DPR.
Menurut Pansus RUU Pornografi dan pihak yang setuju terhadap disahkannya RUUP, RUU ini tidak akan menimbulkan disintegrasi bangsa. Alasan mereka, RUU ini tidak diskriminatif. RUUP mengakomodir kepentingan seni dan budaya, adat istiadat, dan ritual tradisional.
Mari kita gugat pernyataan itu, kawan! Benarkah RUU ini mengakomodir semua itu dan tidak diskriminatif? Pertanyaan ini sangat patut dilayangkan dan dijadikan bahan pertimbangan, sebab ternyata Balkan Kaplale, anggota DPR RI dan ketua Pansus yang menyusun RUUP adalah seseorang yang Rasis!

Kawan,

Seseorang yang sudah tidak adil sejak dalam pikirannya tidak akan bisa bertindak adil dalam perbuatannya. Perkataan Balkan Kaplale pada Albert yang rasis dan menghina menunjukkan pikirannya yang tidak adil
terhadap saudara-saudara kita orang Papua. Maka saya berani berkata, RUUP yang diketuai oleh orang rasis dan tidak adil itu tidak layak disahkan!

Dengan cinta pada bangsa dan Negara Indonesia,


Maria Listuhayu.

* saya memiliki rekaman rapat dengar pendapat umum ini, silahkan klik disini.

** tulisan ini akan dikirim ke media sebagai surat terbuka. `


9 Comments so far
Leave a comment

Dear all.
Menurut hemat saya UU porongrafi ini dapat memecah belah NKRI, apakah tidak sebaiknya rekaman percakapan yang berbau Rasis di sebarkan ke masyarakat? Sehingga masyarakat mengetahui apa dan bagaimmana kerja para dewan yang terhormat dalam membahas UU. Mereka juga makan dari uang rakyat.

Terima kasih
Sugondo

Comment by Sugondo Sudradjat

Betul sekali pak, rakyat berhak tahu seperti inilah kelakuan wakil rakyat yang telah dipilih pada periode kemarin.
Rekaman tersebut pasti akan dipublikasikan di saat yang tepat oleh Ema. Salut buat mbak Ema, walaupun masih semester 3 di UGM, tapi sungguh kritis dan berani. Maju terus perempuan Indonesia, bukan untuk membela kaum perempuan tapi untuk perubahan perbaikan moral bangsa Indonesia.

Comment by ratna ariani

RUU AAP agar segera disahkan supaya masyarakat tidak resah.

Comment by Acheng

Absurd. pertemuan yang absurd. Perkara rasial kok jadi guyonan yang mampu meledakkan tawa orang satu gedung. Duh sudah begitu dekadenkah Indonesia?

…pinginnya bikin UU pornografi, tapi liatlah legislatornya sama sekali tidak beretika. Bagaimana ini? sungguh sedih saya … rasa-rasanya percuma ada UU pornografi. Apa artinya semua itu jika menghargai sesama manusia saja tidak bisa?

Jangan2 yang model yang kayak gini masih banyak di Senayan?

Comment by buletincangkir

Rekamannya yang ini bukan, Mbak Ratna? Saya dapat tautannya dari teman.

http://www.imeem.com/people/HDGcbB5/music/6kJiK7zD/balkan_kaplale_pernyataan_kontroversial/

Kalau memang iya, sejauh yang saya dengar, lebih mirip inappropriate joke. Memang tidak pantas diucapkan oleh seseorang dengan kedudukan tertentu. Tapi rasis? I think racism is a too strong word for his lack of judgment🙂

BTW, kenapa ya, Mbak Ema tidak langsung saja mempublikasikan rekamannya? Saya rasa itu sangat membantu bagi masyarakat menilai sendiri, karena sebaik2nya pengamatan kita bisa jadi kita alpa dalam memaknai perkataan orang lain🙂

Comment by -may-

Jgn lupa kirim ke emailku ya!!

Comment by luck13y

Tolong saya dikirimkan rekamannya …

Comment by Permana Jayanta

Rekaman tersebut sudah bisa di akses di You Tube dan sudah saya sertakan dalam blog juga di
https://tulisanperempuan.wordpress.com/2008/11/09/surat-terbuka-dari-jogya-lanjutan/
atau ikuti link di bagian paling bawah artikel ini juga.

Comment by ratna ariani

Saat saya membaca artikel saya sangat terpukul dan sakit hati pula (ethinically wise saya jawa, sunda, dan aceh, tidak ada papua). Yang membuat saya sangat sedih adalah fakta bahwa masih ada satu manusia langsung menilai rendah manusia lain yang tidak sama dengan dia. Saya heran mengapa di Indonesia perbedaan suku masih dipermasalahkan, padahal kita semua kurang-lebih berkulit sawo matang. Banyak negara lain memiliki perbedaan kulit yang “differs to the extreme” tetapi perbedaan tersebut difasilitasi oleh pemerintah mereka sehingga rasisme merupakan sesuatu yang tidak dapat diterima. Sedihnya, di Indonesia seseorang yang justru merupakan bagian dari kepemerintahan justru memiliki pola pikir arogan yang berfikir bahwa satu ras lebih baik dari yang lainnya. Mungkin ini salah satu alasan mengapa UU anti pornografi tidak menghormati perbedaan-perbedaan yang ada diantara kita, sepertinya memang merefleksikan pola pikir ketua pansusnya.

Comment by Amirah Kaca Sumarto




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: