Saatnya HATI NURANI bicara


Hukuman Mati di Indonesia, sampai kapan? by cgjyyh
November 8, 2008, 4:43 am
Filed under: politik | Tags: , , ,

Sekali lagi masalah hukuman mati kembali menjadi pro dan kontra, kali ini menyangkut Amrozi CS. Isu ini menjadi kontroversial karena diperdebatkan di berbagai tingkat dalam masyarakat sampai pejabat tingkat elit. Juga bisa melibatkan negara lain yang mungkin merupakan asal negara sang terpidana mati seperti kasus Bali nine atau seperti korban bom bali, dimana negara ini menganut penghapusan hukuman mati. Sampai kapankah Indonesia masih bersilat lidah menanggapi penghapusan hukuman mati? Disatu sisi Indonesia menerima kesepakatan Internasional yang tertuang dalam Kovenan International tentang Hak Sipil dan Politik, tapi di sisi lain kita punya serentetan alasan untuk tidak menerapkannya.

Indonesia termasuk Singapura, Amerika dan juga negara-negara di timur tengah termasuk 55 negara yang masih melaksanakan hukuman mati selama 10 tahun terakhir ini. Negara-negara di benua Afrika termasuk yang paling banyak memilih untuk tidak lagi menerapkan hukuman mati. Secara bertahap banyak negara merubah hukuman mati menjadi seumur hidup, atau bahkan menunda melaksanakan hukuman mati. Ada juga yang memilih melaksanakan hukuman mati hanya untuk kasus luar biasa seperti keadaan perang atau kejahatan militer seperti Argentina, Brazil dan El Savador.

DUHAM Deklarasi Universal Hak Azasi Manusia yang telah diberlakukan di tingkat internasional sejak 1948 menyatakan bahwa setiap individu berhak untuk hidup, tidak bisa dicabut hak hidupnya. DUHAM juga menyatakan bahwa tiap individu tidak berhak atas penyiksaan atau hukuman yang merendahkan martabatnya. Hukuman mati melanggar dua hak dasar tersebut.

Kalau demikeamanan rakyat banyak dan memberi efek jera  membuat sistem peradilan masih juga menerapkan hukuman mati, seharusnya ada hal lain juga yang harus dipertimbangkan sebelum pelaksanaan eksekusi tersebut dilakukan.  Alasan demi keamanan rakyat justru memberi keleluasaan pemerintah untuk mengubah hukuman mati menjadi seumur hidup; isolasikan saja dari masyarakat sehingga menjadi aman. Justru dengan kasus ‘jihad’ menunjukkan banyaknya orang yang siap mati demi melaksanakan ‘misi’nya. Ada orang-orang yang sengaja memilih mati, tapi bisa jadi malah mendapatkan kesempatan memperpanjang kehidupan.Siapa tahu pula mereka bisa berubah pikiran karena memiliki kesempatan untuk tetap hidup.

Bila ingin memberi efek jera bagi pelaku kejahatan, rasanya masih jauh dari hasil yang diharapkan. Hukuman mati di Singapore sekalipun tidak membuat orang jera menyelundupkan narkoba. Efek jera bisa timbul bila memang ditumbuhkan kesadaran pada diri sendiri akan perbuatannya yang melanggar hukum. Peran pemuka agama  serta para ahli psikologi sangat diperlukan agar para terpidana  mati ini dapat kembali memiliki kestabilan jiwa dan rohani. Kejahatan yang timbul kebanyakan buntut dari kemiskinan dan penggangguran. Kriminalitas berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyat.

Maka sudah saatnya para anggota dewan yang nantinya terpilih  di periode selanjutnya dapat mengagendakan kembali sistem perundangan dalam proses penjatuhan hukuman mati.   Menjatuhkan hukuman mati sama dengan mencabut hak hidup seseorang. Hal ini tidak juga dapat meringankan beban penderitaan para korban yang masih hidup ataupun keluarga korban yang meninggal. Dengan demikian bila kita mengijinkan hal ini terjadi, kita sama-sama bersatu mencabut  hidup seseorang. Kita tidak lebih baik dari mereka, apapun kesalahan mereka. Masih ada cara lain untuk menghukum tanpa harus mencabut hak hidup seseorang.  Selain itu proses peradilan yang ada sekarang masih banyak ditemukan kesalahan. Maka lebih baik tidak menghukum (mati) daripada kemudian hari ditemukan bahwa ada kesalahan dalam memberi hukuman.

Penghapusan hukuman mati tidak cukup hanya dengan mengubah UU yang berlaku tapi juga diperlukan sosialisasi dan pemahaman akan pola pikir yang sama baik di jajaran legislatif maupun eksekutif dan yudikatif. Akan lebih sempurna lagi bila dibarengi langkah konkrit  dalam membuat penjara-penjara menjadi tempat ‘memanusiakan manusia” dan tidak menjadi tempat ‘markas’ pelatihan para calon kriminal. Tidak banyak penjara di dunia mampu mencapainya, tapi tidak kurang usaha untuk mencapai tujuan mulia itu seperti penjara CPDRC di Cebu Filipina yang menggunakan terapi menari dalam program rehabilitasinya dan penjara wanita LP kelas II Malang yang mendapat sertifikat ISO 9001.

Semoga gerakan ‘pro life” menjadi semangat yang ditularkan untuk semakin mencintai kehidupan itu sendiri di bangsa tercinta ini, dan menjauhkannya dari kekerasan serta mengisinya dengan membuat hidup manusia semakin berarti bagi yang lain. Dengan demikian menjadikan Indonesia bangsa yang lebih menjunjung tinggi harkat hidup bangsanya sendiri.


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: