Saatnya HATI NURANI bicara


Memandang Natal Dalam Perbedaan by ratna ariani
December 28, 2008, 8:07 am
Filed under: artikel | Tags: , , ,

[WIKIMU] – Natal, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi keempat, memiliki dua arti. Pertama artinya adalah kelahiran seseorang, sementara arti kedua adalah kelahiran Isa Almasih (Yesus Kristus). Hari Natal dalam kamus yang baru terbit 23 Desember 2008 kemarin itu, berarti hari raya untuk memperingati kelahiran Isa Almasih (tanggal 25 Desember).

Beberapa tahun terakhir ini ada beberapa teman yang tidak lagi mengucapkan “Selamat Hari Natal” karena merasa menyampaikan pesan itu berarti ikut merayakan hari Natal. Karena itu saya sangat terkesan ketika membaca artikel Opini di harian the Jakarta Post, 24 Desember 2008, berjudul “Love for Jesus brings solidarity”. Penulisnya Ibrahim Hooper adalah Direktur Komunikasi Nasional dari Council on American- Islamic Relations (CAIR) yang berbasis di Washington.

Isi artikel ini sebenarnya tidak terlalu asing buat saya, dua puluh
tahun lalu hal ini sudah pernah saya dengar dari seorang rekan aktivis
HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dalam sebuah perbincangan di kampus.
Tetapi menjadi menarik karena Hooper membukanya dengan sebuah kutipan:
“Behold! The Angels said: ‘O Mary! God giveth thee glad tidings of a
Word from Him. His name will be Jesus Christ, the son of Mary, held in
honor in this world and the Hereafter and in (the company of) those
nearest to God.”

Kutipan tadi sengaja tidak saya terjemahkan karena memberikan kesan
lebih mendalam dalam bahasa Inggris. Membaca kutipan dalam bahasa
Inggris ini memang kita cenderung ingin mencarinya ke dalam Injil .
Tetapi, sang penulis menyarankan untuk tidak mencarinya di Injil,
melainkan di Qur’an Bab 3 ayat 45 (saya terjemahkan dari ‘verse 45 of
chapter 3 of the Koran’).

Menerjemahkan kutipan tadi akan berbeda bila penerjemah bahasa
Indonesia mengetahui isi Qur’an, paling sedikit ada dua nama yang akan
memiliki terjemahan beda kata yakni Isa dan Maryam.

Inti dari tulisan Hooper buat saya lebih terletak pada kekuatan
mempersatukan yang sebenarnya hadir dalam diri Yesus (Isa), pesan-
pesan cinta, perdamaian, dan pengampunan yang diajarkan Yesus (Isa)
diterima oleh penganut agama Kristen maupun Islam.

Bukan hanya satu kutipan Qur’an yang diberikan Hooper dalam
artikelnya, sehingga tulisannya menjadikan saya yang non Muslim juga
bisa mengetahui lebih dalam betapa Yesus yang dibicarakan adalah juga
anak yang dibicarakan Maryam ketika berkata “Bagaimana saya bisa
mempunyai anak lelaki ketika saya belum pernah disentuh oleh lelaki
manapun?” (terjemahan bebas dari Qur’an 3:47).

Memang ada juga kutipan yang dalam agama Kristen Katolik tidak
tercatat dalam Injil yang diakui oleh Gereja Katolik, yaitu bahwa
Yesus bisa berbicara dari dalam palungan dan menyembuhkan orang sakit.
Tetapi perbedaan pandang yang ada memang tidak perlu diperdebatkan
lagi, lebih berguna untuk melihat akar yang sama yang kemudian
terpecah dan tampaknya semakin membentangkan jurang yang dalam.

Sebuah artikel opini lain muncul di harian yang sama yakni “Can
Muslims say ‘Merry Christmas’?” (Bolehkah umat Islam mengucapkan
“Selamat Natal?”). Tulisan Mahmudi Asyari yang doktor dari IAIN Syarif
Hidayatullah dan Muizzudin yang pengajar di Universitas Indonesia ini
membahas masalah fatwa yang melarang umat Islam mengucapkan selamat merayakan Natal kepada orang yang merayakannya.

Salah satu kutipan yang diangkat oleh kedua penulis ini juga berasal
dari Qur’an (Mary Chapter verses 33-34) Sepertinya yang dimaksudkan
oleh penulis adalah surat Maryam, sebuah bagian dari Islam yang baru
saya ketahui setelah membaca novel Ayat-ayat Cinta. Artikel opini ini
menelaah lebih mendalam dasar-dasar yang digunakan untuk melarang
pengucapan Selamat Natal kepada rekan yang merayakannya. Interpretasi
dari yang mengeluarkan larangan tersebut adalah bahwa ucapan itu
berarti mengakui kehadiran Yesus sebagai Tuhan, dan juga pencampuran
ajaran suatu agama dengan agama lain yang mengarahkan pada perpindahan agama.

Menurut kedua penulis ini bila seorang Muslim memandang semua aspek
secara komprehensif maka seharusnya mengucapkan “Selamat Natal” bisa
dianggap sama dengan merayakan ulang tahun Nabi atau Rasul yang diakui
oleh Islam.

Banyak pandangan yang memisahkan manusia. Seringkali orang tidak tahu
bahwa kaum Yahudi sampai saat ini masih menantikan kedatangan Sang
Penyelamat. Bagi mereka Yesus bukanlah Mesias yang mereka nantikan.
Atau bahwa saksi Yehovah tidak merayakan Natal karena mereka tidak
memperkenankan perayaan ulang tahun. Mungkin juga banyak yang tidak
tahu betapa miripnya kisah kelahiran Yesus dalam perspektif agama
Islam.

Sebenarnya makna terdalam dari Natal adalah kehadiran Yesus diantara
orang-orang yang terbuang. Bahkan tempat kelahiran yang pantas tidak
dimilikinya. Tidak ada tempat baginya di penginapan, maka peraduan
pertamanya adalah sebuah palungan. Kelahiran yang membuat Herodes
membunuh bayi-bayi tak berdosa yang baru lahir. Terlepas dari
perspektif agama yang berbeda, sebenarnya makna utamanya adalah ajakan untuk memperhatikan sesama, orang-orang yang tidak mendapatkan tempat, orang-orang yang tidak memperoleh keadilan, keamanan, dan rasa persaudaraan. Terkadang makna Natal buat yang merayakannya juga bergeser menjadi sekedar perayaan belaka, hura-hura yang melupakan makna terdalam dari kelahiran Yesus sendiri.

Menerima ucapan “Selamat Natal” bagi saya adalah tanda perhatian
seorang teman, juga peringatan akan apa yang telah saya perbuat bagi
sesama yang terpinggirkan. Bila saya salah mengirimkan ucapan Selamat
Natal (seperti kisah mas Yulius di http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=5454&post=1)
maka yang paling tepat sampaikanlah kesalahan itu dengan nada
bersahabat supaya saya tidak mengulanginya lagi, dan tidak melupakan
satu teman dalam perayaan Idul Fitri di tahun mendatang.

Selamat merayakan Hari Natal bagi teman-teman yang merayakan, dan
selamat menyongsong Tahun yang baru bagi semuanya. Semoga berkat Tuhan memberikan damai di bumi dan menguatkan setiap langkah kita ke
depannya. [ Retty N. Hakim]


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: