Saatnya HATI NURANI bicara


Moto Picek Kuping Budeg… by ratna ariani
December 30, 2008, 10:44 pm
Filed under: sosial masyarakat | Tags: , , ,

Moto picek, kuping budeg, pikiran peteng, weteng wareg...(Bahasa Jawa yang artinya: mata buta, telinga tuli, pikiran gelap, perut kenyang) Kalimat inilah yang paling sering saya dengar saat berkunjung ke desa-desa sekitar Ungaran Barat. Sambil menyeruput kopi hangat menjelang tengah malam, maklum kami harus menunggu kaum bapak selesai pengajian sebelum bersilaturahmi, kami ngobrol ringan sambil memperkenalkan diri. Dan begitulah kesan mereka terhadap para wakil rakyat yang sebelumnya mereka percayakan bisa membawa aspirasinya.  Sampun kesupen bu ! Sudah pada lupa dengan kami katanya.  Nyuwun pangapunten, kulo mboten saget kromo, lha sampun kintir dateng segoro 😀pc2200331

Pengalaman masa lalu membangun relasi sungguh sangat membawa arti di kelompok  akar rumput. Rupanya para caleg yang gambarnya terpampang sepanjang jalan tidak membawa arti sama sekali dibandingkan mereka yang tidak ada gambarnya di jalanan tapi pernah berjumpa satu-dua kali. Lha yang pernah jumpa saja belum tentu dipilih kembali, apalagi yang cuma melihat gambarnya di jalan ataupun di kaos T shirt yang dibagikan. Sungguh suatu pemborosan yang luar biasa. Apakah begitu mudahnya mendapatkan suara dengan hanya memasang baliho dan spanduk dimana-mana?

Kesempatan berjumpa para tokoh warga dan ulama seperti ini memberi pelajaran berharga bagi saya. Inilah pembelajaran politik yang sebenarnya. Para caleg harus bisa memposisikan dirinya, apakah mewakili pemerintah memahami latar belakang setiap keputusan politik. Memiliki kebiasaan mendengar dan mencoba memahami pola pandang mereka sambil membangun hubungan bukan hal mudah. Beberapa kali saya terpaksa menolak permintaan warga yang belum-belum sudah minta disediakan makan lengkap prasmanan dan uang transport.  Inilah hasil ‘pendidikan politik’ yang memanjakan rakyat dengan lembaran puluhan ribu. Bahkan seorang warga cerita bahwa di dusunnya kalau pasang bendera parpol “anu” dapat ongkos pasang Rp 35.000,- tetapi berhubung dusun tersebut punya aturan main tersendiri yaitu hanya memasang bendera dari parpol yang memiliki caleg berasal di dusunnya, maka hanya beberapa parpol bisa mengibarkan benderanya disana. Wow… sikap yang patut dihargai ! Komitmen warga melalui musyawarah desa ternyata menjadi aturan main yang disepakati semua warganya. Nah yang begini ini tidak bisa dengan mudah suaranya dibeli dengan uang.

Bertemu dengan para pemilih pemula pun membawa pembelajaran sendiri untuk saya. Mereka menjadi kritis dengan adanya teleisi dan internet, padahal tinggal di pelosok desa yang lumayan jauh dari kota semarang. Seorang anak muda yang baru juga akan mencontreng 2009 bertanya ” apa maksudnya UU BHP dan apa akibatnya untuk kami ini?”. Nah yang begini ini yang saya tunggu, kesadaran politik dibangun manakala ada kesadaran diri akan perannya ditengah masyarakat. Walhasil kita semua hidup dalam produk hukum dan produk politik, maka jangan salahkan rakyat kalau mereka tidak mau memilih orang yang tidak dikenal apalagi yang tidak pernah mau turun berjumpa dan berdialog dengan mereka. Bagaimana membangun hubungan jangka panjang kalau bertemu saja tidak mau? Gak heran yang terjadi ya itu tadi, para anggota dewan terhormat akhirnya menjadi  : moto picek, kuping budeg,  pikiran peteng lan weteng wareg…


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: