Saatnya HATI NURANI bicara


Perempuan Harus Diberdayakan Agar Mandiri by ratna ariani
January 14, 2009, 7:21 am
Filed under: pemberdayaan ekonomi, sosial masyarakat | Tags: , , , ,

Batik memang lagi trend saat ini, tapi dibalik lembaran-lembaran batik baik yang kualitas cetakan murah sampai yang mahal sekalipun, telah menyerap begitu banyak tenaga kerja khususnya perempuan. Menggalakkan sektor home industry, UMKM, setara dengan usaha melibatkan perempuan untuk membangun kemandiriannya. Maka hancurnya industri ber nilai tambah seperti garmen, berakibat paling parah bagi kaum perempuan. Begitu banyak buruh perempuan dirumahkan dan akhirnya mereka kehilangan kesempatan untuk memperbaiki kualitas hidup keluarganya. Semoga setiap dari kita juga memiliki cita-cita yang sama, mengajak orang lain keluar dan bangkit dari ketergantungan dan menjadi mandiri. Sekecil apapun usaha kita, walau hanya satu-dua orang yang kita bantu, itu sangat berarti karena kita telah membantu 1-2 keluarga untuk mendapatkan kesempatan memperbaiki kehidupan mereka. (RA)

Media Indonesia Jumat, 09 Januari 2009 18:06 WIB

BANYUWANGI– MI: Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meuthia Hatta mengatakan kaum perempuan perlu diberdayakan agar bisa mandiri dan tidak terjebak dalam tindak prostitusi atau perdagangan manusia.

“Seperti di sanggar batik yang telah memperkerjakan sekitar 20 perempuan ini. Mereka dilatih membatik agar tidak terjerumus dalam jerat prostitusi,” katanya saat mengunjungi Sanggar Batik Sayu Wiwit yang berada di Jalan Sekardalu 22, Kelurahan Temenggungan, Kecamatan Kota Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (9/1).

Menurut putri Bung Hatta ini, perempuan di sekitar lokasi pembuatan batik juga perlu mendapatkan pelatihan ketrampilan membatik.Ia menilai, sebagian perempuan di provinsi Jatim banyak yang menjadi korban trafficking (perdagangan perempuan), karena berbagai sebab.

“Ada yang karena dibohongi hendak dipekerjakan sebagai pelayan di restoran luar negeri, ternyata malah dijadikan wanita pemuas nafsu. Ada juga yang diduga terpaksa menjadi pelacur karena faktor ekonomi,” katanya.

Ia mengatakan bahwa kaum perempuan yang bekerja di sektor batik ini akan diikutkan program peningkatan produktivitas ekonomi perempuan dari Kantor Meneg Pemberdayaan Perempuan.

Menurutnya, bantuan untuk pekerja batik tepat sasaran, karena mereka sudah mendapatkan pelatihan membatik dari sanggar batik yang ada di wilayah setempat.

Diharapkan adanya program tersebut, membuat kaum perempuan menjadi lebih mandiri dan mampu berkarya, sehingga tidak ada keinginan menjadi PSK atau menjadi korban pedagangan manusia.

Sementara itu, Soedjojo Dulhadji, pemilik Sanggar Batik Sayu Wiwit mengatakan, setiap tahun banyak siswa SMK di Banyuwangi yang mengikuti pelatihan membatik di sanggarnya.

“Kalau seorang pelajar bisa membatik, kemudian mau mengajarkan ilmunya kepada warga sekitar rumahnya, maka sudah berapa warga masyarakat yang akhirnya bisa membatik. Regenerasi pembatik perlu diajarkan pada anak muda dan maupun wanita-wanita janda,” katanya.

Mengenai regenerasi pembatik, Meuthia sangat setuju. “Biar motif batik Gajah Oling Banyuwangi tidak hilang begitu saja, maka perlu proses regenarasi pada anak muda dengan memberikan pelatihan membatik secara rutin,” ujarnya.

Kegiatan promosi batik Gajah Oling Banyuwangi, menurut Muethia yang alumnus Antopologi Universitas Idonesia itu dinilai kurang maksimal. “Saya baru tahu kalau ada batik Banyuwangi bermotif Gajah Oling,” katanya sambil melihat contoh kain batik milik Sayu Wiwit.

Menurut Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari, pelestari batik motif Gajah Oling di Banyuwangi yang masih bertahan, yakni Sanggar Batik Sayu Wiwit, Sritanjung, perjain batik senior Pak Kardi, dan Fordes.

“Sebagian besar pekerja batik di empat perajin besar itu adalah kaum perempuan. Saya berharap program dari Ibu Muethia dapat mengangkatkan kemandirian perempuan
Banyuwangi,” kata Bupati.

Bantuan yang sudah diberikan bagi perajin batik, antara lain mesin setempel, bahan pencunci warna, dan pemeras kain senilai Rp150 juta. Kegiatan promosi sering dilakukan dalam kegiatan pameran batik di tingkat regional dan nasional. (Ant/OL-01)


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: