Saatnya HATI NURANI bicara


Malu-malu Tapi Mau : Hanya Mau Seusai Jam Sekolah by ratna ariani
January 25, 2009, 10:35 am
Filed under: keluarga, sosial masyarakat | Tags: , ,

Semua awalnya adalah dari keterbatasan ekonomi tetapi karena godaan yang datang dari media, mereka yang sebenarnya bisa hidup cukuppun menjadi segalanya tidak cukup dan ingin lebih. Ingin bisa mendapatkan materi seperti yang ada di dalam sinetron , dan terlihat di mall-mall dan media agar diterima didalam ‘peer group’nya. Ironis sekali di jaman kita ingin membangun generasi muda yang tangguh, sebagian perempuan muda memilih menjajakan tubuhnya demi sedikit kenikmatan materi. Bukan salah anak-anak remaja ini, juga bukan salah si pembeli ‘jasa’  serta sang germo. Tapi tugas terberat kita sebagai orang tua lah menanamkan apa yang penting dan tidak penting bagi anak-anak kita agar mereka menjadi manusia dewasa yang bertanggungjawab pada kehidupannya sendiri. Mandiri untuk berkata tidak dengan segala tawaran dan godaan yang datang termasuk dari teman-teman dan media cetak, TV dan internet (RA)

SUARA PEMBARUAN DAILY — Rumah bercat krem di kawasan Puspowarno, Semarang Barat, itu tampak biasa saja. Tak ada yang istimewa dibanding rumah-rumah lain di sekitarnya. Sederhana. Si empunya rumah seorang wanita berumur sekitar 35 tahun. Ia tinggal hanya bersama suaminya yang tak punya pekerjaan tetap. Menikah hampir sepuluh tahun, Ani, wanita asal Semarang yang minta nama aslinya dirahasiakan, belum juga dikaruniai momongan.

Namun, tiada anak bukan berarti rumah sepi. Hampir setiap hari, rumah Ani selalu didatangi ABG alias anak baru gede. Sebagian dari mereka ini masih sekolah. Sebagian lain pengangguran, karena tak meneruskan ke perguruan tinggi atau bekerja.

Sejumlah ABG tadi, ternyata anak asuh Ani. Ani yang berparas lumayan itu rupanya bukan ibu rumah tangga biasa. Sudah hampir enam tahun terakhir ia mempunyai pekerjaan sampingan yang menghasilkan fulus lumayan. Perempuan bertubuh padat itu adalah seorang germo. Anak asuhnya berusia belasan tahun termasuk yang masih duduk di bangku SMP.
”Mau yang model apa saja, saya punya, Mas. Yang Jawa atau keturunan Tionghoa. Dijamin pasti puas,” ujar Ani.

Bagi sebagian kalangan penikmat dunia remang-remang, namanya lumayan dikenal. Relasinya cukup luas. Bahkan, dia juga menjalin hubungan baik dengan beberapa oknum aparat keamanan. Hubungan itu, kata Ani, terjalin saat bisnisnya terendus aparat. Ani tak sampai masuk bui. “Urusan dengan aparat langsung beres karena tahu sama tahu,” katanya.
Berapa jumlah “anak asuh” Ani? Ternyata ia tak bisa menjawab pasti. Pasalnya, para ABG tadi adalah pemain bebas. Artinya, bila butuh uang, maka mereka tinggal datang ke rumahnya atau menghubungi via telepon. “Mereka yang masih sekolah hanya mau di-booking setelah jam sekolah. Selebihnya bisa siap setiap saat dibutuhkan,” tambah Ani.

Untuk pria hidung belang yang memakai jasa anak asuhnya, Ani memasang tarif Rp 300.000 -Rp 500.000 untuk short time atau sekitar 4-5 jam. Harga itu termasuk servis jasa antar jemput bagi anak asuhnya dari dan ke tempat check in. Pelanggan bisa melihat “pesanan” karena Ani mengirim sampai tiga anak asuhnya untuk dipilih. ”Kalau cocok dengan yang satu, yang dua bisa pulang, tapi harus kasih uang bensin,” ujar perempuan yang mengaku mendapat Rp 100.000 hingga Rp 200.000 untuk seorang anak asuh yang di-booking.

Ekonomi

Sejumlah anak perempuan yang belum genap 17 tahun itu rata-rata berasal dari keluarga tak mampu.”Ada juga sih anak pegawai negeri. Umumnya, mereka mau seperti beginian karena sudah punya pengalaman seks dengan pacar, bahkan ada yang sempat hamil dan punya anak,” tambah Ani.

Seperti Citra (15), pelajar sebuah SMP swasta di Semarang, mengaku, menjalani profesi gadis panggilan sejak setahun terakhir. Alasannya sepele. Ia butuh uang untuk membeli baju, ponsel, atau jalan-jalan ke mal. Ayahnya seorang sopir di sebuah perusahaan swasta dan sang ibu tak bekerja sehingga, kata Citra, tak mampu memenuhi uang jajannya.

Belia berambut sebahu ini menceburkan diri ke jurang maksiat setelah tahu dari seorang temannya yang lebih dulu menjalani profesi serupa. ”Awalnya takut ketahuan orangtua, tapi lama-lama biasa,” ujarnya.
Dari temannya itu pula, ia dikenalkan kepada Ani. Dalam seminggu, Citra mengaku bisa mendapat dua sampai tiga tamu. [142]


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: