Saatnya HATI NURANI bicara


Tionghoa, Dulu dan Sekarang Tionghoa Bersambut, Bagaimana Yin Ni Hua Ren? by ratna ariani
January 29, 2009, 4:18 am
Filed under: sosial masyarakat

Menarik mencermati tulisan pak Dahlan Iskan, yang akibat pengalaman pribadinya justru bisa memberi ruang dan tempat bagi komunitas tionghoa untuk merasa nyaman dengan sebutannya. Saya menarik garis bawah tentang peran penting media dalam pembelajaran edukasi masyarakat khususnya tentang penerimaan kelompok minoritas. Secara cerdik Jawa Pos berani melakukan terobosan dengan memulai mensosialisasikan sebutan Tionghoa daripada menggunakan ‘keturunan cina’ kepada kelompok ini. Hal yang semula dipandang sepele, menjadi tidak sepele lagi manakala dilakukan dengan konsisten dan akhirnya memberi dampak multiplikasi yang luas setelah 8 tahun kemudian. Proficiat untuk Jawa Pos ! Gong Xi Fat Coi.

Catatan: Dahlan Iskan Zaman berubah. Bahkan, setelah kejatuhan Orde Baru, perubahan itu begitu drastisnya, sehingga terasa terlalu tiba-tiba. Belum pernah orang Tionghoa mendapat posisi sosial-politik sehebat sekarang. Sampai akhir Orde Baru pun, kita tidak akan menyangka bahwa kita bisa berubah sedemikian hebat.

Memang terlalu banyak orang Tionghoa yang jadi “tumbal” untuk perubahan itu. Yakni, mereka yang menjadi korban peristiwa Mei 1998 di Jakarta yang jadi awal “zaman baru” bagi Tionghoa Indonesia itu.

Tapi, juga terlalu banyak untuk disebutkan jasa pejuang demokrasi seperti Amien Rais, Gus Dur, dan seterusnya, yang meski secara khusus perjuangan dan pengorbanan mereka tidak dimaksudkan untuk membela golongan Tionghoa, tapi hasil perjuangan itu secara otomatis ikut mengangkat posisi sosial-politik masyarakat Tionghoa menjadi sejajar dengan suku apa pun di Indonesia.

Kini, pada zaman baru ini, penggolongan lama “totok, peranakan dan Hollands spreken” sama sekali tidak relevan lagi. Bukan saja tidak relevan, bahkan memang sudah hilang dengan sendirinya. “Kawin-mawin” antar tiga golongan itu sudah tidak ada masalah sama sekali. Status sosial tiga golongan tersebut juga sudah tidak bisa dibedakan. Jenis pekerjaan dan profesi di antara mereka juga sudah campur-baur. Membedakan berdasar di mana sekolah anak-anak mereka juga sudah tidak berlaku.

Berkat demokrasi, pembedaan berdasar apa pun tidak relevan lagi. Bahkan, pembedaan model lama antara hua ren dan penti ren tidak boleh lagi. Tapi, bukan berarti tidak ada masalah. Misalnya, dalam zaman baru ini, bagaimana harus mengidentifikasikan dan menyebut hua ren? Saya pernah menghadiri satu seminar yang diadakan INTI di Jakarta. Dalam forum itu, antara lain, disinggung soal bagaimana harus menyebut orang Tionghoa di Indonesia dalam bahasa Mandarin. Kalau panggilan nonpribumi sudah tidak relevan dan seperti kelihatan antidemokrasi, lantas kata apa yang bisa dipakai untuk menyebutnya dalam bahasa Mandarin? Dalam bahasa Indonesia, semua sudah seperti sepakat bahwa sebutan Tionghoa adalah yang paling menyenangkan. Tionghoa sudah berarti “orang dari ras cina yang memilih tinggal dan menjadi warga negara Indonesia”. Kata Tionghoa sudah sangat enak bagi suku cina tanpa terasa ada nada, persepsi, dan stigma mencina-cinakan. Kata Tionghoa sudah sangat pas untuk pengganti sebutan “nonpri” atau “cina”.

Saya sebagai “juawa ren” (meski xian zai wo de xin shi hua ren de xin) semula agak sulit memberi penjelasan kepada pembaca mengapa menyebut “cina” tidak baik? Apa salahnya? Luar biasa banyaknya pertanyaan seperti itu. Terutama sejak Jawa Pos Group selalu menulis Tionghoa untuk mengganti kata nonpri atau cina. Jawa Pos memang menjadi koran pertama di Indonesia yang secara sadar mengambil kebijaksanaan tersebut. Memang ada yang mencela dan mencibir bahwa Jawa Pos tidak ilmiah. Juga tidak mendasarkan kebijakan itu pada kenyataan yang hidup di masyarakat, yakni bahwa semua orang sudah terbiasa menyebut kata “cina”. Mengapa harus diubah-ubah? Saya tidak bisa menjawab dengan alasan bahwa kata cina itu terasa “menyudutkan’ ‘ dan “menghinakan’ ‘. Mereka akan selalu bilang bahwa “kami tidak merasa seperti itu”. Atau, mereka akan mengatakan “Ah, itu mengada-ada’ ‘. Bahkan, ada yang bilang, “Kok kita tidak ada yang tahu ya bahwa sebutan cina itu melecehkan” . Memang, kenyataannya sebenarnya seperti itu. Tapi, juga tidak mengada-ada bahwa golongan Tionghoa merasa seperti itu.

Setidaknya sebagian di antara mereka yang lama-lama menjadi mayoritas di antara mereka. Yakni, sejak awal Orde Baru, sejak ada desain dari penguasa waktu itu bahwa penyebutan kata “cina” bukan lagi untuk identifikasi ras saja, tapi juga untuk “menyudutkan’ ‘ ras tersebut. Yakni, untuk “mencina-cinakan’ ‘ mereka dalam konotasi yang semuanya jelek. Tentu, tidak semua orang Tionghoa tahu itu. Bahkan, banyak orang Tionghoa yang mengatakan ketika dipanggil “cina” juga tidak merasa apa-apa. Lebih dari itu, kata Tionghoa berasal dari bahasa daerah di Provinsi Fujian-Guangdong dan sekitarnya. Lalu, bagaimana dengan orang “cina” yang dulunya berasal dari luar wilayah itu?

Tapi, adanya latar belakang pencina-cinaan itulah akhirnya yang membuat umumnya orang Tionghoa dari mana pun asal-usulnya dulu ikut tahu dan merasakan penyudutan tersebut. Lalu, bagaimana saya bisa menjelaskan kepada pembaca koran Jawa Pos Group agar bisa menerima istilah Tionghoa sebagai pengganti “cina”? Terutama bagaimana saya bisa meyakinkan para redaktur dan wartawan di semua koran Jawa Pos Group (tentu tidak mudah karena kami memiliki sekitar 100 koran di seluruh Indonesia) yang semula juga sulit diajak mengerti? Untuk ini, saya harus mengucapkan terima kasih kepada pemimpin INTI, khususnya Eddy Lembong yang sangat cerdas itu. Entah bagaimana, Eddy Lembong bisa menemukan adanya salah satu ayat dalam ajaran Islam yang kalau diterjemahkan artinya begini: “Panggillah seseorang itu dengan panggilan yang mereka sendiri senang mendengarnya’ ‘. Ini dia. Saya dapat kuncinya. Saya dapat magasin berikut pelurunya. Maka, saya pun menjelaskan bahwa tidak ada orang “cina” yang tidak suka kalau dipanggil Tionghoa.

Sebaliknya, banyak orang Tionghoa yang tidak senang kalau dipanggil “cina”. Dengan logika itu, apa salahnya kita menuruti ayat dalam ajaran Islam tersebut dengan memberikan panggilan yang menyenangkan bagi yang dipanggil? Mengapa kita harus memanggil “si gendut” untuk orang gemuk atau “si botak” terhadap orang yang tidak berambut, meski kenyataannya demikian? Atau, kita memanggil dengan “si kerbau” meski dia memang terbukti bodoh? Kini, setelah lebih dari delapan tahun Jawa Pos Group menggunakan istilah Tionghoa, rasanya sudah lebih biasa. Juga lebih diterima. Yang masih sulit adalah justru bagaimana orang Tionghoa Indonesia sendiri menyebut dirinya dalam bahasa Mandarin? Apakah masih “women zhong guo ren”? Atau “hua ren”? Atau “Yin Ni Hua Ren”? Lalu, bagaimana orang Tionghoa menyebut Tiongkok dalam pengertian RRC? Masihkah harus menyebutnya dengan “guo nei”? (*)


1 Comment so far
Leave a comment

thin but sweet.

Comment by kopi cina




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: