Saatnya HATI NURANI bicara


Media: Best (bukan Bad) news is good news by ratna ariani
March 2, 2009, 12:42 pm
Filed under: sosial masyarakat, Uncategorized | Tags: , ,

Media merupakan cerminan apa yang menjadi nilai-nilai yang dipahami dan hidup atau dihidupkan ditengah masyarakat.

Apa yang ditayangkan di satu media dalam satu komunitas dapat dipahami sebagai kultur budaya bangsa tersebut. Hal ini bisa kita lihat di pertelevisian di negara-negara lain. Negara bisa mengatur apa yang ada dan boleh ditayangkan dalam media sebagai sarana pencerdasan bangsa dan juga penanaman nilai-nilai suatu bangsa.

Sayangnya media televisi, cetak dan elektronik di Indonesia belum sampai pada misi mulia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Nilai-nilai luhur belum tampak pada apa yang ditulis dan disampaikan media. Apa yang disajikan di saat ‘prime time’ sungguh jauh panggang dari api. Semua pada dasarnya berakhir pada muara iklan, apapun yang mendatangkan uang terbanyak lah yang dipilih. Bad news is good news : itulah yang menjadi bahasa bisnis media.

Sudah saatnya kita memberi perhatian khusus agar media memiliki paradigma ” Best news is good news” agar setiap media berlomba menyajikan yang terbaik serta menanamkan nilai-nilai luhur bagi bangsa Indonesia khususnya bagi anak-anak dan generasi muda yang orang tuanya bernama “televisi dan internet”. Ini semua tergantung keseriusan lembaga terkait termasuk para pimpinan media dan juga kelompok masyarakat yang ingin memberikan perhatian khusus bagi media.

Berikut hanyalah contoh bagaimana nilai poligami akan ditanamkan melalui media pada anak-anak dan generasi muda. Masih kah kita berdiam diri? Tanpa perlu melarang, kita pun bisa bertindak dengan memboikot tidak membeli CD nya dan menonton tayangan televisi yang bertentangan dengan undang-undang bahkan bertentangan dengan nilai moral bangsa.

Diskriminasi terhadap perempuan Musisi Ahmad Dani Suarakan Poligami

Suara Pembaruan [JAKARTA] Koordinator Divisi Perubahan Hukum Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) Umi Farida mengecam musisi Ahmad Dhani yang akan segera merilis lagu Madu 3.

Selain lagu tersebut dianggap mengkampanyekan perilaku poligami, juga secara tidak langsung berpotensi melanggar Pasal 3, 4 dan 5 Undang-Undang No1 tahun 1974 Tentang Perkawinan (UU Perkawinan).

“Lagu tersebut sarat dengan diskriminasi dan kekerasan. Menyuarakan perselingkuhan dan poligami. Memangnya dia tidak menganggap peraturan dan kasus-kasus yang terjadi di Indonesia, ya?,” ucap Umi kepada SP, di Jakarta, Jumat (27/02).

Pasal-pasal yang dilanggar dalam UU Perkawinan, di antaranya Pasal 3 Ayat (1) yang menentukan, seorang pria hanya boleh memiliki seorang istri dan sebaliknya.

Kemudian Pasal 4 dan 5 yang menyatakan bahwa seorang suami hanya boleh memiliki istri lebih dari satu orang dengan syarat dan ketentuan tertentu. “Lha lagunya Dhani kan bukan atas alasan itu, tapi untuk hepi-hepi, ini namanya kampanye untuk berpoligami, ” tukasnya.

Karena itu, dia berharap Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta Swasono yang berwenang terhadap kasus semacam ini turut mengambil tindakan.

Selain itu pun Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia dapat turut mendukung penolakan beredarnya lagu Ahmad Dhani, yang belum lama ini meluncurkan album “Republik Cinta”.

Umi mengutip lirik dalam lagu tersebut yang berbunyi “Mesti pandai pembohong, Mesti pandai temberang” pun tak urung adalah sebuah contoh pelajaran buruk yang disuarakan oleh Dhani.

“Padahal angka kekerasan dan kejahatan dalam perkawinan sejak 2007 hingga 2008 meningkat tajam hingga 500 persen. Yang mengadu ke LBH kami saja untuk kasus perselingkuhan sebanyak 51 kasus dan poligami sebanyak 36 kasus. Ini baru yang berani melapor.Nah yang belum, kan banyak sekali,” tuturnya.

Dia pun mempertanyakan sikap Dhani yang terkesan menggulirkan kampanye yang provokatif melalui lagu itu dengan memicu orang untuk berpoligami.

Menanggapi itu, penasihat hukum Ahmad Dhani, Syamsul Huda mengingatkan LSM APIK tidak sembarangan meminta larangan beredar lagu Madu 3. “Terlalu sempit orang menilai bahwa lagu ini tidak mendidik. Justru sebaliknya. Syair-syair lagu terebut memberikan pendidikan bahwa untuk beristri dua atau

tiga bukanlah hal yang mudah. Lagu ini mengingatkan bahwa tidak semua yang dipikirkan orang mudah, hasilnya akan mudah pula,” katanya.

Menurut dia, pernyataan yang menyerukan agar lagu tersebut dilarang beredara merupakan perbuatan yang gegabah dan melanggar hak asasi seseorang. [DDS/M-7]


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: