Saatnya HATI NURANI bicara


Home Sweet Home by ratna ariani
February 4, 2009, 5:19 am
Filed under: keluarga | Tags: , , ,

kunjungan-rutin-yka-di-salah-satu-panti-laras-di-jakartaDalam setiap kunjungan yang dilakukan ke berbagai panti laras milik Pemda DKI, panti penampungan para penderita stress, banyak sekali dijumpai warga binaan yang berulang kali keluar masuk panti. Kalau di berbagai Persekutuan Doa selalu ada ujub doa agar minggu depan Tuhan mengirimkan lebih banyak orang datang untuk bersekutu bersama. Maka kami mendoakan yang sebaliknya, agar warga binaan di panti laras berkurang terus. Dalam doa kami selalu berharap bahwa mereka sembuh dan dapat meninggalkan panti laras untuk kembali berkumpul dengan keluarganya. Tapi kenyataannya Tuhan menjawab doa sebaliknya karena jumlah warga binaan semakin hari semakin bertambah melebih kapasitas panti sehingga jatah makan perorang pun semakin mengecil. Jangan bicara soal gizi di panti kalau penghuni bertambah terus sementara anggaran pemda tidak berubah dari tahun ke tahun. Krisis ekonomi dan berbagai tekanan membuat semakin banyak orang tidak tahan dan menderita stress berkepanjangan. Para warga binaan ini rata-rata pernah terlibat dalam berbagai cara usaha untuk membunuh dirinya sendiri karena sudah putus harapan. Ada juga yang bisa sembuh tetapi dari yang sedikit ini hanya pulang sebentar dan beberapa waktu kemudian kembali lagi masuk panti. Bahkan mereka lebih merasa betah tinggal di panti laras daripada dirumahnya sendiri. Continue reading

Advertisements


Malu-malu Tapi Mau : Hanya Mau Seusai Jam Sekolah by ratna ariani
January 25, 2009, 10:35 am
Filed under: keluarga, sosial masyarakat | Tags: , ,

Semua awalnya adalah dari keterbatasan ekonomi tetapi karena godaan yang datang dari media, mereka yang sebenarnya bisa hidup cukuppun menjadi segalanya tidak cukup dan ingin lebih. Ingin bisa mendapatkan materi seperti yang ada di dalam sinetron , dan terlihat di mall-mall dan media agar diterima didalam ‘peer group’nya. Ironis sekali di jaman kita ingin membangun generasi muda yang tangguh, sebagian perempuan muda memilih menjajakan tubuhnya demi sedikit kenikmatan materi. Bukan salah anak-anak remaja ini, juga bukan salah si pembeli ‘jasa’  serta sang germo. Tapi tugas terberat kita sebagai orang tua lah menanamkan apa yang penting dan tidak penting bagi anak-anak kita agar mereka menjadi manusia dewasa yang bertanggungjawab pada kehidupannya sendiri. Mandiri untuk berkata tidak dengan segala tawaran dan godaan yang datang termasuk dari teman-teman dan media cetak, TV dan internet (RA)

SUARA PEMBARUAN DAILY — Rumah bercat krem di kawasan Puspowarno, Semarang Barat, itu tampak biasa saja. Tak ada yang istimewa dibanding rumah-rumah lain di sekitarnya. Sederhana. Si empunya rumah seorang wanita berumur sekitar 35 tahun. Ia tinggal hanya bersama suaminya yang tak punya pekerjaan tetap. Menikah hampir sepuluh tahun, Ani, wanita asal Semarang yang minta nama aslinya dirahasiakan, belum juga dikaruniai momongan.

Namun, tiada anak bukan berarti rumah sepi. Hampir setiap hari, rumah Ani selalu didatangi ABG alias anak baru gede. Sebagian dari mereka ini masih sekolah. Sebagian lain pengangguran, karena tak meneruskan ke perguruan tinggi atau bekerja.

Sejumlah ABG tadi, ternyata anak asuh Ani. Ani yang berparas lumayan itu rupanya bukan ibu rumah tangga biasa. Sudah hampir enam tahun terakhir ia mempunyai pekerjaan sampingan yang menghasilkan fulus lumayan. Perempuan bertubuh padat itu adalah seorang germo. Anak asuhnya berusia belasan tahun termasuk yang masih duduk di bangku SMP. Continue reading



PEREMPUAN YG DICINTAI SUAMIKU by ratna ariani
January 23, 2009, 6:59 am
Filed under: keluarga | Tags: , , ,

Cinta adalah suatu misteri. Saya bagikan kisah yang saya dapat via email, benar tidaknya walahualam, karena penulisnya unknown. Moral of the story : Kita tentu kecewa saat menyadari bahwa cinta yang kita harapkan ternyata jauh dari kenyataan. Marilah kita lebih mengasihi daripada minta dikasihi dan dicintai sesering mungkin, tanpa menunggu semua menjadi terlambat. (RA)

Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.

Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.

Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang.

Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu. Continue reading



Sahabat Wanita by ratna ariani
December 14, 2008, 8:31 am
Filed under: artikel, keluarga | Tags: , , ,
10092008005Saya menerima email tentang pentingnya memiliki sahabat wanita bagi setiap perempuan. Saya bersyukur dikelilingi banyak sahabat wanita yang saya jumpai sejak masa kecil, saat sekolah dan kuliah bahkan sampai menikah dan bekerja; yang sampai sekarang masih menjalin hubungan lewat berbagai cara. Bapak Ibu sudah tidak ada, tx God for sending them around me, kita menangis dan tertawa sampai tumbuh besar dan menjadi tua bersama-sama. I praise Lord for the friendship ! (RA)
Pada suatu hari, seorang wanita muda yang baru saja menikah mengunjungi ibunya. Mereka duduk di sebuah sofa dan menikmati segelas air teh dingin.
Ketika mereka sedang berbincang-bincang mengenai kehidupan, pernikahan, tanggung jawab dalam hidup serta kewajiban, sang ibu dengan perlahan menaruh sebongkah es batu ke dalam gelasnya dan menatap wajah anak perempuannya.

“Jangan lupakan sahabat-sahabat wanitamu.” nasihatnya, sambil mengaduk-ngaduk daun teh di bawah gelasnya.

“Mereka akan menjadi orang yang penting bagimu ketika usiamu makin tua. Tidak peduli seberapa dalam kau mencintai suamimu, seberapa banyak anak-anak yang kau miliki, kau masih tetap harus memiliki sahabat wanita. Ingatlah untuk berjalan-jalan bersama mereka, melakukan hal bersama-sama dengan mereka. Dan ingat bahwa mereka bukan hanya sekedar sahabat wanitamu, tetapi mereka akan menjadi saudara, anak dan yang lainnya. Kau akan membutuhkan sosok wanita yang lain. Wanita selalu begitu.” Continue reading


Indonesia Bebas Asap (Rokok) by ratna ariani
December 3, 2008, 7:01 am
Filed under: keluarga, sosial masyarakat | Tags: , , , ,

Untuk membangun dan memelihara keluarga Indonesia yang sejahtera, perlu diciptakan lingkungan yang sehat. Saya setuju sekali dengan gerakan “Stop Merokok” daripada “Kurangi Merokok”. RUU pengendalian dampak tembakau gagal masuk agenda DPR karena banyak anggota DPR perokok, apalagi di DPRD tidak banyak yang berani menerbitkan PERDA anti rokok. Kalaupun ada pelaksanaannya tumpul seperti di Jakarta. Baru sekali diadakan razia terhadap perokok, itupun di sekitar terminal Blok M, bukan di gedung DPR. Mereka kemungkinan besar juga tidak mau meneliti kebenaran data2 yg disampaikan para pengusaha rokok. Lha kalau rapat aja bolos melulu, apalagi baca report dan cek data ke lapangan? Daripada menunggu DPR yang gak jelas, lebih baik mulai dari diri sendiri dan dari para pemimpin. Start from within, start from the top.

Untuk itu ada beberapa hal yang bisa kita lakukan:

1) mulailah dengan diri sendiri untuk TIDAK merokok, yang sudah keburu mulai mbok jangan diteruskan. Termasuk saya lihat (maaf) para pemuka agama banyak yang doyan rokok. Maaf, uang rokoknya juga dari umat tha ya? Kalau pada sakit akibat jadi perokok berat, yang ngurusin juga umat. Lebih baik dana yang ada dipakai untuk membantu karya sosial yang lain.
Ehm, tapi kalau masih ada pemuka agama yang ingin merokok, monggo saja asal di kamar sendiri barangkali ya? Tentunya perlu jadi teladan bagi umat terlebih dulu sebelum meminta orang lain untuk berhenti merokok.

2) Berikan ruang terbatas bagi yang merokok. Kalau bisa waktu yang terbatas.
Di Jakarta setiap gedung wajib menyediakan ruang bagi perokok. Biasanya lantai paling bawah, atau malah di lobby luar. Sehingga bagi perokok yang tinggal di lantai atas malas juga sering2 harus turun ke lantai bawah untuk merokok karena pasti pekerjaan terbengkalai. Halaman tempat ibadahpun harus steril rokok, tidak tergantung jam dan hari ibadah. Dirumah anda bisa jadi daerah bebas rokok, kecuali dekat bak sampah atau pintu pagar (kalau tega).

3) kumpulkan jatah rokok anda harian dan anda akan kaget bahwa jumlahnya cukup banyak untuk bisa membantu yang lain. Di saat sosialisasi CU (Credit Union), pos inilah yang paling terasa bisa menambah jatah tabungan selain pemakaian pulsa yang dirasa tidak perlu. Continue reading



Kematian Ibu adalah Kemunduran Bangsa by ratna ariani
December 1, 2008, 12:11 am
Filed under: keluarga, sosial masyarakat | Tags: , , , ,

Ibu melahirkan kita sambil menangis kesakitan. Masihkah kita menyakitkan-nya?
Masih mampukah kita tertawa melihat penderitaan-nya?
Mencaci maki-nya?
Melawan-nya?
Memukul-nya?
Mengacuhkan-nya?
Meninggalkan-nya?
Ibu tidak pernah mengeluh membersihkan kotoran kita waktu masih kecil,
Memberika n ASI waktu kita bayi,
Mencuci celana kotor kita,
Menahan derita,
Menggendong kita sendirian.

SADARILAH bahwa di Dunia ini ga da 1 orang pun yang mau mati demi IBU, tetapi…
Beliau justru satu-satunya orang yang bersedia mati untuk melahirkan kita…
Kirimkan ke 10 orang agar IBU KITA PANJANG UMUR

Mungkin anda mendapat kiriman di atas baik di email, FS, FB dsb. Terkesan sederhana, tapi dalam maknanya bila kita sadar betapa banyaknya ibu-ibu di pedalaman Indonesia (terpaksa) mati karena minimnya sarana dan prasarana. Sudah miskin, mati pula. Lalu siapa yang akan mengurus anak-anaknya yang lain? Maka marilah kita saling mengupayakan apa yang terbaik di lingkungan sekitar kita, agar kehidupan dipelihara dengan layak sehingga bangsa ini bisa melahirkan generasi yang sehat, berbudaya dan berprestasi.[RA]

Sulitnya Mengatasi Kematian Ibu-Anak[KOMPAS] – Yurnaldi

Panas sungguh terik di Kampung Sereh, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Sabtu (22/11) siang. Sejumlah anak menangis dalam gendongan ibunya. Gerah, barangkali. Mungkin juga lapar. Sebagian, tampak bermain sekedarnya di ruang sempit Posyandu Ottauw, Kampung Sereh.

Ketika pejabat datang, seusai pencanangan Revitalisasi Posyandu dan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K), anak batita (bawah tiga tahun) dan balita (bawah lima tahun) ditimbang gantung. Sebagian anak memberontak, menangis.

Ada sejumlah anak batita dan balita menderita penyakit kulit serta gizi kurang. Namun, hari itu bukan untuk mendata penyakit tersebut, kecuali untuk menunjukkan aktivitas Posyandu yang dilengkapi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Yoas, seorang ibu (22) berharap bagaimana agar kesehatan anak-anaknya dan juga dirinya bisa lebih diperhatikan. “Selama ini pelayanan kesehatan hanya dilakukan oleh kader Posyandu,” ujar ibu itu. Harapan ibu Yoas, dan juga ibu-ibu lainnya di Jayapura, sama halnya dengan tekad Provinsi Papua, yang mencanangkan Menuju Papua Baru; Ibu Sehat Anak Sehat. Continue reading



Kekerasan Dalam Pacaran by ratna ariani
November 28, 2008, 10:54 pm
Filed under: keluarga, sosial masyarakat | Tags: , , , , , ,

Tulisan ini sumbangan mbak Dinda, relawan dari PKT, yang peduli pada perempuan korban kekerasan dalam rumah tanggan (KDRT). Hampir seluruh kasus KDRT dilakukan oleh orang-orang terdekat yaitu pasangan sendiri. Sebenarnya perempuan bisa saja mengambil tindakan preventif kalau saja mau mengenali tanda-tandanya sebelum menjadi korban KDRT [RA]

Jatuh cinta berjuta rasanya. Itulah pepatah yang mungkin juga ada benarnya. Sampai-sampai meskipun pacar kita melakukan kekerasan kepada kita seperti memukul, menampar, memaksa berhubungan seksual, bahkan meminjam uang tanpa pernah mengembalikan kita pasrah saja. Sekarang saatnya mengatakan tidak jika itu dilakukan oleh pacar kita. Baru pacaran aja sudah berani melakukan kekerasan, gimana kalau nikah nanti?

Ingatlah:
• Kekerasan terjadi bukan salah kamu
• Kamu tidak patut mendapat kekerasan
• Kamu tidak dapat mengubah perilaku kasar/perbuatan kekerasan seseorang
• Bertahan dengan kekerasan tidak akan menghentikan kekerasan
• Jika kamu tetap ingin bertahan, buatlah perencanaan yang membuat diri kamu aman dari kekerasan berikutnya

Kenalilah pacar kamu jika dia adalah pelaku kekerasan:

Tanda-tanda kalau pacar kamu adalah pelaku kekerasan:
– Dia sangat cemburu buta kepada kamu
– Ingin tahu keberadaan kamu setiap waktu
– Marah jika kamu menghabiskan waktu bersama keluarga atau teman
– Menyalahkan kamu dan orang lain atas kesalahan dirinya
– Memperlakukan kamu dengan penuh kekerasan

Apa yang harus kita tahu dari pelaku kekerasan? Continue reading