Saatnya HATI NURANI bicara


22 Maret: Hari Air Sedunia – Adakah Tersisa untuk Anak Cucu kita? by ratna ariani
March 23, 2009, 5:07 pm
Filed under: lingkungan hidup | Tags: , ,

Adalah suatu paradoks dimana semakin miskin seseorang, semakin mahal ia mendapatkan air. Dikota orang harus membayar mahal untuk mendapatkan air bersih bahkan untuk MCK. Dikampung yang mengalami kekeringan bisa terjadi pertikaian antar petani karena berebut air untuk irigasi. Sementara yang kaya menghamburkan air untuk mencuci mobil-mobilnya dan menyirami lapangan golf.

Saat ini kita menghadapi krisis air yang luar biasa, karena dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk dunia dan menurunnya kualitas lingkungan hidup maka semakin sulit mendapatkan air yang layak minum. Bahkan sumber-sumber air yang tinggal sedikitpun dimiliki oleh pemodal dan baru bisa dinikmati dalam kemasan gelas atau botol yang sudah ‘mahal’. Itupun sering terbuang percuma – lihat saja botol air mineral yang separuh terisi berserakan dimana-mana.

Beberapa tips yang bisa dilakukan dalam keluarga kita diantaranya:

  1. Gunakan air secukupnya, mandi dengan gayung lebih irit daripada shower. Habiskan air kemasan yang anda beli/terima. Buang dan pisahkan sampah kemasannya antara sampah organik dan an-organik. Bila mencuci mobil gunakan air di ember daripada selang. Jangan biarkan kran terbuka sehingga air terbuang percuma.
  2. Buatlah sumur resapan air di halaman agar air tanah tidak terbuang percuma dan bisa kembali ke tanah. Perbanyak lubang biopori disekitar halaman rumah. Dengan demikian kita bisa sekaligus mengamankan air tanah dan membuat sampah organik menjadi kompos.
  3. Ajaklah seluruh anggota keluarga menentukan bersama-sama kebiasaan baru dalam menggunakan air : berapa lama mandi, berapa sering mencuci handuk dan sprei, kapan dan bagaimana mencuci mobil/sepeda motor juga menyiram tanaman, selalu membawa botol minum atau sangu dari rumah.

Marilah kita memperhatikan perilaku kita dan seluruh anggota keluarga kita dalam memperlakukan lingkungan hidup dan menggunakan air disekitar kita. Air tidak hanya menjadi sumber kehidupan kita, tapi juga perlu dijaga dan dilestarikan bagi anak-cucu kita. Mulailah dengan yang mudah, yang sederhana, mulailah dari kita sendiri dan mulailah dari sekarang.

====================================================

Memaknai Hari Air Sedunia : Air sebagai Sumber Kehidupan

Oleh :  Fadil Abidin Continue reading

Advertisements


Bogota: Cerita Lama yang Tak Usang by ratna ariani
December 13, 2008, 12:01 am
Filed under: artikel, lingkungan hidup, politik, sosial masyarakat | Tags: , , , ,

Bogota sudah terbukti BISA melakukannya, bagaimana dengan Bogor, Bandung, Semarang, Surabaya bahkan Jakarta dan Medan? Bukan masalah BISA atau tidak bisa, tapi masalah MAU atau tidak untuk melakukannya. Tergantung yang ‘DIATAS’ aja deh, its always start from the TOP. (RA)

DIMULAI DARI WALIKOTA (gambar: Antanas Mockus bersepeda)
Bogota adalah ibukota Kolombia, yang berada di Amerika Selatan atau lebih dikenal dengan Amerika Latin. Dengan jumlah penduduk sekira tujuh juta jiwa, Bogota bukan hanya terkenal sebagai kota narkoba, tetapi juga terkenal dengan korupsi para pejabatnya, penculikan, dan tindak kejahatan lainnya yang tidak kalah seram. Tapi itu dulu. Kini Bogota sudah berbeda.. Bogota sudah menjadi kota yang lebih baik lagi.

Semuanya berawal pada tahun 1995 saat Bogota dipimpin oleh walikota bernama Antanas Mockus. Ia yang juga merupakan guru besar Matematika Universitas Columbia, berjanji akan mengubah kebiasaan masyarakat Bogota menjadi lebih baik lagi. Janji tersebut kemudian diteruskan dan berusaha diimplementasikan oleh Enrique Penalosa saat terpilih menjadi walikota pada tahun 1998.

Sebelumnya, Bogota memiliki tingkat pengangguran 20%, dan 55% tingkat perekonomian masyarakatnya berada di
bawah garis kemiskinan dengan penurunan nilai eksport dan politik yang tidak stabil. Jika dibandingkan, kota dengan tingkat kerusakan dan polusi yang buruk ini tidak lebih baik dari Jakarta. Bahkan, mungkin jauh lebih buruk lagi kondisinya.

Segalanya memang butuh proses. Saat Enrique terpilih menjadi walikota, ia berkata di depan seluruh anggota dewan bahwa membangun kota tidak melulu harus untuk bisnis dan kendaraan, tetapi juga untuk anak-anak, anak muda, dan orang tua. Jadi membangun kota untuk masyarakat luas. Daripada membangun jalan, lebih baik dibangun sarana pejalan kaki dan sepeda yang baik, membuat sistem transportasi umum yang handal, dan mengganti tiang-tiang iklan dengan pepohonan. Tujuannya cuma satu, yaitu kesejahteraan. Continue reading



Era Bisnis Berbasis Lingkungan: Jangan pilih partai yang tidak punya program lingkungan by ratna ariani
August 1, 2008, 12:18 am
Filed under: artikel, lingkungan hidup, politik | Tags: , , ,

Pemilu 2009 akan digelar, beberapa dari Anda masih ragu untuk memilih partai mana yang akan dipilih nanti. Jika Anda adalah salah seorang yang sadar akan pentingnya lingkungan bagi kehidupan saat ini dan masa depan, tentunya Anda akan berhati-hati dalam memilih partai. Celakalah kita, jika mayoritas partai pemenang pemilu adalah partai yang tidak memiliki wawasan tentang lingkungan. Ciri-ciri partai yang tidak punya perhatian besar pada masalah lingkungan, antara lain adalah

  1. Dalam struktur organisasi tidak ditemukan bagian atau seksi yang menangani masalah lingkungan dan energi secara khusus.
  2. Tidak menyebutkan salah satu visi atau misinya berkaitan tentang lingkungan.
  3. Jika mereka memiliki Badan Penelitian dan Pengembangan, tidak ada seksi atau bagian yang menangani masalah lingkungan
  4. Dalam kampanye, khususnya program yang diajukan kepada pemilih tidak ada menyinggung tentang lingkungan, pemberdayaan hukum lingkungan, dan statement khusus tentang lingkungan.
  5. Dalam Dewan Pakar atau pembina, tidak ada seorang pakar lingkungan yang dikenal.

Kalau hanya sekedar aktifitas menanam pohon, anak TK dan SD juga sudah biasa! Partai yang akan kita pilih diharapkan dapat memiliki visi misi dalam sustainable development atau pembangunan berbasis lingkungan dan sejenisnya. Maka visi misi itu harus dijelaskan agar kita dapat meminta pertanggung jawaban mereka pada saat mereka telah duduk di Dewan Perwakilan Rakyat/ DPD/ DPRD.

Saya baru menelusuri beberapa website partai politik yang akan ikut bertarung dalam pemilu 2009, alhasil beberapa partai yang kini ikut dalam pemilu tidak memiliki visi dan misi tentang lingkungan. Bahkan Partai Demokrat, partainya Bapak Presiden kita (SBY) tidak memiliki visi dan misi tentang lingkungan (huebat kan!). Continue reading



Peduli Lingkungan: It’s about attitude by ratna ariani
July 24, 2008, 1:15 pm
Filed under: lingkungan hidup | Tags: , ,

Saat menghadiri pembukaan Green Festival 19 April 2008 di parkir timur Senayan, ada dua kejadian yang menarik. Yang pertama tentang masalah transportasi. Saya terpaku di sebuah foto besar di paviliun GARASI. Foto ini dibuat untuk mengilustrasikan perbandingan yang dibuat 72 orang dalam berkendara. Dengan perbandingan pemakaian kendaraan di Jakarta, mereka membutuhkan 42 mobil yang membutuhkan ruang 700 m2. Emisi gas buang-nya per orang per kilometer 15 x lebih banyak dari bis. Sedangkan kalau naik sepeda motor dibutuhkan 60 buah yang memakan tempat sekitar 90 m2.

Emisi nya 7,5 x dari bis. Naaah.. kalau naik bis, semua bisa terangkut naik bis sekali jalan, tentunya ada yang berdiri juga. Cuma butuh 30 m2 itupun tidak permanen, karena bis tidak pernah parkir kecuali di pool-nya. Bisakah ditebak, mana yang akan kita pilih kalau ada di tengah kesemrawutan lalu lintas Jakarta?

Bukan hal mudah untuk berpindah moda transportasi apalagi kalau kita memang punya banyak pilihan. Saya bersyukur sudah melalui saat-saat sulit itu. Sejak bulan maret, jadi sudah  lima bulan kami berhasil ‘mengandangkan’ satu dari dua mobil untuk mobilitas sehari-hari. Continue reading