Saatnya HATI NURANI bicara


by ratna ariani
September 7, 2010, 9:18 pm
Filed under: Uncategorized

Advertisements


Media: Best (bukan Bad) news is good news by ratna ariani
March 2, 2009, 12:42 pm
Filed under: sosial masyarakat, Uncategorized | Tags: , ,

Media merupakan cerminan apa yang menjadi nilai-nilai yang dipahami dan hidup atau dihidupkan ditengah masyarakat.

Apa yang ditayangkan di satu media dalam satu komunitas dapat dipahami sebagai kultur budaya bangsa tersebut. Hal ini bisa kita lihat di pertelevisian di negara-negara lain. Negara bisa mengatur apa yang ada dan boleh ditayangkan dalam media sebagai sarana pencerdasan bangsa dan juga penanaman nilai-nilai suatu bangsa.

Sayangnya media televisi, cetak dan elektronik di Indonesia belum sampai pada misi mulia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Nilai-nilai luhur belum tampak pada apa yang ditulis dan disampaikan media. Apa yang disajikan di saat ‘prime time’ sungguh jauh panggang dari api. Semua pada dasarnya berakhir pada muara iklan, apapun yang mendatangkan uang terbanyak lah yang dipilih. Bad news is good news : itulah yang menjadi bahasa bisnis media.

Sudah saatnya kita memberi perhatian khusus agar media memiliki paradigma ” Best news is good news” agar setiap media berlomba menyajikan yang terbaik serta menanamkan nilai-nilai luhur bagi bangsa Indonesia khususnya bagi anak-anak dan generasi muda yang orang tuanya bernama “televisi dan internet”. Ini semua tergantung keseriusan lembaga terkait termasuk para pimpinan media dan juga kelompok masyarakat yang ingin memberikan perhatian khusus bagi media.

Berikut hanyalah contoh bagaimana nilai poligami akan ditanamkan melalui media pada anak-anak dan generasi muda. Masih kah kita berdiam diri? Tanpa perlu melarang, kita pun bisa bertindak dengan memboikot tidak membeli CD nya dan menonton tayangan televisi yang bertentangan dengan undang-undang bahkan bertentangan dengan nilai moral bangsa.

Diskriminasi terhadap perempuan Musisi Ahmad Dani Suarakan Poligami Continue reading



Fenomena Obama bagi Indonesia by ratna ariani
October 23, 2008, 6:38 am
Filed under: Uncategorized | Tags: , , , ,

Melihat perdebatan antara dua capres Obama dan Mc Cain, membuat mata kita terbuka akan hasil demokrasi yang terasah ratusan tahun di Amrik yang multikultural, mirip2 dengan Indonesia. Tentang sekolah gratis di amrik sebagai usulan Obama, baru bisa di capai setelah sekian lama Amerika menegakkan aturan sistem perpajakan yang ketat dan disertai kesadaran warganya untuk taat membayar pajak. Demikian juga dengan kesehatan gratis bagi orang yang tidak mampu masih jadi issue disana.

Coba kita bandingkan dengan Indonesia , katanya semua (pendidikan dan kesehatan) mau digratiskan padahal pembayar pajak saja masih banyak yang ngemplang. Pengangguran masih tinggi pula, lalu uang dari mana yang mau dipakai mendanai pendidikan dan kesehatan gratis sementara cadangan devisa menurun dan menggunakan anggaran defisit terus-terusan ??? Lihat saja nanti semua orang kampanye pasti ‘lagu’nya sama.

Kampanye di amrik pun butuh uang, tapi semua transparan sehingga rakyatpun berhak tahu. Ini yang penting digaris bawahi karena di indonesia masih TST tentang dana kampanye parpol.
Pendidikan politik sungguh sangat diperhatikan sehingga setiap orang paham akan hak dan opsi yang ada. Walhasil semua warga bisa ambil bagian berperan aktif walau cuma jadi relawan pendidikan politik atau rela menyetor $ US 10 untuk dana kampanye.

Saya percaya apa yang terjadi di amrik, membawa virus penyegaran bagi demokrasi di Indonesia juga. Walau demokrasi di Indonesia praktis baru 10 tahun berjalan sejak reformasi, tapi dengan perkembangan pilpres dan demokrasi di berbagai negara dan dengan kemajuan teknologi, kita pun ikut terbawa mengalami percepatan dalam alam demokrasi. Ini bisa terjadi kalau kita mau terbuka pada pluralisme karena itulah kenyataan  bangsa ini yang beragam suku bahasa nya. Tapi kalau hare gene masih mempermasalahkan SARA,mungkin kita perlu menunggu ratusan tahun lagi untuk punya pemimpin sederajat Obama-Mc Cain.  Berikut saya bagikan tulisan mbak Gadis terhadap debat tingkat tinggi antara kedua capres ini. (RA)

Benar bahwa Obama bagi kebanyakan rakyat Amerika merupakan pilihan yang memberikan harapan baru karena kegagalan Partai Republik selama 8 tahun ini. Beberapa perbedaan mendasar dari program-program Partai Demokrat (Obama) dan Partai Republik (McCain) adalah sebagai berikut:

BIDANG EKONOMI Continue reading



It is OK to be Weak by ratna ariani
October 21, 2008, 5:21 am
Filed under: Uncategorized

Because we live in a world where strength and power are praised, many of us do our best to hide our insecurities and shortcomings. We often go to great lengths to exaggerate our strengths and downplay our weaknesses in order to make ourselves look better to others. In truth, the very people we try to impress may be struggling with the same feelings of weakness and may be just as weary from trying to hide it.

There are times when my physical condition isn’t as strong as I would like it to be. There are times when my emotional state and spiritual health are also wane. Although such times of weakness feel like they last for far too long, I know that each and every time that happens, God is giving me a new point of view and a new way to trust in The Good Lord.

In times like this, I should be the first to admit that I am weak when it comes to certain areas of my life. I am the first to admit that I have come this far by faith and it is that very faith that connects me to a source of strength and peace that is indescribable. Nothing in this world has to offer even comes close to that kind of power.

I have learned that it is okay to be weak just so long as I remember that there is The Divine One who enables me to be strong. The very fact that I cannot do certain things on my own only serves to emphasize that God is the One who works through me.

So, if I never struggled with anything, I would never learn anything. If the path I walk never tripped me up, I would never spend as much time in prayer as I do. Being strong has nothing to do with me, but everything to do with God.

Have a fruitful working week! [Fitri Wahyuningsih]



Should we be shaken with this global financial crisis? by ratna ariani
October 12, 2008, 8:59 am
Filed under: Uncategorized
I receive a note from a dear friend that I believe will encourage each one of us. Let put ourselves bound up in God Almighty. Thanks Fitri for sharing this with us.(RA)
When the financial crisis hits unexpectedly in US and beginning to spread all around the world, a friend shared her worries. Being a housewife with two kids and fully depending on her husband, she was concerned this could hit Indonesia too and it will be Indonesia’s second economy crisis after 1998. She felt shaken and worried that she might lose her stability.

Feeling shaken when we lose the important things in our life is very humane. We will feel shaken all the time whenever we experience death in the family or hear of a loved one is diagnosed with an incurable disease. We can lose family members. We can lose our jobs. We can lose our cars and homes. We can lose all of our clothing. We can even lose our health.

Things associated with this life are easily shaken. It seems as though the rug of life is pulled out from under us. We are left flat on our backs. Our stomachs are churning. Our heads are spinning. We grope for something, anything to hang on to. Our world has been shaken.

But there is a life that cannot be shaken. It is life bound up in God Almighty. When we connected ourselves with God, then that is the life that cannot be shaken. That’s something to lean on. It is infinitely reliable. It is ultimately dependable.

Dear friends,
if by any chance we are facing impact from the global financial crisis or feeling down with problems in family or work, or even facing lost of loved ones… let’s put ourselves into the life that cannot be shaken – the life connected to The Divine One – and not depending on the earthly things.

Wishing you a pleasant and enjoyable weekend! [Fitri Wahyuningsih]



Inilah Bahaya Mengoplos Melamin ke Susu by ratna ariani
September 29, 2008, 12:13 am
Filed under: Uncategorized | Tags: , , ,

[KOMPAS] Jumat, 26 September 2008 | 05:51 WIB

KARENA ingin menjadikan seolah kandungan proteinnya tinggi, produk susu di China dicampuri melamin. Tidak tanggung-tanggung, sekurangnya empat bayi meninggal dunia dan sampai hari ini dilansir sudah lebih dari 13.000 bayi harus dirawat.
Sebenarnya kasus yang mirip pernah terjadi secara luas tahun lalu akibat pengoplosan melamin ke dalam makanan hewan dari China. Akibatnya, ratusan anjing dan kucing mati serta ribuan lainnya menderita penyakit gagal ginjal.
Apakah melamin itu? Samakah dengan melamin yang dipakai untuk peralatan makan kita? Apakah bahayanya? Pelajaran apa yang dapat ditarik dari kasus ini? Tulisan singkat berikut akan mencoba memberikan jawaban atas hal-hal itu.

Beda dengan perkakas

Melamin yang dipermasalahkan adalah senyawa organik bersifat basa dengan rumus C3H6N6, kandungan nitrogennya sampai 66 persen, biasa didapat sebagai kristal putih. Melamin biasanya digunakan untuk membuat plastik, lem, dan pupuk.
Plastik dari melamin, karena sifat tahan panasnya, digunakan luas untuk perkakas dapur. Jadi, melamin yang kini diributkan berbeda dengan melamin plastik perkakas. Melamin yang diributkan ini adalah bahan dasar plastik melamin.
Berdasarkan informasi di situs WHO, pencampuran melamin pada susu berawal dari tindakan pengoplosan susu dengan air. Akibat pengenceran ini, kandungan protein susu turun. Karena pabrik berbahan baku susu biasanya mengecek kandungan protein melalui penentuan kandungan nitrogen, penambahan melamin dimaksudkan untuk mengelabui pengecekan agar susu encer tadi dikategorikan normal kandungan proteinnya.

Data keamanan melamin Continue reading



Nasib Mbok Giyem dan UU Pornografi (Source Unknown) by ratna ariani
September 27, 2008, 11:19 pm
Filed under: Uncategorized | Tags: , ,

Mbok Giyem, bakul jamu gendong, njenggirat saat dihentikan oleh petugas pengawas moralitas, yang sok suci mulia penegak UU Pornografi. Dan mukanya berubah pucat ketika menyadari bahwa dia telah dituduh berpenampilan seronok, yang bisa menggugah syahwat lawan jenisnya.
“La dosa saya ini apa to ya?,” jerit Mbok Giyem.
“Mbok ini sudah tua kok tidak merasa tua. Jualan jamu kok pake jarit-nya mepet, hingga goyang pinggulnya keliatan kalau pas jalan,” kata pak petugas.
“Lah Pak, kalau make jaritnya ndak rapat, nanti malah kedodoran, salah2 bisa mlotrok [red:melorot] saya kan jalannya jauh,” sahutnya.
“Alasan saja… itu juga, dada simbok ini keliatan menonjol dan merangsang..bikin ngiler laki-laki saja… kenapa stagen penggendong bakul-nya dililitkan ke dada seketat itu?” tanya pak petugas lagi.
“Sesuai Pasal 4 dan Pasal 38, UU Pornografi, maka sampeyan diancam dengan hukuman minimal 3 Tahun maksimal 7 Tahun penjara dan denda minimal 75.000.000 (75 juta) rupiah.” lanjut pak petugas lagi.
“Oalah pak pak.. apa ya mesti saya seret bakulnya. Wong saya ini ndak punya dudut [red: uang].. dari jaman mbah-mbah buyut ya gini caranya.. dulu malah duwitnya pada disimpan di kutang… ,” tiba-tiba Mbok Giyem menghentikan bicaranya dan menatap salah seorang petugas. Lalu tiba-tiba dia lari dan nggabloki [red: memukul punggung] pak petugas satu ini.

“Woalah ini Ngabdul kan… dulu kan kamu to sing malah suka nginjeni [red: ngintip] orang-orang yang lagi nyuci di kali kalo pas air sumur kampung pada kering !!?”