Saatnya HATI NURANI bicara


FATWA MUI: Golput Haram, Merokok antara Makruh dan Haram by ratna ariani
January 28, 2009, 7:29 am
Filed under: sosial masyarakat | Tags: , , , , ,

Dalam kehidupan bermasyarakat diperlukan rambu-rambu berupa perundang-undangan yang menjaga terjaminnya ketertiban dan terselenggaranya kesejahteraan masyarakat. Kalau kita tinggal di satu pulau dengan satu keluarga kita sendiri mungkiin kita hanya perlu membuat aturan yang berlaku bagi kita sendiri. Tapi begitu menyangkut banyak orang, apalagi dari berbagai latar belakang, maka aturannya menjagi sangat kompleks. Yang menjadi tantangan adalah menjaga tidak adanya tumpang tindih peraturan satu dengan lainnya. Untuk itu semua mengacu pada UU yang lebih tinggi. Demikian pula dengan aturan yang berlaku baik di tingkat sekolah, komunitas bahkan di kalangan agama, semua mengacu pada UU yang lebih tinggi. Bukan sebaliknya, agar tidak terjadi kebingungan antara mana yang harus diikuti terlebih dahulu.

Melarang merokok idealnya memang dilakukan dengan pertimbangan kesehatan. Di beberapa kantor urusan larangan merokok ini menjadi ketat, bahkan dibuat tidak nyaman. Tapi mengharamkan rokok bagi semua orang Indonesia, harus dipertimbangkan dengan bijaksana. Ada jutaan orang dengan berbagai usia (dan agama) yang hidupnya dari industri rokok. Dampak sosial dan ekonomi nya sangat besar. Adakah solusi yang ditawarkan MUI untuk mengatasi dampak sosial ini ? Mengapa bukan narkoba, sex bebas, pelecehan dan KDRT yang diharamkan?

Demikian halnya melarang golput, bukan hanya MUI, pernyataan PGI dan KWI sudah lebih dulu menghimbau umat kristiani tidak golput. Tapi apakah itu menyelesaikan masalah? Lembaga keagamaan memang sebaiknya tidak terjun dalam politik praktis, tetapi justru ada dalam posisi mencerdaskan rakyat untuk menjadi dewasa dalam iman.Jangan golput, tapi tidak diberikan alternatif solusi. Harusnya pemuka agamapun menjelaskan konsekwensi golput bagi demokrasi Indonesia. Kalau perlu dibimbing bagaimana menggunakan hak pilihnya, termasuk bagaimana memilih caleg yang dipercaya tanpa bermaksud menunjuk pada parpol/caleg tertentu.

Akhirnya kembali pada pelarangan tanpa memberikan jalan keluar terbaik hanyalah memperkeruh suasana. Sama halnya menutup jalan dengan tanda dilarang masuk, tapi tidak memberikan jalan keluar alternatif lainnya. Harus ada tahapan sosialisasi pendidikan pengertian mengapa harus dihindari dan apa solusinya sehingga mendidik masyarakat untuk menjadi dewasa dalam mengambil keputusan. Kedewasaan berbangsa harus juga diikuti dengan kedewasaan masyarakatnya untuk memilih keputusannya sendiri, tanpa tekanan para pemuka agamanya. (RA)

============================================================================
PADANG PANJANG (Ant/Dtc): Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengharamkan pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya (golongan putih/golput) . MUI juga memutuskan merokok hukumnya dilarang antara makruh dan haram.

Hal itu diputuskan Forum Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia III di Padang Panjang, Sumatera Barat, Minggu (26-1).  “Wajib bagi bangsa Indonesia untuk memilih pemimpin. Kalau yang dipilih ada, tapi tidak dipilih, menjadi haram,” kata Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Ali Mustafa Ya’qub. Continue reading



KONFERENSI PERS TOKOH DAN PEMUKA AGAMA-AGAMA TERKAIT DENGAN KONFLIK DI JALUR GAZA PALESTINA by ratna ariani
January 12, 2009, 9:44 am
Filed under: politik | Tags: , , ,

Minggu, 11 Januari 2009, Pukul 13.00
Di Gereja Hati Kudus Yesus Tanah Mas Semarang

Mencermati dan menimbang konflik di Jalur Gaza Palestinadan indikasi akan meluasnya perang di wilayah tersebut, kami para pemuka agama-agama di Semarang bertekad menjalin persatuan dan persaudaraan sebagai sesama anak bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.

Kita menyadari bahwa apa pun alasan, perang antarmanusia, antarbangsa dan negara tidak bisa dibenarkan dan merupakan kejahatan melawan Allah dan martabat manusia. Karenanya, sebagai bentuk keprihatinan kami yang mendalam terhadap konflik berkepanjangan di Jalur Gaza, kami, para pemuka agama-agama di Semarang:

1. Menyatakan keprihatinan yang mendalam terhadap konflik di Jalur Gaza Palestina yang sudah terjadi sekitar dua minggu ini.
2. Mengecam segala bentuk tindakan kekerasan yang telah menjadikan warga sipil (terutama perempuan dan anak-anak) sebagai korbannya.
3. Menghimbau umat beragama di Indonesia agar dengan jernih melihat persoalan konflik di Palestina sebagai persoalan politik, ideologi dan ekonomi yang terkait dengan sengketa wilayah.
4. Mendukung segala bentuk solidaritas damai terhadap Palestina dan para korban perang.
5. Menolak segala bentuk tindakan yang mengatasnamakan dukungan terhadap Palestina namun menggunakan kekerasan dan aksi anarkis.
6. Mendorong umat beragama di Indonesia, Semarang khususnya, agar tidak terpancing dengan upaya menghubungkan agresi Israel sebagai persoalan konflik agama, mengingat penduduk Palestina di Jalur Gaza juga terdiri dari beragam agama dan korban konflik di Jalur Gaza juga membawa korban, bukan hanya umat Islam danKristiani di Palestina, tetapi juga umat beragama lain.
7. Meminta agar media massa (cetak maupun elektronik) melakukan pemberitaan yang berimbang demi menjagakesejukan iklim kebersamaan, persaudaraan, dan persatuan di Indonesia sebagai rumah bersama Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI). Continue reading



Altar di Ladang Rakyat by ratna ariani
November 13, 2008, 1:16 pm
Filed under: artikel | Tags: , , ,

Altar dan mimbar yang selalu diagungkan di tempat yang tinggi telah diturunkan jauh ke bawah, ke ladang rakyat, ke tengah permukiman kumuh perkotaan dan lingkungan petani gurem di banyak negara Amerika Latin. Luar biasa!

Ayat-ayat suci pun dibahas dalam kesederhanaan bahasa rakyat di bawah pohon singkong, jagung, jeruk dan pisang, tidak jauh dari rumpun tomat dan sayur-sayuran sebagai tanaman kehidupan dalam arti sesungguhnya.

Percakapan tentang ayat suci, yang menjadi acuan utama dan pertama neososialisme Amerika Latin, semakin menggairahkan karena bersentuhan langsung dengan tanah sebagai ibu (motherland), ayah (fatherland), rumah (homeland), yang memiliki watak kesucian (holy land), sumber impian (dreamland), sumber nafkah yang sangat menjanjikan (promised land).

Ajaran agama benar-benar dibumikan. Namun, tantangan juga muncul karena tanah menjadi isu sensitif oleh struktur kepemilikan tidak adil seperti fenomen latifundista (kepemilikan tanah di atas 100 hektar), yang menjadi gejala umum di berbagai negara di Amerika Latin. Sekadar ilustrasi, 77 persen lahan Paraguay dikuasai hanya oleh 1 persen dari 6,5 juta penduduk.

Kontras dengan kehidupan para tuan tanah yang eksklusif, petani kecil dan gurem terus menghimpun diri dalam komunitas basis, berbincang tentang nasib dalam perspektif iman.

Tanpa harus menyebut neososialisme, anggota komunitas basis menjalankan prinsip kebersamaan, kepedulian, solidaritas, dan saling membantu, yang dalam budaya Indonesia disebut gotong royong.

Prinsip dasar, yang paralel dengan ajaran agama itu diikat kuat pada komitmen kegiatan harian pribadi dan kelompok pada lingkungan komunitas basis.

Spiritualitas keagamaan ditransformasikan menjadi praxis (refleksi dan praktik) sebagai pergulatan yang bersifat pragmatis untuk melawan kemelaratan dan kemiskinan.

Gerakan perlawanan terhadap kemiskinan dan kemelaratan pun dimulai dengan upaya memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, yang bagi masyarakat pedesaan tidak bisa lain harus melalui usaha menanam.

Pengaruhnya luar biasa. Anggota komunitas basis dapat menghasilkan sesuatu untuk dikonsumsi dan mengonsumsi apa yang dihasilkan. Kemandirian ekonomi pada level elementer pun terbentuk, yang bersinggungan langsung dengan peningkatan kesadaran iman pada kelompok alas rumput. Continue reading



Dibalik Pasal-pasal RUU Pornografi (Aquino Hayunta) by ratna ariani
September 23, 2008, 7:30 am
Filed under: artikel, politik | Tags: , , ,

Dalam acara sosialisasi RUU tentang Pornografi yang diadakan di kantor Kementrian Negara Peranan Perempuan hari Rabu yang lalu duduk dua kubu yang memiliki pendapat berbeda soal RUU tersebut. Yang khusus saya catat dari kedua kubu itu ada dua; pertama bahwa penampilan kedua belah pihak sama-sama sopan, berpakaian pantas dan sama sekali tidak porno. Yang kedua saya mengamati bahwa kedua belah pihak, ternyata sama-sama prihatin dengan masalah pornografi, pemerkosaan dan soal perlindungan perempuan dan anak dari kekerasan seksual.

Kenapa persamaan ini saya tampilkan ke muka? Karena dari sini kita bisa melihat bahwa pada subtansi pornografinya, semua pihak sepakat, bahwa perlu ada penanggulangan soal itu. Jadi tidak betul anggapan-anggapan sebagian orang yang mengatakan bahwa kubu penolak pornografi adalah kubu yang senang
atau diuntungkan oleh industri porno. Tidak betul bahwa jika RUU Pornografi tidak disahkan maka orang akan berjalan-jalan di mall atau di pasar menggunakan bikini. Tidak betul bahwa kubu penentang RUU Porno adalah kubu yang senang telanjang atau amoral. Dari segi penampilan saja hari itu mereka sopan-sopan. Bahkan di antara mereka yang menolak RUU ini terdapat mereka yang sudah lama memperjuangkan dan menyerukan agar pornografi dapat diberantas. Advokasi mereka ini antara lain melahirkan Undang-Undang Perlindungan Anak dan UU Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan, perjuangan yang telah lama dilakukan sebelum draft RUU APP menjadi heboh pada tahun 2006.

Jadi kenapa ada pertentangan yang tajam mengenai RUU tersebut, jika semua pihak sepakat untuk menolak pornografi? Kita dapat mengerti akan hal ini jika kita melihat bahwa ada persoalan ideologis di balik RUU tersebut. Persoalan ideologis inilah yang saat ini memecah bangsa kita. Ideologisasi yang terjadi dapat dilihat dari istilah-istilah yang dibuat oleh para pendukung RUU ini, misalnya ketika pengesahan RUU ini disebut “sebagai kado Ramadhan”. Kesan ideologisasi tertentu terasa jelas di sini, ketika RUU ini
dihubungkan dengan salah satu hari raya keagamaan, bukan dihubungkan dengan kepentingan bangsa yang lebih besar. Dalam acara sosialisasi tersebut, wakil dari Majelis Rakyat Papua pun hampir tidak memperoleh kesempatan untuk bicara dengan alasan Tim Pansus sudah pernah bertemu dengan Majelis Rakyat Papua sebelumnya dan menganggap perwakilan yang hadir di situ lebih merupakan cerminan individu belaka. Sikap ini dapat ditafsirkan merupakan miniatur dari sikap sebagian kalangan kita yang kerap memandang bahwa rakyat Papua itu hanyalah suatu entitas homogen di ujung Indonesia sana yang suaranya mewakili kubu minoritas dan tidak signifikan untuk didengarkan. Continue reading



Adalah Kemiskinan (Gadis Arivia) by ratna ariani
August 25, 2008, 11:41 pm
Filed under: puisi | Tags: , , ,

Kemiskinan adalah ramai-ramai menyaleg demi kekuasaan dan kekuasaan
Kemiskinan adalah mengobral Tuhan demi mengakumulasi kursi
Kemiskinan adalah menguasai partai turun temurun pesta pora sanak famili
Kemiskinan adalah membusungkan umur yang muda dengan sokongan dana lumpur yang tua
Kemiskinan adalah mencoblos jendral bersenjata berkedok hati nurani rakyat
Kemiskinan adalah amnesia pada orde penindas mengusung beringin yang sama pula
Kemiskinan adalah mengumbar jargon lokal karena defisit akal
Kemiskinan adalah menolak spirit kapital demi wacana sok sosial
Kemiskinan adalah nasionalisme picik kedunguan pengetahuan global
Kemiskinan adalah belenggu agama mematikan denyut nadi kemanusiaan
Kemiskinan adalah mental korup di segala penjuru nusantara
Kemiskinan adalah jual perempuan ke Saudi demi sesuap nasi
Kemiskinan adalah pilihan anak bunuh diri ketimbang hidup di Indonesia.