Saatnya HATI NURANI bicara


Perhatian Bagi Pahlawan (tanpa)Tanda Jasa by cgjyyh
November 11, 2008, 11:36 pm
Filed under: pendidikan | Tags: , , , ,

Setiap perayaan 10 November kita mengenang dan memperingati seluruh pahlawan yang telah gugur di jaman kemerdekaan, termasuk juga mereka yang telah wafat setelah kemerdekaan tetapi mendapatkan berbagai tanda jasa penghargaan perjuangan bagi bangsa saat mereka hidup. Terlepas dari konteks pahlawan di jaman kemerdekaan melawan penjajah, saatnya kita sekarang harus juga memperhatikan para pahlawan dan pejuangpaska kemerdekaan yang terus dibutuhkan bagi keberlangsungan bangsa Indonesia.

Menonton film “Laskar Pelangi” mengingatkan kita apa arti para pahlawan yang masih hidup tapi tetap berjuang melepaskan satu persatu anak bangsa dari penjajah bernama “kebodohan”.  Setiap dari kita yang telah memiliki posisi di puncak, menjadi orang sukses dan mendapat tempat di masyarakat pasti masih ingat siapa kah para pahlawan yang berharga dalam menentukan kehidupannya. Setelah orang tua yang menjadi sumber pendidik dalam keluarga, guru adalah tempat pertama dimana orang tua menyerahkan anak-anak diusia sekolahnya. Para guru inilah yang turut serta menanamkan nilai-nilai moral dan budi pekerti di usia sekolah.

Tidak banyak guru sekaliber bu mus seperti dalam “Laskar Pelangi” kita jumpai di masa sekarang ini yang mampu bertahan ditengah segala keterbatasan dan tekanan hedonisme. Tapi mereka exist, mereka ada dan tetap bersemangat walau honor dan status yang diterimanya kurang mencukupi bahkan bisa dibawah UMR. Tantangan berat itu ditemui diberbagai pelosok Indonesia.

Kepulauan Nias yang terpisah oleh selat yang ganas mungkin bisa bercerita berapa banyak jiwa para guru yang terkubur di dasar lautan karena seringnya terjadi kecelakaan laut disana.  Hal ini tentu menyurutkan semangat para guru untuk ditempatkan di pulau-pulau terpencil. Maka tidak heran kalau di pelosok Indonesia dimana infrastruktur terbatas, anak didikpun tidak punya pilihan banyak. Padahal pendidikan adalah kunci bagi pencerdasan bangsa untuk membawa mereka keluar dari kemiskinan. Continue reading

Advertisements


Renungan Sumpah Pemuda by ratna ariani
November 3, 2008, 12:19 am
Filed under: sosial masyarakat | Tags: , , ,

Bisakah kita bayangkan, kalau Bahasa Indonesia menjadi bahasa dunia? Kalau orang Jepang yang taat katakana harus menghafal ucapan dan sambutan dalam bahasa kita? Kalau orang Arab berlomba-lomba memasang petunjuk jalan dalam Bahasa Indonesia? Kalau orang Perancis memasang penjelasan barang dan harga gantungan kunci mereka dalam bahasa kita dan tanda ‘Rp’? Kalau anak-anak Amerika bisa menyanyikan Nina Bobok? Bisa terbayangkah?

Pada saat itu kota-kota besar dunia telah dipenuhi oleh orang-orang Indonesia yang makmur gemah ripah loh jinawi, untuk berdagang, berbisnis, berinvestasi, atau sekedar belanja dan membangun hidup. Rupanya orang-orang ini tidak semuanya bisa bahasa Inggris, Jepang atau Perancis, sehingga para pedagang, para pengusaha, para pencari modal yang berebutan ingin didatangi dan ditoleh oleh orang Indonesia berupaya keras untuk bisa bahasa Indonesia.

Pada saat itu universitas-universitas Indonesia menjadi pusat rujukan kemajuan peradaban dunia. Dan mata pelajaran diajarkan dalam bahasa Indonesia, sehingga penting sekali orang Jepang, Cina, Eropa dan Amerika belajar bahasa Indonesia dan belajar berbagai sistim yang diciptakan kakek nenek kita.

Pada saat itu prestis sekali kalau anak kecil bisa bahasa Indonesia, karena artinya mereka adalah anak masa depan… penerus generasi yang sadar globalisasi, siap menyongsong peradaban dunia yang berpusat di Tanah Indonesia. Continue reading



RUU Pornografi Dinilai Cacad oleh Banyak Pihak by ratna ariani
October 4, 2008, 12:13 am
Filed under: artikel, politik | Tags: , , , ,

[KOMPAS] 290908 – Oleh Maria Hartiningsih *
Dua pekan terakhir ini berbagai upaya penolakan dan pembatalan Rancangan Undang-Undang Pornografi berlangsung di berbagai kota di Indonesia. Pesannya senada: RUU Pornografi tak layak diundangkan. RUU itu dinilai cacad oleh banyak pihak. Substansinya menyesatkan, prosesnya menyalahi Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Perundang-undangan, semangatnya melukai prinsip-prinsip
kehidupan bersama sebagai bangsa.
RUU Pornografi juga mengancam perkembangan industri kreatif yang diharapkan menjadi ujung tombak ekonomi Indonesia setelah sumber daya alamnya habis dikeruk korporasi transnasional demi “devisa” meninggalkan kerusakan lingkungan, dan masalah sosial yang parah.
RUU Pornografi telah membelah publik ke dalam dua kutub yang sulit dipertemukan sejak masih RUU Antipornografi dan Pornoaksi (RUU APP) yang ditarik kembali ke DPR tahun 2006 untuk diperbaiki.
Selain itu, RUU tersebut bahkan mengesampingkan persoalan besar lain bangsa, khususnya korupsi dan minimnya tanggung jawab negara terhadap rakyat, seperti dilontarkan Usman Hamid dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras).

Dalam uji publik RUU Pornografi yang diselenggarakan kelompok masyarakat sipil di Jakarta, Kamis (25/9), ia menyatakan, “Pornografi memang bisa menjadi social problems, tetapi secara historis tak pernah terbukti menjadi societal problems, problem nasional. Tetapi, RUU Pornografi dapat menginisiasi problem nasional baru, yaitu problem hubungan antarkelompok yang majemuk dan isu pluralitas.”
Hal sama diingatkan sejarawan Taufik Abdulah dalam acara yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Jumat (26/9), dengan mengundang kalangan seni dan industri kreatif. Continue reading



Cinta Tanah Air: Tidak Apatis, Tidak Apolitis by ratna ariani
August 16, 2008, 3:28 am
Filed under: sosial masyarakat | Tags: , ,

Banyak pertanyaan dilontarkan sepanjang tahun 2008 ini mengenai kadar nasionalisme di generasi yang ada, baik mereka yang berusia 40an tahun sampai yang muda. Apakah semangat reformasi 10 tahun lalu masih relevan dan masih perlu diperjuangakan? Sudah sejauh mana keberhasilannya? Bagaimana juga tingkat nasionalisme yang ada sekarang bila dibandingkan dengan gerakan Kebangkitan Nasional yang lahir seratus tahun lalu? Apakah cukup berhenti sebatas seremonial saja? Kelompok pengamat kebudayaan banyak yang menyatakan bahwa bangsa Indonesia sedang menderita amnesia beberapa tahun ini. Kita mudah sekali lupa dengan berbagai masalah dan tidak pernah selesai sampai tuntas. Bisa juga tidak mau ingat yang susah-sedih, lebih baik lupakan saja. Atau sengaja bikin orang lain lupa dengan mengganti berita2 di ‘head line’ media cetak dan elektronik setiap harinya.

Akhirnya kita melihat kemajuan teknologi dalam seratus tahun ini khususnya peranan media sebagai sarana komunikasi sangat menentukan dalam menanamkan dan mengembalikan rasa nasionalisme dan cinta tanah air. Sarana komunikasi dalam bentuk cetak, audio visual, internet dan telekomunikasi perlu dimanfaatkan dan juga diingatkan peran para praktisi didalamnya agar tidak terjebak pada pola kapitalisme.

Kita bisa saja tidak seuju atau tidak puas dengan kinerja aparat pemerintahan, entah itu di tingkat pusat maupun daerah. Tapi kita harus memisahkannya dengan tetap mencintai tanah air ini. Kalau bukan kita bangsa Indonesia yang peduli, tidak mungkin bangsa lain peduli kecuali memang ada maksud politis atau ekonomi dibelakangnya. Kita harus lebih berani memberi kesempatan mereka yang memang mampu memperbaiki kondisi negara ini. Continue reading