Saatnya HATI NURANI bicara


Guru yang Menjadi Aktivis CU by ratna ariani
November 14, 2008, 1:38 pm
Filed under: sosial masyarakat | Tags: , , , , ,

p1010194

Kabar terbaik bagi orang miskin adalah bahwa sebentar lagi mereka bisa keluar dari kemiskinannya. Berikut adalah kisah seorang guru yang sungguh memiliki pengabdian besar bagi pendidikan, akhirnya terpanggil menolong orang-orang disekitarnya keluar dari kemiskinan melalui Credit Union. Padahal ia sendiri juga memiliki keterbatasan ekonomi. Semoga kita lebih sering melayani satu sama lain daripada minta dilayani.[RA]

Saya Dominikus D Fernandez, seorang katekis yang diangkat sebagai Pegawai Negeri. Saya berasal dari Larantuka. Pada usia 25 tahun saya ditugaskan mengajar di SD III Tampa, Kecamatan Ampah, Kabupaten Barito, Kalimantan Tengah. Saya pernah punya hanya 9 murid untuk seluruh SD. Karena murid terlalu sedikit, kelas kami gabung. Dalam seminggu hanya tiga hari saya mengajar di sekolah. Karena punya banyak waktu luang, saya tergerak untuk membagikan ilmu kepada orang-orang dewasa juga. Saya kemudian merancang program Pendidikan Orang Dewasa(POD), yang menawarkan tiga paket. Paket A untuk kesetaraan dengan SD, paket B setara dengan SMP dan paket C setara degan SMA.

Pada 1979 saya merintis sebuah SMP Swasta di Ampah. Setahun kemudian SMP rintisan ini dijadikan SMP Negeri. Di SMP ini selama sembilan tahun saya mengajar tanpa dibayar. Pada 2003 saya mendirikan SMA. Lagi-lagi setahun kemudian SMA ini dijadikan SMA negeri. Di sini pun selama setahun saya menjadi Kepala sekolah dan mengajar tanpa dibayar. Semuanya adalah pelayanan.

Bersentuhan dengan pemberdayaan

Saya memang seorang guru. Namun pemberdayaan masyarakat miskin sejak awal sudah menjadi bagian hidup saya. Sejak 1979 hingga 1990 saya menjadi pendamping nasabah Bank Purba Danarta di daerah Kalimantan Tengah. Bank Purba Danarta adalah suatu bank yang secara khusus ingin memberikan pelayanan kepada orang-orang kecil, mendampingi usaha-usaha mandiri mereka. Pendiri dan pemimpin bank ini Pastor Melchers, SJ. Kantor pusatnya di Semarang. Setelah Pastor Melchers meninggal, kabarnya terjadi perubahan manajemen bank ini, tapi saya tidak tahu persis, karena setelah 1990 saya kurang kontak lagi dengan Bank Purba Danarta.

Waktu itu saya mendampingi sekitar 1.000 orang. Ada masa ketika pelayanan kami lakukan dengan sederhana sekali. Inti dari gerakan ini adalah kepercayaan. Buku tabungan dan pinjaman anggota hanyalah buku tulis biasa. Setiap kali ada setoran diberi meterai. Namun hal itu tidak menjadi masalah karena kami percaya satu sama lain.

Pada 1989 saya sempat mengikuti kursus di Lembaga Bina Swadaya. Namun saya tidak begitu tertarik mengikuti metodenya, yang menurut saya, masih belum amat menekankan unsur swadaya masyarakat. Mereka masih cukup banyak sekadar mengalihkan dana dari pemerintah kepada masyarakat.

Kenal CU (selanjutnya baca disini)



Grameen Bank: Bank Ramah Perempuan Miskin by ratna ariani
August 4, 2008, 10:36 pm
Filed under: artikel | Tags: , , , ,

Ada pepatah mengatakan bahwa surga ada di bawah telapak kaki ibu. Tapi ibu yang bagaimana ? Ibu yang telah diberdayakan, pasti memberikan segala-galanya bagi anak-anaknya. Termasuk bagi perempuan miskin sekalipun, mereka ingin membahagiakan keluarganya terkadang kalau perlu jalan apapun ditempuh; termasuk menjadi obyek exploitasi dan komoditi luar negeri sebagai TKW. Tetapi bila perempuan miskin di beri kesempatan dan berdayakan, mereka akan mendidik anak-anaknya menjadi generasi Indonesia yang berkualitas dan tahan banting. Siapa mau mengikuti jejak Muhammad Yunus yang memperlakukan perempuan miskin sebagai subyek? Muhammadx Yunus tidak menunggu semua menjadi sempurna, tidak juga menunggu KUR tersedia di semua desa tempat orang miskin tinggal. Ia mulai dengan dirinya sendiri, yang pada akhirnya justru mendirikan bank yang melayani kebutuhan perempuan miskin.(RA)

Republika – Relevansi Muhammad Yunus untuk Indonesia (Bawono Kumoro)
Analis Sosial Politik pada Laboratorium Politik Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta.

Untuk kedua kali Indonesia menerima kunjungan Muhammad Yunus, seorang ekonom asal Bangladesh penerima Nobel Perdamaian tahun 2006. Kali ini Muhammad Yunus datang ke Indonesia dalam rangka menghadiri The Asia-Pacific Regional Microcredit Summit 2008 di Nusa Dua, Bali. Pada kesempatan itu Muhammad Yunus juga melakukan pertemuan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono guna membicarakan seputar perkembangan kredit mikro di Bangladesh dan Indonesia.

Pada 2006 lalu dia dianugerahi Nobel Perdamaian karena dinilai berhasil dalam meningkatkan status sosial dan ekonomi kaum miskin di Bangladesh melalui Grameen Bank yang didirikannya. Sejak saat itu nama Muhammad Yunus menjadi pembicaraan luas dunia internasional. Sejatinya bangsa Indonesia dapat menjadikan kunjungan Muhammad Yunus kali ini sebagai momentum untuk mulai merintis jalan bagi pengentasan perempuan dari kemiskinan melalui partisipasi dalam kegiatan-kegiatan ekonomi produktif karena sesungguhnya ada keterkaitan erat antara kemiskinan dan ketidaksetaraan gender. Keterkaitan antara kedua hal itu telah dibuktikan secara empiris oleh Muhammad Yunus. Continue reading



Muh Yunus: Perempuan dan Kemiskinan by ratna ariani
July 23, 2008, 1:46 am
Filed under: artikel | Tags: , , ,

Muhammad Yunus, sang peraih Nobel Perdamaian, tampak bersahaja meskipun lebih dari 250 lembaga di hampir 100 negara mengadopsi program kredit mikro berdasarkan model Grameen Bank yang didirikan sang dosen ekonomi ini bersama muridnya tahun 1983.

Grameen, seperti dituturkan Yunus, memberi pinjaman untuk usaha, perumahan, biaya pendidikan, dan usaha mikro. Sejak diperkenalkan tahun 1984, kredit perumahan berhasil mendirikan 640.000 rumah yang dimiliki perempuan.

Isunya adalah kepercayaan….

Sistem sekarang didasarkan pada ketidakpercayaan. Kita dilatih untuk tidak percaya kepada orang lain. Kalau ingin dapat pinjaman akan dilihat dulu berapa kekayaan Anda, lalu ada perjanjian-perjanjian hukum. Asumsinya, penerima kredit tidak mengembalikan pinjamannya. Jadi, harus disiapkan sesuatu.

Kegiatan kami didasarkan pada kepercayaan. Kami yang datang pada mereka, bukan sebaliknya, karena setiap kantor, sesederhana apa pun, adalah ancaman bagi orang miskin dan buta huruf. Orang yang datang minta bantuan selalu pada posisi lebih lemah. Continue reading