Saatnya HATI NURANI bicara


Beri Jalan Orang Cina by ratna ariani
February 7, 2009, 3:50 am
Filed under: artikel, sosial masyarakat | Tags: , , ,

Saya menemukan tulisan Gus Dur dari milis tetangga tentang keberadaan orang cina sebagai suatu indikator berjalannya semangat pluralisme bangsa ini. Walaupun stok lama, dimuat di Editor 1990, saya rasa masih relevan untuk menjadi buah pemikiran kita. Siapa sih yang tidak punya kawan orang Cina, dan pasti tahu bahwa mereka memang memiliki kelebihan tapi sedihnya kesempatan dan haknya tidak sama dengan etnis lainnya. Tapi terkadang dan masih umum dijumpai, kesenjangan ekonomi atau tepatnya ketakutan tersaingi adalah momok lambannya semangat pluralismeĀ  berkembang di bangsa ini. Pe eR bangsa ini masih banyak, just take one step at a time… dan jangan mundur. (RA)

———————————————————————————————————————————–

Jadi orang Cina di negeri ini, di masa ini pula, memang serba salah. Walaupun sudah ganti nama, masih juga ditanyakn ‘nama asli’nya kalau mendaftarkan anak ke sekolah atau jika membuat paspor. Mungkin, karena memang nama yang digunakan terasa tidak pas bagi orang lain, seperti nama Nagaria. Biasanya naga menggambarkan kemarahan dan keganasan. Apakah si naga yang riang gembira ini tertawa-tawa? Hartadinata, terasa lucu, karena tidak klop antara kekayaan dan keanggunan jabatan, antara harta dan nata. Ternyata bukan hanya karena nama baru orang-orang Cina terasa tidak sreg di telinga orang lain. Tetapi karena keputusan politik, untuk membedakan orang Cina dari pribumi.

Memang tidak ada peraturan tertulis, melainkan dalam bentuk kesepakatan memperlakukan orang Cina tersendiri. Mengapa? Karena mereka kuat, punya kemampuan terlebih, sehingga dikhawatirkan akan meninggalkan suku-suku bangsa lainnya. Apalagi mereka terkenal dalam hal kewiraswastaan. Kombinasi kemampuan finansial yang kuat, dan kemampuan lain yang juga tinggi, dikhawatirkan akan membuat mereka jauh melebihi orang lain dalam waktu singkat. Continue reading

Advertisements


Inilah Bahaya Mengoplos Melamin ke Susu by ratna ariani
September 29, 2008, 12:13 am
Filed under: Uncategorized | Tags: , , ,

[KOMPAS] Jumat, 26 September 2008 | 05:51 WIB

KARENA ingin menjadikan seolah kandungan proteinnya tinggi, produk susu di China dicampuri melamin. Tidak tanggung-tanggung, sekurangnya empat bayi meninggal dunia dan sampai hari ini dilansir sudah lebih dari 13.000 bayi harus dirawat.
Sebenarnya kasus yang mirip pernah terjadi secara luas tahun lalu akibat pengoplosan melamin ke dalam makanan hewan dari China. Akibatnya, ratusan anjing dan kucing mati serta ribuan lainnya menderita penyakit gagal ginjal.
Apakah melamin itu? Samakah dengan melamin yang dipakai untuk peralatan makan kita? Apakah bahayanya? Pelajaran apa yang dapat ditarik dari kasus ini? Tulisan singkat berikut akan mencoba memberikan jawaban atas hal-hal itu.

Beda dengan perkakas

Melamin yang dipermasalahkan adalah senyawa organik bersifat basa dengan rumus C3H6N6, kandungan nitrogennya sampai 66 persen, biasa didapat sebagai kristal putih. Melamin biasanya digunakan untuk membuat plastik, lem, dan pupuk.
Plastik dari melamin, karena sifat tahan panasnya, digunakan luas untuk perkakas dapur. Jadi, melamin yang kini diributkan berbeda dengan melamin plastik perkakas. Melamin yang diributkan ini adalah bahan dasar plastik melamin.
Berdasarkan informasi di situs WHO, pencampuran melamin pada susu berawal dari tindakan pengoplosan susu dengan air. Akibat pengenceran ini, kandungan protein susu turun. Karena pabrik berbahan baku susu biasanya mengecek kandungan protein melalui penentuan kandungan nitrogen, penambahan melamin dimaksudkan untuk mengelabui pengecekan agar susu encer tadi dikategorikan normal kandungan proteinnya.

Data keamanan melamin Continue reading



Hati-hati: Telur Palsu dari Cina Masuk Jakarta by ratna ariani
September 4, 2008, 11:43 am
Filed under: artikel | Tags: , , , ,

Just want to inform aja… telur palsu tidak hanya menyebar di tempat2 kelas menengah ke bawah saja, melainkan sudah ke rumah makan yang notabene pelanggannya orang kantoran. Hati-hati kalau membeli telur mentah karena sulit membedakannya sebelum siap dimakan. [kiriman email dari seorang kawan]

Hal ini saya alami pada hari ini ( 15.08.2008 ) dimana untuk makan siang, saya meminta tolong Office Boy untuk membeli makanan di Restoran XX , di belakang kantor saya di Thamrin Jakarta, yang mana lauknya adalah gulai telur dan kentang balado. Pada saat saya memakan telur tersebut ada kejanggalan pada telurnya, dan ternyata ketika saya perhatikan lebih lanjut… telur tersebut adalah TELURĀ  PALSU. Putih telur tersebut bening seperti karet dan tekstur pada kuning ada garis melingkar beraturan.

Masalah ini segera saya laporkan pada pihak Restoran XX untuk ditindaklanjuti. Dan, tak lama kemudian, pelayan Restoran XX mengambil sisa makanan tersebut yang mana ternyata untuk beberapa makanan mereka pun pesan juga dari luar ( bukan masak sendiri ).

Kejadian ini saya ceritakan hanya sekedar sharing agar kita lebih berhati – hati apabila mengkonsumsi makanan dari luar ( apalagi buat anak – anak kita )… karena belum tentu rumah makan / restaurant yang bagus menjadi jaminan bahwa makanan itu aman. Dan, apabila kita menemukan sesuatu yang janggal pada makanan yang baru kita beli, jangan sungkan – sungkan untuk melapor pada pihak rumah makan tersebut karena bisa jadi mereka sendiri juga kena tipu orang luar yang menyuplai makanan tersebut.

foto – fotonya sbb :