Saatnya HATI NURANI bicara


Corporate Social Responsibility dan Labor Standard, dalam perspektif pekerja/buruh by ratna ariani
January 22, 2009, 12:15 am
Filed under: artikel, sosial masyarakat | Tags: , , , ,

Barang baru digulirkan kembali kehadapan masyarakat Indonesia, khususnya buruh. Undang-undang N0. 40/2007 tentang Perseroan terbatas Bab V Pasal 74 berisi tanggung Jawab Sosial dan lingkungan lebih familiar disebut CSR – Corporate Social Responsibility (tanggungjawab sosial perusahaan). Kita lihat ayat satu dan dua.

(1) Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan

(2) Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kewajiban Perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya Perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran.

Merupakan kewajiban sosial bagi perusahaan di dalam peran sertanya mewujudkan pembangunan sosial di Indonesia. CSR pada dasarnya adalah kewajiban/tanggungj awab negara, yang selama ini diperankan oleh Depsos. Karena memang amanat undang-undang untuk melakukan pembangunan manusia seutuhnya adalah tanggungjawab negara, yaitu bahwa “setiap warga negara berhak atas : penghidupan dan kehidupan yang layak, baik secara ekonomi, sosial, maupun budaya. Jadi permasalahan sosial yang muncul pada saat ini di negeri kaya raya tercinta ini merupakan tanggungjawab negara. Continue reading

Advertisements


Miskin : Nasib? Takdir? by ratna ariani
July 29, 2008, 2:14 am
Filed under: Uncategorized | Tags: , , , , ,

Menjadi orang miskin memang paling pusing. Tidak punya banyak pilihan. Kesulitan hidup sehari-hari bisa membuat orang stress berkepanjangan terlebih bagi perempuan miskin. Tugas perempuan sebagai ibu dalam keluarga seperti mahluk bertangan seribu.

Ia harus membesarkan anak-anak, mengurusnya dari bayi hingga menjadi anak yang mandiri. Ia harus memperhatikan apa yang mereka makan,minum dan pakai. Ia memperhatikan siapa kawan mereka dan bahasa yang digunakan anak-anak. Ia juga yangmengajarkan anak-anak sembahyang dan berdoa. Ia juga harus pusing mikirin apa yang harus dimasak dan dimakan seminggu ini. Ibu juga yang paling pusing kalau ada anak sakit, sebabnya apa, mau dibawa kemana, obatnya apa. Nanti kalau gak sembuh gimana? Ibu lah yang paling senewen kalau anaknya ulangan dan dapat nilai jelek. Ibu juga harus memperhatikan kebutuhan suami, apa yang diperlukan agar suamijuga terurus pakaian dan makanannya. Apalagi kalau banyak pantangan waaah… tobat deh. Makanya seorang ibu tidakboleh sakit, kalau gak maka motor penggerak dalam keluarga akan membuat lesu darah semua orang.

Orang bisa mendadak miskin karena bencana alam, karena struktur dan birokrasi. Perempuan miskin dipaksa menjadi kepala rumah tangga seperti kisah Azizah dan Hendun Disamping melakukan pekerjaan rumah tangga yang ajubilah tidak ada habisnya,mereka juga harus memikirkan bagaimana hidup mereka hari itu. Continue reading



Hari Anak Nasional: Anak Siapa? by ratna ariani
July 25, 2008, 5:56 pm
Filed under: pendidikan, politik | Tags: , , , , , ,

Membaca kisah Amri (foto dari Kompas ) di Hari Anak Nasional, kita seharusnya malu dan harus memeriksa diri sendiri. Di kota Jakarta yang nomor 2 paling tinggi biaya hidupnya di Asean, masih menyimpan ratusan ribu anak-anak terlantar. Sudah sejauh manakah kita ambil bagian dalam memberikan hak dasar kepada anak, terutama kepada anak-anakdisekitar kita, yang bukan anak kita sendiri.

Tidak banyak anak yang memiliki kesempatan untuk mendapatkan gizi cukup, apalagi pendidikan yang sejalan dan bermutu bagi usia mereka. Kalau saja setiap keluarga yang mampu mengadopsi atau mengambil bagian dalam program anak asuh yang ada disekitar kita,maka bisa dibayangkan bisa ada ribuan anak yang tertolong. Jangan kita berhenti pada ‘sedih dan marah’ membaca artikel ini, tapi tidakbertindak apa-apa. Besok pasti lupa, karena headline di koran akan berganti lagi. Mungkin dengan liputan pesta pernikahan yang bermilyard-milyard itu. Satu tindakan dan langkah kecil tapi yang dilakukan oleh banyak orang tentu akan membawa efekpelipatgandaan yang luar biasa. Apalagi kalau didukung program CSR (Corporate Social Responsibility) yang terpadu, wah rasanya beban berat terasa ringan dijinjing. Continue reading



Hari Anak Nasional: Dipestakan atau Disikapi? by ratna ariani
July 24, 2008, 4:28 am
Filed under: pendidikan | Tags: , , ,

Anak tetap lah anak, mau dia ada di rumah gedongan, di gang-gang sempit ataupun di jalanan. Keinginan bermain, menggoda teman, berkejar-kejaran dan bahkan bermain hujan adalah kesukaan anak-anak. Hanya saja untuk anak-anak tertentu hak mendasar inipun sulit dipuaskan, bahkan diusia dini mereka dimasukkan sebagai alat ekonomi pencari uang. Sedih juga melihat liputan di Metro TV, anak-anak indramayu dibawah 10 tahun diijinkan menggelandang di Jakarta, agar bisa mendapat makanan lebih baik dari pada dikampungnya. Mereka tidak mau sekolah, tangannya capek dipakai menulis terus katanya. Mending dijalanan malah dapat duit. Memang lumayan untuk ukuran mereka, bisa bayar ‘sewa kontrakan’, main game dan beli rokok !

Kemarin saat menghadiri perayaan Hari Anak Nasional di Tennis In Door Senayan, saya merasakan aura sukacita luar biasa. Saya datang kesana gak sengaja, hanya karena kawan aktivis berhalangan, maka saya diminta mewakili Gempita-Gerakan Iman Peduli Jakarta. Tengok kiri kanan yang duduk di VIP ternyata saya sendiri yang tidak pakai pakaian dinas. Halah? Acara nya sih sebentar, cuma sejam tapi meriah banget. Bukan karena ada Bang Foke dan Mpok Tati disana. Bukan karena panggung yang wah dan Project Pop yang ‘gw banget’ (Heran…..udah pada berumur, tetap aja kelakuannya bisa diterima anak-anak SD sampai SMA. Salut untuk alumni UNPAR… halah..narsisnya jadi d 8)

Tapi menurut saya inilah ‘panggung’ yang sungguh-sungguh menjadi pesta bagi anak-anak yang tidak pernah memimpikan dipestakan dan mengisi acara pesta buat mereka sendiri. Ada ratusan anak ikut terlibat dalam berbagai tarian kreasi disetiap lagu-lagu project Pop, menari dengan senyum ceria serta berkostum colourful. Ternyata mereka bukan dari sekolah-sekolah papan atas, bukan juga dari sanggar sekolah tari, Continue reading