Saatnya HATI NURANI bicara


Notulensi Pertemuan “Forum Ibu Menggugat” by ratna ariani
December 18, 2008, 11:06 pm
Filed under: politik | Tags: , , ,

Waktu : Senin, 16 Desember 2008
Tempat : KONTRAS
Peserta yang hadir : Nuraini (SDI), Rena (Kalyanamitra) , Yati (KONTRAS), Yulistini(SDI) , Sinnal (IKOHI)
Agenda : Konsolidasi Gerakan dan Agenda Politik Perempuan Menjelang Pemilu 2009
==========================================================================

Hasil Kesepakatan :
1. Berkaca pada pengalaman Suara Ibu Peduli 1998, Forum Ibu Menggugat diharapkan akan menjadi wadah bagi perempuan dari berbagai kalangan untuk bersuara lantang tentang persoalan ekonomi politik yang juga menjadi persoalan rakyat Indonesia saat ini
2. Forum Ibu Menggugat akan terus mengajak dan melibatkan lebih banyak pihak
3. Forum Ibu Menggugat bertujuan untuk mengajukan agenda politik perempuan menjelang Pemilu 2009
4. Fokus isu adalah KEMISKINAN dan dikaitkan/ dikontekstualkan dengan Pemilu 2009
5. Isu Kemiskinan dipilih karena berdasarkan persoalan dan realitas yang dihadapi oleh kaum perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan kajian Kalyanamitra tentang pandangan konstituen perempuan tentang politik dan pemilu, mereka mengatakan bahwa 10 tahun reformasi 1998, belum ada perubahan kondisi ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Bahkan sampai saat ini, kondisinya malah semakin parah.
6. Beberapa isu utama yang terkait dengan KEMISKINAN dan perlu digali lebih jauh tentang fakta persoalannya dari beberapa narasumber, yaitu :
* Kelangkaan gas –> narasumber : Aviliani –> PJ : Nuraini
* Kenaikan BBM –> narasumber : Aviliani –> PJ : Nuraini
* Kenaikan Sembako –> narasumber : Wardah Hafiz (UPC) –> Rena
* Krisis global dan segala dampaknya (seperti PHK) –> narasumber : Nining (KASBI) –> Sinnal
* Buruh Migran (Kekerasan dan PHK) –> SBMI –> Sinnal
* Pendidikan yang mahal –> Perempuan Mahardhika –> Nuraini
* Kesehatan yang mahal –> WRI (Women Research Institute)/ SRMK –> Rena
* Akses perempuan miskin terhadap perumahan –> Palupi (institute Ecosoc) –> Rena
* Pemenuhan hak korban (terutama perempuan) korban pelanggaran HAM –> Mba Suci –> PJ : Yati
* Hukum yang memiskinkan perempuan –> Asfinawati (LBH Jakarta) –> PJ : Yati
Para narasumber diatas akan dikonfirmasi oleh masing-masing penanggungjawab. Fasilitator yang akan coba dikonfirmasi adalah Ruth Indiah Rahayu (Yuyud)-a kan dihubungioleh Sinnal.
7. Akan diadakan SARASEHAN PEREMPUAN :” WAJAH PEREMPUAN INDONESIA MENYONGSONG PEMILU 2009″
* Output :
1. Catatan Akhir Tahun Bersama 2008
2. Komitmen dan penyikapan bersama terhadap persoalan kemiskinan menjelang Pemilu 2009
* Waktu dan tempat : Senin, 22 Desember 2008, pukul 10.00 – selesai, di KONTRAS
* Peserta : minimal 50 orang, yang terdiri dari berbagai kelompok NGO, caleg, media, ormas/komunitas, pemerintah
* Kebutuhan :
– TOR dan undangan –> PJ : Kalmit (Deadline, 18 Desember 2008)
– Notulen –> PJ : Kalmit
– Konsumsi –> PJ : KONTRAS
– Baliho/Spanduk –> PJ : IKOHI
– Press Release –> PJ : Nuraini (SDI)
* Penyebaran undangan (Deadline, 18 Desember 2008)
– NGO –> Kontras, Kalmit
– Caleg –> Kalmit
– Media –> KONTRAS
– Ormas/Komunitas –> SDI
– Pemerintah (KPP, Depkes, dll) –> Kalmit
8. Pertemuan persiapan Sarasehan Perempuan selanjutnya : Jumat, 19 Desember 2008, pukul 15.00, di KONTRAS

Cp : Rena Herdiyani (Kalmit) 0812 9820147, Yati Andriyani (KontraS) 0815 86664599, Nurani (SDI) 0817 6655800

Advertisements


SKB 4 Menteri: Negara Mengorbankan Hak Buruh by ratna ariani
November 13, 2008, 12:57 pm
Filed under: artikel | Tags: , , , ,

Satu lagi kebijakan pemerintah yang menyengsarakan buruh/pekerja dikeluarkan. Kebijakan tersebut tertuang dalam surat keputusan bersama (SKB) empat menteri yang ditandatangani oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Menteri Perindustrian, Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu.

Meskipun SKB empat menteri itu berjudul “Pemeliharaan momentum pertumbuhan ekonomi nasional dalam mengantisipasi perkembangan perekonomian global”, isi utamanya sebenarnya mengatur masalah penetapan upah minimum. SKB empat menteri tersebut bertentangan dengan peraturan perundang-undangan di bidang perburuhan.

Dalam pasal tiga SKB tersebut dijelaskan bahwa gubernur dalam menetapkan upah minimum mengupayakan agar tidak melebihi pertumbuhan ekonomi nasional. Pasal itu bertentangan dengan pasal 88 a(4) UU 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang menyatakan bahwa pemerintah menetapkan upah minimum sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) huruf a berdasar kebutuhan hidup layak dengan memperhatikan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, pengaturan upah minimum sudah secara tegas diatur dalam Permenaker No 1/1999 jo Kepmenakertrans No 226/2000 tentang Upah Minimum. Penghitungan kebutuhan hidup layak juga sudah diatur secara terperinci di dalam Permenakertrans No 17/2005 tentang Komponen dan Pelaksanaan Tahapan Pencapaian Kebutuhan Hidup Layak. Dengan demikian, pasal 3 SKB ini bertentangan pula dengan Permenakertrans yang mengatur upah minimum tersebut. Bagaimana mungkin kenaikan upah minimum tidak boleh melebihi angka pertumbuhan ekonomi, sedangkan angka pertumbuhan ekonomi nasional saat ini jauh di bawah angka inflasi, apalagi angka kebutuhan hidup layak.

Bandingkan pertumbuhan ekonomi nasional 2008 yang kemungkinan hanya sekitar enam persen. Sedangkan angka inflasi 2008 berkisar 12 persen. Itu berarti upah buruh akan senantiasa digerogoti oleh angka inflasi tersebut.

Upah buruh yang naik di bawah angka inflasi itu berarti upah riil buruh turun. Bisa dibayangkan betapa semakin menderitanya kehidupan buruh, di mana upah riilnya semakin lama semakin berkurang. Upah buruh saat ini saja masih jauh dari kehidupan yang layak, apalagi jika dilegalkan untuk berkurang nilai riilnya. Continue reading

Comments Off on SKB 4 Menteri: Negara Mengorbankan Hak Buruh


SAFE INDONESIA FIRST ! by ratna ariani
October 14, 2008, 9:39 am
Filed under: artikel, sosial masyarakat | Tags: , , , ,

Dear All, Ini ada email dari tetangga sebelah………..
Ada langkah lain yang perlu kita lakukan untuk menyelamatkan bangsa kita:

1. Yang mempunyai deposito bertahanlah dengan deposito anda. Jangan ambil uang anda dari bank. Jika anda ikut ikutan mencairkan dana anda maka akan terjadi bank rush, dan krisis keuangan akan semakin parah.

2. Yang memiliki saham dan turunannya, jangan menjual saham dan derivasinya. Jika anda ikut ikutan menjual saham dan turunannya, maka harga saham akan semakin ambruk, dan krisis akan sungguh terjadi semakin parah

3. Jangan ikut ikutan memborong dolar. Jika anda ikut ikutan memborong dolar, maka harga dolar akan semakin tinggi dan rupiah semakin terpuruk. Harga barang impor akan semakin mahal, dan inflasi dalam negeri akan semakin menggila.
\
4. Jangan panik. Jika anda tidak panik, maka krisis akan cepat berlalu. Perekonomian akan cepat pulih. Harga saham akan cepat rebound. Dolar akan cepat menyesuaikan diri pada kurs yang rasional. Cadangan devisa kita cukup kuat. Jika anda panik dan ikut ikutan menarik deposito, menjual saham, dan memborong dolar, maka anda ikut memberikan kontribusi pada semakin dalamnya krisis di Indonesia. Continue reading



Juntrungan Krisis Subprime di Amerika Serikat Kalau Langit Masih Kurang Tinggi by ratna ariani
October 11, 2008, 12:11 am
Filed under: artikel | Tags: , , , ,
Untuk kita-kita yang awam dengan dunia ekonomi apalagi makro, mungkin tulisan pak Dahlan Iskan, yang bukan ekonom ini, bisa membantu kita menyadari seperti apa kah beratnya tekanan ekonomi dunia saat ini. Paling tidak bisa diperkirakan dampaknya pada neraca belanja dapur dan dompet kita serta tabungan-tabungan yang bermacam-macam seperti saham, dollar dan emas. Pesan moralnya:
(1) enough is never enough, tidak ada kata cukup selama kita tidak bisa mensyukuri apa yang didapat. Yang ada justru menyeret kesengsaraan orang lain
(2) jangan simpan semua telur di satu keranjang. Ditangan perempuan lah yang pertama memikirkan ekonomi keuangan keluarga, baik untuk kebutuhan belanja dan menabung serta investasi untuk masa depan keluarganya sendiri. [RA]

Sumber: Jawa Pos – Minggu, 28 September 2008 : Oleh: Dahlan Iskan

Meski saya bukan ekonom, banyak pembaca tetap minta saya ”menceritakan’ ‘ secara awam mengenai hebatnya krisis keuangan di AS saat ini. Seperti juga, banyak pembaca tetap bertanya tentang sakit liver, meski mereka tahu saya bukan dokter. Saya coba:

Semua perusahaan yang sudah go public lebih dituntut untuk terus berkembang di semua sektor. Terutama labanya. Kalau bisa, laba sebuah perusahaan publik terus meningkat sampai 20 persen setiap tahun. Soal caranya bagaimana, itu urusan kiat para CEO dan direkturnya.
Pemilik perusahaan itu (para pemilik saham) biasanya sudah tidak mau tahu lagi apa dan bagaimana perusahaan tersebut dijalankan. Yang mereka mau tahu adalah dua hal yang terpenting saja: harga sahamnya harus terus naik dan labanya harus terus meningkat.
Perusahaan publik di AS biasanya dimiliki ribuan atau ratusan ribu orang, sehingga mereka tidak peduli lagi dengan tetek-bengek perusahaan mereka.

Mengapa mereka menginginkan harga saham harus terus naik? Agar kalau para pemilik saham itu ingin menjual saham, bisa dapat harga lebih tinggi dibanding waktu mereka beli dulu: untung.
Mengapa laba juga harus terus naik? Agar, kalau mereka tidak ingin jual saham, setiap tahun mereka bisa dapat pembagian laba (dividen) yang kian banyak. Continue reading



Grameen Bank: Bank Ramah Perempuan Miskin by ratna ariani
August 4, 2008, 10:36 pm
Filed under: artikel | Tags: , , , ,

Ada pepatah mengatakan bahwa surga ada di bawah telapak kaki ibu. Tapi ibu yang bagaimana ? Ibu yang telah diberdayakan, pasti memberikan segala-galanya bagi anak-anaknya. Termasuk bagi perempuan miskin sekalipun, mereka ingin membahagiakan keluarganya terkadang kalau perlu jalan apapun ditempuh; termasuk menjadi obyek exploitasi dan komoditi luar negeri sebagai TKW. Tetapi bila perempuan miskin di beri kesempatan dan berdayakan, mereka akan mendidik anak-anaknya menjadi generasi Indonesia yang berkualitas dan tahan banting. Siapa mau mengikuti jejak Muhammad Yunus yang memperlakukan perempuan miskin sebagai subyek? Muhammadx Yunus tidak menunggu semua menjadi sempurna, tidak juga menunggu KUR tersedia di semua desa tempat orang miskin tinggal. Ia mulai dengan dirinya sendiri, yang pada akhirnya justru mendirikan bank yang melayani kebutuhan perempuan miskin.(RA)

Republika – Relevansi Muhammad Yunus untuk Indonesia (Bawono Kumoro)
Analis Sosial Politik pada Laboratorium Politik Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta.

Untuk kedua kali Indonesia menerima kunjungan Muhammad Yunus, seorang ekonom asal Bangladesh penerima Nobel Perdamaian tahun 2006. Kali ini Muhammad Yunus datang ke Indonesia dalam rangka menghadiri The Asia-Pacific Regional Microcredit Summit 2008 di Nusa Dua, Bali. Pada kesempatan itu Muhammad Yunus juga melakukan pertemuan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono guna membicarakan seputar perkembangan kredit mikro di Bangladesh dan Indonesia.

Pada 2006 lalu dia dianugerahi Nobel Perdamaian karena dinilai berhasil dalam meningkatkan status sosial dan ekonomi kaum miskin di Bangladesh melalui Grameen Bank yang didirikannya. Sejak saat itu nama Muhammad Yunus menjadi pembicaraan luas dunia internasional. Sejatinya bangsa Indonesia dapat menjadikan kunjungan Muhammad Yunus kali ini sebagai momentum untuk mulai merintis jalan bagi pengentasan perempuan dari kemiskinan melalui partisipasi dalam kegiatan-kegiatan ekonomi produktif karena sesungguhnya ada keterkaitan erat antara kemiskinan dan ketidaksetaraan gender. Keterkaitan antara kedua hal itu telah dibuktikan secara empiris oleh Muhammad Yunus. Continue reading



Era Bisnis Berbasis Lingkungan: Jangan pilih partai yang tidak punya program lingkungan by ratna ariani
August 1, 2008, 12:18 am
Filed under: artikel, lingkungan hidup, politik | Tags: , , ,

Pemilu 2009 akan digelar, beberapa dari Anda masih ragu untuk memilih partai mana yang akan dipilih nanti. Jika Anda adalah salah seorang yang sadar akan pentingnya lingkungan bagi kehidupan saat ini dan masa depan, tentunya Anda akan berhati-hati dalam memilih partai. Celakalah kita, jika mayoritas partai pemenang pemilu adalah partai yang tidak memiliki wawasan tentang lingkungan. Ciri-ciri partai yang tidak punya perhatian besar pada masalah lingkungan, antara lain adalah

  1. Dalam struktur organisasi tidak ditemukan bagian atau seksi yang menangani masalah lingkungan dan energi secara khusus.
  2. Tidak menyebutkan salah satu visi atau misinya berkaitan tentang lingkungan.
  3. Jika mereka memiliki Badan Penelitian dan Pengembangan, tidak ada seksi atau bagian yang menangani masalah lingkungan
  4. Dalam kampanye, khususnya program yang diajukan kepada pemilih tidak ada menyinggung tentang lingkungan, pemberdayaan hukum lingkungan, dan statement khusus tentang lingkungan.
  5. Dalam Dewan Pakar atau pembina, tidak ada seorang pakar lingkungan yang dikenal.

Kalau hanya sekedar aktifitas menanam pohon, anak TK dan SD juga sudah biasa! Partai yang akan kita pilih diharapkan dapat memiliki visi misi dalam sustainable development atau pembangunan berbasis lingkungan dan sejenisnya. Maka visi misi itu harus dijelaskan agar kita dapat meminta pertanggung jawaban mereka pada saat mereka telah duduk di Dewan Perwakilan Rakyat/ DPD/ DPRD.

Saya baru menelusuri beberapa website partai politik yang akan ikut bertarung dalam pemilu 2009, alhasil beberapa partai yang kini ikut dalam pemilu tidak memiliki visi dan misi tentang lingkungan. Bahkan Partai Demokrat, partainya Bapak Presiden kita (SBY) tidak memiliki visi dan misi tentang lingkungan (huebat kan!). Continue reading



Anak Miskin dan Tak Berprestasi: Siapa Peduli? by ratna ariani
July 27, 2008, 1:12 am
Filed under: artikel, pendidikan | Tags: , , ,

Kalau kita mau peduli untuk menolong anak-anak miskin, rasanya memang tidak perlu bertanya tentang prestrasi mereka. Anak bisa berprestrasi kalau suasana mendukung seperti gizi, sarana belajar dan dukungan orang tua. Jangan harapkan mereka berprestrasi kalau masih disuruh ‘bekerja’ dan bahkan masih jadi korban kekerasan dalam RT. Justru dengan bantuan kita,siapa tahu mereka bisa tambah semangat untuk berani bermimpi untuk keluar dari kemiskinan.

{Suara Pembaruan] Anak-anak dari keluarga tidak mampu mengikuti proses belajar-mengajar di halaman Sekolah Rakyat Miskin, di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Pemberian beasiswa, pada umumnya selalu dikaitkan berprestasi. Artinya, beasiswa biasanya hanya diberikan kepada siswa secara ekonomi, keluarganya kurang mampu, tetapi menunjukkan berprestasi belajar atau akademik. Di sisi lain, sering kali pemberian beasiswa dikaitkan dengan ikatan dinas dari lembaga pemerintah ataupun perusahaan swasta. Biasanya siswa atau pun mahasiswa yang mendapat program beasiswa ikatan dinas ini, wajib mengabdi di lembaga pemberi beasiswa setelah pendidikannya selesai.

Tetapi, yang jelas, beasiswa ikatan dinas seperti itu, pasti untukanak yang berprestasi. Tentu saja, pemerintah daerah atau lembaga lainnya termasuk perusahaan besar, tidak mau mengambil risiko memberikan beasiswa bagi siswa yang tidak berprestasi. Lalu, bagaimana dengan yang miskin, tak tidak berprestasi?

Suatu ketika, staf Sampoerna Foundation berkunjung ke redaksi SP menjelaskan kerja mereka dalam mengumpulkan beasiswa. Dengan bangga staf lembaga pengumpul beasiswa dari perusahaan-perusaha an itu menceriterakan jumlah dana yang disalurkan bagi penerima beasiswa tersebut. Kriteria penerima beasiswa, tentu saja yang berprestasi. Ketika ditanya soal program beasiswa bagi mereka yang miskin, namun tidak berprestasi, dengan sinis orang itu mengatakan, ”Sementara yang berprestasi. Kalau yang tidak berprestasi, mungkin ada pihak lain yang mengurusnya’ ‘.

Jawaban seperti itu, tentu bisa menyakitkan bagi mereka yang miskin dan tidak berprestasi lagi. Kalau kriterianya harus berprestasi, sulit bahkan mungkin tidak akan pernah mereka mendapat kesempatan menerima beasiswa.

Berdayakan yang Miskin Continue reading