Saatnya HATI NURANI bicara


Perempuan Jangan Golput by ratna ariani
December 19, 2008, 7:01 am
Filed under: politik | Tags: , , ,

Sangat bagus kalau ada banyak perempuan menduduki posisi utama dalam institusi negara maupun di luar institusi tsb., tetapi kalau cuma kwantitas yang diutamakan, mungkin sekali tidak alan banyak membawa faedah untuk perbaikan kwalitas hidup anggota masyarakat. Jadi yang dibutuhkan ialah banyak dan lebih banyak lagi perempuan atau wanita terkemuka yang berada digaris depan pembela kepentingan perempuan. Kurang lebih 50% penduduk Indonesia adalah wanita, dan wanita adalah pendidik pertama tiap anak, kalau penidiknya hebat kwalitasnya maka kemungkinan perbaikan kwalitas kehidupan masyarakat, antara lain yaitu sejahtera, damai dan aman akan lebih mudah dicapai dan difaedahkan.

Caleg pria pun ada juga yang baik dan membela kepentingan kelompok perempuan, walau tidak banyak jumlahnya. Sedangkan di satu tempat ada juga aleg wanita yang sama seperti yang pria, kental dengan kolusi dan nepotisme dengan pengusaha untuk melakukan penggusuran lahan PKL demi berdirinya suatu pertokoan.Golput atau non-Golput adalah penilaian pribadi. Yang penting sebelum menentukan Golput carilah dulu informasi sebanyak-banyaknya tentang caleg perempuan di daerah pemilihan anda, baik caleg DPRD kota, DPRD maupun DPR dan DPD; bagaimana kehidupan mereka sebelum dan setelah masuk ke legislatif .  (RA)

Suara Pembaruan [JAKARTA] Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (Menneg PP) Meutia Hatta Swasono mengimbau kaum perempuan untuk menggunakan hak pilih mereka pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2009. Putri proklamator, Muhammad Hatta itu juga mengajak perempuan untuk memilih calon anggota legislatif (caleg) perempuan, sebab mereka yang akan memperjuangkan dan membela kepentingan kaum perempuan di Indonesia.

“Kaum perempuan jangan golput (golongan putih, Red). Perempuan sebaiknya memilih caleg perempuan, karena mereka pasti membela kepentingan perempuan,” ujarnya kepada SP di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, Senin (15/12).

Menurutnya, kalau perempuan tidak cukup terwakili di parlemen, mereka tidak bisa mengawasi aturan yang bias gender serta tidak mengetahui apa yang harus diberdayakan dari perempuan. Hal itu, lanjutnya, mengakibatkan selama 63 tahun perempuan Indonesia tertinggal dibanding kaum pria.

Oleh karena itu, dia berharap pada masa mendatang semua partai memiliki keterwakilan perempuan di parlemen. Dari sisi kualitas, kaum perempuan sudah cukup memadai untuk terjun ke panggung politik. Apalagi, partai politik tentu telah membekali caleg mereka yang bakal masuk ke parlemen. Kantor Menneg PP pun terus menyosialisasikan dan memberdayakan caleg perempuan.

“Kita jangan berpikir bahwa caleg perempuan itu tidak berkualitas. Kaum pria pun banyak yang tidak berkualitas. Namun, setelah masuk ke parlemen, mereka mau belajar dan memperbaiki diri. Kaum perempuan pun pasti bisa,” ujarnya. Meutia juga mengimbau pemilih perempuan untuk rajin mendengar langsung kampanye para caleg agar tahu kualitas mereka. Namun, Menneg PP mengatakan, orang yang golput bukan musuh negara, karena bisa saja mereka masih bingung untuk menentukan pilihan politik. Continue reading



Badai “Palin Power” Menggilas Partai Demokrat (Gadis Arivia) by ratna ariani
September 5, 2008, 12:16 am
Filed under: politik | Tags: , , , , , ,

Menjelang PILPRES Amerika, dunia menikmati pertarungan debat berkualitas dari sejarah demokrasi suatu negara. Ada baiknya kita yang sedang merangkak dalam demokrasi dalam 10 tahun ini menyikapinya dengan arif. Masalah isu gender bukan masalah barat dan timur, tapi pada akhirnya kebijakan-kebijakan yang dibuat haruslah pro rakyat, termasuk yang paling lemah, yang paling miskin dan sengsara. Thanks mbak Gadis untuk pencerahannya, saya kesengsem dengan Michelle Obama, tapi juga salut dengan ketegasan Gubernur Alaska yang satu ini. Seharusnya perempuan berkualitas seperti ini juga semakin banyak bisa duduk di parlemen Indonesia mulai dari tingkat pusat sampai daerah. Ada tempatnya dia bertindak tegas dalam menentukan kebijakan publik tapi juga tetap senang menjadi ratu di dapur.  Kasihan Partai Demokrat yang gigit jari karena tidak mengajukan Hillary Clinton sebagai kandidat wapres. Ini baru politik namanya. (RA)

Selama satu minggu ini media Amerika sibuk “membedah” Sarah Palin. Gubernur
dari Alaska sejak tahun 2006 dan sebelumnya walikota dari kota kecil
Wasilla, diangkat oleh John McCain untuk mendampinginya sebagai kandidat
wakil presiden, AS, dari Partai Republik. Sejak pengumuman McCain, pers
merubung bagaikan lalat, sebagian besar mempertanyakan kompetensi Sarah yang
dianggap masih terlalu muda dan belum matang dalam dunia politik Washington
DC. Pasalnya McCain yang berumur 72 tahun sangat riskan menempatkan seorang
yang masih belum berpengalaman bila terjadi apa-apa dengan kesehatan McCain
seandainya McCain terpilih. Dengan demikian McCain dianggap tengah
membahayakan Amerika Serikat.

Belum lagi kontroversi soal pengalaman selesai, Sarah dan Todd mengumumkan bahwa anak perempuan mereka yang berumur 17 tahun hamil di luar nikah dan kini kandungannya berumur 5 bulan. Karena Sarah Palin masuk dalam kelompok “Pro-Life Feminist”, maka, tak ada pilihan lain, anaknya akan melahirkan
bayinya. Platform “pro-life” dan anti “gay-rights” merupakan ciri pandangan konservatif yang diusung Sarah. Pers kembali berteriak-teriak dan mulai mempertanyakan kali ini bukan saja kredibilitas Sarah Palin sebagai gubernur tapi juga sebagai ibu. Selain masalah pribadi yang sedang menimpa Sarah dan
keluarganya, Sarah pun masih dalam investigasi tentang pemecatan yang dilakukan terhadap kepala polisi di Alaska.

Maka tak heran, pidato pertama Sarah Palin dihadapan Konvensi Partai Republik menjadi pidato yang ditunggu-tunggu oleh pers dan jutaan pemirsa AS. Bagaimanakah Sarah akan mejawab semua tuduhan-tuduhan pers? Bagaimanakah ia akan mematahkan argumen Partai Demokrat soal pengalamannya? Bagaimanakah ibu yang baru saja melahirkan ini akan bertahan dalam dunia politik yang
sangat maskulin? Apakah ia akan didukung oleh kelompok perempuan apalagi kini setelah Hillary tidak ada, kelompok ini menjadi medan pertarungan antara Partai Republik dan Partai Demokrat. Continue reading



Amerika Berlomba Membuat Sejarah: Perebutan Antara Ras dan Gender (Gadis Arivia) by ratna ariani
August 30, 2008, 4:22 am
Filed under: politik | Tags: , , , , , ,

Inilah serunya pemilu kalau hanya dua partai: Demokrat, Republik plus Independen. Yang terjadi adalah perebutan dan pertarungan antar kualitas. Mereka saling menajamkan visi dan programnya. Semakin banyak partai maka semakin sulit untuk mendapatkan pemimpin berkualitas. Saya sempat kesengsem mendengarkan pidato Michele Obama, so down to earth. Seandainya saja semua ibu pejabat di Indonesia dari tingkatpusat sampai daerah seperti ini, bisa terjadi kebangkitan nasional kedua nih. Tapi memang proses panjang masih harus ditempuh Indonesia yang relatif baru belajar demokrasi 10 tahun, jauh banget dibandingkan dengan amrikyang sudah di atas 200 tahun. Paling tidak kita bisa belajar dan memetik hikmahnya dari mereka(.Terima kasih mbak Gadis lewat pencerahannya, memang keberpihakan gender tidak berhenti pada soal memilih perempuan tetapi lebih kepada karya nyata yang diberikan kepada rakyat khususnya perempuan dan anak-anak sebagai kelompok yang biasanya tersingkirkan (RA).

Konvensi Partai Demokrat ditutup oleh Barack Obama pada tanggal 28 Agustus 2008 dengan pidato yang mengguncang rakyat Amerika. Stadium Denver yang megah menghadirkan 85.000 pendukung Barack Obama. Para pendukung ini sebelumnya telah disuguhkan oleh pidato-pidato yang bersejarah mulai dari
Michelle Obama, Hillary Clinton, Bill Clinton, Al Gore (bekas wakil presiden dan pemenang hadiah nobel) serta banyak tokoh-tokoh inspiratif lainnya seperti Joe Biden, calon wakil presiden Obama. Konvensi ini bertepatan dengan ulang tahun yang ke-88 hak politik perempuan untuk memilih dan ulang tahun yang ke-45, mengenang tokoh pergerakan hak-hak sipil, pejuang anti rasisme, Dr. Martin Luther King.

Malam itu malam yang indah khususnya bagi keturunan Afrika-Amerika yang dengan terharu melihat Obama berdiri di atas podium menguraikan pendapatnya tentang apa yang disebut Amerika di abad ke-21. Amerika menurut Obama sedang berubah *(change)*, hendak menghentikan cara-cara politik masa lalu
yang tidak memihak rakyat, memperkuat ekonomi kelas menengah dan memperjuangkan kesehatan universal agar kesehatan terjangkau untuk semua kalangan. Obama memaparkan latar belakang keluarganya yang sederhana, diasuh oleh orang tua tunggal (ibunya), mendapatkan beasiswa hingga ke Harvard dan
menampik pekerjaan menjadi pengacara top, lalu, memilih bekerja di LSM di Chicago untuk orang-orang miskin dan kini menjadi kandidat presiden Amerikan pertama yang berkulit hitam, “inilah yang disebut dengan *the American dream!,”* Obama berkata lantang. Baik Obama dan Michelle berterima kasih
kepada Amerika yang telah memungkinkan mereka (anak dari keluarga latar belakang biasa) bisa mengenyam pendidikan terbaik sehingga bisa menjadi anggota masyarakat yang berkontribusi pada negaranya. Inilah sebabnya ia mau dan siap menjadi pelayan rakyat, bekerja untuk rakyat untuk masa depan
Amerika. Continue reading



Grameen Bank: Bank Ramah Perempuan Miskin by ratna ariani
August 4, 2008, 10:36 pm
Filed under: artikel | Tags: , , , ,

Ada pepatah mengatakan bahwa surga ada di bawah telapak kaki ibu. Tapi ibu yang bagaimana ? Ibu yang telah diberdayakan, pasti memberikan segala-galanya bagi anak-anaknya. Termasuk bagi perempuan miskin sekalipun, mereka ingin membahagiakan keluarganya terkadang kalau perlu jalan apapun ditempuh; termasuk menjadi obyek exploitasi dan komoditi luar negeri sebagai TKW. Tetapi bila perempuan miskin di beri kesempatan dan berdayakan, mereka akan mendidik anak-anaknya menjadi generasi Indonesia yang berkualitas dan tahan banting. Siapa mau mengikuti jejak Muhammad Yunus yang memperlakukan perempuan miskin sebagai subyek? Muhammadx Yunus tidak menunggu semua menjadi sempurna, tidak juga menunggu KUR tersedia di semua desa tempat orang miskin tinggal. Ia mulai dengan dirinya sendiri, yang pada akhirnya justru mendirikan bank yang melayani kebutuhan perempuan miskin.(RA)

Republika – Relevansi Muhammad Yunus untuk Indonesia (Bawono Kumoro)
Analis Sosial Politik pada Laboratorium Politik Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta.

Untuk kedua kali Indonesia menerima kunjungan Muhammad Yunus, seorang ekonom asal Bangladesh penerima Nobel Perdamaian tahun 2006. Kali ini Muhammad Yunus datang ke Indonesia dalam rangka menghadiri The Asia-Pacific Regional Microcredit Summit 2008 di Nusa Dua, Bali. Pada kesempatan itu Muhammad Yunus juga melakukan pertemuan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono guna membicarakan seputar perkembangan kredit mikro di Bangladesh dan Indonesia.

Pada 2006 lalu dia dianugerahi Nobel Perdamaian karena dinilai berhasil dalam meningkatkan status sosial dan ekonomi kaum miskin di Bangladesh melalui Grameen Bank yang didirikannya. Sejak saat itu nama Muhammad Yunus menjadi pembicaraan luas dunia internasional. Sejatinya bangsa Indonesia dapat menjadikan kunjungan Muhammad Yunus kali ini sebagai momentum untuk mulai merintis jalan bagi pengentasan perempuan dari kemiskinan melalui partisipasi dalam kegiatan-kegiatan ekonomi produktif karena sesungguhnya ada keterkaitan erat antara kemiskinan dan ketidaksetaraan gender. Keterkaitan antara kedua hal itu telah dibuktikan secara empiris oleh Muhammad Yunus. Continue reading