Saatnya HATI NURANI bicara


Renungan Natal: Dialog yang Mencerahkan by ratna ariani
December 24, 2008, 2:21 pm
Filed under: artikel | Tags: , , ,

Suatu hari seorang guru mengajak murid-muridnya berjalan-jalan. Mereka sampai di lapangan. Di tempat itu, banyak anak sedang bermain.
Melihat anak-anak yang sedang bermain itu, seorang murid berkata, “Guru, lihat betapa anak-anak itu tampak senang.” Sang guru menjawab, “Ya, mereka kelihatan senang, tetapi sebenarnya mereka tidak bahagia.” Murid itu bertanya, “Yang guru maksudkan?” Sang guru menjawab, “Coba kamu kumpulkan keping-keping uang yang ada padamu. Lalu, lemparkan ke tengah mereka dan lihat apa yang terjadi.”

Mereka melakukannya. Anak-anak yang sedang ramai bermain itu meninggalkan permainan mereka, berebut uang, berteriak saling memaki, dan berkelahi. Sang guru berkata,
“Kamu mengerti?” Murid-murid itu mengangguk, paham.
Dialog pendek ini mencerahkan, para murid memahami perbedaan hakiki antara rasa senang dan bahagia.

Dialog

Hari-hari ini, umat Kristiani merayakan Natal, kelahiran Yesus. Salah satu nas — dari sekian banyak yang lain — yang menggambarkan kelahiran Yesus mengatakan, “Walaupun dalam rupa Allah… telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia” (Flp 2:6-7).
Ia menjadi sama dengan manusia agar dapat berdialog dengan manusia.
Dengan perantaraan Yesus, “Allah menyapa manusia sebagai sahabat (bdk Kel 33:11; Yoh 15:14-15) dan bergaul dengan mereka (bdk Bar 3:38).”

Melalui dialog itu, manusia dibawa kepada yang sejati, yang hakiki. Kisah-kisah di sekitar kelahiran Yesus kaya dialog, membawa orang kepada yang sejati dan hakiki. Dialog antara Gabriel dan Maria menuntun Maria kepada kesadaran bahwa dirinya hamba yang seutuhnya tersedia bagi rencana Allah (Luk 1:26-38). Dialog antara Maria dan Elisabeth membawa mereka kepada pengalaman akan kebahagiaan sejati (Luk 1:39-45).

Halaman-halaman Injil juga banyak mengisahkan berbagai dialog yang mencerahkan. Percakapan Yesus dengan Nikodemus (Yoh 3:1-21) — yang boleh disebut dialog iman — memuat pesan, penghayatan iman harus selalu diperbarui. Dialog Yesus dengan perempuan Samaria (Yoh 4:1-42) — yang boleh disebut dialog antarkebudayaan — membongkar pola berpikir eksklusif yang menimbulkan berbagai ketegangan. Continue reading

Advertisements


Guru yang Menjadi Aktivis CU by ratna ariani
November 14, 2008, 1:38 pm
Filed under: sosial masyarakat | Tags: , , , , ,

p1010194

Kabar terbaik bagi orang miskin adalah bahwa sebentar lagi mereka bisa keluar dari kemiskinannya. Berikut adalah kisah seorang guru yang sungguh memiliki pengabdian besar bagi pendidikan, akhirnya terpanggil menolong orang-orang disekitarnya keluar dari kemiskinan melalui Credit Union. Padahal ia sendiri juga memiliki keterbatasan ekonomi. Semoga kita lebih sering melayani satu sama lain daripada minta dilayani.[RA]

Saya Dominikus D Fernandez, seorang katekis yang diangkat sebagai Pegawai Negeri. Saya berasal dari Larantuka. Pada usia 25 tahun saya ditugaskan mengajar di SD III Tampa, Kecamatan Ampah, Kabupaten Barito, Kalimantan Tengah. Saya pernah punya hanya 9 murid untuk seluruh SD. Karena murid terlalu sedikit, kelas kami gabung. Dalam seminggu hanya tiga hari saya mengajar di sekolah. Karena punya banyak waktu luang, saya tergerak untuk membagikan ilmu kepada orang-orang dewasa juga. Saya kemudian merancang program Pendidikan Orang Dewasa(POD), yang menawarkan tiga paket. Paket A untuk kesetaraan dengan SD, paket B setara dengan SMP dan paket C setara degan SMA.

Pada 1979 saya merintis sebuah SMP Swasta di Ampah. Setahun kemudian SMP rintisan ini dijadikan SMP Negeri. Di SMP ini selama sembilan tahun saya mengajar tanpa dibayar. Pada 2003 saya mendirikan SMA. Lagi-lagi setahun kemudian SMA ini dijadikan SMA negeri. Di sini pun selama setahun saya menjadi Kepala sekolah dan mengajar tanpa dibayar. Semuanya adalah pelayanan.

Bersentuhan dengan pemberdayaan

Saya memang seorang guru. Namun pemberdayaan masyarakat miskin sejak awal sudah menjadi bagian hidup saya. Sejak 1979 hingga 1990 saya menjadi pendamping nasabah Bank Purba Danarta di daerah Kalimantan Tengah. Bank Purba Danarta adalah suatu bank yang secara khusus ingin memberikan pelayanan kepada orang-orang kecil, mendampingi usaha-usaha mandiri mereka. Pendiri dan pemimpin bank ini Pastor Melchers, SJ. Kantor pusatnya di Semarang. Setelah Pastor Melchers meninggal, kabarnya terjadi perubahan manajemen bank ini, tapi saya tidak tahu persis, karena setelah 1990 saya kurang kontak lagi dengan Bank Purba Danarta.

Waktu itu saya mendampingi sekitar 1.000 orang. Ada masa ketika pelayanan kami lakukan dengan sederhana sekali. Inti dari gerakan ini adalah kepercayaan. Buku tabungan dan pinjaman anggota hanyalah buku tulis biasa. Setiap kali ada setoran diberi meterai. Namun hal itu tidak menjadi masalah karena kami percaya satu sama lain.

Pada 1989 saya sempat mengikuti kursus di Lembaga Bina Swadaya. Namun saya tidak begitu tertarik mengikuti metodenya, yang menurut saya, masih belum amat menekankan unsur swadaya masyarakat. Mereka masih cukup banyak sekadar mengalihkan dana dari pemerintah kepada masyarakat.

Kenal CU (selanjutnya baca disini)



Perhatian Bagi Pahlawan (tanpa)Tanda Jasa by cgjyyh
November 11, 2008, 11:36 pm
Filed under: pendidikan | Tags: , , , ,

Setiap perayaan 10 November kita mengenang dan memperingati seluruh pahlawan yang telah gugur di jaman kemerdekaan, termasuk juga mereka yang telah wafat setelah kemerdekaan tetapi mendapatkan berbagai tanda jasa penghargaan perjuangan bagi bangsa saat mereka hidup. Terlepas dari konteks pahlawan di jaman kemerdekaan melawan penjajah, saatnya kita sekarang harus juga memperhatikan para pahlawan dan pejuangpaska kemerdekaan yang terus dibutuhkan bagi keberlangsungan bangsa Indonesia.

Menonton film “Laskar Pelangi” mengingatkan kita apa arti para pahlawan yang masih hidup tapi tetap berjuang melepaskan satu persatu anak bangsa dari penjajah bernama “kebodohan”.  Setiap dari kita yang telah memiliki posisi di puncak, menjadi orang sukses dan mendapat tempat di masyarakat pasti masih ingat siapa kah para pahlawan yang berharga dalam menentukan kehidupannya. Setelah orang tua yang menjadi sumber pendidik dalam keluarga, guru adalah tempat pertama dimana orang tua menyerahkan anak-anak diusia sekolahnya. Para guru inilah yang turut serta menanamkan nilai-nilai moral dan budi pekerti di usia sekolah.

Tidak banyak guru sekaliber bu mus seperti dalam “Laskar Pelangi” kita jumpai di masa sekarang ini yang mampu bertahan ditengah segala keterbatasan dan tekanan hedonisme. Tapi mereka exist, mereka ada dan tetap bersemangat walau honor dan status yang diterimanya kurang mencukupi bahkan bisa dibawah UMR. Tantangan berat itu ditemui diberbagai pelosok Indonesia.

Kepulauan Nias yang terpisah oleh selat yang ganas mungkin bisa bercerita berapa banyak jiwa para guru yang terkubur di dasar lautan karena seringnya terjadi kecelakaan laut disana.  Hal ini tentu menyurutkan semangat para guru untuk ditempatkan di pulau-pulau terpencil. Maka tidak heran kalau di pelosok Indonesia dimana infrastruktur terbatas, anak didikpun tidak punya pilihan banyak. Padahal pendidikan adalah kunci bagi pencerdasan bangsa untuk membawa mereka keluar dari kemiskinan. Continue reading



Guru Mogok di Paniai….Biasa ? by ratna ariani
October 12, 2008, 12:10 am
Filed under: pendidikan | Tags: , , , ,

Email dari seorang guru di Nabire ini menuntut keprihatinan mendalam bagi pendidikan di ujung timur Indonesia. Semakin besarnya jarak ke pusat, semakin besar jurang antara pusat – daerah membuat apa yang terjadi disana, tidak ada dampaknya sama sekali di antara gedung bertingkat di Jakarta.Tidak heran kalau kualitas SDM generasi Indonesia yang dihasilkan nantinya akan sulit untuk membuat daerah-daerah itu bersaing di tingkat nasional apalagi internasional. Walhasil, orang-orang pusat dan elit politik semakin menggurita dan keinginan separasi menjadi semakin menumpuk.(RA)

BERITA TERKINI:  dari kabupaten Paniai (termasuk Waghete) – PAPUA
Hari ini sudah memasuki hari ke 5 di mana guru-guru di seluruh sekolah (7 TK, 151 SD, 78 SMP, lebih dari 35 SMU/SMK) se kabupaten Paniai mogok mengajar (www.papuaposnabire.com). Mereka meliburkan sekolah dan pergi ke kota kabupaten dengan meninggalkan sekitar 14.000 siswa terbengkelai di tempat masing-masing (tentu para siswa juga senang). PGRI menuntut Kepala Dinas, Kepala Tata Usaha dan Bendahara Dinas P dan P mundur dari jabatannya. Juru bicara para demonstran yang berkumpul di Kantor Bupati mengatakan bahwa selama ini para guru merasa nasibya telah diabaikan dan tidak ada transparansi soal penggunaan uang yang menjadi hak guru dan sekolah.
Di Papua, cerita seperti ini konon bukan hal baru. Moment seperti ini sekaligus digunakan oleh para guru untuk melihat-lihat kota, menikmati dunia baru, melihat pesawat terbang, menelpon kerabat yang ada di kota (maklum di daerah mereka tidak ada signal hp apalagi tlp kabel) serta untuk menghabiskan gaji di kota sambil menikmati jalan-jalan aspal dan tinggal di rumah kerabat di Enarotali. Ada atau tidak ada demo, banyak para guru yang sudah biasa jarang mengajar di sekolah dalam jangka waktu lama. Murid-murid sudah terbiasa ditinggal para guru yang pergi tanpa tujuan berbulan-bulan. Bahkan ada seorang guru senior di paroki Euputo sudah 4 tahun tidak datang ke sekolah kecuali pada awal bulan untuk mengambil gaji. Tidak ada tindakan disiplin apapun dari pemerintah, karena hal seperti ini sudah biasa.
Seandainya kejadian seperti ini terjadi di kabupaten Semarang, Bekasi atau di kabupaten Sleman, pasti menjadi diskusi yang menarik dan panjang di milis, dan dari diskusi itu bahkan bisa dilahirkan pakar-pakar pendidikan atau setidaknya pakar pengamat masalah pendidikan. Orang akan sibuk mengumpulkan data yang bisa menjadi bahan skripsi atau bahan seminar yang menarik. Namun karena peristiwa ini terjadi di daerah nun jauh di pedalaman (Papua lagi … daerah tempat “jin buang anak” – istilah yang sering dipakai orang jakarta) apalah artinya?
Sekian sekilas info – salam dan doa [MS]



Malu Sekolah Karena Tak Bisa Beli Buku by ratna ariani
August 11, 2008, 4:09 am
Filed under: artikel, pendidikan | Tags: , ,

Bicara pendidikan tidakbisa terlepas dari para guru yang terlibat didalamnya. Selama kebutuhan mendasar mereka tak terpenuhi akhirnya jam pelajaran berkurang bahkan buku pelajaran pun jadi obyek penghasilan tambahan mereka. Maka anggaran pendidikan 20 % harus benar2 digunakan untuk perbaikan prasarana sekolah dan juga meningkatkan kualitas para guru. Pahlawan tanpa tanda jasa bukan berarti bisa dibayar dibawah UMR dan tidak diperhatikan status kepegawaiannya. Kalau sekolah negri lain bisa memberikan buku tanpa biaya tambahan, kenapa sekolah lain tidak bisa ya? Memang banyak yang aneh di negri ini (RA)

SUARA PEMBARUAN- Putri sebut saja namanya begitu, kini berubah jadi anak pendiam. Gadis berusia tujuh tahun itu duduk di kelas dua Sekolah Dasar Negeri (SDN) X, Perumnas 3 Kelurahan Aren Jaya, Kota Bekasi, Jawa Barat. Entah apa yang membuat Putri mulai takut masuk sekolah.
Setelah ditanya kenapa berubah jadi pendiam dan takut ke sekolah, Putri hanya menggelengkan kepalanya. Putri segera menghampiri ayahnya Abut (43). Di pangkuan sang ayah, Putri sejenak menghilangkan beban yang sebenarnya belum layak dia emban.

Akhirnya, Abut terbuka dengan keadaan anaknya. Abut yang sehari-hari bekerja sebagai loper koran di persimpangan Jl Ahmad Yani-KH Noer Alie, Kota Bekasi juga mengaku pusing memikirkan masa depan anak bungsunya. ”Saya tidak mampu membeli buku baru Putri. Padahal, tujuh buku pelajaran yang dianjurkan gurunya untuk dibeli harus ada Senin (11/8 ) depan,” tuturnya. Dia meminta SP tidak menuliskan nama asli putrinya karena takut dikucilkan guru-guru di sekolah.
Abut menceritakan keadaan putrinya bukan tanpa beban. Ia sangat takut anaknya jadi bahan gunjingan guru atau semacamnya. Belum lagi kakak Putri, Nidya (8 ) juga bersekolah di tempat yang sama. Nidya masih duduk di bangku kelas tiga di sekolah milik pemerintah Kota Bekasi itu. Untungnya, Nidya beda dengan Putri yang tidak terlalu memikirkan apa yang dianjurkan wali kelasnya. ”Mungkin dia (Nidya) mengerti kondisi ayahnya,” ujarnya.

Toko Buku Rujukan Continue reading